Orang Rajin Bersedekah Itu Bahagia, begini penjelasan ilmiahnya...

Pernahkah kita merasakan, ketika kita mengeluarkan sedekah kepada orang yang membutuhkan, ketika kita bisa membantu meringankan beban orang lain, lalu muncul perasaan bahagian entara dari mana dalam lubuk hari kita?;

Sunday, July 15, 2018

Riwayat] Kesederhanaan Syekh Yasin Al-Fadani

Putra bangsa ini berkiprah dan banyak dihormati oleh para cendekiawan Muslim sedunia. Ialah Syekh Yasin al-Fadani, pria berdarah Sumatra Barat yang lahir di Makkah dan menjadi ahli fikih dan muhadis terkemuka pada abad ini.

Ulama ini bahkan mendapatkan gelar Almusnid Dunya atau yang berarti ulama ahli musnad dunia dalam keahliannya di bidang ilmu periwayatan hadis.

Namanya sangat terkenal, terutama bagi kalangan pelajar Indonesia yang menimba ilmu di Makkah. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan ijazah sanad hadis darinya.

Lahir di Makkah pada 1916, pria yang mempunyai nama lengkap Abu al-Faidh' Alam ad-Diin Muhammad Yasin bin Isa al-Padani ini telah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa.

Ketika remaja, ia mampu mengungguli rekan-rekannya dalam hal penguasaan ilmu agama, terutama di bidang hadis dan fikih yang membuat para gurunya kagum terhadapnya.

Ini membuat orang tuanya, Syekh Muhammad Isa bin Udiq al-Fadani dan Maimunah binti Abdullah Fadani, sangat bangga.

Selain berguru langsung pada kedua orang tua yang ahli agama ini, ia juga banyak belajar dari pamannya sendiri, yaitu Syekh Mahmud Engku Hitam al-Fadani.

Guru-gurunya yang lain, yang banyak memengaruhi pendidikannya adalah Syekh Muhktar Usman, Syekh Hasan al-Masysath,

Habib Muhsin bin Ali al-Musawa, dan banyak lagi ulama terkemuka lainnya di ash-Shautiyyah, lembaga pendidikan tempatnya mengabdi.
Sekitar 1934, terjadi sebuah konflik di tanah Hijaz. Direktur Ash-Shautiyyah telah menyinggung beberapa pelajar asal Asia Tenggara, terutama dari Indonesia, maka Syekh Yasin mengemukakan ide untuk mendirikan Madrasah Darul Ulum di Makkah.

Niat untuk menunjukkan rasa nasionalisme pada bangsanya ini membuat para pelajar Al-Shawlatiyyah berbondong-bondong pindah ke Madrasah Darul Ulum, padahal madrasah tersebut masih baru. Syekh Yasin kemudian menjabat sebagai wakil direktur Madrasah Darul Ulum Makkah, selain masih mengajar di berbagai tempat, terutama di Masjidil Haram. Materi-materi yang disampaikan mendapat sambutan yang luar biasa, terutama dari para pelajar asal Asia Tenggara.

Satu hal yang menarik dan rahasia dari sosok Syekh Yasin adalah kesederhanaannya. Meski ia adalah ulama terkemuka yang kecerdasannya diakui dunia, ia tak segan untuk keluar masuk pasar sendiri berbelanja, kemudian memikul barang-barangnya sendiri. Ia sering terlihat mengenakan kaus oblong dengan sarung sambil nongkrong di warung teh, menghisap shisha, semacam rokok arab yang menjadi kesukaannya.

Rumahnya pun tak pernah sepi dari kunjungan para cendekiawan dari seluruh penjuru dunia. Apalagi, ketika tiba musim haji karena ia sering mengundang ulama dunia ke rumahnya untuk berdiskusi mengenai perkembangan dunia islam. Bahkan, Gus Dur pun pernah singgah di rumahnya.

Karya-karya yang telah ditelurkannya pun lebih dari 100 judul kitab. Semua hasil karyanya tersebut tersebar dan menjadi rujukan lembaga-lembaga Islam, pondok pesantren, baik itu di Makkah maupun di Asia Tenggara.

Syekh Yasin al-Fadani banyak menuai pujian, baik oleh para ulama maupun para gurunya. Salah satunya adalah seorang ulama hadits bernama Sayyid Abdul Aziz al-Gumari yang menjuluki Syekh Yasin sebagai ulama kebanggaan Haromain (Makkah dan Madinah).

Ulama besar lain yang berasal dari Hadramaut, Yaman, yaitu al-Allamah Habib al-Segaf bin Muhammad Assegaf, juga sangat kagum dengan keluasan keilmuannya hingga ia memberikan sebutan Sayuthiyyu Zamanihi, yang artinya Imam al-Hafid Assayuthy pada zamannya.

Syekh Yasin juga sering mengadakan kunjungan-kunjungan ke berbagai negara, termasuk Indonesia yang merupakan asal dari nenek moyangnya.

Hingga akhirnya, ia meninggal pada 1990. Meski ia telah tiada, ilmunya terus dipakai sebagai rujukan dan selalu berkembang di semua lembaga pendidikan Islam di seluruh dunia.

loading...

Friday, July 13, 2018

Petaka Akibat Meninggalkan Sholat Jum'at....

Satu hal yang menyedihkan: banyak orang begitu entengnya meninggalkan shalat Jum’at. Sampai seringkali meninggalkannya dalam waktu lama. Padahal shalat ini adalah kewajiban yang tidak perlu lagi disangsikan. Dalil pendukungnya pun dari Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama ( ijma’).

Maka sudah barang tentu yang meninggalkannya akan menuai petaka yang menimpa jasad dan lebih parah lagi akan merusak hatinya.

Kewajiban shalat Jum’at ditunjukkan dalam ayat,

*يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ*

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah.” (QS. Al Jum’ah: 9)._

Menurut  kebanyakan pakar tafsir, yang dimaksud _‘dzikrullah’_ atau mengingat Allah di sini adalah shalat Jum’at.

Sa’id bin Al Musayyib mengatakan bahwa yang dimaksud adalah mendengar nasehat (khutbah) pada hari Jum’at. (Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 8: 265)

Dikuatkan lagi dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

*الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ*

(Shalat) Jum’at adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim dalam jama’ah kecuali bagi empat orang: budak yang dimiliki, wanita, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR. Abu Daud no. 1067. Kata Syaikh Al Albani, hadits ini shahih)

Begitu pula disebutkan dalam sabda lainnya,

*رَوَاحُ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ*

Pergi (shalat) Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang telah mimpi basah.” (HR. An Nasai no. 1371. Kata Syaikh Al Albani, hadits ini shahih)

Lalu bagaimana jika seseorang meninggalkan shalat Jum’at? Apa akibat yang menimpa dirinya?

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrak hafizhahullah ditanya,

“Apa akibat yang diperoleh orang yang tidak menghadiri shalat Jumat? Apa hadits yang menerangkan hal tersebut?

Beliau menjawab:
Shalat Jum’at adalah shalat yang wajib bagi orang yang tidak memiliki uzur. Barangsiapa meninggalkannya, ia terjerumus dalam dosa besar. Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali karena meremehkannya, _hatinya akan tertutup_. Dan ia termasuk orang-orang yang lalai. 
Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya dari Abu Hurairah dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, keduanya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata ketika beliau memegang tongkat di mimbarnya,

*لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ*

“Hendaklah orang yang suka meninggalkan shalat jumat menghentikan perbuatannya. Atau jika tidak Allah akan menutup hati-hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan tergolong ke dalam orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim no. 865)_

Dalam hadits lain disebutkan,

*مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ*

Barangsiapa meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali karena lalai terhadap shalat tersebut, Allah akan tutupi hatinya.” (HR. Abu Daud no. 1052, An Nasai no. 1369, dan Ahmad 3: 424. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih).

Ini akibat yang menimpa hati. Musibah ini lebih bahaya dari akibat yang menimpa jasad atau kulit seseorang.

Sedangkan hukuman duniawi, hendaklah ulil amri (penguasa) memberi hukuman pula bagi orang yang meninggalkan shalat Jum’at tanpa ada uzur agar mencegah tindak kejahatan mereka. Hendaklah setiap muslim bertakwa pada Allah, janganlah sampai ia melalaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan. Jika seseorang lalai dalam demikian, maka ia akan menuai petaka dari Allah. Jagalah perintah Allah, niscaya pahala Allah akan diraih. Dan Allah akan beri karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Semoga bermanfaat. 
loading...

Berpeluh Keringat Karena Bekerja, Itulah Ibadah Terbaik, Daripada....

"Ada 3 orang yang amat tekun beribadah di Masjid pada masa kekhalifahan Sayyidina 'Umar, Radhiyallahu 'Anh", tutur Dr. Jaribah ibn Ahmad Al Haritsi mengutip Ibn Katsir dalam Al Fiqhul Iqtishadi li Amiril Mukminin 'Umar ibn Al Khaththab.

Kepada orang pertama Khalifah bertanya, "Apa yang kaulakukan di sini wahai hamba Allah?"

Orang itu menjawab, "Beribadah, sebagaimana kaulihat wahai Amirul Mukminin."

"Lalu siapa yang menanggung nafkahmu dan keluargamu?"

"Janganlah engkau mengkhawatirkanku wahai Amirul Mukminin", ujarnya sambil tersenyum, "Kami ada dalam jaminan Dzat Yang Maha Kaya lagi Maha Pemberi."

Maka Sayyidina 'Umar beralih pada orang kedua dan bertanya hal yang sama.

"Aku dan saudaraku berbagi tugas", ujar orang ini. "Dia bekerja di pasar sementara aku memperbanyak ibadah dan mendoakannya. Kami berserikat dalam hasil perniagaannya."

Sayyidina 'Umar tertawa dan bertitah, "Demi Allah, saudaramu itu lebih ahli ibadah dengan apa yang dikerjakannya dibanding dirimu." Kemudian beliau beralih pada orang ketiga.

"Seperti kaulihat hai Amirul Mukminin", katanya, "Aku beribadah di sini. Dan ada saja hamba Allah yang berbaik hati mencukupi keperluanku."

Orang ketiga ini ditendang oleh Sayyidina 'Umar keluar dari Masjid dan kepadanya diberikan tongkat beserta alat. "Demi Allah", bentak beliau, "Berkeringat untuk bekerja dan merasakan lelahnya itu jauh lebih baik daripada engkau duduk di rumah Allah tapi hatimu berharap pada pemberian manusia."

Rizqi itu jaminan Allah. Bekerja adalah ibadah kepada Allah dan kehormatan di mata manusia.

Maka Dr. Jaribah sampai menyimpulkan, Sayyidina 'Umar menghendaki semua muslimin aktif dan produktif meski tanpa bekerjapun mereka berkecukupan. Orang Quraisy yang tidak terjun berniaga dihardik keras. Modal tidak boleh berhenti. Lahan yang tidak ditanami 2 musim berturut bisa disita negara dan ditawarkan pada yang mampu menggarap. Bahkan harta-harta anak yatimpun dimudharabahkan agar tak terkurang oleh zakat dalam haulnya.

Para bujang shalih yang hendak menggegas bernikah dan bernafkah, segera mulailah. Pemuda yang tempo hari kita bahas lamarannya, mengumpulkan tabungan dari beberapa jual beli kecil, menggalang modal, dan membuka usaha fotokopi serta persewaan pernak-pernik TKA/TPA/PAUD di awal kuliah.

Apakah usahanya sukses?

Barangkali ukuran suksesnya bukan dari berapa banyak pendapatannya perbulan. Melainkan kesungguhannya, kelelahannya, keterhubungannya dengan beberapa orang adalah ketukan di pintu Allah Sang Penggenggam Rizki. Lalu Allah membuka pintu lain yang lebih besar daripada yang diketuknya.

Jika kita bekerja, 'itqan, ditekuni sampai ahli, ihsan, dilakukan melampaui harapan pihak yang menikmati hasil kerja itu; katakanlah kita punya kelayakan dibayar 1 milyar karena kesungguhan di sana, maka jika hanya 1 juta yang berbentuk uang kita terima, yakinlah Allah akan membayar 999 juta lainnya dalam berbagai hal tak terduga; istri shalihah, anak shalihin dan shalihat, kesehatan, ketentraman, kemampuan untuk shalat di Masjid, kemampuan berpuasa, serta beramal shalih lainnya.

Maka apatah lagi bekerja ikhlas, yang pahalanya tak terhingga. Rizqi yang datang sesuai jaminanNya pastilah berkah seberkah-berkahnya.

Tukang sapu yang hanya menggumamkan UMR, barangkali memang mendapat sesuai gajinya. Tapi tukang sapu yang hatinya bernyanyi, "Ya Allah, kubersihkan agar tak ada yang terpeleset, tak ada yang tersandung.. Agar semua terlatih hidup bersih.. Agar orang faham kesucian adalah cabang keimanan.. Agar indah dan orang memujiMu melihat keindahan..", siapakah yang mampu membayarnya selain Allah?

Ayo bekerja para bujang shalih, dan percayalah pada Allah melebihi percaya diri.

[Dikutip dari tulisan Ust. Salim Fillah]
loading...

Wednesday, July 11, 2018

Mengupas Makna Bid'ah dan Pembagian Bid'ah

Persoalan bid'ah merupakah salah satu permasalahan yang kerap menjadi perbincangan di kalangan pakar hukum islam sejak dulu.

Makna Bid'ah

1. Imam Syathibi
"Suatu cara/kebiasaan dalam agama Islam, cara yang dibuat-buat, menandingi syariat Islam, tujuan melakukannya adalah sikap berlebihan dalam beribadah kepada Allah ﷻ."

2. Imam Al-Izz bin Abdissalam
"Bid'ah adalah perkara yang tidak pernah dilakukan Rasulullah saw."

3. Imam An-Nawawi
"Para ahli bahasa berkata, bid'ah adalah semua perbuatan yang tidak ada contoh sebelumnya."

4. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Atsqalany
"Segala sesuatu yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya adalah bid'ah, apakah itu terpuji atau tercela."

Dari definisi di atas lalu muncul pertanyaan, apakah semua bid'ah sesat? Dan apakah bisa dibagi beberapa macam? Jawabannya adalah tidak semua bid'ah sesat dan bid'ah bisa dibagi.

Para ulama ada yang membagi bid'ah menjadi dua, yaiitu bid'ah mahmudah (terpuji) dan bid'ah madzmumah (tercela). Bahkan ada yang membaginya menjadi tiga, yaitu bid'ah hasanah (terpuji), bid'ah mustaqbahah (sesat), bid'ah mubah. Dan ada pula yang melebarkan menjadi lima, yaitu bid'ah wajib, bid'ah mandub, bid'ah haram, bid'ah makruh, bid'ah mubah.

Yang membagi bid'ah menjadi dua adalah Imam Syafii, yaitu bid'ah mahmudah (terpuji) dan bid'ah madzmumah (tercela). Jika sesuai sunnah maka itu bid'ah mahmudah, hukumnya boleh dilakukan. Dan jika bertentangan maka disebut bid'ah madzmumah, hukumnya haram.

Adapun kriteria kedua bid'ah tersebut sebagai berikut:
Jikaa perkara yang dibuat-buat sesuai/tidak bertentangan dengan Al-Qur'an atau atsar atau ijma', maka itu bid'ah mahmudah. Namun jika sebaliknya maka  disebut bid'ah madzmumah.

Yang membagi bid'ah menjadi tiga adalah Ibnu hajar Al-Atsqalany, yaitu bid'ah hasanah, bid'ah mustaqbahah dan bid'ah mubah. Jika suatu perkara dianggap baik dan tidak bertentangan dengan syariat Islam maka itu bid'ah hasanah, hukumnya boleh dilakukan. Jika sebaliknya maka disebut bid'ah mustaqbahah (buruk), hukumnya haram dilakukan. Jika tidak termasuk kedua bidah di atas maka itu bid'ah mubah.

Yang dimaksud oleh hadits bahwa bid'ah adalah sesat yaitu bid'ah yang bertentangan dengan syariat

Selanjutnya bid'ah yang dibagi lima adalah pendapat Imam An-Nawawi. Dasar beliau adalah hadits berikut:

كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

"Setiap perkara yang dibuat-buat adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat."

Namun hadits di atas adalah type hadits umum, dan dikhususkan oleh hadits lain yang berbunyi:

من سن فى الإسلام سنة حسنة فله أجرها

"Siapa yang membuat tradisi baik dalam Islam maka ia mendapatkan pahalanya."

Yang dimaksud bid'ah dhalalah (sesat ) dalam hadits pertama adalah:

المحدثات الباطلة والبدع المذمومة

"Perkara yang dibuat-buat yang batil dan perkara yang dibuat-buat yang tercela."

Beliau membagi bid'ah menjadi lima, dengan ukuran atau timbangan kaidah-kaidah  syariat Islam. Jika masuk dalam kaidah wajib maka menjadi bid'ah wajib, jika masuk perkara sunnah maka menjadi bid'ah mandub, jika masuk perkara makruh maka bid'ah makruh, jika masuk perkara mubah maka menjadi bid'ah mubah, jika masuk perkara haram maka menjadi bid'ah haram.

Contoh-contohnya sebagai berikut:
1. Bid'ah wajib: Mempelajari ilmu nahwu untuk memahami dan mendalami Al-Quran dan sunnah. Bid'ah ini menjadi wajib karena modal untuk mendalami syariat harus paham bahasa Arab secara baik.
2. Bid'ah mandub (dianjurkan): Membangun sekolah dan jembatan dan sejenisnya, dimana hal tersebut belum ada di masa Rasulullah ﷺ.
3. Bid'ah makruh: Hiasan pada masjid, hiasan pada mushaf dan lainnya.
4. Bid'ah haram: Melantunkan Al-Quran dengan merubah laafazh sehingga merubah makna dan kaidah bahasa Arab.
5. Bid'ah mubah: Bersalaman setelah shalat.

Benarkah semua yang tidak pernah dilakukan nabi ﷺ haram?

Bagi orang yang berargumen bahwa semua yang tidak pernah dilakukan nabi ﷺ adalah bid'ah dhalalah menggunakan kaidah berikut:

الترك يقتضى التحريم

"Perkara yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah ﷺ berarti mengandung makna haram."

Padahal tidak ada satu pun kitab fiqih dan ushul fiqih yang memuat kaidah seperti itu.

Mari kita lihat contoh perbuatan yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ, namun tidak selamanya perbuatan tersebut haram.

1. Karena kebiasaan
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ قَالَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِضَبٍّ مَشْوِيٍّ فَأَهْوَى إِلَيْهِ لِيَأْكُلَ فَقِيلَ لَهُ إِنَّهُ ضَبٌّ فَأَمْسَكَ يَدَهُ فَقَالَ خَالِدٌ أَحَرَامٌ هُوَ قَالَ لَا وَلَكِنَّهُ لَا يَكُونُ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ فَأَكَلَ خَالِدٌ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ قَالَ مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ بِضَبٍّ مَحْنُوذٍ

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Yusuf Telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari Abu Umamah bin Sahl dari Ibnu Abbas dari Khalid bin Al Walid ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah diberi daging biawak yang terpanggang. Maka beliau pun berselera hendak memakannya, lalu dikatakanlah kepada beliau, "Itu adalah daging biawak." Dengan segera beliau menahan tangannya kembali. Khalid bertanya, "Apakah daging itu adalah haram?" beliau bersabda: "Tidak, akan tetapi daging itu tidak ada di negeri kaumku." Beliau tidak melarang. Maka Khalid pun memakannya sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihat. Malik berkata; Dari Ibnu Syihab; BIDLABBIN MAHNUUDZ (Biawak yang dipanggang).  (HR. Bukhari - 4981)

2. Khawatir akan memberatkan umatnya
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ قَالَ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata, saya telah membacakan kepada Malik dari Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah bahwasanya; Pada suatu malam (di bulan Ramadlan), Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat di Masjid, lalu diikuti oleh beberapa orang sahabat. Kemudian (pada malam kedua) beliau shalat lagi, dan ternyata diikuti oleh banyak orang. Dan pada malam ketiga atau keempat mereka berkumpul, namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak keluar shalat bersama mereka. Maka setelah pagi, beliau bersabda: "Sesungguhnya aku tahu apa yang kalian lakukan semalam. Tiada sesuatu pun yang menghalangiku untuk keluar dan shalat bersama kalian, hanya saja aku khawatir (shalat tarawih itu) akan diwajibkan atas kalian." (HR. Bukhari - 1061 & Muslim - 1270)

3. Tidak terlintas di fikiran Rasulullah ﷺ
حَدَّثَنَا خَلَّادٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ أَيْمَنَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا أَجْعَلُ لَكَ شَيْئًا تَقْعُدُ عَلَيْهِ فَإِنَّ لِي غُلَامًا نَجَّارًا قَالَ إِنْ شِئْتِ فَعَمِلَتْ الْمِنْبَرَ

Telah menceritakan kepada kami Khallad berkata, telah menceritakan kepada kami 'Abdul Wahid bin Aiman dari Bapaknya dari Jabir bin 'Abdullah, bahwa ada seora

486
[6:01:49 AM] Majelis MANIS:
ng wanita berkata, "Wahai Rasulullah, bolehkah aku buatkan sesuatu untuk Tuan, sehingga Tuan bisa duduk di atasnya? Karena aku punya seorang budak yang ahli dalam masalah pertukangan kayu." Beliau menjawab: "Silakan, kalau kamu mau." Maka wanita itu membuat sebuah mimbar." (HR. Bukhari - 430)

4. Karena Rasulullah ﷺ lupa
حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةً فَلَا أَدْرِي زَادَ أَمْ نَقَصَ فَلَمَّا سَلَّمَ قِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ حَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ قَالَ لَا وَمَا ذَاكَ قَالُوا صَلَّيْتَ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَثَنَى رِجْلَيْهِ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ فَلَمَّا سَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّلَاةَ فَإِذَا سَلَّمَ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ

Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Ibrahim dari 'Alqamah dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat satu kali namun aku tidak tahu apakah beliau menambah atau mengurangi. Ketika salam dikatakan kepada beliau; Wahai Rasulullah, apakah terjadi sesuatu dalam shalat? Beliau menjawab: "Tidak, apa itu?" mereka berkata; Engkau shalat ini dan itu. Ia berkata; Lalu beliau melipat kedua kakinya dilanjut dengan sujud sahwi dua kali, ketika salam beliau bersabda: "Sesungguhnya aku adalah manusia yang biasa lupa seperti kalian, apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalat, maka carilah (kepastian) shalat, maka apabila salam, hendaklah sujud dua kali." (HR. Ahmad - 3420)

5. Khawatir orang arab tidak dapat menerima perbuatan Rasulullah  ﷺ
أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَلَّامٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ أَنْبَأَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ رُومَانَ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ لَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ لَأَمَرْتُ بِالْبَيْتِ فَهُدِمَ فَأَدْخَلْتُ فِيهِ مَا أُخْرِجَ مِنْهُ وَأَلْزَقْتُهُ بِالْأَرْضِ وَجَعَلْتُ لَهُ بَابَيْنِ بَابًا شَرْقِيًّا وَبَابًا غَرْبِيًّا فَإِنَّهُمْ قَدْ عَجَزُوا عَنْ بِنَائِهِ فَبَلَغْتُ بِهِ أَسَاسَ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ فَذَلِكَ الَّذِي حَمَلَ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى هَدْمِهِ قَالَ يَزِيدُ وَقَدْ شَهِدْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ حِينَ هَدَمَهُ وَبَنَاهُ وَأَدْخَلَ فِيهِ مِنْ الْحِجْرِ وَقَدْ رَأَيْتُ أَسَاسَ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام حِجَارَةً كَأَسْنِمَةِ الْإِبِلِ مُتَلَاحِكَةً

Telah mengabarkan kepada kami Abdur Rahman bin Muhammad bin Salam, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, ia berkata; telah memberitakan kepada kami Jarir bin Jazim, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid bin Ruman dari 'Urwah dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya: "Wahai Aisyah, seandainya bukan karena kaummu dekat dengan masa jahiliyah niscaya saya akan memerintahkan untuk menghancurkan Ka'bah, kemudian saya masukkan kepadanya apa yang telah dikeluarkan darinya, dan saya tancapkan di Bumi, serta saya buat untuknya dua pintu, pintu timur dan pintu barat. Karena mereka tidak mampu untuk membangunnya, sehingga dengannya saya telah sampai kepada pondasi Ibrahim 'alaihissalam." Yazid berkata; itulah yang mendorong Ibnu Az Zubair untuk menghancurkannya. Yazid berkata; saya telah menyaksikan Ibnu Az Zubair ketika menghancurkan dan membangunkannya serta memasukkan hijir padanya. Dan saya lihat pondasi Ibrahim 'alaihissalam berupa bebatuan seperti punuk-punuk unta yang saling melekat. (HR. Nasa'i - 2854)

6. Karena termasuk dalam makna ayat yang bersifat umum
وافعل الخير لعلكم تفبحون

"Dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan."

Rasulullah ﷺ tidak melakukan bukan berarti haram, tapi karena kebaikan-kebaikan itu bersifat umum. Patokannya adalah jika tidak bertentangan dengan syariat maka termasuk bid'ah hasanah. Jika bertentangan maka bid'ah dhalalah.

Mereka yang mudah membid'ahkan memakai kaida, "Jika tidak dilakukan Rasulullah ﷺ maka haram". Pe

667
[6:01:49 AM] Majelis MANIS:
rtanyaannya, adakah kaidah tersebut dalam ushul fiqih? Di atas saya sudah menyinggung bahwa tidak ada di kitab fiqih dan ushul fiqih manapun yang mencantumkan kaidah seperti itu. Kaidah haram ada tiga:
1. Nahyi (larangan/kalimat langsung), contohnya QS. Al-Isra':72.
2. Nafy (larangan/kalimat tidak langsung), contohnya QS. An-Nisa:148.
3. Wa'id (ancaman keras), contohnya hadits: "Siapa yang menipu kami, maka bukanlah dari golongan kami." (HR. Muslim)
Sedangkan at-tark (sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ) tidak ada satupun aahli fiqih yang memasukkannya kedalam sesuatu yang diharamkan.

Dan yang diwasiatkan Rasulullah ﷺ adalah kerjakan apa yang beliau perintah, tinggalkan apa yang beliau larng. Tidak ada satu riwayatpun yang mengatakan untuk meninggalkan apa yang tidak beliau kerjakan.

Perkara yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ adalah asal. Hukum asalnya tidak ada suatu perbuatanpun yang datang belakangan. Maka at-tark tidak bisa disebut bisa menetapkan hukum. Karena banyak sekali perkara mandub (anjuran) dan perkara mubah yang tidak pernah dilakukan Rasulullah ﷺ. Jika semua yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ dihukumi haram, maka terhenti perkembangan kehidupan muslim saat ini.

Jalan keluatnya adalah sabda Rasulullah ﷺ,

حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ مُوسَى السُّدِّيُّ حَدَّثَنَا سَيْفُ بْنُ هَارُونَ عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّمْنِ وَالْجُبْنِ وَالْفِرَاءِ قَالَ الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Musa As Suddi telah menceritakan kepada kami Saif bin Harun dari Sulaiman At Taimi dari Abu Utsman An Nahdi dari Salman Al Farisi dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang minyak samin dan keju serta bulu binatang, beliau menjawab: "Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah di dalam kitab-Nya, dan apa yang Dia diamkan adalah sesuatu yang Dia maafkan." (HR. Ibnu Majah - 3358)

Dan banyak sekali kita temui contoh-contoh amalan sahabat ang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ, akan tetapi ketika beliau tahu tidak lantas menyalahkan dan membid'ahkan, tapi justru memuji. Misal kebiasaan Bilal shalat sunnah setelah wudhu', sahabat yang selalu mengawali bacaannya denga surat Al-Ikhlas, sahabat yang selalu mengakhiri bacaan dengan surat Al-Ikhlas dan lain-lain.

Tapi ada juga perbuatan sahabat yang dilarang Rasulullah ﷺ, karena bertentangan dengan sunnah (bukan perkara yang di diamkan). Contohnya, hadits yang menyebutkan tiga sahabat yang ingin shalat malam selamanya, ada yang ingin puasa sepanjang tahun, dan ada yang tidak ingin menikah. Kemudian Rasulullah ﷺ menegur mereka bahwa beliau tidak demikian, maka mereka dilarang melakukannya.

Kesimpulan

Yang menjadi dasar bukanlah pernah atau tidak pernah dilaakukan Rasulullah ﷺ, akan tetapi prinsipnya adalah apakah perbuatan tersebut melanggar syariat atau tidak. Jika melanggar maka bid'ah dhalalah, jika tidak maka bid'ah hasanah.

Wallahu a'lam.
loading...

Thursday, July 5, 2018

Cara Mudah Membuat Tapai Ketan Yang Enak dan Lezat

Tapai ketan merupakan salah satu makanan favorit di nusantara. Darupada di beli di pasar, lebih baik bikin sendiri di rumah. Sangat mudah dan bahan-bahannya mudah di dapat.

BAHAN-BAHANNYA :

1/2 kilo beras dulu, jangan banyak-banyak Bu
Daun pisang untuk pembungkus secukupnya
2 gelas air bersih
Gunakan 2 butir ragi untuk membuat tape seperti biasanya
Bisa menggunakan gula pasir jika menghendaki rasa yang lebih manis, yaitu gula halus dengan takaran 2 sendok makan saja.

#CaraMembuat :

Beras ketan hitam dicuci dulu sampai bersih betul.

Rendam ketan hitam pada malam sebelumnya supaya empuk, karena jenis beras ketan hitam ini lebih keras.

Jika selesai direndam pada keesokan harinya, ambil dan iriskan.
Setelah selesai ditiriskan hingga kesat, kukus beras ketan hitam sampai menjadi setengah matang.

Jika menginginkan lebih cepat dan mudah, bisa di masak terlebih dahulu dengan sedikit air, baru setelah agak matang beras ketan hitam kemudian diangkat dan dikukus.

Sementara beras ketan dikukus, persiapkanlah air panas sebanyak 2 gelas.

Pada saat beras ketan yang dikukus tadi sudah mengepulkan uap panasnya, siram siram atasnya dengan air panas yang 2 gelas tadi (posisi kukusan masih berada diatas kompor), sambil diaduk-aduk sampai semua beras ketan terkena air panas secara merata. Teruskan mengukus sampai ketan menjadi matang.

Jika sudah matang, angkat beras ketan, taruh kedalam nampan atau tampah yang besar, lalu diratakan. Biarkan beras ketan yang sudah diratakan dalam nampan tadi sudah benar-benar menjadi dingin. Sambil menunggu beras dingin, haluskan raginya.

Ambil wadah berukuran sedang, beri alas daun pisang yang rapi/menutupi seluruh permukaan wadah. Setelah diber alas daun pisang, masukkan lapisan pertama beras ketan, ratakan dengan baik, lalu taburi atasnya dengan ragi yang sudah dihaluskan tadi hingga rata. Bisa juga ditambahkan gula halus/kastor secukupnya(opsional/tidak juga tidak apa-apa).

Tambahkan lagi lapisan yang kedua beras ketan, taburi ragi lagi diatasnya dan gula halus. Lakukan proses ini seterusnya hingga ketiga, keempat, atau sampai bahan habis.

Tambahkan daun pisang untuk menutupi permukaan bakal tape buatan Anda tersebut dengan baik dan benar-benar rapat(bisa menggunakan 2 lapis daun pisang atau ditambah dengan kain serbet yang bersih). Tutup kembali wadah dengan tutupnya hingga rapat, kemudian hanya didiamkan selama 3 hari 2 malam. Taruh wadah bakal tape tersebut di tempat yang hangat.

Jika sudah 3 hari hari 2 malam, tapi ketan baru boleh dibuka. Walaupun hanya sekedar menengok, jangan pernah dibuka sebelum jatuh tempo, karena proses fermentasinya bisa terganggu. Kalau hanya mencium baunya dari luar sih tidak apa-apa, dan walaupun belum genap 3 hari, jika baunya sudah kuat, tape ketan sudah boleh dibuka dan di hidangkan.
loading...