Wajibkah Zakat Profesi ...?

Berikut penjelasan tentang khilafiyah atau perbedaan ulama tentang kewajiban zakat profesi...;

Tuesday, September 19, 2017

[Kisah Sahabat Rasul] Thalhah bin Ubaidillah, Pengusaha Ahli Surga

Thalhah bin Ubaidillah adalah pengusaha bertangan dingin, sehingga harta dari hasil perniagaannya melimpah ruah. Kekayaan yang dikumpulkannya lebih banyak digunakan untuk membantu orang-orang yang memerlukannya sehingga dia dijuluki "Thalhah al Khair (Thalhah yang baik hati)" atau "Thalhah al Jud (Thalhah si Dermawan)".

Suatu ketika, ia terlihat sangat berduka sehingga istrinya, Su'da binti Auf menanyakan sebab kesedihannya tersebut. Thalhah menjawab:

"Harta yang kita miliki ini semakin hari semakin banyak saja, sehingga menyusahkan dan menyempitkan hatiku…."

Istri menjawab, "Bagi-bagikan sajalah kepada kaum muslimin yang memerlukan!!"

Thalhah pun memanggil orang-orang untuk berkumpul di rumahnya, kemudian membagikan semua hartanya kepada mereka sehingga tidak tersisa, walaupun hanya satu dirham.

Thalhah pernah menjual tanahnya dengan harga tinggi sehingga mengalir air matanya karena harta bertumpuk di rumahnya ia berkata:
"Jika seseorang 'dibebani' bermalam dengan harta sebanyak ini dan tidak tahu apa yang akan terjadi, pastilah akan mengganggu ketentraman ibadahnya kepada Allah…!"
Malam itu juga ia memanggil beberapa sahabatnya dan membawa harta tersebut berkeliling di jalan2 di kota Madinah untuk membagikan kepada yang memerlukan. Sampai fajar tiba belum habis juga, dan diteruskan setelah sholat Subuh hingga menjelang siang. Ia baru merasa lega setelah tidak tersisa lagi walau hanya satu dirham.

Dari Abdurrahman bin ‘Auf, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

"Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az Zubair di surga, Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad di surga, Sa’id di surga, dan Abu Ubaidah ibnul Jarrah di surga" (HR.Tirmidzi)
loading...

[Nasihat Untuk Kita Semua Di Zaman Medsos]: Etika Menyebar Berita

Aisyah radhiyallahu 'anha pernah terkena fitnah yang sangat dahsyat. Tidak saja menguncang dirinya dan keluarga Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, bahkan juga mengguncang kota madinah secara keseluruhan.
Fitnah keji ini bermula dari "tercecernya" Aisyah ra. dari rombongan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam saat perjalanan pulang dari perang Muraisi' (perang bani Musthaliq). Rombongan pasukan sudah berangkat menuju Madinah. Sementara Aisyah ra. tertinggal di belakang karena mencari kalungnya yang hilang. Pasukan mengira Aisyah ra. ada di dalam tandu (sekedup) di atas punggung onta.

Aisyah ra. yang tertinggal di belakang ini kemudian dibawa sampai ke Madinah oleh seorang sahabat mulia Shofwan bin Al Mu'aththal As Sulami, dengan menunggang onta. Dalam posisi Shofwan menuntun onta dari bawah, dan Aisyah ra. berada di atas onta inilah mereka berdua memasuki kota Madinah.

Kejadian ini disaksikan oleh banyak penduduk Madinah, termasuk orang-orang munafiq. Kemudian kaum munafiqun itu menyebar berita fitnah. Seolah-olah Aisyah telah berselingkuh dengan Shofwan. Na'udzubillah min dzaalik.

Kota madinah gempar. Banyak sekali yang termakan issu busuk lagi hoax ini. Orang-orang munafiq sangat antusias menyebarkannya. Dan sebagian kaum muslimin terlibat pula dalam obrolan-obrolan tentang tema ini.
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sangat terganggu. Bagaimana seorang istrinya yang mulia lagi suci, difitnah secara keji hanya karena kedapatan naik onta yang dituntun oleh laki-laki lain.

Akhirnya, Allah sendiri yang membersihkan nama baik dan kehormatan Aisyah ra. dengan turunnya surat An Nur ayat 11-20. Ayat-ayat ini memberi kecaman keras kepada kaum munafiqin yang membuat issu serta fitnah. Sekaligus juga ada teguran keras kepada kaum muslimin yang ikut termakan fitnah, yang tidak mengedepankan husnuzh zhon kepada sesama mukmin. Allah Ta'alaa berfirman:

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

Artinya:
"Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata". (QS An Nur: 12).

Rehabilitasi nama baik dari Allah ta'alaa ini telah menjadi kehormatan tersendiri bagi Aisyah ra. Sebab, langsung ayat-ayat langit (dari Allah) yang memulihkannya, dan kekal abadi dibaca sampai akhir zaman.
Yang menarik dari ending peristiwa fitnah bohong ini adalah adanya arahan Allah tentang bahaya dan hukuman yang berat bagi yang menyebarkan informasi perbuatan keji (zina dan kawan-kawannya) di tengah kaum muslimin. Allah Ta'alaa berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (19)

Artinya:
"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui". (QS An Nur: 19).

Ayat ini memberikan pelajaran yang ditujukan kepada orang yang mendengar suatu perbuatan buruk atau tercela, lalu hatinya menanggapinya dan ingin membicarakannya. Maka, seharusnya ia tidak boleh membicarakannya. Apalagi menyiarkan dan menyebarkannya. Orang yang melakukan (penyiaran perbuatan dosa) itu mendapat ancaman adzab yang sangat pedih dari Allah Ta'alaa di dunia dan di akhirat.
Ancaman adzab yang pedih juga berlaku bagi orang yang merasa senang bila berita-berita perbuatan keji (maksiat fahisyah) itu tersebar di masyarakat.

Apalagi kalau ternyata berita yang disiarkan itu suatu kebohongan, penuh dusta, hoax atau direkayasa untuk menjatuhkan harga diri orang lain. Tentulah ancaman siksanya jauh lebih pedih dan lebih berat.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa hukuman di dunia ialah terkena had, berupa dicambuk dan ta'zir atau sejenisnya. Sedangkan hukuman di akhirat adalah ditimpakan adzab neraka.

Arahan Allah ta'alaa ini memberikan pelajaran tentang etika dan adab dalam menyampaikan (membuat) berita atau informasi. Dimana Allah melarang penyebaran berita-berita perbuatan dosa. Apalagi yang bohong dan fitnah belaka. Sebab, penyebaran berita-berita maksiat yang semakin marak, justru membuat masyarakat semakin rusak. Dan lama kelamaan kemaksiatan terkesan menjadi biasa, bukan lagi suatu yang tercela.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam juga melarang keras tindakan mencari-cari kesalahan dan membongkar aib orang lain.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ، حَدَّثَنَا مَيْمُونُ بْنُ أَبِي مُحَمَّدٍ المَرَئيّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبّاد الْمَخْزُومِيُّ، عَنْ ثَوْبَان، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "لَا تُؤذوا عِبادَ اللَّهِ وَلَا تُعيِّروهم، ولا تطلبوا عَوَرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ طَلَبَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ، طَلَبَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، حَتَّى يَفْضَحَهُ فِي بَيْتِهِ"

Artinya:
Imam Ahmad mengatakan: telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Maimun ibnu Musa Al-Mar'i, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abbad Al-Makhzumi, dari Sauban, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: "Janganlah kalian menyakiti hamba-hamba Allah dan jangan pula mencela mereka. Serta janganlah kalian mencari-cari aib mereka. Karena sesungguhnya barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya yang muslim, maka Allah akan membuka­kan aibnya, hingga mempermalukannya di dalam rumahnya sendiri". (HR Ahmad).

Betapa nanti di akhirat hisab yang berat akan menimpa orang-orang atau lembaga yang pekerjaannya adalah membuat dan menyampaikan berita. Apalagi kalau dibalik berita tersebut, mereka mendapatkan sumber penghidupan dan kekayaan. Tentu hisabnya semakin berat dan panjang.

Wallahu A'laa wa A'lam.

Sumber: Tulisan Ustadz. Irsyad S.
loading...

Monday, September 18, 2017

[VIDEO]: Apa Sebab Mengapa Hafalan Al-Qur'an Mudah Hilang?

Begitu kuat keinginan orang untuk bisa menghafal Al-Qur'an. Tapi banyak orang yang mengeluhkan hafalannya begitu mudah lupa.

Apa penyebabnya?

Berikut penjelasan Uts. Abdul Somad, Lc., MA . Selamat menyimak.

loading...

[Nasihat Keluarga]: Ketika Rumahtangga Dilanda Prahara, Perceraian Bukanlah Pilihan Terbaik

Tulisan ini rasanya sangat penting bagi pasangan suami istri yang saat ini tengah dilanda prahara rumah tangga. Tak jarang, problematika rumah tangga terkadang harus diselesaikan dengan jalur perceraian, hingga seakan-akan perceraian itu adalah jalan terbaik. 

Benarkah demikian? Ada baiknya kita renungkan tulisan di bawah ini. Semoga bermanfaat!

Perselisihan yang terjadi antara sepasang suami istri dalam sebuah rumah tangga merupakan perkara yang tidak bisa dihindari. Dalam menghadapi perselisihan tersebut diperlukan sikap arif, sabar, dan pikiran jernih. Bila yang muncul adalah sikap sebaliknya, perselisihan bisa semakin besar, bahkan tak jarang muncul ancaman dari salah satu pihak atau kedua pihak untuk bercerai. Padahal perceraian merupakan perkara yang menimbulkan banyak kejelekan, dan tidak semua perselisihan mesti diakhiri dengan perceraian.

Munculnya masalah dalam sebuah rumah tangga merupakan suatu kemestian. Tak satu pun rumah tangga yang luput darinya. Rumah tangga orang khusus atau orang umum, orang yang berilmu agama ataupun tidak mengerti agama, pasti menemui yang namanya masalah. Karena demikianlah kenyataan yang harus dihadapi dalam kehidupan dunia.

Beda halnya nanti di akhirat, pasangan suami istri di jannah (surga) negeri keabadian hanya merasakan kenikmatan demi kenikmatan, tenggelam dalam kesenangan demi kesenangan, tak ada kesusahan, tak ada kesulitan, tak ada kepayahan, tak ada derita nestapa, tak ada gundah gulana, tak ada problema…
Penduduk jannah akan mendapatkan pasangan mereka demikian sempurna, indah, menawan, selalu menyenangkan dan tak pernah menjemukan.

Adapun kehidupan di dunia, kekurangan, kesulitan, kesempitan, kejenuhan hampir menjadi kemestian. Sehingga problema, termasuk problema rumah tangga, menjadi suatu kelaziman hidup di dunia, namun bukan berarti tidak ada jalan keluar dari problem tersebut.

Namun, sangat disayangkan, ada di antara pasangan suami istri yang begitu cepat memilih “berpisah” ketika problem itu datang seakan tak ada jalan keluar dari permasalahan kecuali dengan perceraian (talak).
Mereka begitu terburu-buru memutuskan bercerai tanpa peduli dengan akibat yang akan terjadi. Seakan lembaga pernikahan tidak memiliki nilai yang agung di sisi mereka, sehingga sebagaimana mereka terlalu cepat menjatuhkan pilihan teman hidup, tanpa banyak mempertimbangkan sisi agama, akhlak, kepribadian dan kebaikannya, mereka pun terlalu cepat memutuskan hubungan yang terjalin lewat pernikahan tersebut.
Banyak kasus perceraian yang kita dengar di sekitar kita dan selalu yang menjadi korban adalah anak-anak dari pasangan yang berpisah tersebut. Umumnya anak-anak ini tumbuh tidak seperti anak-anak yang tumbuh besar dalam keluarga yang masih utuh. Mereka kurang percaya diri, gamang, mudah goncang, gampang sedih dan kurang kasih sayang. Selain berdampak buruk pada anak-anak, perceraian juga mengakibatkan hancurnya tatanan keluarga dan anggota keluarga menjadi tercerai-berai. Terkadang di belakang hari timbul penyesalan. Namun sesal tiada berguna lagi ketika itu.

Asy-Syaikh Saleh as-Sadlan hafizhahullah mengatakan, “Dalam kenyataannya, jarang didapatkan satu masa dari umur kebersamaan sepasang suami istri yang terlepas dari masalah dan perselisihan. Karena itulah kita mesti menerima perselisihan itu, akan tetapi kita tidak menyerah kepadanya atau tidak tenggelam di dalamnya. Perselisihan itu buruk, dapat mengeruhkan jiwa dan memadamkan cahaya keindahan hidup berumah tangga. Semestinya kita lari darinya dengan segala jalan. Akan tetapi tidak sepantasnya kita menyangka malapetaka telah menimpa saat terjadi perselisihan apa pun bentuknya, karena setiap penyakit ada obatnya dan setiap luka ada penyembuhnya.

Dengan menyepakati kaidah ini, akan berjalanlah kemudi kehidupan menuju daratan bahagia dan keselamatan. Makna dari semua ini adalah tidak tepat bertameng dengan perceraian karena suatu sebab yang masih mungkin untuk diperbaiki, atau karena perkara yang mungkin akan berubah di waktu mendatang.” (an-Nusyuz, hlm. 34)

Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz berkata, “Allah mensyariatkan untuk memperbaiki hubungan antara suami istri dan menempuh cara-cara yang dapat mengum-pulkan keutuhan keduanya dan menjauhi perceraian. Di antara cara penyelesaian (masalah) tersebut[1] yaitu nasihat, hajr[2], dan pukulan yang ringan bila dua cara pertama tidak bermanfaat.[3]

Firman Allah ‘azza wa jalla,

وَٱلَّٰتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِي ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡهِنَّ سَبِيلًاۗ

Dan para istri yang kalian khawatirkan (kalian ketahui dan yakini) nusyuz[4]nya maka hendaklah kalian menasihati mereka, meninggalkan mereka di tempat tidur (hajr) dan memukul mereka. Kemudian jika mereka menaati kalian maka janganlah kalian mencaricari jalan untuk menyusahkan mereka.” (an-Nisa’: 34)

Termasuk upaya penyelesaian ketika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak adalah mengirim dua hakim, dari pihak suami dan dari pihak istri[5], dengan tujuan untuk meng-ishlah (memperbaiki hubungan) keduanya sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَإِنۡ خِفۡتُمۡ شِقَاقَ بَيۡنِهِمَا فَٱبۡعَثُواْ حَكَمٗا مِّنۡ أَهۡلِهِۦ وَحَكَمٗا مِّنۡ أَهۡلِهَآ

Dan bila kalian khawatir perselisihan di antara keduanya maka hendaklah kalian mengutus seorang hakim (pendamai) dari keluarga si suami dan seorang hakim (pendamai) dari keluarga si istri….” (an-Nisa’: 35) (al-Fatawa – Kitabud Da’wah, 2/237–239)

Apabila cara-cara ini tidak bermanfaat dan tidak mudah memperbaiki keadaan dan perselisihan terus berlanjut, sementara bila pernikahan tetap dipertahankan yang timbul hanyalah permusuhan, kebencian dan maksiat kepada Allah ‘azza wa jalla, barulah memutuskan untuk bercerai.

Hancurnya Keluarga, Incaran Setan
Bercerai berarti hancurnya keutuhan keluarga, sementara kehancuran keluarga merupakan salah satu target yang diincar oleh para setan. Mereka sangat bergembira bila suami berpisah dengan istrinya, anak-anak terpisah dari ayah atau ibunya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan,

إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيئُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. فَيَقُوْلُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئاً. قَالَ: ثُمَّ يَجيِئُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتىَّ فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ: نِعْمَ أَنْتَ. قَالَ اْلأَعْمَشُ: أُرَاهُ قَالَ: فَيَلْتَزِمُهُ

Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian ia mengirim tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat di antara mereka dengan Iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Salah seorang dari mereka datang seraya berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.”

Maka Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.”

Lalu datang yang lain seraya berkata, “Tidaklah aku meninggalkan dia (manusia yang digodanya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.”

Iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya dengan berkata, “Sebaik-baik (anak buahku adalah) kamu.”

Al-A’masy (perawi hadits ini) berkata, “Aku kira Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika itu, “Iblis merangkul dan memeluk anak buahnya tersebut.” (HR . Muslim no. 2813)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits di atas bahwa Iblis bermarkas di lautan, dari situlah ia mengirim tentara-tentaranya ke penjuru bumi. Iblis memuji anak buahnya yang berhasil memisahkan antara suami dengan istrinya tersebut karena kagum dengan apa yang dilakukannya dan ia dapat mencapai puncak tujuan yang dikehendaki Iblis. (Syarh Shahih Muslim, 17/157)

Sebegitu kuat ambisi Iblis dan para setan sebagai tentaranya untuk menghancurkan kehidupan keluarga hingga mereka bersedia membantu setan dari kalangan manusia untuk mengerjakan sihir yang dapat memisahkan suami dengan istrinya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman menyebutkan ihwal orang-orang Yahudi yang biasa melakukan pekerjaan kufur ini (sihir) guna memisahkan pasangan suami istri,

وَٱتَّبَعُواْ مَا تَتۡلُواْ ٱلشَّيَٰطِينُ عَلَىٰ مُلۡكِ سُلَيۡمَٰنَۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيۡمَٰنُ وَلَٰكِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ ٱلنَّاسَ ٱلسِّحۡرَ وَمَآ أُنزِلَ عَلَى ٱلۡمَلَكَيۡنِ بِبَابِلَ هَٰرُوتَ وَمَٰرُوتَۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنۡ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَآ إِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَةٞ فَلَا تَكۡفُرۡۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنۡهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِۦ بَيۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَزَوۡجِهِۦۚ

“Dan mereka (orang-orang Yahudi ) itu mengikuti apa yang dibacakan para setan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir) padahal Sulaiman tidaklah kafir (mengerjakan sihir) namun setan- setan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seorang pun sebelum keduanya mengatakan, ‘Kami hanyalah ujian (cobaan) bagimu maka janganlah engkau kufur dengan belajar sihir.’ Maka mereka mempelajari sihir dari keduanya yang dengan sihir tersebut mereka bisa memisahkan antara suami dengan istrinya….” (al-Baqarah: 102)

Bermudah-Mudah Bercerai
Sikap bermudah-mudah dalam memutuskan bercerai ini bisa datang dari pihak suami, atau pihak istri, atau dari kedua belah pihak.

Suami yang bersikap terburu-buru ini, ketika mendapatkan istrinya tidak seperti yang didambakannya, vonis talak pun jatuh dari lisannya dengan tidak menaruh iba kepada istrinya yang bakal menyandang status janda dengan segala fitnah yang mungkin akan menghampiri.

Semestinya ia merasa iba dengan seorang wanita yang lemah, yang butuh dirinya sebagai pelindung dan pengayom hidup. Seharusnya ia bersabar terhadap kekurangan yang ada pada istrinya, selama bukan perkara yang syar’i dan prinsip, jangan dijadikannya sebagai sumber kebencian sehingga menjadi alasan untuk memutuskan hubungan. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

لاَ يَفْرُكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak suka satu tabiat/perangainya maka (bisa jadi) ia senang dengan tabiat/perangainya yang lain.” (HR . Muslim no. 1469)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menyatakan, “Sepantasnya bagi kalian—wahai para suami—untuk tetap menahan istri kalian dalam ikatan pernikahan (tidak menceraikannya) walaupun kalian tidak suka pada mereka. Sebab, di balik semua itu ada kebaikan yang besar. Di antaranya adalah berpegang dengan perintah Allah ‘azza wa jalla dan menerima wasiat-Nya yang di dalamnya terdapat kebaikan di dunia dan di akhirat.

Kebaikan lainnya adalah dengan ia memaksa dirinya untuk tetap bersama istrinya, dalam keadaan ia tidak mencintainya, ada perjuangan jiwa dan menunjukkan akhlak yang bagus.

Bisa jadi ketidaksukaan itu akan hilang dan berganti dengan kecintaan sebagaimana dapat disaksikan dari kenyataan yang ada.

Bisa jadi ia mendapat rezeki berupa anak yang saleh dari istri tersebut, yang memberi manfaat kepada kedua orang tuanya di dunia dan di akhirat.

Tentu semua ini dilakukan bila memungkinkan untuk tetap menahan istri dalam pernikahan tersebut dan tidak timbul perkara yang dikhawatirkan. Bila memang harus berpisah dan tidak mungkin untuk tetap seiring bersama maka si suami tidak dapat dipaksakan untuk tetap menahan istrinya dalam pernikahan.” (Taisir al-Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, hlm. 173)

Tidak pantas selama-lamanya bagi seorang suami untuk berpikir cerai semata-mata karena perubahan perasaannya terhadap istrinya, atau kebencian yang datang tiba-tiba, atau semata karena ketidaksukaan terhadap sebagian gerak gerik istrinya dan akhlaknya yang tidak berkaitan dengan kehormatan atau agama. Karena yang namanya perasaan itu dapat berbolak balik dan tabiat itu dapat berubah-ubah sehingga tidak tepat perkara-perkara yang berkaitan dengan keberadaan keluarga dibangun di atasnya, demikian kata asy-Syaikh Saleh as-Sadlan hafizhahullah. (an-Nusyuz, hlm. 34)

Sabar Terhadap Istri
Al-Imam al-Hafizh adz-Dzahabi rahimahullah menghikayatkan satu kisah dalam kitabnya al-Kaba’ir yang mungkin bisa menjadi renungan dan pelajaran bagi para suami.

Disebutkan, ada seorang yang saleh memiliki saudara fillah (seagama) dari kalangan orang saleh pula. Saudaranya ini menziarahinya setahun sekali. Suatu ketika saudaranya ini mengetuk pintu rumahnya.

Berkatalah istri orang saleh tersebut:

“Siapa?”

“Saudara suamimu fillah datang untuk menziarahinya,” jawab si pengetuk pintu

“Dia pergi mencari kayu bakar, semoga Allah tidak mengembalikannya (ke rumah ini), semoga dia tidak selamat,” kata istri orang saleh tersebut dan wanita ini terus mencaci-maki suaminya.

Ketika saudara fillah ini tengah berdiri di depan pintu, tiba-tiba orang saleh itu datang dari arah gunung dalam keadaan menuntun singa yang memikul kayu bakar di punggungnya. Orang saleh ini pun mengucapkan salam dan menyatakan selamat datang (marhaban) kepada saudaranya fillah. Setelahnya ia masuk ke dalam rumah dan memasukkan pula kayu bakarnya. Lalu ia berkata kepada singa tersebut:

“Pergilah, barakallahu fik (semoga Allah memberkahimu).”

Lalu saudaranya dipersilakan masuk ke rumahnya sementara istrinya masih terus mencaci-maki dirinya. Namun tak satu kata pun terucap darinya untuk membalas cercaan istrinya.

Pada tahun berikutnya, sebagaimana kebiasaannya saudara fillah ini kembali menziarahi orang saleh tersebut. Ia mengetuk pintu dan terdengar suara istri orang saleh tersebut: “

Siapa di balik pintu?”

“Fulan, saudara suamimu fillah,” jawabnya.

“Marhaban, ahlan wa sahlan, tunggulah. Silakan duduk di tempat yang telah disediakan, suamiku akan datang insya Allah dengan kebaikan dan keselamatan,” kata istri orang saleh tersebut.
Saudara fillah ini pun kagum dengan kesantunan ucapan dan adab istri orang saleh tersebut. Tiba-tiba orang saleh tersebut datang dengan memikul kayu bakar di atas punggungnya, saudara fillah ini pun heran dengan apa yang dilihatnya.

Orang saleh itu mendatanginya seraya mengucapkan salam dan masuk ke rumahnya beserta tamu tahunannya. Istrinya lalu menghidangkan makanan bagi keduanya dan dengan ucapan yang baik ia mempersilakan keduanya menyantap hidangan yang tersedia.

Ketika saudara fillah ini hendak permisi pulang, ia berkata, “Wahai saudaraku, beritahulah kepadaku tentang apa yang akan kutanyakan kepadamu.”

“Apa itu wahai saudaraku?” tanya orang saleh tersebut.

Saudara fillah ini berkata, “Pada tahun yang awal ketika aku mendatangimu, aku mendengar ucapan seorang wanita yang jelek lisannya, mengucapkan kata-kata yang tidak baik dan kurang adab. Wanita itu banyak melaknat. Dalam kesempatan itu juga aku melihatmu datang dari arah gunung sementara kayu bakarmu berada di atas punggung seekor singa yang tunduk di hadapanmu. Pada tahun ini aku mendengar ucapan yang bagus dari istrimu, tanpa ada celaan dari lisannya, namun aku melihatmu memikul sendiri kayu bakar di atas punggungmu. Apakah sebabnya?”

Orang saleh ini berkata, “Wahai saudaraku, istriku yang jelek akhlaknya itu telah meninggal. Aku dahulunya bersabar menerima akhlaknya dan apa yang muncul darinya. Aku hidup bersamanya dalam kepayahan namun aku sabari. Karena kesabaranku menghadapi istriku, Allah menundukkan untukku seekor singa yang engkau lihat ia memikulkan kayu bakarku. Ketika istriku itu meninggal, aku pun menikahi wanita yang salihah ini dan hidupku bahagia bersamanya. Singa itu tidak pernah datang lagi membantuku hingga aku harus memikul sendiri kayu bakar di atas punggungku, karena aku sudah hidup bahagia bersama istriku yang diberkahi lagi taat ini.” (al-Kaba’ir, hlm. 195-196)

Di antara para istri ada pula yang tergesa-gesa minta cerai dari suaminya tanpa alasan yang dibolehkan syariat. Terkadang masalahnya sepele dan masih mungkin dicarikan jalan keluarnya. Namun tanpa berpikir panjang ke depan istri ini menuntut cerai dari suaminya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلاَقَ مِنْ غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ
“Wanita mana saja yang minta cerai kepada suaminya tanpa sebab (syar’i) maka diharamkan baginya mencium wanginya jannah.” (HR. Ahmad 5/277. Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam ash-Shahihul Jami’ no. 2703)

Adapun apabila ada alasan syar’i seperti suaminya meninggalkan shalat, kecanduan minuman keras dan obat-obat terlarang, atau si suami memaksanya melakukan perkara yang haram, atau menzaliminya dengan menyiksanya atau tidak memberikan haknya yang syar’i, sementara nasihat tidak lagi bermanfaat bagi si suami dan istri tersebut tidak mendapatkan jalan untuk memperbaiki keadaan, maka ketika keadaannya seperti ini tidak disalahkan si istri minta cerai dari suaminya guna menyelamatkan agamanya dan jiwanya. (al-Muharramat Istahana bihan Nas Yajibul Hadzru Minha, hlm. 33)

Bila Seorang Istri Melihat Suaminya Tidak Suka Padanya
Apabila seorang istri melihat ketidaksukaan suami terhadapnya dan ia bisa menangkap isyarat-isyarat yang menunjukkan suaminya ingin berpisah dengannya, sementara ia ingin tetap dalam ikatan pernikahan dengan suaminya maka perceraian tidak selamanya menjadi pilihan akhir yang harus ditempuh.

Syariat yang mulia ini memberikan jalan keluar yang lain sebagaimana termaktub dalam firman Allah ‘azza wa jalla:

وَإِنِ ٱمۡرَأَةٌ خَافَتۡ مِنۢ بَعۡلِهَا نُشُوزًا أَوۡ إِعۡرَاضٗا فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَآ أَن يُصۡلِحَا بَيۡنَهُمَا صُلۡحٗاۚ وَٱلصُّلۡحُ خَيۡرٞۗ

“Dan apabila seorang istri khawatir akan nusyuz suaminya atau khawatir suaminya akan berpaling darinya maka tidak ada dosa atas keduanya untuk mengadakan perbaikan/perdamaian dengan sebenar-benarnya dan perdamaian itu lebih baik.” (an-Nisa’: 128) [al-Mukminat, asy-Syaikh Saleh al-Fauzan, hlm. 144]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Apabila seorang istri khawatir suaminya akan menjauh/lari darinya, atau berpaling darinya, maka dibolehkan bagi si istri untuk mengugurkan haknya (yang tadinya harus dipenuhi suami) atau sebagian haknya berupa nafkah, pakaian, giliran bermalam atau yang lainnya dari hak-haknya terhadap suaminya. Dan suami dibolehkan menerima hal itu dari istrinya. Sebagaimana si istri tidaklah berdosa dalam merelakan hal tersebut, demikian pula si suami tidak berdosa bila menerimanya. Karena itulah Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Maka tidak ada dosa atas keduanya untuk mengadakan perbaikan/perdamaian dengan sebenar-benarnya.” Kemudian Allah ‘azza wa jalla berfirman, “dan perdamaian itu lebih baik,” yakni lebih baik daripada bercerai.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah lalu menyebutkan kisah Saudah bintu Zam’ah radhiallahu ‘anha, saat usianya menua dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berketetapan untuk menceraikannya. Saudah pun menawarkan perdamaian kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau tetap mempertahankannya sebagai istri dan ia merelakan hari gilirannya untuk Aisyahx. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hal itu dari Saudah dan tidak jadi menceraikannya (Tafsir Ibnu Katsir, 1/314).
Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah
[1] Bila problem yang ada karena istri berbuat nusyuz.
[2] Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma menafsirkan hajr ini dengan tidak menggauli si istri, tidak tidur bersamanya dan memunggunginya. as-Suddi, adh-Dhahhak, ‘Ikrimah dan Ibnu ‘Abbas dalam satu riwayat menambahkan: “Bersamaan dengan itu ia mendiamkan si istri dan tidak mengajaknya bicara.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/504, Tafsir al-Baghawi, 1/423)
[3] Lihat penjelasan hal ini dalam Asy Syariah Vol.1/No. 01/Agustus 2003/Jumadil Akhir 1424, hlm. 61
[4] Istri berbuat nusyuz maknanya ia mendurhakai suaminya dan membuatnya marah (Mukhtarush Shihhah, hlm. 311)
[5] Yakni dua orang laki-laki yang mukallaf, muslim, adil dan berakal. Keduanya mengetahui apa yang terjadi di antara pasangan suami istri tersebut dan keduanya punya pandangan apakah suami istri itu sebaiknya tetap disatukan atau berpisah, karena demikianlah sifat seorang hakim. (Taisir al-Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, hlm. 177)

Dikutip dari sumber tulisan asli:
http://asysyariah.com/setiap-problema-haruskah-diakhiri-dengan-perceraian/
loading...

Sunday, September 17, 2017

"Sky Burial", Prosesi 'Pemakaman' Ala Tibet Yang Menyeramkan dan Bikin Bulu Kuduk Merinding

Jika umumnya jenazah seorang manusia dimakamkan dengan cara dikubur dalam tanah, namun di berbagai tempat di belahan dunia, terdapar prosesi pemakaman yang tidak lazim dari biasanya.

Misalnya saja di Tibet. pada umumnya, selain dikubur layaknya mayat di belahan bumi manapun, di Tibet masih ada tiga jenis pemakaman, yaitu dipersembahkan kepada laut (water burial), yaitu pemakaman dengan cara mayat diberikan kepada ikan-ikan untuk jadi santapan di laut. Ada juga dengan cara dikremasi. yaitu dibakar hingga menjadi abu, ada ada pula yang disebut dengan sky burial, yaitu pemakaman mayat dengan cara mayat dipersembahkan kepada vultures atau burung bangkai.

Secara bahasa, Sky Burial berarti 'dikuburkan di langit', yang mana daging-daging dari jenazah tersebut dimakan oleh burung -burung bangkai yang kemudian akan terbang ke angkasa.

Dalam bahasa Tibet, Sky burial disebut sebagai བྱ་ གཏོར་, Wylie: bya gtor, lit. Praktek sky burial dilakukan dengan meletakkan mayat manusia diletakkan di atas puncak gunung untuk membusuk saat terkena unsur-unsur atau menjadi dimakan oleh hewan pemakan bangkai, terutama burung bangkai.

Praktek Sky Burial sebenarnya tidak hanya dilakukan di Tibet saja, tapi juga di beberapa tempat di sekitar daratan China. Dikutip dari Wikipedia, praktek Sky Burial dikenal juga dan dipraktekkan di beberapa provinsi China dan daerah otonom seperti Tibet, Qinghai, Sichuan dan Mongolia Dalam, serta di Mongolia, Bhutan dan sebagian India seperti Sikkim dan Zanskar.

Lokasi persiapan dan penguburan langit dipahami dalam tradisi Buddhis Vajrayana sebagai dasar penguburan, Praktik yang sebanding dengan ini adalah seperti yang ditemukan dalam praktik pemakaman Zoroaster dimana si jenazah terkena unsur dan burung pemangsa pada struktur batu yang disebut Dakhma. Kendati demikian, hanya sedikit saja praktek penguburan ini dapat ditemukan saat ini, alasannya bisa karena marginalisasi agama, urbanisasi dan berkurangnya populasi burung nasar yang biasa menjadi pemangsa daging manusia..

Ada juga yang mengatakan, pemakaman sky burial ini bermula karena kondisi alam di Tibet itu sendiri, di mana mereka kesulitan menggali kubur dan mencari kayu untuk mengkremasi mayat. Sebagaimana diketahui, kondisi geografis Tibet bergunung-gunung yang sangat terjal dan sangat menyulitkan pemakaman normal.

Karena alasan inilah, ada sebuah kelompok aliran tertentu di Tibet yang memilih pemakaman mayat dengan cara sky burial. Intinya adalah memberikan jasad orang mati kepada burung pemakan bangkai. Dan, mereka percaya bahwa sky burial lebih mempercepat ruh untuk naik ke nirvana. Perjalanan ke nirvana akan jauh lebih cepat dengan bantuan burung vultures. Dalam bahasa Tibet burung pemakan bangkai ini disebut Dakinis (sky dancer) yang berarti malaikat.

Ritual pemakaman ini dinilai sangat mengerikan dan dianggap tidak menghormati mayat. Oleh karenanya, upacara sky burial pernah dilarang oleh pemerintah China ketika China masih berkuasa di Tibet pada tahun 1960-1970.

Namun, pada tahun 1980-an pemerintah Tibet mengizinkan kembali upacara ini tetap berlangsung, karena faktanya, ritual ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Tibet.

Sky burial juga merupakan ritual agama yang mempunyai arti sangat penting bagi kelompok yang menyakininya dan merupakan warisan budaya Tibet. Di tahun-tahun belakangan ritual ini menarik perhatian para jurnalis dunia untuk menggali berbagai informasi tentang sky burial dan tentu menarik bagi para turis. Upacara sky burial ini lebih sering dilakukan sangat tertutup. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menyaksikan jalannya upacara yang membuat bulu roma berdiri ini.

Kecangihkan teknologi informasi hari ini membuat kita bisa menyaksikan bagaiman praktek sky burial ini berlangsung. Video-video tentang pelaksnaan pemakaman ini bisa kita saksikan misalnya lewat beberapa channel Youtube. (searhc aja sendiri, pakai kata kunci sky burial).

Sumber:
Wikipedia
Kaskus
loading...