Wednesday, October 29, 2014

[Inspirasi]: Pidato Steve Jobs Yang Sangat Menggugah dan Inspiratif Pada Acara Wisuda Standford University

loading...
Sang bos Apple, Steve Jobs merupakan salah satu tokoh paling inspiratif di dunia. Pria kelahiran California 24 Februari 1955 dari seorang Arab keturunan Suriah, Abdulfattah Jandali itu diakui sebagai salah satu orang paling cerdas dan sukses di dunia.

Berikut kita akan berbagi salah satu pidato Jobs yang sangat inspiratif yang disampaikannya dalam acara wisuda Universitas Stanford tahun 2004 lalu.

“You’ve got to find what you love,” Jobs says
“Anda harus menemukan apa yang Anda sukai, ” kata Jobs

This is a prepared text of the Commencement address delivered by Steve Jobs, CEO of Apple Computer and of Pixar Animation Studios, on June 12, 2005.
Ini adalah teks yang disiapkan dari pidato saat wisuda yang disampaikan oleh Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Pixar Animation Studios, pada tanggal 12 Juni 2005.

I am honored to be with you today at your commencement from one of the finest universities in the world. I never graduated from college. Truth be told, this is the closest I’ve ever gotten to a college graduation. Today I want to tell you three stories from my life. That’s it. No big deal. Just three stories.
Saya merasa terhormat berada bersama Anda hari ini pada hari wisuda anda dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah lulus kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya ingin menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Itu saja. Bukan masalah besar. Cukup tiga.

The  first story is about connecting the dots.
Cerita pertama adalah tentang menghubungkan titik-titik.

I dropped out of Reed College after the first 6 months, but then stayed around as a drop-in for another 18 months or so before I really quit. So why did I drop out?
Saya drop-out dari Reed College setelah 6 bulan kuliah, tapi saya tetap ada di sana selama 18 bulan atau lebih sebelum saya benar-benar berhenti. Jadi kenapa saya drop-out?

It started before I was born. My biological mother was a young, unwed college graduate student, and she decided to put me up for adoption. She felt very strongly that I should be adopted by college graduates, so everything was all set for me to be adopted at birth by a lawyer and his wife. Except that when I popped out they decided at the last minute that they really wanted a girl. So my parents, who were on a waiting list, got a call in the middle of the night asking: “We have an unexpected baby boy; do you want him?” They said: “Of course.” My biological mother later found out that my mother had never graduated from college and that my father had never graduated from high school. She refused to sign the final adoption papers. She only relented a few months later when my parents promised that I would someday go to college.
Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah seorang mahasiswi menikah muda, dan dia memutuskan untuk memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi. Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka semuanya telah siap bagi saya untuk diadopsi saat lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Tetapi pada saat saya telah lahir,  mereka memutuskan pada menit terakhir bahwa mereka ingin bayi perempuan. Maka orang tua saya, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “Kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut, apakah Anda berminat?” Mereka menjawab: “Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak untuk menandatangani surat adopsi. Tetapi sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.

And 17 years later I did go to college. But I naively chose a college that was almost as expensive as Stanford, and all of my working-class parents’ savings were being spent on my college tuition. After six months, I couldn’t see the value in it. I had no idea what I wanted to do with my life and no idea how college was going to help me figure it out. And here I was spending all of the money my parents had saved their entire life. So I decided to drop out and trust that it would all work out OK. It was pretty scary at the time, but looking back it was one of the best decisions I ever made. The minute I dropped out I could stop taking the required classes that didn’t interest me, and begin dropping in on the ones that looked interesting.
Dan 17 tahun kemudian saya kuliah. Tapi belagunya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya habis untuk biaya kuliah saya. Setelah enam bulan, saya tidak bisa melihat apa manfaat kuliah. Saya tidak tahu apa yang ingin saya lakukan dalam hidup saya dan tidak tahu bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Dan saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Jadi saya memutuskan untuk berhenti kuliah, yakin bahwa itulah keputusan terbaik saat itu. Rasanya menakutkan pada saat itu, namun sekarang saya menyadari bahwa itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya dibuat. Begitu saya drop-out saya bisa berhenti mengambil kelas wajib yang tidak menarik minat saya, dan mulai menekuni hal-hal yang sesuai minat saya.

It wasn’t all romantic. I didn’t have a dorm room, so I slept on the floor in friends’ rooms, I returned coke bottles for the 5¢ deposits to buy food with, and I would walk the 7 miles across town every Sunday night to get one good meal a week at the Hare Krishna temple. I loved it. And much of what I stumbled into by following my curiosity and intuition turned out to be priceless later on. Let me give you one example:
Masa itu tak menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di  kamar teman-teman, saya tukarkan botol Coca-cola untuk dapatkan 5 sen dan ditabung untuk membeli makanan, dan saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapatkan satu makanan enak seminggusekali  di kuil Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu dikarenakan rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga. Saya beri anda satu contoh:

Reed College at that time offered perhaps the best calligraphy instruction in the country. Throughout the campus every poster, every label on every drawer, was beautifully hand calligraphed. Because I had dropped out and didn’t have to take the normal classes, I decided to take a calligraphy class to learn how to do this. I learned about serif and san serif typefaces, about varying the amount of space between different letter combinations, about what makes great typography great. It was beautiful, historical, artistically subtle in a way that science can’t capture, and I found it fascinating.                 
Reed College pada waktu itu dikenal sebagai pemilik kaligrafi terbaik di negeri ini. Di seluruh penjuru kampus semua poster, setiap stiker di laci, disajikan dengan kaligrafi indah. Karena sudah drop-out, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal, saya memutuskan untuk mengambil kelas kaligrafi untuk belajar bagaimana melakukan hal seindah itu. Saya belajar tentang huruf serif dan san serif, membuat variasi  antar kombinasi huruf yang berbeda, tentang membuat tipografi yang hebat. Itu indah, bersejarah, artistik, halus yang tidak dapat diuraikan oleh ilmu pasti, dan saya sangat tertarik.

None of this had even a hope of any practical application in my life. But ten years later, when we were designing the first Macintosh computer, it all came back to me. And we designed it all into the Mac. It was the first computer with beautiful typography. If I had never dropped in on that single course in college, the Mac would have never had multiple typefaces or proportionally spaced fonts. And since Windows just copied the Mac, it’s likely that no personal computer would have them. If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. Of course it was impossible to connect the dots looking forward when I was in college. But it was very, very clear looking backwards ten years later.
Tak pernah terpikir bahwa hal ini akan menjadi hal yang dapat saya terapkan dalam hidup saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat bagi saya. Dan kami merancang itu semua ke dalam Mac. Itu adalah komputer pertama dengan tipografi yang indah. Seandainya saya tidak drop-out dan tidak mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki multi-tipografi atau font yang berjarak proporsional. Dan karena Windows menjiplak Mac, kemungkinan tidak ada PC yang seperti sekarang ini. Seandainya saya tidak drop-out, saya tidak akan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak akan memiliki tipografi yang indah seperti saat ini. Tentu saja, tidak mungkin menerawang hal itu sewaktu saya kuliah dulu. Tapi itu sangat, sangat jelas sepuluh tahun kemudian.

Again, you can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.
Sekali lagi, anda tidak mungkin menghubungkan titik-titik pengalaman anda ke masa depan, anda hanya bisa melakukannya dengan merenungkan apa yang telah terjadi. Jadi, anda harus percaya bahwa titik-titik pengalaman anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya pada sesuatu – intuisi, takdir, kehidupan, karma, apa pun. Pendekatan ini tidak pernah mengecewakanku, dan telah membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.

My second story is about love and loss.
Cerita kedua saya adalah tentang cinta dan kehilangan.

I was lucky — I found what I loved to do early in life. Woz and I started Apple in my parents garage when I was 20. We worked hard, and in 10 years Apple had grown from just the two of us in a garage into a $2 billion company with over 4000 employees. We had just released our finest creation — the Macintosh — a year earlier, and I had just turned 30. And then I got fired. How can you get fired from a company you started? Well, as Apple grew we hired someone who I thought was very talented to run the company with me, and for the first year or so things went well. But then our visions of the future began to diverge and eventually we had a falling out. When we did, our Board of Directors sided with him. So at 30 I was out. And very publicly out. What had been the focus of my entire adult life was gone, and it was devastating.
Saya dulu beruntung – saya telah menemukan apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya memulai Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua di garasi menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami – Macintosh – setahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan kemudian saya dipecat. Bagaimana mungkin anda dipecat oleh perusahaan yang anda dirikan? Yah, seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan dengan saya, dan untuk tahun pertama atau lebih hal itu berjalan lancar. Tapi kemudian visi kami mengenai masa depan berbeda dan kami sulit cocok. Ketika itu, Dewan Direksi memihak dia. Jadi pada 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus seluruh kehidupan dewasa saya telah menguap, dan itu sangat menyakitkan.

I really didn’t know what to do for a few months. I felt that I had let the previous generation of entrepreneurs down – that I had dropped the baton as it was being passed to me. I met with David Packard and Bob Noyce and tried to apologize for screwing up so badly. I was a very public failure, and I even thought about running away from the valley. But something slowly began to dawn on me — I still loved what I did. The turn of events at Apple had not changed that one bit. I had been rejected, but I was still in love. And so I decided to start over.
Saya benar-benar tidak tahu mau melakukan apa untuk beberapa bulan. Saya merasa bahwa saya telah membiarkan generasi pengusaha sebelumnya jatuh – bahwa saya telah menjatuhkan beton yang kemudian menimpa saya sendiri.  Saya menemui David Packard dan Bob Noyce dan mencoba meminta maaf atas kekacauan yang begitu buruk.  I dulu seorang selebriti, dan sempat terpikir untuk lari meninggalkan dunia teknologi informasi.  Tetapi perlahan sesuatu mulai muncul pada diri saya – saya masih suka keahlian saya.  Kasus di Apple sama sekali tidak mengubah itu.  Saya telah dibuang, tetapi saya masih tetap suka.  Dan lalu saya putuskan memulainya lagi.

I didn’t see it then, but it turned out that getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.
Saya tidak peduli soal pemecatan itu, tetapi bahwa dengan dipecat dari Apple menjadi suatu hal terbaik yang pernah terjadi kepada saya.  Kebanggaan akan kesuksesan telah digantikan oleh semangat menjadi pemula lagi, kurang yakin akan semua hal.  Itu memacu saya masuk ke dalam masa paling kreatif dalam hidup saya.

During the next five years, I started a company named NeXT, another company named Pixar, and fell in love with an amazing woman who would become my wife. Pixar went on to create the worlds first computer animated feature film, Toy Story, and is now the most successful animation studio in the world. In a remarkable turn of events, Apple bought NeXT, I returned to Apple, and the technology we developed at NeXT is at the heart of Apple’s current renaissance. And Laurene and I have a wonderful family together.     
Selama lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, perusahaan lain bernama Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film komputer animasi pertama di dunia, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Dalam gilirannya peristiwa luar biasa, Apple membeli NeXT, saya kembali ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa.

I’m pretty sure none of this would have happened if I hadn’t been fired from Apple. It was awful tasting medicine, but I guess the patient needed it. Sometimes life hits you in the head with a brick. Don’t lose faith. I’m convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle.
Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obat memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Terkadang kehidupan memukul kepala anda dengan batu bata. Jangan kehilangan iman. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang anda sukai. Dan itu berlaku baik  untuk pekerjaan, maupun percintaan anda. Pekerjaan anda akan menghabiskan sebagian besar hidup anda, dan satu-satunya cara untuk benar-benar puas adalah melakukan apa yang anda percaya adalah pekerjaan besar. Dan satu-satunya cara melakukan pekerjaanyang besar adalah bila anda menyukai apa yang anda kerjakan.  Jika anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan puas. Sebagaimana semua hal yang melibatkan perasaan, anda akan tahu bila anda telah menemukannya. Dan, sebagaimana hubungan yang hebat, hal itu akan lebih dan lebih baik lagi seiring perjalanan waktu. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan puas.

My third story is about death.
Cerita saya yang ketiga adalah tentang kematian.

When I was 17, I read a quote that went something like: “If you live each day as if it was your last, someday you’ll most certainly be right.” It made an impression on me, and since then, for the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: “If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?” And whenever the answer has been “No” for too many days in a row, I know I need to change something.
Ketika saya umur 17, saya pernah membaca sebuah pepatah kira-kira seperti ini: “Jika anda hidup setiap hari bagaikan hidup pada hari terakhir anda, suatu saat anda akan sampai pada sesuatu yang benar”.  Pepatah itu sangat mengesankan saya, dan sejak itu, selama 33 tahun berlalu, ketika bercermin setiap pagi saya selalu bertanya kepada diri sendiri: “Jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidup saya, apakah saya akan melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?”  Dan bila jawabannya adalah “Tidak” untuk beberapa hari berturut-turut, saya sadar bahwa saya harus berubah.

Remembering that I’ll be dead soon is the most important tool I’ve ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything — all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure – these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.
Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah suatu alat yang ampuh untuk membantu saya melakukan pilihan tepat dalam hidup saya.  Sebab hampir segalanya – harapan, kebanggan, ketakutan akan kekacauan atau kegagalan – semua itu akan hilang begitu menghadapi kematian, yang tersisa hanyalah yang benar-benar penting.  Mengingat bahwa anda akan mati adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan pikiran bahwa anda akan kehilangan sesuatu.  Anda ini telah bugil.  Tak ada alasan untuk tidak menuruti kata hati anda.

About a year ago I was diagnosed with cancer. I had a scan at 7:30 in the morning, and it clearly showed a tumor on my pancreas. I didn’t even know what a pancreas was. The doctors told me this was almost certainly a type of cancer that is incurable, and that I should expect to live no longer than three to six months. My doctor advised me to go home and get my affairs in order, which is doctor’s code for prepare to die. It means to try to tell your kids everything you thought you’d have the next 10 years to tell them in just a few months. It means to make sure everything is buttoned up so that it will be as easy as possible for your family. It means to say your goodbyes.
Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa pankreas itu. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya kanker yang tidak dapat disembuhkan, dan bahwa harapan hidup saya tidak lebih dari tiga sampai enam bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala urusan saya, yang merupakan isyarat dokter agar saya bersiap mati. Ini berarti anda harus menjelaskan segalanya kepada anak-anak anda apa yang anda pikirkan bagi mereka 10 tahun ke depan dan harus mempersiapkan mereka hanya dalam beberapa bulan yang tersisa. Artinya semuanya harus siap dankeluarga anda dapat menerimanya dengan pasrah.  Artinya anda harus mengatakan selamat tinggal.

I lived with that diagnosis all day. Later that evening I had a biopsy, where they stuck an endoscope down my throat, through my stomach and into my intestines, put a needle into my pancreas and got a few cells from the tumor. I was sedated, but my wife, who was there, told me that when they viewed the cells under a microscope the doctors started crying because it turned out to be a very rare form of pancreatic cancer that is curable with surgery. I had the surgery and I’m fine now.
Saya hidup dengan diagnosa itu sepanjang hari. Ketika  itu saya harus biopsi, di mana mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, melalui perut saya dan ke dalam usus saya, menaruh jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel dari tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter itu menangis ternyata tumor itu adalah bentuk kanker pankreas yang sangat jarang tapi dapat disembuhkan dengan operasi. Saya dioperasi dan saya baik-baik saja sekarang.

This was the closest I’ve been to facing death, and I hope it’s the closest I get for a few more decades. Having lived through it, I can now say this to you with a bit more certainty than when death was a useful but purely intellectual concept:
Ini adalah saat terdekat saya dengan kematian, dan saya harap itulah yang terdekat untuk beberapa dekade lagi. Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada anda bahwa bila kematian itu berguna tetapi murni dalam konsep pengetahuan:

No one wants to die. Even people who want to go to heaven don’t want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life’s change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true.
Tidak ada yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun kematian pasti menemui kita semua. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Ini adalah sikuls hidup. Mengeluarkan yang lama untuk memberi jalan bagi  yang baru. Saat ini anda adalah yang baru, tapi suatu hari nanti tidak terlalu lama dari sekarang, anda secara bertahap akan menjadi tua dan harus dikeluarkan. Maaf bila terlalu dramatis, tetapi begitulah adanya.

Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma — which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.
Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma – yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan pendapat orang lain menenggelamkan suara hati anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi anda sendiri. Seolah-olah mereka sudah tahu anda akan menjadi apa. Pendapat orang lain itu hal yang kedua.

When I was young, there was an amazing publication called The Whole Earth Catalog, which was one of the bibles of my generation. It was created by a fellow named Stewart Brand not far from here in Menlo Park, and he brought it to life with his poetic touch. This was in the late 1960′s, before personal computers and desktop publishing, so it was all made with typewriters, scissors, and polaroid cameras. It was sort of like Google in paperback form, 35 years before Google came along: it was idealistic, and overflowing with neat tools and great notions.
Ketika saya masih muda, ada satu buku hebat yang bernama The Whole Earth Catalog, yang merupakan salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan publikasi digital, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya idealis, dan padat dengan tips rapi dan ungkapan hebat.

Stewart and his team put out several issues of The Whole Earth Catalog, and then when it had run its course, they put out a final issue. It was the mid-1970s, and I was your age. On the back cover of their final issue was a photograph of an early morning country road, the kind you might find yourself hitchhiking on if you were so adventurous. Beneath it were the words: “Stay Hungry. Stay Foolish.” It was their farewell message as they signed off. Stay Hungry. Stay Foolish. And I have always wished that for myself. And now, as you graduate to begin anew, I wish that for you.
Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi The Whole Earth Catalog, dan di akhir hidupnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, seperti yang anda lalui jika anda suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: “Tetaplah Merasa Masih Kurang Tetaplah Merasa Masih Bodoh..” Itu adalah pesan perpisahan mereka ketika mereka mengundurkan diri. Tetaplah Merasa Masih Kurang. Tetaplah Merasa Masih Bodoh. Dan saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan anda juga akan selalu merasa begitu .

Stay Hungry. Stay Foolish
Tetaplah Merasa Masih Kurang Tetaplah Merasa Masih Bodoh
Thank you all very much.
Terimakasih banyak untuk semuanya

Steve Jobs

Stanford Report, June 14, 2005
Laporan Stanford,  14 Juni 2005
loading...

1 comment:

  1. I like it when people get together and share ideas.
    Great website, keep it up!

    Here is my page: กระเป๋ากล้อง

    ReplyDelete

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih