Wajibkah Zakat Profesi ...?

Berikut penjelasan tentang khilafiyah atau perbedaan ulama tentang kewajiban zakat profesi...;

Wednesday, October 18, 2017

[Tips] Cara Menyalin Otomatis Dari Kertas [Buku, Makalah dll] Ke Teks Tanpa Perlu Mengetik Ulang

Bagi seorang penulis atau mahasiswa, terkadang membutuhkan referensi dalam penulisannya. Referensi ini bisa berupa buku, makalah, jurnal, koran, majalah dan lain sebagainya.

Biasanya, ketika hendak menyalin atau mengutip suatu referensi, kita perlu mengetik ulang apa yang kita baca pada buku atau makal;ah dll tersebut. Bila yang ingin kita salin sedikit, mungkin tidak mengapa. Tapi bagaimana jikalau tulisan yang hendak dikutip itu cukup banyak dan lebih dari 3 peragarf misalnya? Tentu akan cukup merepotkan dan  menghabiskan banyak waktu.

Bayangkan anda harus mengetik kata per kata, sehingga mata anda bolak balik dari halaman buku ke layar komputer atau laptop. Cukup menyita waktu bukan?

Nah, tapi sekarang anda tak per khawatir. Berkat kemajuan teknologi, piranti modern ternyata berkembang dan membantu manusia dalam aktifitasnya, termasuk menyalinkan buku ke bentuk tulisan (teks) komputer.

Bagaimana caranya? Ya, cukup dengan modal smartphone berbasus Android atau IOS yang telah dilengkapi kamera digital, anda dapat dengan mudah menyalin tulisan pada buku ke bentuk soft text.

Umumnya, aplikasi ini memanfaatkan suatu teknologi yang disebut sebagai Text Scanner. Cara kerjanya cukup sederhana, kamera akan membidik halaman kertas yang bertulisan, lalu menyimpannya dalam bentuk image. Setelah itu, image ini akan dikonversi menjadi teks melalui pemindaian yang canggih. Teks ini kemudian dapat dicopy atau dipaste pada media dan software lain seperti Notepad, Microsoft Word dan sebagainya.

Dengan aplikasi ini, anda dapat menyaih satu halaman buku hanya dalam hitungan detik saja!

Ada beberapa aplikasi yang bisa kita manfaatkan untuk hal ini, di antaranya adalah Google Translate (pada Android) dan Text Fairy. Nah, dari pengalaman admin, kedua aplikasi ini sebetulnya sama hebatnya, akan tetapi kali ini kita akan mengulas tentang aplikasi dan kehebatan Text Fairy saja.

Berikut langkah-langkahnya:

Pertama, silahkan download dan pasang aplikasi Text Fairy pada smartphone anda. Anda bisa mengetik pencarian pada Google Play atay App Store dengan kata kunci Text Fairy (OCR Text Scanner). Lalu instal seperti gambar di bawah ini.


Setelah terintal, silahkan pilih bahasa pemindaian terlebih dahulu


Silahkan pilih Bahasa Indonesia. 

Setelah itu, kita mulai pemindaian (scanning). Pemindaian dapat dilakukan melalui kamera. Atau juga dapat mengkonversi langsung dari gambar yang sudah ada (gambar yanng mengandung tulisan tentunya)

Jika ingin menyalin dari buku, tentu saja kita haru memanfaatkan kamera. Maka pilih iko kamera seperti di gambar di bawah ini.


Setelah kamerah terbuka, arahkan smartphone anda pada buku atau koran atau majalah yang ingin anda salin. Lalu skop gambar yang telah diambil agar hanya mencakup tulisan saja. 


Lalu pilih apakah anda mengambil tulisan dari 2 kolon atau satu kolom. (biasanya ada beberapa jurnal yang memakai dua kolom). Lalu tekan START.


Lalu tekan: Start Text Recognbtion. Maka smartphone anda pun akan mulai bekerja, yaitu merubah gambar yang telah dicapture menjadi tulisan. Hanya butuh beberapa detik saja untuk melakukan hal ini,. 



Tunggu sampai selesai 100 %

Dan sekarang, gambar telah berubah menjadi teks! Anda bisa mengkopi tulisan yang ada lalu mem-paste-nya ke aplikasi lain seperti Microsoft Word, dll. Atau anda juga dapat menyimpannya menjadi file PDF yang mengandung teks (bisa disearch dan dikopi per kata).


Nah, setelah itu, fila anda bisa dibuka di komputer

Bagaimana, mudah bukan? Selamat berkarya!
loading...

"Ke Surga Ngajak-Ngajak Dong...!".... Tapi Caranya....?

Pernahkah anda mendengar perkataan, membaca komen seperti....

"Kalo ke Surga ajak-ajak dong..."
.
"Jangan sendiri-sendiri kalo masuk Surga..."
.
Sungguh perkataan indah yang terucap dari seorang muslim kepada muslim lainnya, perkataan yang menggambarkan keinginan seorang muslim agar diikut sertakan bersama-sama dalam menempuh jalan Surga.

Akan tetapi, seringnya ucapan ini tinggallah ucapan, sekedar pemanis saja tanpa ada follow up.

Terbukti ketika ia diajak,
.
"Yuk kajian..."
.
"Duh lagi sibuk nih.", katanya.
.
"Belajar bahasa arab yuk.."
.
"Kan dah ada terjemahan", ujarnya.
.
"Ada video / artikel agama bagus nih."
.
"Wah, terima kasih ya...." , Sambil menscroll kemudian diskip.

Padahal, Para Ulama menyatakan bahwasanya jalan tol, jalan pintas untuk masuk ke Surga adalah dengan belajar agama.

Sebagaimana disebutkan pada sebuah hadits  Nabi,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
.
"Barangsiapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu agama, maka Allah akan memudahkan untuknya jalan menuju Surga." (Hadits Shohih Riwayat Muslim no. 2699)

Jika demikian,

Jika jalan pintas ini saja enggan untuk ditempuh,

Maka jalan mana lagikah yang hendak dicari?
loading...

Thursday, October 12, 2017

Hukum Berprofesi Sebagai Pengacara [Advokat] dan Kode Etiknya Menurut Ulama Pandangan Ulama Islam

Sesungguhnya syariat Islam adalah syariat yang sempurna dan paripurna yang membahas segala hal yang dibutuhkan oleh hamba.

Di antara sekian bukti akan hal itu adalah konsep Islam yang sangat jelas tentang pengadilan. Dan di antara sekian bahasan dalam pengadilan adalah “pengacara”. [Baca juga Kisah: Pengacara pintar dan Hakim Cerdas]

Nah, apakah masalah pengacara dibahas dalam Islam? Adakah penjelasannya dalam kitab-kitab para ulama?! Bagaimana kriteria pengacara dalam Islam?! Inilah yang akan menjadi topik bahasan kita kali ini. Semoga Allah memberikan pemahaman kepada kita semua.[1]

Definisi Pengacara

Dalam bahasa Arab, pengacara biasa juga disebut sebagai Al-Muhami (yang berarti: pembela). Adapun menurut KBBI, pengacara (advokat) adalah ahli hukum yang berwenang sebagai penasihat atau pembela perkara dalam pengadilan.[2].

Dalil Disyariatkannya Pengacara

Adanya pengacara dalam persidangan adalah perkara yang dibolehkan, berdasarkan dalil-dalil yang banyak dari Alquran, hadits, ijma’, dan akal.

1.  Dalil Alquran

إِنَّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ بِٱلْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِمَآ أَرَىٰكَ ٱللَّهُ ۚ وَلَا تَكُن لِّلْخَآئِنِينَ خَصِيمًۭا

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat. (QS. an-Nisa’ [4]: 105)

Dalam ayat ini terdapat larangan menjadi pengacara secara batil, Artinya, jikalau beracara untuk dalam rangka menegakkan kebenaran maka dibolehkan, bahkan sangat diajurkan dan dianggap sebagai profesi mulia.

Syaikh as-Sa’di (1376 H) berkata, “Pemahaman ayat ini menunjukkan bolehnya berprofesi sebagai pengacara bagi seorang yang tidak dikenal dengan kezaliman.” [3]

2.  Dalil Hadits

Dari Fathimah binti Qois radhiallahu ‘anha bahwasanya Abu ’Amr menceraikannya tiga cerai dari kejauhan dirinya, dia mengutus wakilnya untuk membawakan gandum kepada Fathimah, tetapi Fathimah malah marah kepadanya. Lalu wakil tersebut mengatakan, “Demi Allah, kamu itu tidak memiliki hak lagi.” Setelah itu Fathimah melapor kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu bersabda, “Tidak ada kewajiban baginya untuk menafkahimu lagi.” (HR. Muslim: 1480)

Hadits ini menunjukkan bolehnya perwakilan dalam persengketaan (pengacara), karena Fathimah melaporkan perkara wakil suaminya tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun Nabi tidak mengingkarinya, berarti beliau menyetujui adanya wakil dalam persengketaan.[4]

3.  Dalil Ijma’

Secara global, tidak ada perselisihan di kalangan ulama tentang bolehnya mewakilkan dalam persengketaan baik dalam harta, pernikahan, dan sejenisnya.[5] Bahkan, secara khusus sebagian ulama telah menukil adanya ijma’ dalam masalah ini. As-Sarakhsi (490 H) berkata, “Perwakilan dalam pengadilan sudah ada semenjak masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga hari ini tanpa adanya pengingkaran dari siapa pun.” [6] As-Sumnani (499 H) menjelaskan tentang pengacara, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mewakilkan, demikian juga para imam yang adil dari kalangan sahabat dan tabi’in. Hal ini juga diamalkan oleh manusia di semua negara.” [7]

4.  Dalil Akal

Seorang kadang-kadang membutuhkan wakil dalam persidangan, entah karena dia tidak suka perdebatan atau tidak memiliki keahlian dalam berdebat—baik membela atau membantah—maka sangat sesuai jika syariat membolehkannya.[8]

Bolehkah Berprofesi Sebagai Pengacara?

Berprofesi sebagai pengacara hukumnya boleh apabila untuk membela kebenaran dan menolong orang yang terzalimi, baik dengan mengambil gaji atau tidak. Dalilnya adalah firman Allah:

إِنَّمَا ٱلصَّدَقَـٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَٱلْمَسَـٰكِينِ وَٱلْعَـٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَٱلْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلْغَـٰرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةًۭ مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌۭ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. at-Taubah [9]: 60)

Dalam ayat ini terdapat dalil bolehnya pemerintah mewakilkan seorang untuk mengambil zakat dan membagikannya kepada yang berhak dengan adanya imbalan bagi amil zakat tersebut.[9] Kalau amil zakat berhak mendapatkan imbalan atas pekerjaannya, maka demikian juga pengacara berhak mendapatkan imbalan atas pekerjaannya.

Lajnah Da’imah (komite fatwa) Arab Saudi pernah ditanya tentang hukum profesi sebagai pengacara, maka mereka menjawab, “Apabila dia berprofesi sebagai pengacara bertujuan untuk membela kebenaran, menumpas kebatilan dalam pandangan syariat, mengembalikan hak kepada pemiliknya, dan menolong orang yang terzalimi, maka hal itu disyariatkan, karena termasuk tolong-menolong dalam kebaikan. Adapun apabila tujuannya bukan demikian maka tidak boleh karena termasuk tolong-menolong dalam dosa. Allah berfirman,

وَكَيْفَ يُحَكِّمُونَكَ وَعِندَهُمُ ٱلتَّوْرَىٰةُ فِيهَا حُكْمُ ٱللَّهِ ثُمَّ يَتَوَلَّوْنَ مِن بَعْدِ ذَ‌ٰلِكَ ۚ وَمَآ أُولَـٰئِكَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ

Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman.” (QS. al-Ma’idah [5]: 43)[10]

Bahkan, sebenarnya kalau kita membuka sejarah Islam, profesi pengacara sudah ada sejak dahulu sekalipun tidak mesti dalam setiap persidangan. Bukti akan hal itu banyak sekali, di antaranya apa yang dikatakan oleh as-Sumnani (499 H), “Bab tentang pengacara dan kewajiban mereka.” [11] Bab ini menunjukkan bahwa profesi pengacara sudah ada sejak dahulu. Bahkan, dalam kitab biografi, ada sebagian orang yang dikenal sebagai pengacara, seperti Abu Marwa Utsman bin Ali bin Ibrahim (346 H), beliau dikenal sebagai pengacara yang profesional.[12]

Syarat-Syarat Berprofesi Sebagai Pengacara

Pada zaman sekarang, banyak keluhan tentang adanya para pengacara yang tidak memenuhi standar agama dan tidak memiliki kriteria yang diharapkan. Karena itu, penting sekali kita mengetahui syarat-syarat sebagai pengacara dalam Islam dan kewajiban mereka:

1.  Mengetahui hukum-hukum syar’i

Seorang pengacara sejati harus memiliki ilmu tentang hukum-hukum syar’i seputar muamalah baik yang berkaitan tentang pernikahan, kriminal, pengadilan, dan sebagainya. Sebab, bila tidak demikian maka dia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.

Ibnu Abdi Dam (642 H) menjelaskan faktor tentang tujuan dia menulis kitab tentang adab-adab seorang hakim, “Tujuan inti dari memaparkan masalah ini agar mudah diketahui oleh para pengacara yang merupakan wakil dari hakim dalam menyelesaikan persengketaan hukum.” [13]

 2. Adil dan terpercaya

Seorang pengacara harus memiliki sifat amanat, menjaga rahasia, dan adil, karena dia mengemban kepentingan kaum muslimin yang telah memberikan kepercayaan mereka kepada para pengacara.[14]

3.  Pria [menurut fiqih turats]

Seorang pengacara harus pria sebab dia akan sering berurusan dengan banyak lelaki baik hakim, saksi, terdakwa, dan sebagainya, dan sering tinggal di kantor pengacara dan kantor persidangan, padahal semua itu bertentangan dengan tugas seorang wanita yang sejatinya tetap tinggal di rumah, menunaikan tugas rumah, merawat anak-anak, dan tugas-tugas mulia lainnya. Cukuplah profesi ini ditangani oleh kaum pria saja[15]. Sebab itu, dalam undang-undang sebagian negara non-Islam pun ada larangan pengacara dari kaum wanita.[16]

Beberapa rambu dalam profesi Advokat menurut para Ulama

Para ulama menyebutkan, ada beberapa hal yang dapat menghalangi seorang pengacara untuk lulus menjadi pengacara ideal, di antaranya:

1.  Bertujuan untuk menyakiti musuh
Hal itu dilarang karena tidak boleh bagi kita untuk menyakiti sesama muslim. Allah berfirman:

وَٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتِ بِغَيْرِ مَا ٱكْتَسَبُوا فَقَدِ ٱحْتَمَلُوا بُهْتَـٰنًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. al-Ahzab [33]: 58)

Oleh karena itu, apabila pengacara memiliki permusuhan pribadi dengan lawannya maka tidak boleh ia menjadi pengacara (pada kasus tersebut) karena dia akan berusaha untuk menyakitinya dan meluapkan dendamnya kepada orang tersebut kecuali bila dia (musuhnya) ridha.[17]

2.  Suka Berbelit-belit

Apabila ada seorang pengacara yang dikenal berbelit-belit sehingga mengutarakan hal-hal yang tidak ada kenyataannya dengan tujuan untuk memperpanjang masalah dan menyakiti lawan, maka dia tidak boleh diangkat sebagai pengacara.[18]

3.  Bila Hakim Pilih Kasih Kepadanya

Apabila ada indikasi kuat bahwa hakim akan pilih kasih kepadanya baik karena hubungan kerabat atau hubungan kawan dekat dan sebagainya maka tidak boleh sebagai pengacara dalam kasus tersebut. Oleh karenanya, Syaikh Muhammad bin Ibrahim alu Syaikh berpendapat bahwa hendaknya hakim tidak menjadi hakim dalam kasus yang pengacaranya adalah anaknya sendiri.[19]

4.  Sebagai Penggugat dan Pembela dalam Satu Kasus

Masalah ini diperselisihkan oleh ulama, namun pendapat terkuat adalah tidak boleh karena hal itu kontra, bagaimana dia menjadi penggugat dan dalam waktu yang sama dia menjadi pembela?! Ini adalah madzhab Hanafiyyah dan pendapat yang kuat dalam madzhab Syafi’iyyah.[20]

Kewajiban Pengacara

Ada beberapa kewajiban yang harus diperhatikan oleh para pengacara:

1.  Melaksanakan Tugas
Kewajiban pengacara adalah melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya dan tidak melampuinya, karena dia adalah wakil dari seorang yang telah mewakilkannya.[21]

2.  Menghormati Majlis Pengadilan
Pengacara harus beradab dan menghormati sidang pengadilan baik kepada hakim, terdakwa, dan saksi. Dia berkata sopan kepada mereka dan tidak mengeluarkan kata-kata yang kotor[22]. Dan tidak mengapa untuk menyebutkan tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya sekalipun dengan menyifati penuduh dengan kezaliman karena hal itu bukanlah termasuk ghibah yang terlarang.[23]

3.  Memenuhi Panggilan Mahkamah Pengadilan
Pengacara harus segera untuk memenuhi panggilan mahkamah pengadilan ketika diminta datang dalam waktu yang ditentukan seraya menghadirkan data-data dan dokumen yang diperlukan. Semua itu dengan keterangan yang jelas dan data yang komplet. Janganlah dia berbelit-belit dan mempersulit jalannya sidang karena hal itu hanya akan memperuncing masalah.[24]

4.  Menjunjung Tinggi Kejujuran
Pengacara harus menjunjung tinggi kejujuran. Tugasnya adalah membela kebenaran dan tidak boleh baginya untuk membela kebatilan dan kesalahan. Seandainya seseorang memberikan keterangan-keterangan yang bohong maka tidak boleh sang pengacara menyembunyikannya, tetapi harus menjelaskan fakta sesungguhnya dengan jujur dan adil.[25]

5.  Mencurahkan Tenaganya
Pengacara harus berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan tugasnya baik membantah tuduhan, menyampaikan bukti, atau membela hak. Tidak boleh dia menipu atau memberikan keterangan sebelum waktunya yang sesuai atau mengakhirkannya dari waktu yang sesuai.[26]

6.  Menjaga Rahasia
Apabila ada hal-hal yang seharusnya dirahasiakan maka tidak boleh pengacara membongkarnya, apalagi hal-hal yang berkaitan dengan pribadi rumah tangga atau menyebabkan kerusakan di masyarakat.[27]

7.  Memiliki kantor atau rumah yang mudah diketahui
Tujuannya, jika sewaktu-waktu dibutuhkan oleh hakim atau terdakwa maka dengan mudah dapat dihubungi[28]. Dan hal itu pada zaman sekarang sangat mudah dengan adanya alat telekomunikasi yang modern.

Demikianlah penjelasan secara singkat tentang pengacara dalam Islam. Semoga bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi para pengacara dan calon pengacara yang ingin sukses dunia dan akhirat.

***

Dikutip dari tulisan: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi pada Artikel www.PengusahaMuslim.com

Referensi Catatan Kaki
[1]    Penulis banyak mengambil faidah untuk pembahasan ini dari tulisan Syaikh Abdulloh bin Muhammad alu Khunain berjudul “Al-Wakalah ’ala Khushumah wa Ahkamuha al-Mihaniyyah fil Fiqih Islami wa Nizhomil Muhamat Su’udi”, dimuat dalam Majalah al-’Adl edisi 15, Rojab 1423 H.
[2]    Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III (2005)
[3]    Taisir Karimir Rohman: 2/351
[4]    Syarh Adab al-Qodhi: 3/402
[5]    Al-Mughni karya Ibnu Qudamah: 5/204, Durorul Hukkam karya Ali Haidar: 3/368
[6]    Al-Mabsuth: 19/4
[7]    Roudhoh al-Qudhot karya as-Sumnani: 1/181
[8]    Ahkamul Qur’an karya Ibnul ’Arobi: 3/220, al-Kafi karya Ibnu Qudamah: 2/239
[9]    Adhwa’ul Bayan karya asy-Syinqithi: 4/49
[10]  Fatawa Lajnah Da’imah: 1/792. Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Baz, anggota: Abdurrozzaq ’Afifi, Abdulloh al-Ghudayyan, dan Abdulloh bin Qu’ud. Lihat pula fatwa-fatwa ulama lainnya tentang hukum profesi pengacara dalam kitab al-MuhamahTarikhuha fi Nudhum wa Mauqif Syari’ah Minha karya Syaikh Masyhur Hasan Salman hlm. 139–148.
[11]  Roudhoh al-Qudhot: 1/122
[12]  Tarikh Baghdad: 11/303–304
[13]  Adabul Qodho’ hlm. 692
[14]  Roudhoh al-Qudhot: 1/122, Tanbihul Hukkam ’Ala Ma’akhidzil Ahkam karya Ibnul Munashif hlm. 141, Tabshiroh al-Hukkam Fi Ushul Aqdhiyah wa Manahij Ihkam karya Ibnu Farhun: 1/282.
[15]  Al-Muhamah Fi Dhou’i Syari’ah Islamiyyah wal Qowanin al-Arobiyyah karya Muslim Muhammad Jaudat hlm. 130
[16]  Al-Muhamah Fi Nidhom Qodho’i karya Muhammad Ibrahim Zaid hlm. 44
[17]  Mawahibul Jalil karya al-Kaththob: 5/200
[18]  Adab al-Qodhi karya al-Khoshof: 2/78
[19]  Fatawa wa Rosa’il: 8/43
[20]  Al-Mabsuth: 19/15, Adab al-Qodhi karya Ibnul Qosh: 1/217, Hilyah Ulama karya asy-Syasyi 5/129.
[21]  Mu’inul Hukkam ’Ala al-Qodhoya wal Ahkam karya Abu Ishaq Ibrohim bin Hasan: 2/684
[22]  Mu’inul Hukkam Fima Yataroddadu Bainal Khoshmaini min al-Ahkam karya ’Ala’uddin ath-Thorobilsi: hlm. 21
[23]  Majmu’ Fatawa: 28/219.
[24]  Tabshiroh Hukkam karya Ibnu Farhun: 1/180, Adab al-Qodhi karya al-Mawardi 1/251
[25]  Roudhoh al-Qudhot 1/124
[26]  Al-Muhamah Risalah wa Amanah karya Ahmad Hasan Karzun hlm. 61, 82
[27]  Ibid. hlm. 62.
[28]  Qurrotu ’Uyunil Akhbar karya Ibnu Abidin 1/322

Sumber: tulisan: http://pengusahamuslim.com/2748-profesi-pengacara-mengapa-1460.html
loading...

[Kisah Keagungan Sholawat] Rasulullah Saw Sebagai Jaminan

Syeikh Husna Syarif, seorang ulama besar di Mesir bercerita tentang seorang yang terbelit  banyak hutang di tengah kubangan kemiskinannya.

Dulunya dia adalah orang yang sangat kaya raya namun jatuh bangkrut sampai terbelit hutang sana sini. Setiap hari, rumahnya penuh dengan orang yang menagih hutang.

Akhirnya ia terpaksa pergi menjumpai seorang saudagar kaya dan meminjam uang sebanyak 500 dinar. Saking terkenalnya dia sudah banyak hutang sampai-sampai saudagar ini bertanya,

"Kira-kira kapan anda akan melunasi pinjaman ini ?

"Minggu depan tuan." jawabnya singkat.

Ia pun berhasil meminjam hutang lalu pulang dengan 500 dinar di genggamannya.

Uang itu segera dia bayarkan kepada orang-orang yang setiap hari datang menagih hutang kepadanya sampai 500 dinar yang ia peroleh itu tidak tersisa sama sekali.

Hari demi hari ia bertambah sulit dan terpuruk kondisi ekonominya hingga tempo pembayaran hutangnya pun tiba.

Saudagar mendatangi rumah si miskin dan mengatakan,

"Tempo hutang anda telah tiba."

Dengan suara lirih dia menjawab,

"Demi Allah saya sedang tak berhasil mendapatkan apa-apa untuk membayar. Tapi sungguh saya terus berusaha untuk melunasi."

Saudagar merasa geram lalu mengadukannya ke pengadilan, dan membawanya ke hakim.

Di pengadilan, Hakim bertanya:

"Mengapa anda tidak membayar hutang anda ?"

Dia menjawab:

"Demi Allah saya tidak memiliki apa-apa tuan."

Karena merasa ini adalah kesalahan si miskin maka hakim memvonisnya dengan hukuman penjara sampai ia bisa melunasi hutangnya.

Kemudian si miskin bangkit dan berkata :

"Wahai tuan Hakim, berilah saya waktu untuk hari ini saja. "Saya hendak pulang ke rumah untuk berjumpa keluarga dan mengabarkan hukuman ini sekalian berpamitan dengan mereka, kemudian saya akan langsung kembali untuk menjalani hukuman penjara.

Hakim:

"Bagaimanamungkin, apa jaminannya kau akan kembali besok ?

Lelaki itu terdiam, tapi seolah mendapat ilham di benaknya.

"Rasulullah SAW jaminanku, wahai tuan hakim, bersaksilah untukku jika besok aku tidak kembali maka aku bukanlah termasuk umat Rasulullah SAW."

Sang Hakim tersentak diam, ia sadar betapa bahayanya jaminan itu jika si miskin bohong. Hakim berfikir sejenak lalu memilih untuk percaya demi Rasulullah SAW. Hukuman pun ditunda sampai besok.

Sesampainya di rumah, si miskin mengabarkan kondisinya kepada istrinya bahwa esok akan dipenjara.

Istrinya bertanya :

"Kok sekarang engkau bisa bebas ?

"Aku menaruh nama Rasulullah SAW sebagai jaminanku."

Air hangat menetes dari mata istrinya seraya ia berkata pada suaminya;

"Jika nama Rasulullah SAW yang menjadi jaminan bagimu maka mari kita bershalawat.

Dan mereka pun bershalawat kepada Rasulullah  SAW dengan rasa cinta dan ketulusan yang mendalam hingga mereka tertidur.

Tiba-tiba dalam tidurnya mereka bermimpi melihat Rasulullah SAW. Beliau memanggil nama si miskin seraya berkata:

"Hai fulan jika telah terbit fajar pergilah ke tempat Alim fulan. Sampaikan salamku padanya dan mintalah supaya ia menyelesaikan hutang piutangmu. Jika Alim itu tidak percaya maka sampaikan 2 bukti ini;
"Katakan padanya bahwa dimalam pertama ia sudah membaca shalawat untukku 1000 kali, dan dimalam terakhir dia telah ragu dalam jumlah bilangan shalawat yang dibacanya. Sampaikan padanya bahwa ia telah menyempurnakan shalawatnya".

Seketika si miskin terbangun dan terkejut.

Tanpa ragu setelah subuh ia pergi menuju rumah sang Alim dan berjumpa dengannya. Tanpa buang waktu si miskin menyampaikan mimpinya,

"Wahai tuan, Rasulullah SAW telah menitipkan salam untukmu dan meminta agar engkau sudi menyelesaikan hutang piutangku."

Alim bertanya,

"Apa bukti dari kebenaran mimpimu itu ?"

"Kata baginda Nabi, di malam pertama engkau telah bershalawat sebanyak 1000 x dan dimalam kedua anda tertidur dalam keadaan ragu dengan jumlah bilangan shalawat yang telah anda baca. Rasulullah SAW mengatakan bahwa hitungan shalawat anda telah sempurna, dan shalawat anda telah diterima olehnya."

Mendengar itu, Alim itu spontan menangis karena berita gembira shalawatnya diterima Rasulallah SAW.

Maka alim tersebut memberi uang 500 dinar dari baitul mal untuk melunasi hutang si miskin, dan 2500 dari harta pribadinya untuk si miskin sebagai tanda terima kasih atas berita gembira yang disampaikan.

Dengan dana itu si miskin langsung bergegas pergi ke Hakim untuk menyelesaikan perkaranya.  Sesampainya di pengadilan, si Hakim bangkit dari kursinya menyambut si miskin seakan sudah rindu.

Dengan senyum lebar sang Hakim memanggilnya seraya berkata:

"Kemarilah, berkat kamu aku mimpi berjumpa Rasulullah SAW."

Rasulullah SAW telah berpesan kepadaku bahwa jika aku menyelesaikan hutangmu maka kelak Rasulullah SAW akan menyelesaikan perkaraku di akhirat. Ini uang 500 dinar untuk lunasi hutang-hutangmu".

Belum juga Hakim selesai bicara, tiba-tiba pintu ada yang mengetuk. Ketika dibuka, ternyata saudagar penagih hutang.

Dia langsung memeluk si miskin dan menciumnya sembari berucap,

"Berkat anda saya mimpi berjumpa Rasulullah.

Beliau berkata padaku jika aku merelakan hutangmu maka kelak di hari kiamat,Rasulullah SAW akan merelakan segala tanggunganku dan ini uang 500 dinar hadiah untuk anda dan hutangmu lunas".

***

"Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bersalawat kepada Nabi (Muhammad S.A.W) maka wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya."  (Al Ahzab;56)

Semoga kisah diatas benar adanya dan menambah kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW sebagai kekasih dan Rasul Allah SAW..

اللّهمّ صلّ و سلّم و بارك على سيّدنا محمّد و على آل سيّدنا محمّد
loading...

Tuesday, October 10, 2017

Mengapa Kita Disuruh Beristighfar [3 Kali] Setelah Sholat?

Assalamu alaikum sahabat pecinta ilmu. Semoga hari ini kita tetap dilimpagi keberkahan oleh Allah Swt. Amin.

Pada postingan kali ini, kita akan coba kembali membahas tentang persoalan istighfar. Salah satu hadits tentang istighfar diriwayatkan dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata,

كَانَ رَسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاثَاً ، وَقَالَ : (( اللَّهُمَّ أنْتَ السَّلاَمُ ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ ، تَبَارَكْتَ يَاذَا الجَلاَلِ وَالإكْرَامِ )) قِيلَ لِلأوْزَاعِيِّ – وَهُوَ أحَدُ رواة الحديث – : كَيْفَ الاسْتِغْفَارُ ؟ قَالَ : يقول : أسْتَغْفِرُ الله ، أسْتَغْفِرُ الله . رواه مسلم

“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam selesai dari shalatnya (shalat fardhu, pen.), beliau beristighfar tiga kali dan mengucapkan ALLAHUMMA ANTAS SALAAM, WA MINKAS SALAAM, TABAAROKTA YAA DZAL JALAALI WAL IKROOM” (artinya: Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan. Mahasuci Engkau, wahai Tuhan Pemilik Keagungan dan Kemuliaan).

Ada yang bertanya pada Imam Al-Auza’i, salah satu perawi hadits ini,

“Bagaimana cara beristighfar?”

Imam Al-Auza’i menjawab,

“Caranya adala dengan membaca ‘ASTAGHFIRULLAH … ASTAGHFIRULLAH’ (Aku memohon ampun kepada Allah. Aku memohon ampun kepada Allah). (HR. Muslim, no. 591)

Penjelasan hadits:

Hadits ini memberikan kita beberapa faedah, di antaranya:

1- Disunnahkan beristighfar tiga kali setelah shalat fardhu.
2- Imam Al-Auza’i mengajarkan cara beristighfar yaitu mengucapkan “ASTAGHFIRULLAH”. Tentu saja seorang perawi lebih memahami apa yang ia riwayatkan.
3- Dianjurkan membaca bada shalat bacaan istighfar, lalu bacaan “ALLAHUMMA ANTAS SALAAM, WA MINKAS SALAAM, TABAAROKTA YAA DZAL JALAALI WAL IKROOM”.
4- Istighfar bada shalat menunjukkan bahwa seorang hamba janganlah tertipu dengan amalannya. Jika hamba merasa tidak takjub pada amalnya sendiri, itu akan membuat amalan tersebut mudah diterima.
5- Hamba butuh sekali dengan istighfar setiap waktu.
6- Keselamatan, rasa aman, dan thuma’ninah seperti yang dibaca dalam dzikir di atas adalah suatu nikmat yang Allah anugerahkan pada mereka yang mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Referensi:
Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:448-449.
loading...