Wednesday, October 29, 2014

Anak Suka Berbohong? Barangkali Orangtua Sendiri Penyebabnya... Ini Dia Perilaku Orangtua Yang Menyebabkan Anak Suka Bohong!

loading...
Mendidik anak dengan baik adalah kewajiban setiap orangtua. Anak yang sukses dan berhasil pada umumya lahir dari didikan orangtua yang baik.

Alangkah sedihnya kita bila menemukan ada anak yang senang berbohong, dan perilaku ini seakan menjadi satu problem besar yang dihadapi orang tua di zaman sekarang. Sejak kecil dan remaja, anak-anak kita sudah biasa berbohong, bagaimana kelak ketika ia tumbuh dewasa?

Pernahkah kita bertanya, mengapa anak suka berbohong? Sadar atau tidak, barangkali justru perilaku orang tua –sadar atau tidak- lah yang jutru membentuk anak-anak menjadi pribadi yang suka bohong.

Apa saja tindakan itu? mari kita simak dan kita hindari. Kita jauhi.

Orangtua Suka Berbohong
Jika anda tidak ingin anak-anak anda berbohong, maka kunci pertamanya adalah kejujuran orangtua.

Anak adalah makhluk yang paling mudah meniru (imitate). Apa yang dilakukan orang tuanya akan ditiru. Apa yang dicontohkan orang tuanya lebih membekas daripada apa yang dikatakannya. Seribu kata-kata orang tua bisa dilupakan oleh anak begitu saja, tetapi satu saja kebiasaan orang tua akan menancap dalam perilakunya.

Sayangnya, banyak orang tua yang sejak kecil telah berbohong kepada anak. Ini yang kemudian direkam oleh anak dan ditirunya. Misalnya, ketika anak menangis, si ibu akan membujuknya, “Ayoo... diam... nanti kalau diam ibu belikan es krim...". Anak pun diam karena terpancing dengan hadiah yang akan diterimanya. Namun alangkah kecewanya setelah sekian lama menunggu, di anak tidak pernah mendapatkan es krim yang dijanjikan oleh sang ibu.

Sekali saja orang tua berbohong, ini akan direkam oleh sang anak. Ia akan membuat kesimpulan: berbohong itu tidak apa-apa. Yang lebih berbahaya, jika orang tua biasa berbohong. Semakin sering, semakin anak akan terbiasa dengan kebohongan. Hari ini dibohongi agar ia diam. Besuk dibohongi agar ia mau belajar. Besuknya lagi dibohongi agar anak mau berangkat sekolah, dan sebagainya.

Mengajari Berbohong Kepada Orang Lain
"Eh, nanti kalau Tante Ira nelpon, bilang mama nggak ada di rumah ya...". Begitu pesan seorang ibu kepada anaknya yang masih duduk di bangku SD.

Sadar atau tidak, perilaku seperti ini merupakan preseden buruk bagi anak. Mungkin orang tua tidak menyadari bahwa hal ini akan sangat fatal membentuk jiwa anak biasa berbohong. Maka jangan salahkan anak jika suatu saat kita dibohongi, karena kitalah yang telah mengajarinya berbohong.

Menghukum Anak Saat Ia Jujur
Di suatu siang, seorang ibu pulang dari pasar.

"Eh, siapa yang memecahkan gelas ini?" Ujar sang ibu melihat pecahan gelas di lantai.

"Saya, bu...". Ujar Hafiz, anak yang masih TK itu dengan polos.

Mendengar itu, sang ibu langsung marah-marah dan membentak anak dengan sejadi-jadinya/

Sadarkah kita, bahwa ada anak yang semula jujur menjadi ‘berlatih’ berbohong karena perlakuan orang tua yang menghukumnya saat ia jujur. Anak yang  jujur, mengaku berbuat salah, malah dijatuhi hukuman.

Belajar dari hal tersebut, anak bisa berpikir, “kalau saya mengaku, kalau saya jujur, saya pasti kena hukuman”. Akhirnya, ia berbohong. Ketika suatu hari ia ditanya oleh ayahnya, “Siapa yang memecahkan gelas di ruang tamu?” Ia pun menjawab “Bukan saya, Yah” Lalu ia suka berbohong karena dengan berbohong seperti itu ia selamat dari marah dan hukuman.

Memuji Anak Saat Ia Bohong
Bisa pula anak suka berbohong karena sewaktu ia pertama kali berbohong, ia justru diapresiasi oleh orang tuanya. Misalnya anak kita berbohong atau membohongi kakaknya, lalu kita tertawa karena merasa terhibur. Nah, ini bisa dianggap sebagai apresiasi. Dan anak yang membutuhkan perhatian lalu ia mendapatkannya dengan cara begini, berbohong bisa menjadi suatu yang ia suka. Wallahu a’lam bish shawab.
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih