Tahukah Anda, Sebelum Dijajah Spanyol, Filipina Pernah Dipimpin Oleh Perantau Minangkabau ...?

ARMADA SPANYOL menamai negeri yang baru mereka kuasai itu; Philipina—sebagai penghormatan kepada King Philip, suami Tuan Putri Joanna. Jauh sebelum itu, negeri itu dipimpin oleh seorang pengembara dari Minangkabau...;

Friday, December 15, 2017

[Khutbah Jum'at]: Al-Quds Milik Kita [Download PDF]

إنَّ الحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّ ئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يهَْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

يَا أَيهَُّا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تقَُاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون
يَا أَيهَُّا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ ا لَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نفَْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا
كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيهَُّا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا ال لَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا , يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah yang memuliakan Islam dengan pertolongan‐Nya, merendahkan kesyirikan
dengan kekuatan‐Nya, mengatur segala urusan dengan perintah‐Nya, mempertahankan nikmat
dengan bersyukur kepada‐Nya.

Shalawat dan salam tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, juga kepada khalifah beliau, Abu Bakar as‐Siddiq yang pertama‐tama beriman. Semoga terlimpah pula kepada Amirul Mukminin Umar bin Khatab, orang pertama yang memerdekakan al‐Quds. Semoga terlimpah pula kepada Amirul Mukminin Utsman bin Affan, yang mengumpulkan Al‐Quran. Semoga berlimpah pula kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib yang mengguncangkan kesyirikan. Semoga terlimpah pula kepada para shahabat dan orang‐orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Jamaah Jumat rahimakumullah
Najmuddin Ayyub, seorang amir Tikrit, belum juga menikah dalam tempo yang lama. Maka bertanyalah saudaranya, Asaduddin Syirkuh, kepadanya, “Wahai saudaraku, kenapa engkau belum juga menikah?”

Najmuddin menjawab, “Aku belum menemukan seorang pun yang cocok untukku.”

“Maukah aku pinangkan seorang wanita untukmu?” tawar Asaduddin.

“Siapa?” Tandasnya.

“Puteri Malik Syah, anak Sulthan Muhammad bin Malik Syah Suthan Bani Saljuk atau puteri menteri Malik,” jawab Asaduddin.

“Mereka semua tidak cocok untukku,” tegas Najmuddin kepadanya.

Ia pun terheran, “Lantas siapa yang cocok untukmu?”

Najmuddin menjawab, “Aku menginginkan wanita shalehah yang akan menggandeng tanganku menuju jannah dan akan melahirkan seorang anak yang ia didik dengan baik hingga menjadi seorang pemuda dan ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin.”

Asaduddin pun heran dan bertanya, “Lalu dari mana engkau akan mendapatkan wanita tersebut?”

“Barang siapa yang mengikhlaskan niatnya hanya kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepadanya,” jawab Najmuddin.

Suatu hari, Najmuddin duduk bersama salah seorang syaikh di masjid kota Tikrit berbincangbincang. Lalu datanglah seorang pemudi memanggil syaikh tersebut dari balik tabir sehingga ia memohon izin dari Najmuddin untuk berbicara dengan sang pemudi. Najmuddin mendengar pembicaraan sang syaikh dengan si pemudi. Syaikh itu berkata kepada si pemudi,

“Mengapa engkau menolak pemuda yang aku utus ke rumahmu untuk meminangmu?”

Pemudi itu menjawab, “Wahai syaikh, ia adalah sebaik‐baik pemuda yang memiliki ketampanan dan kedudukan, akan tetapi ia tidak cocok untukku.”

“Lalu apa yang kamu inginkan?” Tanya syaikh.

Ia menjawab, “Aku menginginkan seorang pemuda yang akan menggandeng tanganku menuju jannah dan aku akan melahirkan seorang anak darinya yang akan menjadi seorang ksatria yang
bakal mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin.”

Ucapan yang persis dilontarkan oleh Najmuddin kepada saudaranya Asaduddin. Ia menolak puteri Sulthan dan puteri menteri bersamaan dengan kedudukan dan kecantikan yang mereka miliki. Demikian juga dengan sang pemudi, ia menolak pemuda yang memiliki kedudukan, ketampanan, dan harta. Semua ini dilakukan karena keduanya Keduanya mengidamkan sosok yang dapat menggandeng tangannya menuju jannah dan melahirkan seorang ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin.

Najmuddin pun berkata kepada syaikh tersebut, “Wahai Syaikh, aku ingin menikahi pemudi ini.”

“Tapi ia seorang wanita fakir dari kampung,” jawab asy‐syaikh.

“Wanita ini yang saya idamkan,” tegas Najmuddin.

Menikahlah Najmuddin Ayyub dengan pemudi tersebut dan Allah mengabulkan harapan keduanya. Dari mereka berdua lahirlah Shalahuddin al‐Ayyubi, sosok ksatria yang kelak mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin.

Jamaah jumat rahimakumullah,
Mengapa mereka memimpikan dari keluarga mereka akan lahir sosok yang mengembalikan Baitul Maqdis kedalam pangkuan Islam? Sebab mereka tahu betul bahwa Baitul Maqdis, yang kini dikenal dengan Jerusalem, bagi kaum muslimin bukan sekadar memiliki nilai historis tinggi, namun merupakan bagian yang tak terpisahkan dari aspek keagamaan.

Dalam Al‐Qur`an, Allah menggambarkan Baitul Maqdis dan Masjidnya dengan tempat yang diberkahi, yaitu berupa kebaikan‐kebaikan yang selalu bertambah.

Allah berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ

Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba‐Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram
ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya.” (QS. al‐Isra`:1).

Prof. Dr. Muhammad Imarah menyebutkan dalam bukunya yang berjudul Al‐Quds Baina al-Yahuudiyah wa al‐Islam, “Istilah ‘Masjidil Aqsha’ dalam Surah ini maksudnya adalah Madinah al‐Quds. Yaitu seluruh wilayah al‐Quds atau Baitul Maqdis. Yang dimaksud dengan kata ‘masjid’ bukan bermakna bangunan arsitektur untuk masjid, karena bangunan masjid belum berdiri di al‐Quds pada tahun 621 Masehi pada malam Isra`.

Demikian halnya ungkapan, ‘Masjidil Haram’ dalam ayat ini maksudnya adalah seluruh wilayah Makkah, tidak hanya terbatas pada Ka’bah dan Masjidil Haram.”

Allah juga berfirman yang menunjukkan kesucian Baitul Maqdis dalam firman‐Nya:

َ
يَاقَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang‐orang yang merugi." (QS. Al‐Maidah: 21)

Jamaah jumat rahimakumullah,
Dalam hadits, Rasulullah juga menyebutkan banyak keutaman Masjidil Aqsha yang berada di Jerusalem. Abu Dzar Radhiyallahu anhu pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali diletakkan di bumi?” Nabi menjawab, “Masjidil Haram.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa? Nabi menjawab, “Masjidil Aqsha.” Aku bertanya, “Berapakah jarak antara keduanya?” Nabi menjawab, “40 tahun. Kemudian di manapun kalian mendapati waktu shalat, maka shalatlah sesungguhnya ada keutamaan di dalamnya.”

Dalam hadits yang lain, Rasulullah menuturkan bahwa Baitul Maqdis tidak akan dimasuki oleh Dajjal. Junadah Bin Abi Umayyah, dia berkata, kami mendatangi seorang shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, “Ceritakan kepada kami apa yang engkau dengar dari Rasulullah. Kemudian dia menyebutkan hadits tentang Dajjal dan mengatakan, “Dia akan tinggal di bumi selama 40 hari. Ia akan menguasai segala penjuru dan ia tidak akan mendatangi empat masjid, yaitu Ka`bah, Masjid Nabi, Masjid Aqsha, dan at‐Thur.’ (HR. Ahmad).

Dalam musnad Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah, Rasulullah bersabda, “Tidak diperbolehkan mengadakan perjalanan dalam rangka beribadah kepada Allah Azza wa Jalla kecuali pada tiga masjid, yaitu Masjidku (Nabawi), Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsha.”

Nabi juga memberikan kabar gembira dengan kemenangan Baitul Maqdis. Diantara yang menguatkan hadits ini adalah hadits Auf bin Malik radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hitunglah enam hal sebagai tanda kiamat, kematianku dan kemenangan Baitul Maqdis.” (HR. al‐Bukhari).

Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Al‐Quds adalah Ibukota Khilafah Islamiyah di akhir zaman. Rasulullah pernah meletakkan tangan di atas kepala Abdullah Bin Hawalah dan berkata :

يَا ابْنَ حَوَالَةَ إِذَا رَأَيْتَ الخِْلَافَةَ قَدْ نزََلَتْ الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ فَقَدْ دَنَتْ الزَّلَازِلُ وَالْبَلَايَا وَالْأُمُورُ الْعِظَامُ
وَالسَّاعَةُ يوَْمَئِذٍ أَقْرَبُ إِلَى النَّاسِ مِنْ يَدَيَّ هَذِهِ مِنْ رَأْسِكَ

“Wahai Ibnu Hawalah, apabila engkau melihat khilafah telah turun di bumi yang suci, maka telah dekat kegoncangan, kekacauan. dan sesuatu yang besar. Ketika itu kiamat lebih dekat kepada manusia daripada tanganku ini di kepalamu.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Sesungguhnya masalah al‐Quds adalah permasalahan bersama umat Islam. Setiap muslim mempunyai hak terhadap bumi berkah tersebut dan wajib menolongnya dengan segala daya dan upaya. Dr. Ragib As‐Sirjani, dalam “Filisthîn Wâjibât al‐Ummah” menawarkan sepuluh hal yang bisa dilakukan untuk membebaskan al‐Aqsha:

Pertama, kembali secara total kepada Allah. Kedua, memahami permasalahan Baitul Maqdis secara benar. Ketiga, ikut bergerak aktif dalam memecahkan problem dan membebaskannya. Keempat, menjaga persatuan dan menghentikan perpecahan. Kelima, sungguh‐sungguh menghidupkan spirit jihad. Keenam, berjihad dengan harta. Ketujuh, memboikot produk Amerika dan Israel. Kedelapan, memupuk harapan. Kesembilan, menanamkan kesabaran. Kesepuluh, mengkaji sejarah Palestina.

Dengannya, semoga kita dicatat sebagai bagian dari at‐Thaifah al‐Mansurah yang ikut membebaskan Baitul Maqdis. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

لاَ تَزَالُ طَاِئفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ عَلَى الحَْقِّ ظَاهِرِيْنَ لِعَدُوِّهِمْ قَاهِرِيْنَ.لاَيَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ إِلا مَا أَصَابهَُمْ مِنَ اْلأَوَاءِ حَتَّى يَأْتِيَهُ مْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ  ذَالِكَ.قَالُوْا : ياَ رَسُوْلَ اللهِ وَأَيْنَ هُمْ؟ قَالَ :بيَْتُ الْمُقَدَّسِ وَأَكْنَافِ بَيْتِ الْمُقَدَّسِ *** رَوَاهُ أَحمَْدُ

”Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku kelompok yang selalu menolong kebenaran atas musuh mereka. Orang‐orang yang yang menyelisihi mereka tidak akan membuat mereka goyah kecuali orang yang tertimpa al‐Lawa` (cobaan ) sampai datang kepada mereka janji Allah Azza wa Jalla. Mereka bertanya. Wahai Rasulullah dimanakah mereka? Beliau menjawab: Baitul Maqdis dan sisi Baitul Maqdis” [HR.Ahmad]

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Pada hari ini, Israel dan Amerika kembali merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum muslimin. Kita membutuhkan lahirnya kembali semangat Shalahuddin al‐Ayyubi. Selama 91 tahun Baitul Maqdis dijajah dan ia memilih bersabar dan terus berjihad hingga Allah memuliakannya dengan kemenangan. Ia tak pernah kehilangan harapan untuk merebutnya kembali. Umat Islam saat ini juga tidak sepatutnya patah semangat untuk merebut kembali al‐Quds.

Meski beberapa lama waktu yang berlalu, tekad harus tetap terpatri untuk mengembalikan setiap jengkal tanah kaum muslimin.

سْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ ي َ
ُ
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ؛ وَأَسْتَغْفُرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الم غْفِرْ لَكُمْ
إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ


Khutbah kedua

 الحَْمْدُ لِلَّهِ حمَْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبنَُّا وَيرَْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَ لَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجمَْعِيْنَ . أَمَّا بعَْدُ

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Orang‐orang yang beriman itu ibarat satu tubuh. Jika satu bagian sakit, yang lain ikut merasakan
sakit. Hadis riwayat Nukman bin Basyir radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wassallam bersabda: “Perumpamaan orang‐orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota‐anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam.” (HR. Muslim)

Hal seperti itu juga yang seharusnya kita rasakan ketika mendengar berita tentang penyerangan yang menimpa umat Islam di Palestina. Hadis riwayat Abu Musa radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wassallam bersabda: “Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan di mana bagiannya saling menguatkan bagian yang lain.” (HR. Muslim)

Kini bagian dari tubuh umat Islam sedang sakit. Saudara kita di Palestina tengah berjuang mengorbankan harta dan jiwa mereka demi mempertahankan tanah milik umat Islam. Kewajiban kita untuk membantu mereka.

Selain itu, keluarga memiliki peran besar dalam melahirkan generasi‐generasi tangguh yang siap
membela agamanya. Maka marilah kita didik anak‐anak kita untuk memahami Islam secara
sempurna dan memiliki kepekaan untuk peduli dan siap berjuang untuk agamanya.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيهَُّا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمً اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ
حمَِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِ نَّكَ حمَِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبنََّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لمَْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحمَ نَا لَنَكُونَنَّ مِنَ
لخَْاسِرِيْنَ

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمسْلِمِيْنَاُ اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المستضعفيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ فِي أَرْضِ الشَامِ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلهَمُْ حَافِظاً وَمُعِيْنًا وَمُسَدِّداً وَمُؤَيِّدًا

رَبنََّا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ال نَّارِ. اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الهْدَُى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نعَُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجمَِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الحَْمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ


loading...

Wednesday, December 13, 2017

[Kisah Nyata]: Halusnya Perangkap Syetan Menggoda Iman Manusia....

Dalam postingan kali ini, admin akan berbagi sebuah kisah nyata yang pernah dimuat di Majalah Nasihat Perkawinan pada tahun 1995. 

Kisah nyata ini  bercerita tentang bagaimana halus dan dahsyatnya cara setan menggoda manusia, sehingga orang-orang yang sudah sedemiian rajin beribadan dan menjaga diri pun dapat terjerumus ke dalam perangkap tersebut. 

Mudah-mudahan, kisah ini dapat membuat kita lebih waspada dalam menghadapi godaan syetan yang senantiasa membisikkan manusia untuk memperturutkan hawa nafsunya sehingga merkea terjerumus dalam dosa.

Berikut kisahnya:

***

Setelah lulus SMA aku tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Padahal Waktu itu aku lulus ujian Sipenmaru dan diterima di IKIP Bandung. Namun karena orang tuaku tidak mampu untuk membiayainya. terpaksa keinginan kuliah jadi batal. Kendati demikian aku tidak putus asa. Untuk mengisi waktu kosong, aku ikut berdagang sayur-sayuran di kota Bandung bersama orang sekampungku yang sudah sukses menjadi pedagang sayur, dengan harapan aku bisa mengumpulkan uang untuk biaya jika aku kuliah.

Tapi ternyata hanya tinggal harapan saja. Aku gagal dan rugi dalam berdagang, mungkin karena aku tidak punya bakat berdagang. Se_ telah empat bulan aku berdagang akhirnya aku berhenti dan pulang kampung. Yang berarti harapan untuk kuliah kandas sudah.

Menganggur merupakan siksaan batin bagiku. Maka daripada tidak mempunyai kegiatan sama sekali aku memutuskan untuk masuk pesantren di pondok Kiai A. Jarak dari rumahku ke pondok itu hanya seratus meter hingga aku tidak perlu tinggal di pendok pesantren pak Kiai.

Pak Kiai punya banyak kenalan orang kota yang mempunyai kedudukan. Aku sering melihat tamutamu yang datang rata-rata bukan orang sembarangan. Dari jenis kendaraan yang dipakai para tamu itu aku bisa menduga, kalau bukan pejabat tentu seorang pengusaha Sukses. Namun sejauh ini aku tidak pasti tujuan mereka datang ke Kiai.

*Menunggu Surat Panggilan Kerja* 
Suatu hari Pak Kiai memperkenalkan aku dengan seorang tamu, dan meminta bantuannya untuk memasukkan aku menjadi pegawai negeri. Alhamdulillah tamu itu bersedia membantuku untuk menjadi pegawai negeri di kantornya.

Sementara belum mendapat SK panggilan, aku tinggal di nanah pak Suganda (bukan nama sebenarnya) Selama di sana aku membantu pekerjaan apa saja. Dari mulai mencuci, mengepel lantai dan mengurus kebun di halaman rumahnya. Walau aku merasa terhina dengan perlakuan keluarga Pak Suganda karena aku tak ubahnya seperti pembantu dan mereka menyuruhku seenaknya saja, tetapi aku paksakan untuk bertahan karena aku membutuhkan bantuannya.

Banyak sekali penderitaan yang kualami selama di rumah itu. Di antaranya aku pernah dituduh mencuri uang oleh istrinya. Mereka menekanku untuk mengakuinya, padahal aku tidak tahu sama sekali apalagi mencurinya. Walaupun kemudian uang tersebut itu ada dan utuh, hanya lupa menyimpannya, tetap mereka mencurigaiku dan menuduhku yang menyembunyikannya.

Sebenarnya Pak Suganda sangat baik padaku. ia juga yang menyuruhku untuk tinggal di rumahnya. Bahkan ia menyamakan untuk tinggal tema di rumahnya sebelum aku punya isteri. Aku tidak tahu, apakah ia mengetahui atau tidak perlakuan isteri dan anak-anaknya yang memperbudakku. Aku tidak tahu. apa sebabnya, mereka menbenciku. Padahal aku selalu menuruti perintah mereka. Tak pernah sekalipun aku membantah. Tetapi mereka memandangku dengan sebelah mata.

Ketika SK panggilan datang dan aku sudah dapat masuk kerja aku masih tetap tinggal di rumah itu. Tapi kemudian, aku pindah dari rumah itu, walau Pak Suganda memaksaku tinggal di rumahnya, kemudian aku mengontrak rumah.

Selama aku bekerja di kantor, Pak Suganda sangat baik padaku dan aku diperkenalkan kepada seluruh pegawai bahwa aku keponakannya. Dengan demikian seluruh pegawai baik padaku. Pekerjaan yang sifatnya agak basah terkadang dilimpahkan kepadaku, hingga penghasilankn cukup memadai.

Disamping tugas di kantor, aku juga aktif di masjid dengan mengajar anak-anak mengaji dan memberi les privat di rumah-rumah penduduk yang membutuhkannya Dan juga memberi ceramah di majelis taklim kaum ibu pada acara pengajian rutin setiap minggu

Terjerat Perangkap Syetan, Tergoda Wanita Kesepian
Suatu hari aku kedatangan seorang rang wanita muda. Katakanlah ibu N. ia memintaku untuk mengajar mengaji di mmahnya. Setelah kupertimbangkan mengenal jadwalnya, akhirnya aku bersedia memenuhi keinginan ibu N itu. Ibu N adalah Illorang ibu rumah tangga bina berusia 33 tahun dengan satu anak yang masih kecil. Suaminya seorang pengusaha sukses dan jarang berada di rumah, terkadang satu minggu bahkan satu bulan lamanya.

Ibu N sangat baik padaku, rilsamping memberi honor dua kali llpat dari honor di rumah yang lain, juga sering membelikan aku pekalan, sarung dan lain-lain. Terkadang aku merasa malu diperlakukan demikian olehnya. Setiap mengajar anaknya aku selalu disuruhnya nrakan.

Yang membuatku risih, setiap aku berada di rumahnya, lbu N selalu berpakaian minim. Terkadang ia hanya memakai slngletdan celana pendek seperti pemain bola voli wanita. Sering aku memalingkan muka rnelihatnya tapi ibu N seperti sengaja memperlihatkan auratnya padaku.

Suatu hari, seperti biasa aku mengajar mengaji anaknya sore hari dan ketika waktu magrib tiba aku hendak pulang, ibu N mencegahku dan menyuruh salat di rumahnya saja. Di sini aku sering bertanya-tanya mengenai diri ibu N. Kulihat ia tidak melakukan salat sedangkan pembantunya biasa salat. Menurut pembantunya ibu N tidak pernah melakukan salat.

Selesai salat magrib aku hendak langsung pulang, tapi ibu N mencegahku, ia memintaku untuk menunggu rumahnya sebentar karena ia mau keluar bersama pembantunya. Aku dititipi menjaga anaknya yang memang dekat denganku. Ia tak ubahnya seperti kepada bapaknya manjanya padaku. Dapat kumaklumi anak itu kurang kasih sayang bapaknya.

Tepat jam 9 malam, mereka pulang dan hujan turun deras sekali. Ibu N mencegahku untuk pulang dan menyarankan untuk tidur di rumahnya. Tetapi aku menolak. Ketika semuanya sudah tidur dan malam makin larut sedang hujan belum reda, aku termenung sendirian di ruang dcpan. Tiba-tiba muncul ibu N menghampiriku. Ia hanya mangenakan sarung yang dililitkan sebatas dada. lbu N menyuruhku untuk memijitnya karena masuk angin. Mulanya aku menolak, tetapi karena ia memaksa dan tampaknya seperti benar-benar sakit, terpaksa aku mau memijitnya. Sebagai lelaki bujangan, aku merasa gugup ketika melihat ibu N dengan tenang membuka kain sarungnya. Hanya tinggal pakaian (dalamnya yang tidak dibuka. Kemudian tanpa memperdulikan aku yang terpaku gugup, ia menyuruhku membaluri tubuhnya dengan minyak angin. Dengan ragu aku mengerjakan itu.

Dan setelah itu,... Ya Allah! syetan benar-benar telah memperdayaku. Aku terjerumus pada perbuatan hina, perbuatan dosa besar. Entah mengapa tiba-tiba aku jadi lupa diri, ibu N sengaja memancing gejolak kelelakianku, aku hanyut dalam buaian nafsu Syetan yang terlaknat.

Sejak peristiwa itu, aku merasa gelisah. Salatku terasa mengambang karena tak bisa konsentrasi. Aku benar-benar menyesal dengan perbuatan itu. Terbayang di pelupuk mataku wajah ibuku, wajah kiyai yang selalu menganjurkan berbuat baik dan taat.

Setelah peristiwa itu, ibu N bersikap biasa seakan tak pernah terjadi apa-apa. Ketika aku hendak memutuskan untuk tidak mengajar lagi, ia sangat menghiba padaku untuk terus mengajar anaknya. Aku bimbang sekali waktu itu, tapi syetan amat pandai membisikkan rayuan padaku. Akhirnya aku mengalah dan mau datang lagi ke rumahnya untuk mengajar. Anehnya, kalau sudah berhadapandengannya akuinisepertilupa segalanya. Niatku untuk menghindar darinya supaya tidak tergoda malah cenderung mendekatinya. Dan selanjutnya perbuatan terkutuk itu terulang dan terulanglagi hingga aku makin ketagihan untuk mengulangnya berkali-kali hingga perbuatan itu menjadi sebuah perbuatan yang dilandasi atas dasar saling membutuhkan.

Kian hari hatiku semakin gelisah, tidurku tidak nyenyak dan membuatku tidak tenang serta selalu dibayangi rasa berdosa. Akhirnya aku menyelidiki siapa sebenarnya ibu N ini dengan bertanya pada tetangganya. Dari para tetangganya aku tahu bahwa ibu N sering mengajak laki-laki ke rumahnya manakala sua-minya pergi keluar. Sejak itu aku memutuskan untuk tidak mengajar lagi walau pun ibu N datang dan meminta aku untuk mengajar lagi.

Sejak itu aku jadi pemurung dan tak mau keluar rumah. Aku merasa dikejar-kejar dosa dan rasa malu pada masyarakat. Kurasa percuma aku memberikan ceramah pada ibu-ibu dan anak-anak kalau aku sendiri tak bisa membimbing ahklakku sendiri. Maka dalam beberapa hari aku tidak mengajar anak-anak di masjid dan pengajian rutin pun aku tak hadiri begitu juga les privat di rumah-rumah dengan alasan aku sakit.

Dalam kegalauan hatiku tidak ada lagi yang kulakukan selain minta ampun pada Allah, setiap malam aku salat tahajud dan salat taubat, siangnya aku puasa dengan harapan semoga Allah mengampuni kesalah= anku. Akhirnya lambat laun perasaan hatiku seakan terbuka kembali menatap masa depan.. Kekalutan yang menyelimuti hati dan pikiranku berangsur-angsur hilang.

Ya Allah, inilah aku, hamba-Mu yang lemah dan berlumur dosa. Ampunilah aku dan tunjukkanlah aku jalan yang penuh dengan ridha-Mu. Akhirnya aku dapat menjalani tugasku kembali baik di kantor maupun mengajar mengaji di masjid dan di rumah-rumah, kecuali di rumah ibu N.

(seperti yang di ceritakan S di Cirebon) "*

Dikutip dari Majalah Nasehat Perkawinan Edisi No. 22/Th.XXIV/Juli 1995 yg diterbitkan oleh Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan Pusat (BP4 Pusat) (mitra Kementerian Agama) dengan judul Asli" Terjerat Wanita Kesepian" hlm 57-61
loading...

Monday, December 11, 2017

Bersyukurlah... Jangan Terlalu Kuantitatif Menghitung Rezeki

Kita, entah sadar atau tidak, mungkin pernah “terlalu kuantitatif” dalam menghitung rezeki. Kita menghitung jumlah yang kita dapatkan dari satu pintu rezeki.

Akan tetapi, kita lupa mensyukuri keberkahan di balik jumlah yang sedikit itu. Pun, kita terluput menghitung rezeki yang diberikan oleh Allah tak henti-henti dari pintu-pintu yang lain.

Kita, menghitung penghasilan bulanan suami. Ternyata jumlahnya sangat sedikit dibandingkan yang kita angan-angankan.

Akan tetapi, kita lupa, Allah beri kita kesehatan sehingga tak perlu kita merogoh saku dalam-dalam untuk bolak-balik ke dokter.

Pun, kita lupa, Allah beri kita tempat berteduh yang menyenangkan. Meskipun hanya mengontrak rumah orang, si pemilik rumah adalah orang yang murah hati, jujur, dan menjaga amanah. Beliau bukan orang yang suka tiba-tiba menaikkan harga kontrakan. Beliau pun selalu lapang dada bila kita meminta kelonggaran tempo pembayaran.

Kita, menghitung uang kita. Ternyata tak cukup untuk membeli pelengkapan rumah tangga impian kita.

Akan tetapi, kita lupa, Allah tak memberi kita mesin cuci tetapi Allah beri kita sepasang tangan yang sempurna dan kuat mengucek baju setiap hari.

Padahal di belahan bumi yang lain, seseorang yang rumahnya megah dan hartanya melimpah, sedang terbaring merenungi kedua tangannya yang tak lagi mampu digerakkan; entah karena kecelakaan, entah karena sakit yang tak kunjung sembuh.

Kita, menengok celengan kita. Isinya tak seberapa dibandingkan sederet barang-barang impian kita. Manalah mampu terbeli dengan isi celengan yang hanya recehan 500 rupiah.

Akan tetapi, kita lupa, Allah jaga orang tua dan sanak saudara kita di kampung halaman.

Hidup mereka berkecukupan, sehat jiwa-raga, dan berada di atas hidayah Islam.

Akankah kita rela, bila Allah menghujani kita dengan jutaan lembaran 100.000 rupiah dari atas langit-Nya, lalu Dia berikan sakit bertubi-tubi ke keluarga yang kita cintai di sana. Belum lagi berhenti penyakit di badan mereka, kita diuji dengan murtadnya mereka.

Sanggupkah kita menukar jumlah yang sedikit dengan hal-hal yang tak ternilai harganya?

Bersyukurlah...

Syukur adalah salah satu inti kebahagiaan.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab  di awal kitab beliau, Al-Qawa’idul Arba’ menyatakan:

أسأل الله الكريم رب العرش العظيم أن يتولاك في الدنيا والآخرة، وأن يجعلك مباركا أينما كنت، وأن يجعلك ممن إذا أعطي شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذا أذنب استغفر، فإن هذه الثلاث عنوان السعادة

“Saya memohon kepada Allah yang Mahamulia, Rabb yang Maha Agung, pemilik ‘arsy. Semoga Dia menjagamu di dunia dan di akhirat. Semoga Dia menjadikanmu penuh berkah di mana pun engkau berada. Semoga Dia menjadikanmu orang yang selalu bersyukur ketika diberi rezeki, selalu bersabar ketika diuji, dan selalu ber-istigfar bila berbuat dosa. Karena tiga hal itu adalah inti kebahagiaan.”

Bersyukurlah...

Berhentilah “terlalu kuantitatif” dalam menghitung rezeki yang dilimpahkan Allah untuk kita.
Ingatlah, sebanyak apa pun jari yang kita gunakan untuk menghitung rezeki dari Allah, kita tak akan sanggup.

Kita tak akan sanggup menghitungnya.

Kita tak akan sanggup.

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung niikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34)

Bersyukurlah.

Berusahalah untuk selalu bersyukur, dan mohonlah hidayah dari Allah agar Dia berkenan membantu kita agar selalu bersyukur

اَلَّلهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ya Allah, bantulah aku agar selalu berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i; hadits shahih)

*

Penyusun: Athirah Mustadjab.
loading...

Thursday, December 7, 2017

Hukum Bersikap Sombong Kepada Orang Yang Sombong

Kesombongan merupakan perbuatan yang amat tercela dalam Islam. Bahkan, Rasulullah Saw dalam sebuah haditnya mengatakan:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
"Tidak akan masuk Surga seseorang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar atom".  (HR Muslim, Ahmad dan Tirmidzi)

Namun, dalam sebuah atsar perkataan ulama ada disebutkan: Dalam sebuah haditsTeks kalimatnya adalah,

التكبر على المتكبر صدقة

Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah.”

Atau dalam redaksi yang lain dikatakan:

التكبر على المتكبر حسنة

Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah perbuatan baik.”

Lantas apa sebenarnya maksud dari perkataan ini? Dan bagaimana sebenarnya hukum sombong kepada orang yang sombong menurut para Ulama?

Penting diingat, bahwa perkataan dia tas bukanlah hadis, melainkan hanya perkataan manusia yang memang banyak tersebar di masyarakat, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Ajluni dalam kitabnya, Kasyful Khafa, dengan menukil keterangan dari Al-Qari. Kemudian, Al-Qari mengatakan, “Hanya saja, maknanya sesuai dengan keterangan beberapa ulama.”

Penulis kitab Bariqah Mahmudiyah mejelaskan,
“Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah, karena jika kita bersikap tawadhu di hadapan orang sombong maka itu akan menyebabkan dirinya terus-menerus berada dalam kesesatan. Namun, jika kita bersikap sombong maka dia akan sadar. Ini sesuai dengan nasihat Imam Syafi’i, ‘Bersikaplah sombong kepada orang sombong sebanyak dua kali.’ 
Imam Az-Zuhri mengatakan, ‘Bersikap sombong kepada pecinta dunia merupakan bagian ikatan Islam yang kokoh.’

Imam Yahya bin Mu’adz mengatakan, ‘Bersikap sombong kepada orang yang bersikap sombong kepadamu, dengan hartanya, adalah termasuk bentuk ketawadhuan.'”

Sementara, ulama yang lain mengatakan, “Terkadang bersikap sombong kepada orang yang sombong, bukan untuk membanggakan diri, termasuk perbuatan terpuji. Seperti, bersikap sombong kepada orang yang kaya atau orang bodoh (yang sombong).”

Tapi perlu diingat, kesombongan yang dimaksud dalam hal ini adalah bersikap sombong dengan anggota tubuh, yaitu dengan  dengan niat untuk memberikan pelajaran agar orang sombong tersebut sadar akan kesombongannya, dan di dalam hati tetap meyakini bahwa di sisi Allah bisa jadi orang tersebut lebih mulia darinya.  Misalnya saja ada orang kaya yang sombong, maka sudah seharusnya kita juga menjaga kemuliaan diri dengan tidak merendah di hadapannya, tidak meminta-minta kepadanya, mengacuhkannya dan tidak menunjukakn seakan-akan kita butuh kepadanya. Begitupun juga orang yang sombong dengan kepintarannya, kekuatannya dan sebagainya. Pada hakikatnya sikap seperti itu bukanlah kesombongan jika hati tidak sombong dan dengan niat untuk menasihati.  Ia merupakan sebuah strategi dakwah agar orang sombong tersebut sadar.

Dalam pepatah melayu diajarkan bagaimana bersikap kepada orang yang sombong dengan kelebihan yang ia miliki. sebagaiman terungkap dalam pameo:

"Kalau engkau kaya, kayalah sendiri, kami tidak akan meminta..
Kalau engkau kuat, kuatlah sendiri, kami tidak akan berlindung.
Kalau engkau pintar, pintarlah sendiri, kami tidak akan bertanya"

Perkataan Imam Ali bin Abi Thalib yang bermakna:
Sombong kepada orang yang sombong, itulah tawadhu yang sebenarnya
Terkait kesombongan ini, kita teringat kisah tentang Syaikh Al-Mahalli. Disebutkan bahwa Syeikh Al-Mahalli setiap kali berada di hadapan murid-muridnya, beliau memerintahkan mereka untuk mempelajari materi yang akan dibahas dan kemudian beliau meninggalkan mereka.  Tak lama setelah itu beliau kembali menemui mereka dan menjelaskan materi yang mereka pelajari.

Melihat hal ini, salah seorang muridnya yang cerdas berkata,

“Sang Syeikh (guru) selalu bergegas meninggalkan kami di awal pelajaran pasti karena sebuah urusan penting.”

Ketika Syeikh Mahalli meninggalkan mereka seperti biasanya, murid itu  pun membuntutinya. Ternyata ia mendapati Syeikh Mahalli memikul geriba berisi air dan memberikannya kepada para wanita tua yang lemah dan tak mampu mengambil air sendiri.

Melihat hal ini sang murid berkata kepadanya,

“Mengapa engkau meninggalkan kami di awal pelajaran dan melakukan semua ini?”

“Sesungguhnya dalam diri seorang guru (pengajar) terdapat perasaan mulia, dan bahaya serta bisikan buruk yang terlintas saat mengajar sangat banyak.  Sebagaimana kamu lihat, sesungguhnya aku hanyalah seorang penimba dan pengangkut air.  Dengan cara seperti inilah aku dapat mematahkan perasaan mulia yang ada dalam hatiku.  Dan tugas mengambil air inilah yang kuharapkan pahalanya di sisi Allah,” jawab Syeikh Mahalli.

Allahu a’lam.

loading...

[Tips Parenting]: Jauhkan Anakmu Dari Kemudahan

Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.

Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu "ada main" dengan dosen-dosennya. "Karena mereka tak sepintar aku," ujarnya.

Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit.

Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

Hadiah Orangtua

Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, "Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan".

Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan "membuka pintu", jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.

Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya. Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.

Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.

Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: "Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?"

Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.

Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk "bengal". Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang "selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan".

Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya.

Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar. Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.

Panggung Orang Dewasa

Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif.

Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU. Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.

Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.

Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu "bodoh", tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.

Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.

Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.

Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.

Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.

Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan.

Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.

Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan.

Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja:
Orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu.

Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.

[Dikutip dari tulisan Rhenald Kasali via WhatsApp]
loading...