Orang Rajin Bersedekah Itu Bahagia, begini penjelasan ilmiahnya...

Pernahkah kita merasakan, ketika kita mengeluarkan sedekah kepada orang yang membutuhkan, ketika kita bisa membantu meringankan beban orang lain, lalu muncul perasaan bahagian entara dari mana dalam lubuk hari kita?;

Wednesday, May 23, 2018

Air Pati Bawang: Resep Tradisional Obat Batuk Dari Amerika Selatan... Begini Cara Membuatnya

Batuk merupakan salah satu keluhan yang dilami banyak orang. Menurut wikipedia, batuk bukanlah suatu penyakit, melainkan merupakan mekanisme pertahanan tubuh di saluran pernapasan dan merupakan gejala suatu penyakit atau reaksi tubuh terhadap iritasi di tenggorokan karena adanya lendir, makanan, debu, asap dan sebagainya.

Batuk terjadi karena rangsangan tertentu, misalnya debu di reseptor batuk (hidung, saluran pernapasan, bahkan telinga). Kemudian reseptor akan mengalirkan lewat saraf ke pusat batuk yang berada di otak. Di sini akan memberi sinyal kepada otot-otot tubuh untuk mengeluarkan benda asing tadi, hingga terjadilah batuk.

Srangan batuk sangat menggangu aktifitas sehari-hari. Batuk dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu batuk akut dan batuk kronis, keduanya dikelompokkan berdasarkan waktu.

Batuk akut adalah batuk yang berlangsung kurang dari 14 hari, serta dalam 1 episode. Bila batuk sudah lebih dari 14 hari atau terjadi dalam 3 episode selama 3 bulan berturut-turut, disebut batuk kronis atau batuk kronis berulang.

Batuk kronis berulang yang sering menyerang anak-anak adalah karena asma, tuberkolosis (TB), dan pertusis (batuk rejan/batuk 100 hari). Pertusis adalah batuk kronis yang disebabkan oleh kuman Bordetella pertussis.

Ada berbagai cara untuk menyembuhkan gejala batuk, baik secara tradisional maupun modern. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan bawang yang ada di rumah kita.

Pengobatan batuk dengan ramuan tradisiional ini sudah jamak dilakukan oleh masyarakat di Amerika Selatan, seperti di Parguay dan Republik Dominika.

Tak hanya batuk, ramuan ini juga ampuh untuk membasmi dahak dan membersihkan saluran pernafasan.

Bagaimana caranya?

1. Iris bawang kecil-kecil.
2. Masukkan ke dalam toples.
3. Tambahkan taburan gula ke dalam irisan bawang, lalu aduk. Kalau tidak ada gula, boleh juga diganti dengan madu.
4. Tutup toples rapat-rapat.
5. Simpan toples di dalam kulkas semalaman (kira-kira 12 jam).
6. Pada pagi hari, keluarkan toples. Buka, maka akan terlihat air saripati bawang di bagian bawah.
7. Ambil satu sendok air pati bawang tersebut, lalu diminum.

Untuk selengkapnya, simak cara pembuatannya seperti dalam video di bawah ini:


Credit video: DW Arabic
loading...

[Kisah dan Ibrah]: Kasus Pembunuhan dan Sapi Betina

Dahulu kala di zaman Nabi Musa as, hiduplah seorang hartawan yang kaya raya. Kekayaannya melimpah ruah tidak terkira. Namun ia tidak punya anak keturunan yang akan mewarisi kekayaannya. Ahli waris yang ada hanyalah para kerabatnya.

Salah seorang pemuda dari kerabatnya sangat menginginkan harta yang banyak tersebut. Imam Ibnu Jarir Ath Thabary menukilkan dalam tafsirnya tiga versi riyawat tentang pemuda ini. Ada yang mengatakan dia salah seorang kerabatnya atau walinya. Ada riwayat menyebutkan pemuda tersebut adalah anak laki-laki dari saudara hartawan tersebut. Riwayat ketiga menyebutkan ia seorang pemuda miskin yang melamar anak gadis hartawan tersebut. Tapi lamarannya ditolak.

Pemuda ini tidak sabar lagi untuk segera mendapatkan harta warisannya. Sekaligus mendapat uang diyat (pengganti) kematian hartawan itu. Karenanya, diam-diam ia merancang pembunuhan hartawan tersebut. Sekira-kira yang tertuduh nantinya adalah orang lain.

Pada suatu malam ia eksekusi pembunuhan tersebut. Kemudian mayatnya ia letakkan di depan sebuah rumah di desa (kabilah) yang lain. Sehingga penduduk desa itu akan menjadi tertuduh. Paling tidak, mereka bersama harus membayar diyat karena mayatnya berada di kampung mereka.

Keesokan harinya pemuda tersebut pura-pura mencari kerabatnya yang kaya raya itu, karena sudah hilang di desanya. Sampailah ia di lokasi mayat di desa tetangga. Terjadilah keributan karena penduduk desa tersebut menjadi tertuduh. Dan si pembunuh yang berpura-pura kehilangan kerabatnya itu, menuntut pembayaran diyat (ganti) atas kematian kerabatnya.

Akhirnya keributan itu berhenti setelah ada yang mengusulkan agar melaporkan kasus ini kepada Nabi Musa. Sekaligus meminta petunjuk untuk menyingkap siapa gerangan pembunuh sebenarnya.

Maka Nabi Musa ketika itu memohon petunjuk kepada Allah. Agar diberitahu siapa sebenarnya pembunuh lelaki kaya tersebut. Ternyata Allah tidak langsung memberikan jawaban. Allah malah memberikan pelajaran berharga kepada mereka (bani Israil).

Allah memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi. Mendengar perintah yang terkesan aneh ini, watak asli bani Israil ini muncul. Yaitu watak pembangkang, tidak patuh dan percaya (tsiqah) kepada Allah. Apalagi kepada NabiNya.

Respon awal mereka langsung melecehkan Nabi Musa. Seolah-olah yang berbicara kepada mereka bukanlah seorang Nabi. "Wahai Musa, apakah engkau jadikan kami sebagai bahan olok-olokkan?" Kata mereka kepada Nabi Musa.

Karena tidak ingin berdebat panjang dengan mereka, Nabi Musa langsung menjawab, "Aku berlindung kepada Allah agar aku tidak menjadi orang-orang yang bodoh".

Sebuah jawaban yang sangat tegas lagi serius dari seorang Nabi, agar kaumnya tersadar bahwa  titah Nabi itu tidak main-main. Dan bahwa titah Nabi itu datang dari Allah Yang Maha Tahu lagi Bijaksana.

Seharusnya bani Israil ketika itu harus langsung sadar dan mengeksekusi perintah dari Nabi mereka, untuk menyembelih seekor sapi. Tapi karena watak pembangkang, suka ngeles dan cari-cari alasan sudah terlanjur mengakar dalam diri mereka, justru mereka berkelit kembali.

Mereka bertanya, "Tolong tanya kepada Tuhanmu, agar Dia jelaskan kepada kami tentang sapi tersebut?". Sebuah pertanyaan yang menohok dan sangat kurang ajar. Mereka mengatakan kepada Nabi Musa "Tuhanmu". Seolah-olah Tuhan Nabi Musa bukan tuhan mereka. Dan seolah-olah mereka belum beriman kepada Allah, Tuhannya Nabi Musa.

Akan tetapi Nabi Musa tidak mau terseret dengan penyimpangan kaumnya. Beliau memberi jawaban yang tegas dan jelas. "Sapi yang dimaksud adalah sapi yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Pertengahan antara keduanya. Maka, laksanakanlah perintah Allah kepada kalian ini".

Jawaban ini sebenarnya sudah sangat jelas, tegas dan mudah dipahami untuk dilaksanakan. Bahkan dilengkapi dengan ungkapan "laksanakan" perintah Allah kepada kalian. Intruksi yang sangat gamblang. Mereka sudah bisa menyembelih sapi apapun yang penting pertengahan. Sehingga melepaskan kewajiban dan terbebas dari kerumitan serta keruwetan.

Akan tetapi, dasar bani Israil tetap bani Israil. Terlalu sering mereka "mbalelo" terhadap Nabi dan Rasul Allah. Mereka bertanya lagi, "Tanyakan kepada Tuhanmu, tolong jelaskan, sapi itu apa warnanya?". Sekali lagi mereka tak menganggap Tuhan Nabi Musa sebagai tuhan mereka.

Maka, tidak dapat tidak, permintaan ini mengakibatkan jawaban yang rinci. Allah memberikan jawaban: "Sapinya adalah sapi betina yang berwarna kuning, tua warnanya, yang menyenangkan orang yang memandangnya."

Rincian kriteria sapi ini telah membuat mereka menjadi sangat sulit dan susah. Apalagi dengan tambahan kriteria "menyenangkan" orang yang melihatnya. Tentulah sapinya sangat sehat, tidak ada cacat, tidak kurus, berisi lagi kekar dan "tongkrongannya" meyakinkan.

Sampai disini harusnya sudah langsung mereka eksekusi. Tapi lagi-lagi perangai buruk bani Israil ini menjadi-jadi. Mereka persulit diri mereka sendiri, maka Allah lebih mempersulit. Mereka cari-cari dalih untuk bertanya lagi: "Kriteria sapi itu masih belum jelas bagi kami, tolong tanyakan kepada Tuhanmu, agar Dia jelaskan seperti apa sapi tersebut?" Lalu mereka hibur diri mereka dengan harapan: "Mudah-mudahan kami mendapat petunjuk."

Jawaban Allah berikutnya tentu akan semakin mempersulit dan menambah beban mereka. Sebab, kriterianya semakin bertambah. Allah menjelaskan: "Sapi betina tersebut adalah sapi yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak untuk mengairi ladang, sehat dan tanpa belang sama sekali."

Setelah semua rincian yang sangat datail dan rumit ini, barulah bani Israil mengaku, "Sekarang, barulah engkau terangkan dengan benar." Seolah-olah jawaban-jawaban sebelumnya bukanlah sebuah kebenaran.

Akibatnya, mereka sangat susah menemukan sapi betina dengan kriteria yang sangat sempurna. Dan ketika mereka temukan sapi tersebut, harganya sangatlah mahal. Sapi tersebut milik seorang anak yatim yang shaleh. Imam As Suddi menyebutkan bahwa sapi itu harus mereka beli dengan harga emas seberat 10 kali lipat berat sapi tersebut.

Itu sebagai akibat (hukuman) atas pembangkangan dan "nyinyirnya" kepada perintah Allah dan Nabinya. Akhirnya mereka bisa menyembelih sapi yang disyaratkan Allah. Kemudian Nabi Musa mengambil sebagian daging sapi tersebut, lalu memukulkannya ke jasad mayat yang terbaring.

Dengan izin Allah mayat itu hidup kembali. Ia bangkit dan berkata, "Orang itu yang membunuhku." Ujarnya sambil menunjuk ke pemuda tadi. Kemudian ia pun kembali mati seketika.

Maka terungkaplah pelaku pembunuhan yang sebenarnya. Dan terbebaslah penduduk desa lain dari tuduhan dan denda. Kejadian ini menjadi bukti kekuasaan Allah Yang mampu menghidupkan dan mematikan, dengan cara yang Dia kehendaki. Sekaligus peristiwa itu menjadi mukjizat Nabi Musa. Allah mengabadikan kisah ini dalam QS Al Baqarah: 67-73.

Pelajaran

1. Allah sangat berkuasa untuk menghidupkan dan mematikan makhlukNya.
2. Allah sangat berkuasa untuk memunculkan semua yang disembunyikan oleh makhlukNya, tidak ada yang rahasia dalam ilmuNya.
3. Membangkang kepada perintah Allah dan RasulNya, tidak percaya kepada ajaranNya, hanya akan mendatangkan kehinaan dan malapetaka di dunia dan di akhirat.
4. Cinta dan tamak dengan dunia akan menjerumuskan manusia ke dosa-dosa yang tak berakhir, kecuali dengan kematian.
5. Membangkang, banyak tanya yang tidak perlu, banyak alasan, tidak sopan kepada Nabi dan Rasul, adalah watak bani Israil yang sangat tercela.

Wallahu A'laa wa A'lam.
[dikutip dari tulisan Ustadz Irsyad]
loading...

Tuesday, May 22, 2018

[Bahan Kultum Ramadhan] Puasa dan Al-Qur'an

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS Al-Baqarah: 185).

Syaikh Salim al-Hilali dan Ali Hasan Abdul Hamid dalam kitabnya “Shifatu Shoumu an-Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam” mengatakan bahwa penjelasan tentang Al-Qur`an yang diturunkan pada bulan Ramadhan, lalu dikaitkan dengan kalimat  فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ  yang merupakan kewajiban berpuasa dengan huruf “fa” yang berfungsi sebagai alasan dan sebab, itu artinya dipilihnya Ramadhan menjadi bulan puasa adalah karena Al-Qur`an diturunkan pada bulan itu.

Bahkan dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi yang lain juga diturunkan pada bulan Ramadhan.

Ayat di atas juga memberikan pemahaman kepada kita bahwa puasa dan Al-Qur`an memiliki kaitan sangat erat. Keduanya akan menjadi penolong kita di akhirat kelak. Rasulullah Saw. bersabda,

Puasa dan Al-Qur`an itu akan memberikan syafa’at kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Sedangkan Al-Qur`an akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Maka Allah Swt. memperkenankan keduanya memberikan syafa’at.” (HR Imam Ahmad dan Ath-Thabrani).

Dengan diwajibkannya puasa pada bulan Ramadhan, sedangkan pada bulan itu juga diturunkan Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan sebagai furqan (pembeda antara yang hak dan yang bathil), maka Allah Swt. menginginkan agar kewajiban puasa tidak dianggap sebagai beban. Al-Qur`an memuat ketentuan-ketentuan yang memudahkan pelaksanaan ibadah puasa. Sementara puasa adalah sarana untuk mencapai insan bertaqwa. “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS Al-Baqarah: 185).
Oleh karena itu, jika Allah Swt. memberi taufik kepada kita untuk menyempurnakan ibadah Ramadhan kali ini dalam rangka menaati Allah, maka hal itu merupakan hidayah dan hadiah yang patut disyukuri.

“Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur” (QS Al-Baqarah: 185).

Ketika amaliyah Ramadhan dapat kita sempurnakan dan dilanjutkan dengan ucapan serta sikap syukur kepada Allah, maka Allah Swt. akan mengabulkan semua permintaan dan permohonan kita.

Dan apabila hambaa-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS Al-Baqarah: 186).

Imam Hasan Al-Banna ketika mengulas ayat ini mengatakan bahwa Allah Swt. amat dekat kepada hamba-Nya pada bulan Ramadhan. Tentang keistimewaan bulan Ramadhan di sisi Allah ditegaskan sendiri oleh Allah Swt. melalui hadits qudsi, “Semua amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Ia adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasanya” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. bersabda, “Jika bulan Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, kemudian datang seorang penyeru dari sisi Allah Yang Maha Benar, ‘Wahai pencari kejahatan, berhentilah! Dan wahai pencari kebaikan, kemarilah!” (HR Bukhari dan Muslim).

Pintu-pintu surga dibuka karena manusia berbondong-bondong melaksanakan ketaatan, ibadah, dan taubat, sehingga jumlah pelakunya banyak. Setan-setan dibelenggu, karena manusia beralih kepada kebaikan, sehingga setan tidak mampu berbuat apa-apa. Hari-hari dan malam-malam Ramadhan merupakan masa-masa kemuliaan yang diberikan Allah Swt. agar orang-orang yang berbuat baik menambah kebaikannya dan orang-orang yang berbuat jahat bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya.

Ada ikatan hakikat dan fisik antara turunnya Al-Qur`an dengan Ramadhan. Ikatan ini adalah selain Allah menurunkan Al-Qur`an di bulan Ramadhan, maka di bulan ini pula Allah mewajibkan puasa. Karena puasa artinya menahan diri dari hawa nafsu dan syahwat. Ini merupakan kemenangan hakikat spirutual atas hakikat materi dalam diri manusia. Ini berarti jiwa, ruh, dan pemikiran manusia pada bulan Ramadhan akan menghindari tuntutan-tuntutan jasmani. Dalam kondisi seperti ini, ruh manusia berada di puncak kejernihannya, karena ia tidak disibukkan oleh syahwat dan hawa nafsu. Ketika itu ia dalam keadaan paling siap untuk memahami dan menerima ilmu dari Allah Swt. Karena itu, bagi Allah, membaca Al-Qur`an merupakan ibadah paling utama pada bulan Ramadhan yang mulia.

Sedikitnya ada empat kewajiban kita terhadap Al-Qur`an.

Pertama, hendaknya kita memiliki keyakinan yang sungguh-sungguh dan kuat bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kita kecuali sistem sosial yang diambil dan bersumber dari Kitab Allah Swt., yaitu Al-Qur`an. System sosial apapun yang tidak mengacu atau tidak berlandaskan Al-Qur`an pasti bakal menuai kegagalan. Banyak orang yang mengatasi problema ekonomi dengan terapi tambal sulam. Sementara Al-Qur`an telah menggariskan aturan zakat, mengharamkan riba, mewajibkan kerja, melarang pemborosan, sekaligus menanamkan kasih sayang antarsesama manusia.

Kedua, kita wajib menjadikan Al-Qur`an sebagai sahabat karib, kawan bicara, dan guru. Kita harus mendengarkannya, membacanya, dan menghafalnya. Jangan sampai ada hari yang kita lalui sedangkan kita tidak menjalin hubungan dengan Allah Swt. melalui Al-Qur`an.

Dengarkanlah Al-Qur`an agar kita mendapat rahmat Allah Swt.,

Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (QS Al-A’raf: 204).

Hendaknya kita membaca Al-Qur`an secara rutin, meskipun sedikit. Sunnah mengajarkan kita agar mengkhatamkannya tidak lebih dari satu bulan dan tidak kurang dari satu hari. Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum Muslimin, beliau mengambil Al-Qur`an dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, “Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur`an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.”

Rasulullah Saw. bersabda:

Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka ia memperoleh satu kebaikan, dan satu kebaikan berlipat sepuluh kali. Aku tidak katakan alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf” (HRTirmidzi).

Kita pun harus berupaya untuk menghafal Al-Qur`an agar tidak diidentikkan dengan rumah kumuh yang hampir roboh. “Orang yang tidak punya hafalan Al-Qur`an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang hampir roboh” (HR Tirmidzi dari Ibnu ‘Abbas).

Ketiga, hendaknya kita merenung dan meresapinya. Jika hati kita belum dapat konsentrasi sampai pada tingkat menghayatinya, hendaklah kita berusaha untuk menghayatinya. Jangan sampai syetan memalingkan kita dari keindahan perenungan sehingga kita tidak dapat mereguk kenikmatan darinya.
Allah Swt. menjelaskan bahwa Al-Qur`an diturunkan untuk ditadabburi ayat-ayatnya dan dipahami maknanya. “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS Shaad: 29).

Ali bin Abi Thalib Ra. berkata,
“Ketahuilah tidak ada kebaikan dalam ibadah kecuali dengan ilmu, tidak ada kebaikan dalam ilmu kecuali dengan pemahaman, dan tidak ada kebaikan dalam membaca Al-Qur`an kecuali dengan tadabbur.”
Keempat, kita wajib mengamalkan hukum-hukumnya lalu mendakwahkannya kepada orang lain. Inilah tujuan utama diturunkannya Al-Qur`an. Allah Swt berfirman:

“Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat” (QS Al-An’am: 155).

Hukum-hukum Al-Qur`an menurut yang saya pahami terbagi menjadi dua. Pertama, hukum-hukum yang berkaitan dengan individu, seperti shalat, puasa, zakat, haji, taubat, dan hal-hak yang berkaitan dengan akhlaq Islam, seperti jujur, adil, komitmen kepada kebenaran, dan sebagainya. Kedua, hukum-hukum yang berkaitan dengan masyarakat atau penguasa. Ini adalah kewajiban negara, misalkan menegakkan hudud (sanksi hukum) dan masalah-masalah yang merupakan tugas negara dalam Islam.

Setiap Muslim harus berupaya untuk mengamalkan hukum-hukum yang bersifat individu, baik yang berupa ibadah maupun menerapkan nilai-nilai akhlaqul karimah. Jika nilai-nilai Al-Qur`an telah tegak di hati setiap Muslim, maka ia akan tegak di muka bumi.

Mumpung saat ini kita berada di bulan Ramadhan, marilah kita membaca Al-Qur`an, menghafal dan mentadabburi ayat-ayatnya, memahami maknanya, mengamalkannya, lalu mendakwahkannya kepada umat manusia. Ketika jiwa manusia kering, Al-Qur`an akan menyejukkannya. Ketika pikiran manusia kacau, Al-Qur`an akan menenteramkannya. Wallahu a’lam bishshawab.
loading...

Monday, May 21, 2018

[Kisah Hikmah]: Aku Ingin Keluar Dari Pengajian

Alkisah, ada seorang jama'ah berbincang dengan seorang Syaikh ahli Hikmah yang menjadi tempat rutin ia mengaji :

"Syaikh, saya tidak mau ikut pengajian ini lagi"_

"Kenapa begitu? Apa alasannya?", tanya Sang Syaikh Ahli Hikmah.

"Saya lihat di pengajian ini tidak baik... banyak perempuan di sini yang suka bergosip, laki-lakinya pun banyak yang munafik, pengurusnya cara hidupnya tidak benar, jama'ahnya sibuk dengan HP-nya saja, pokoknya banyak yang tidak baik saya lihat".

"Baiklah, silahkan kalau begitu. Tapi sebelum kau pergi, maukah engkau lakukan sesuatu untukku?"

"Tentu saja, Syaikh... apa itu?".

"Ambillah segelas penuh air dan berjalanlah mengelilingi dalam masjid ini tanpa menumpahkan setetes air sekalipun ke lantai. Setelah itu engkau bisa meninggalkan masjid ini seperti keinginanmu."

"Itu mudah sekali!"

Diapun melakukan apa yang dimintakan Sang Syaikh Ahli Hikmah, sementara pengajian sedang berlangsung.

Setelah selesai, dia berkata kepada Sang Syaikh Ahli Hikmah bahwa dia siap untuk pergi.

"Sebelum kau pergi, ada satu pertanyaan. lagi Ketika kau tadi berjalan keliling dalam masjid, apa engkau mendengar orang bergosip, melihat orang munafik, melihat orang sibuk dengan hpnya ?"

"Tidak."

"Engkau tahu mengapa?"

"Tidak."

"Karena engkau fokus pada gelasmu, memastikan tidak tersandung dan tidak ada air yang tumpa.... Begitupun dengan kehidupan kita. Ketika kita mengarahkan pandangan kita kepada Nur Allah yang kita imani, maka : Kita tidak akan punya waktu untuk melihat kesalahan orang lain,  Kita tidak akan punya waktu untuk menilai dan mengkritik orang lain,  Kita tidak akan punya waktu untuk bergosip ria dengan orang lain, kita akan menolong orang lain dan fokus pada langkah kita menggapai Nur-Nya...".

Sang Syaikh melanjutkan:

"Ingat, direndahkan tidak mungkin jadi sampah, disanjung tidak mungkin jadi rembulan. Maka jangan risaukan omongan orang, sebab setiap orang membacamu dengan pemahaman dan pengalaman yang berbeda.

Teruslah melangkah selama engkau di jalan yang benar, meski terkadang kebaikan tidak selalu dihargai.

Tidak usah repot-repot menjelaskan tentang dirimu, sebab yang menyukaimu tidak butuh itu dan yang membencimu tidak percaya itu.

Hidup bukan tentang siapa yang terbaik, tapi tentang siapa yang mau berbuat baik.

Jika dizhalimi orang jangan berpikir untuk membalas dendam, tapi berpikirlah cara membalas dengan kebaikan.

Jangan mengeluh, teruslah berdoa dan ikhtiar. Sibukkan diri dalam kebaikan hingga keburukan lelah mengikutimu.

Mudah-mudahan bermanfaat dan dapat kita amalkan...
loading...

Sunday, May 20, 2018

Nonton Live Streaming TV Sunnah Nabawiyyah Madinah Al-Munawwarah

Channel televisi Sunnah Nabawiyyah adalah kanal tivi resmi milik pemerintah kerajaan Saudi Arabia yang didirikan pertama kali pada masa Raja Abdullah bin Abdul Aziz, dan mengudara pertama kali pada tanggal 30 Dzulhijjah 1430 Hijriyah.

Channel ini menyiarkan siaran langsung suasana terkini [live] Masjid Nabawi di Madinah al-Munawwarah. Selain sholat lima waktu, channel ini juga menyiarkan sholat-sholat sunnah bermajamaah seperti sholat tarawih di Masjid Nabawi, sholat 'i'ed (hari raya) dan sebagainya., Selain itu, channel ini juga menyiarkan bacaan hadits-hadits Nabi dan tausiyah agama secara audio dengan latar gambar live suasa masjid Nabawi.

Saat ini, direksi kanal ini dipimpin oleh Izzuddin bin Abdullah Katib.



Tonton Juga:

قناة السنة النبوية هي قناة تلفزيونية سعودية حكومية تبث من المدينة المنورة بث حي مباشر 24 ساعة للمسجد النبوي الشريف، تنقل جميع الصلوات مصحوبةً بتعليق صوتي من مذيعي القناة لوصف الصورة ونقلها للمشاهد في أرجاء العالم، وفي خارج أوقات الصلاة تنقل صور مباشر للمسجد النبوي مع طائفة من أقوال النبي محمد Mohamed peace be upon him.svg، وهي ملتزمة بالسياسة الإعلامية. القناة منذ افتتاحها لم تغلق إرسالها أبداً وفي بثها تصدر أقوالاً للسنة النبوية لذلك سميت القناة بقناة السنة النبوية، وللقناة شقيقة وهي قناة القرآن الكريم.

التأسيس

تاسست القناة في عهد الملك عبد الله بن عبد العزيز وبدأ البث في 30 من ذي الحجة 1430هـ.

الإدارة

يشرف على القناة مدير مركز تلفزيون المدينة المنورة، والمدير الحالي هو الأستاذ عزالدين بن عبد الله كاتب
loading...