Orang Rajin Bersedekah Itu Bahagia, begini penjelasan ilmiahnya...

Pernahkah kita merasakan, ketika kita mengeluarkan sedekah kepada orang yang membutuhkan, ketika kita bisa membantu meringankan beban orang lain, lalu muncul perasaan bahagian entara dari mana dalam lubuk hari kita?;

Tuesday, October 23, 2018

[Artikel] Menikmati Kelelahan Dalam Kehidupan Perkawinan

Rutinitas hidup berumah tangga bisa menyebabkan rasa jenuh dan lelah.

Sebagaimana dalam semua kegiatan hidup lainnya, berumah tangga juga bisa mengalami rasa kelelahan. Suami dan istri merasa lelah, sehingga mudah menimbulkan sejumlah komplikasi dalam hidup mereka.

Semacam rasa bosan yang kadang menghinggapi orang yang setiap hari mengkonsumsi nasi, lalu ia pengen ada variasi dengan mengkonsumsi roti atau singkong. “Lelah makan nasi”, kira-kira begitu ungkapannya.

Ungkapan kelelahan biasa kami dengarkan di ruang konseling, sebagai ekspresi atas kekecewaan terhadap pasangan dan akumulasi masalah dalam waktu yang panjang.

Suami dan istri yang menghadapi konflik dan tidak mampu menyelesaikan, atau mengalami kekecewaan yang tidak bisa terobati; atau sengaja menumpuk konflik tanpa diselesaikan, berakibat menimbulkan tumpukan rasa berat dan tertekan pada perasaan.

Akumulasi perasaan tertekan dalam waktu lama inilah yang menimbulkan kelelahan.

1. Kembalikan pada motivasi ibadah

Jika menikah adalah ibadah, kelelahannya membawa berkah. Seperti saat naik haji dengan berbagai kegiatan yang berat, namun semua terasa nikmat.

2. Kembalikan kepada visi

Jika visi hidup berumah tangga adalah ingin menggapai surga, maka jalan menuju surga memang tidak mudah. Wajar jika terasa lelah. Namun akhirnya sangat indah.

3. Mudahkan, simpelkan, jangan dirumitkan

Hidup berumah tangga itu rumit, jika kita rumitkan. Hidup berumah tangga itu mudah, jika kita mudahkan. Hidup berumah tangga itu sumpel, jika kita simpelkan.

Maka biarlah jiwa kita bisa merasakan nikmatnya kelelahan dalam kehidupan pernikahan. Karena *lelah itupun indah. Selama di jalan Allah*.

***
Sumber: Tulisan Ust. Cahyadi T.
loading...

Monday, October 22, 2018

[DOWNLOAD] Kitab Al-Arba'un Al-Buldaniyyah ... Dan Mutiara Sanad Hadits 'Cinta Bangsa'

Banyak ulama yang menyusun kitab ‘al-Arba’un’, kitab yang berisi empat puluh hadis Nabi. Namun tidak begitu banyak di antara ulama -khusunya muta'akhkhirin- yang mampu menyusun kitab jenis ‘al-Arba’un al-Buldaniyyah.

Selain menghimpun empat puluh matan hadis yang berbeda, kitab “al-Arba’un al-Buldaniyyah” menyaratkan empat puluh hadis tersebut diperoleh langsung dari empat puluh guru yang berbeda dan masing-masing guru tersebut berada di/berasal dari empat puluh daerah (balad) yang juga berbeda. Bukan hal mudah untuk menemui banyak guru di empat puluh daerah yang berbeda, kemudian mendapatkan hadis yang berbeda-beda beserta sanad yang menyambung hingga Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam-.

Syaikh Muhammad Yasin bin ‘Isa al-Fadani (1335-1410H/1915-1990 M.) merupakan salah satu ulama yang mendapat anugrah besar ini. Di antara kitab ‘al-Arba’un’ yang beliau susun, salah satunya adalah “al-Arba’un al-Buldaniyyah: Arba’un Haditsan ‘an Arba’ina Syaikhan min Arba’ina Baladan”. Karya ini menjadi bukti ketelatenan dan keuletan beliau dalam melakukan ‘rihlah’ mengunjungi berbagai daerah –bukan untuk menikmati keindahan alam atau destinasi-, namun untuk mendengarkan langsung hadis-hadis Nabi dari lisan mulia para pewarisnya yang tinggal di berbagai negeri. [Link download kitab ini ada pada bagian akhir tulisan ini]

[Sebelum Syaikh al-Fadani, telah ada beberapa ulama yang juga menulis kitab dengan judul yang sama, misalnya Al-Hafizh Ibnu 'Asakir (w. 571 H) yang juga menulis kitab al-Arba'un al-Buldaniyyah.]

Kembali ke kitab Syaikh Al-Fadani, dari empat puluh ulama yang dijumpai dan disebut Syaikh Yasin dalam kitab “al-Arba’un al-Buldaniyyah”, dua belas di antaranya berasal dari daerah-daerah di Nusantara. Yaitu (1) Palembang; (2) Jakarta; (3) Tangerang; (4) Serang Banten; (5) Semarang; (6) Lasem; (7) Surabaya; (8) Jombang; (9) Jember; (10) Malang; (11) Purbolinggo; dan (12) Johor Malaysia. Di daerah-daerah ini Syaikh Yasin menemui para ulama untuk mendapatkan hadis dan menyambung sanad hingga Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-

Salah satu hadis yang menarik dalam kitab tersebut adalah hadis ke 36. Hadis ini diriwayatkan oleh seorang tabi’in perempuan yang tinggal di Damaskus bernama Fusailah. Beliau pernah mendapat cerita dari ayahnya yang bernama Watsilah ibn al-Asqa’ –radliyallahu ‘anhu- tentang sebuah kenangan indah saat ayahnya tinggal di Madinah berjumpa Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-. Dikisahkan sahabat Watsilah bertanya kepada Rasulullah:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمِنْ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُحِبَّ الرَّجُلُ قَوْمَهُ؟

“Wahai Rasulallah, apakah termasuk ‘ashobiyyah (fanatisme jahiliyah yang dilarang) jika seseorang mencintai kaumnya?”

Nabi menjawab:

لَا

“Tidak”. Lalu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- melanjutkan,

وَلَكِنْ مِنْ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُعِينَ الرَّجُلُ قَوْمَهُ عَلَى الظُّلْمِ

“Yang termasuk ‘ashobiyyah adalah jika seseorang menolong kaumnya berbuat kezhaliman.”

Ikatan sedarah-seketurunan merupakan faktor pembentuk utama sistem sosial bangsa Arab pada masa Nabi. Komunitas yang tinggal di satu tempat dapat dipastikan berasal dari satu kabilah yang seketurunan. Orang-orang Yahudi di Madinah, tidak berkumpul di satu tempat atas dasar agama, melainkan berdasarkan keturunan. Bani Qainuqa berkerumun tinggal di tengah kota Madinah. Sementara keturunan Bani Nadhir dan Bani Quraizhah membangun komunitas di selatan Madinah. Begitu juga dengan penduduk asli Madinah suku Aus dan Khazraj, yang kemudian banyak yang masuk Islam. Di Makkah keadaanya juga tidak jauh berbeda. Bani Bakr, Bani Taghlib, Quraisy, Kinanah, Ghathfan, Hawazin merupakan nama-nama kabilah yang membentuk komunitas-komunitas ekslusif di daerah Makkah dan sekitarnya waktu itu. Masa itu sulit dibayangkan seseorang dari satu kabilah membangun kehidupan keluarga di tengah-tengah kabilah lain.

Unsur pengikat antar anggota kabilah adalah ‘ashabiyyah, fanatisme terhadap komunitas. Merasa sedarah dan bernasab sama. Semangat ini menumbuhkan kecintaan dan solidaritas yang kuat antar sesama anggota kabilah. Tolong-menolong dan bahu membahu menjadi tradisi yang mengakar di dalam satu kabilah. Namun di sisi lain ‘ashobiyyah menimbulkan problem relasi antar kabilah. ‘Ashobiyyah yang berlebih memicu berkembangnya narasi kebencian antar kabilah. Sebagian diekspresikan melalui syair-syair haja’, sebagian lain melalui cemoohan dan ejekan harian. Permasalahan sepele antar kabilah dapat menjadi pemicu konflik bahkan berakhir dengan pertumpahan darah. Perang al-Basus antara kabilah Bakr dan Taghlib berawal hanya karena seekor unta milik warga Bani Bakr terbunuh. Perang yang mengoyak ketenangan dan ketentraman ini berkecamuk lama hingga empat puluh tahun.

Watsilah ibn al-Asqa’ pernah merasakan kehidupan seperti itu. Kehidupan yang penuh kebanggan terhadap kelompoknya, plus cibiran dan kebencian terhadap komunitas lainnya. Tahun 9 hijriah saat Nabi hendak ke Tabuk, Watsilah datang dan menyatakan masuk Islam. Dalam naungan ukhuwwah Islamiyyah, sahabat yang berasal dari kabilah Kinanah ini merenung apakah setelah menjalin ikatan dengan Islam, ikatan terhadap suku dan kabilah harus dilepas? Ia merasa menghapus rasa cinta dan bangga terhadap komunitasnya adalah bukan perkara mudah. Dia pun memutuskan untuk bertanya kepada Nabi, “Apakah termasuk ‘ashobiyyah (fanatisme jahiliyah yang dilarang) jika seseorang mencintai kaumnya?” Dengan tegas Nabi pun menjawab, “Tidak”

Cinta kepada suku atau kabilah tempat di mana seseorang dibesarkan adalah fitrah; kecenderungan orisinil yang ada pada diri setiap manusia. Cinta seperti ini adalah cinta anugrah ilahi. Namun kecintaan itu menjadi terlarang apabila melewati batas proporsinya; mendorong timbulnya kebencian kepada pihak lain, memicu konflik dan pertumpahan darah. Yang terakhir inilah ‘ashobiyyah jahiliyyah yang dilarang.

- II -

Hadis di atas diriwayatkan Syaikh Yasin dengan sanad yang terdiri dari dua puluh tujuh perawi yang menyambung hingga Rasulullah-shalallahu ‘alaihi wa sallam-. Di balik rangkaian sanad tersebut tersimpan kisah sejarah. Mengamati perjalanan transimisi hadis ini melalui rangkaian sanad dari satu generasi ke generasi sangatlah menarik. Penyebaran hadis tersebut selama empat belas abad hijriah ternyata tidak hanya berkutat di Madinah dan Makkah saja, tempat awal Nabi menyampaikannya. Hadis ini menyebar ke beberapa negeri, dan setidaknya ada enam daerah penting yang dilalui jalur penyebaran hadis ini.

Yang pertama adalah kota suci Madinah tempat perjumpaan Watsilah dengan Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wa salllam-. Watsilah membersamai Nabi di Madinah tidak lebih dari tiga tahun. Sepeninggal Nabi, Watsilah memutuskan untuk menuju Syam dan tinggal di sana. Kenangan indahnya bersama Nabi di Madinah kemudian ia ceritakan kepada putrinya bernama Fusailah yang berdomisili di kota Damaskus. Kota besar pusat pemerintahan Umawiyyah masa itu. Di daerah ini hadis tersebut kemudian diriwayatkan kepada generasi berikutnya, ‘Abbad Ibn Katsir (w. 171) yang juga berasal dari Syam tepatnya dari Palestina.

Daerah ketiga yang menjadi jalur perlintasan periwayatan hadis ini adalah Iraq dan sekitarnya. Kota tua yang penuh sejarah yang dikuasai umat Islam pada masa ‘Umar Ibn al-Khaththab. Pindahnya periwayatan dari Damaskus ke Iraq terjadi setelah Ziyad ibn al-Rabi’ al-Bashri (w 185) pergi ke Damaskus dan kemudian memboyong periwayatan hadis tersebut untuk disebarkan di daerah asalnya, Bashrah. Dari kota Bashrah ini hadis tersebut kemudian teriwayatkan di kota Baghdad melalui Imam Ahmad Ibn Hanbal (164-241), putranya yang bernama ‘Abdullah (213-290), Abu Bakr al-Qathi’i (273 - 368), Ibn al-Mazhab (355-444) dan terakhir Hibatullah al-Syaibani (432-525).

Setelah empat abad berada di sekitar Iraq, hadis yang mengisahkan dialog antara Nabi dan sahabat Watsilah ini kemudian kembali lagi ke Syam pada abad ke enam hijriah. Ceritanya adalah saat Hanbal al-Rashafi (510-604) –seorang ‘alim Baghdad yang namanya merupakan pemberian Syaikh ‘Abdul-Qadil al-Jilani- pergi ke Damaskus. Di sana beliau disambut dengan baik. Banyak ulama Syam yang menemuinya untuk mendengarkan hadis-hadis yang ia riwayatkan. Di antara yang beruntung menemuinya adalah seorang perempuan ahli ibadah dan ahli hadis bernama Zainab binti Makki al-Harraniyyah (w. 688). Waktu itu Syaikhah Zainab masih sangat kecil belum lewat sebelas tahun. Dari perempuan ‘musnidah’ ini lah akhirnya hadis ini kembali beredar di Syam tepatnya di kota Damaskus. Di kota ini pada tahap berikutnya, Ahmad Ibn Muhammad al-Jaukhi (lahir 683) menjadi orang yang amat beruntung. Di saat masih kecil belum lewat tujuh tahun, ia mendapat anugrah kesempatan berjumpa Syaikhah Zainab yang usianya sudah senja. Ia mendapatkan ijazah periwayatan hadis tersebut dan akhirnya ia pun menjadi penerus silsilah sanad hadis ini di Damaskus.

Tradisi yang menarik, anak-anak pada generasi terdahulu, dibimbing orang tuanya untuk belajar, mendengarkan hadis dan mendapatkan ijazah dari guru-guru, meskipun usianya masih sangat belia. ‘Tahammul hadis’ (mendapatkan periwayatan hadis) memang tidak disyaratkan usia dewasa. Bukankah Sayyidina Husain yang masih kecil sering mendengar ucapan dan melihat datuknya, kemudian setelah dewasa beliau menceritakan dan meriwayatkannya?

Kota berikutnya yang mendapat berkah menjadi jalur perjalanan transmisi hadis ini adalah Mesir. Pada abad ke delapan hijriah seorang alim Mesir al-‘Izz ‘Abdurrahim Ibn al-Furat (735-807) bertekad melangkahkan kaki melakukan perjalanan thalabul-ilmi ke Damaskus. Ia sengaja ingin berjumpa dengan al-Jaukhi –seorang ‘alim yang terkenal di Damaskus waktu itu. Ia pun belajar kepadanya dan mendapat ijazah periwayatan hadis ini, kemudian membawanya dengan penuh kegembiraan ke negeri kelahirannya, Mesir. Hadis yang penuh berkah itupun akhirnya mengalir di Mesir seperti mengalirnya sungai Nil yang penuh keberkahan. Periwayatan hadis cinta bangsa di kota ini berlangsung cukup lama hingga enam abad, melalui sebelas ulama kesohor pada setiap generasi sampai abad ketiga belas hijriah. Di mulai dari Syaikh Ibn al-Furat yang membawa hadis ini dari Syam, kemudian Imam al-Suyuthi (w. 911), Yusuf al-Armiyuni (w. 958), Ibn Hajar al-Haitami (909-973), ‘Ali al-Ziyadi (w. 1024), Ali al-Halabi yang wafat di Mesir 1044 H, Ali Syubra-Malisi (997-1087), al-Budairi (w. 1140), Syaikhul-Azhar ke-8 Syaikh Muhammad Salim al-Hifni (w. 1181) dan terakhir Syaikhul-Azhar ke 12 Syaikh ‘Abdullah al-Syarqawi (w.1227) yang hidup saat Mesir diekspansi oleh Prancis.

Waktupun terus berjalan, di abad ketiga belas hijriah periwayatan resmi hadis ini kemudian berpindah ke kota Makkah. Syaikh Utsman al-Dimyathi (1196-1265) –seorang alim Mesir- murid dari Syaikh al-Syarqawi meninggalkan tanah kelahirannya dan melakukan perjalanan menuju Makkah al-Mukarramah. Di kota suci ini beliau memutuskan untuk menghabiskan sisa umurnya dan akhirnya wafat di sana. Kota Makkah menjadi daerah kelima, setelah Madinah, Syam, Iraq dan Mesir yang menjadi tempat perlintasan penyebaran hadis Nabi ini. Di kota yang menjadi saksi parahnya ‘‘ashabiyyah jahiliyyah” pada masa Nabi dulu, Syaikh Utsman al-Dimyathi yang berasal dari Mesir mengijazahkan hadis cinta bangsa tersebut kepada muridnya bernama Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (1231-1304) yang memang lahir di Makkah. Mufti Syafi’iyyah di Makkah ini kemudian meriwayatkan kepada muridnya bernama Sayyid Abu Bakr Muhammad Syatha (1226-1310), seorang ‘alim bermazhab Syafi’i pengarang kitab I’anah al-Thalibin dan menjadi rujukan utama para pelajar dari berbagai negara yang menuntut ilmu di Makkah masa itu.

Sungguh beruntung daerah di timur jauh belahan bumi yang bernama Indonesia, memiliki seorang ‘alim bernama Syaikh Mahfuzh al-Tarmasi (1285-1338) yang waktu itu bertekad mengarungi samudera menuntut ilmu ke Makkah, dan berguru kepada Sayyid Abu Bakr Syatha. Bahkan ia menjadi murid kinasihnya, belajar banyak ilmu kepadanya dan akhirnya hadis yang mengisahkan dialog tentang ‘Cinta Bangsa’ ini keberkahannya juga mengalir ke bumi Nusantara. Dari Syaikh Mahfuzh ini-lah kemudian hadis tersebut diijazahkan kepada murid mulia beliau Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari (1282-1369), tokoh penting dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia dan juga pendiri Nahdlatul Ulama.

K.H. Hasyim Asy’ari dari Jombang inilah yang memberi silsilah sanad hadis ‘Cinta Bangsa’ kepada Syaikh Yasin (1335-1410) saat berkunjung ke Indonesia dan kemudian beliau abadikan dalam kitabnya yang berjudul ‘al-Arba’un al-Buldaniyyah’ pada urutan hadis yang ke 36.

- III-

Petuah Nabi yang bermula di Madinah ini laksana air sejuk mengaliri kehidupan umatnya dari generasi ke generasi, berkelok mengguyurkan berkah ke berbagai negeri; ke utara di Damaskus, dan Baghdad, lalu ke arah barat menuju Mesir, mengalir lagi ke timur menuju Makkah dan akhirnya sampai ke timur jauh, yaitu negeri tercinta ini, Indonesia.

Hadis ini membawa pesan kuat bahwa ‘cinta bangsa adalah fitrah manusia’. Mungkin unsur pengikat komunitas sudah mengalami perubahan, tidak lagi sama seperti pada masa Nabi. Ikatan kabilah bisa jadi sudah bergeser berganti pada ikatan bangsa dan negeri. Namun pesan hadis tetap sama, bahwa cinta bangsa bukanlah ‘ashobiyyah yang tercela dan tidak pula bertentangan dengan agama. Cinta tersebut menjadi nista jika bergerak menjadi nafsu-angkara, saling hina dan saling mencela.

Tidak terlalu sulit untuk membayangkan bahwa ulama-ulama yang tertulis namanya dalam rangkaian sanad panjang tersebut adalah orang-orang yang mencintai negerinya. Syaikh ‘Abdullah al-Syarqawi (w.1227) pengarang “Hasyiyah al-Syarqawi ‘ala Syarh al-Tahrir” adalah contoh konkritnya. Sewaktu menjabat syaikh al-Azhar, beliau bersikap tegas terhadap siapapun yang hendak mengoyak kedaulatan dan menjatuhkan martabat bangsa Mesir. Kesewenang-wenangan Prancis dan gabungan Utsmani-Inggris silih berganti beliau lawan dengan menggerakkan warga Mesir baik muslim maupun non-muslim di Jami’ al-Azhar. Sejarah mencatat dengan dramatis sikap tegas al-Syarqawi ‘membuang Syal kebesaran Prancis’ saat diletakkan dipundaknya oleh Napoleon Bonaparte. Sikap seperti ini merupakan wujud implementasi hadis yang ia riwayatkan, bahwa cinta negeri adalah fitrah ilahi dan membela harkat-martabat bangsa adalah titah nabawi.

Begitu juga dengan KH Hasyim Asy’ari. Fatwa Jihad yang beliau tetapkan pada 17 September 1945, kemudian disusul resolusi jihad 22 Oktober 1945 untuk melawan Sekutu merupakan wujud implementasi sunnah Nabi, untuk membela bangsa dari tirani dan juga wujud cinta bangsa dan negeri. Kiranya tidak berlebihan jika dikatakan, cinta tanah air bukanlah ‘ashobiyah jahiliyyah’, cinta negeri adalah ‘sunnah nabawiyyah’.

___________________

Hadis yang tercantum dalam kitab ‘al-Arbaun al-Buldaninyyah’ ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad Ibn Hanbal dalam al-Musnad. Dalam jalur sanad Imam Ahmad terdapat perawi bernama ‘Abbad ibn Katsir al-Syami, murid dari tabi’in perempuan bernama Fusailah. Oleh banyak ulama ‘Abbad dikategorikan perawi ‘dha’if’. Namun perlu diketahui ‘Abbad tidak sendirian meriwayatkan hadis ini dari Fusailah, ada perawi lain bernama Salamah ibn Bisyr al-Dimasyqi yang juga meriwayatkan dari Fusailah (sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dalam al-Sunan dan al-Baihaqi dalam al-Sunan). Meskipun Salamah ibn Bisyr ini juga kualitasnya dha’if, namun dengan bergabungnya dua jalur sanad tersebut setidaknya jalur sanad ini mempunyai kualitas ‘hasan li ghairihi.

Hadis ini juga tercatat diriwayatkan oleh selain Watsilah, yaitu oleh Sahabat Anas ibn Malik (sebagaimana diinformasikan dalam Sunan al-Baihaqi dan juga Tarikh Dimasyq karya Ibn ‘Asakir), namun dalam sanadnya juga terdapat perawi yang kualitasnya ‘dha’if’. Redaksi hadis dalam Sunan al-Baihaqi berbunyi:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمِنَ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُعِينَ الرَّجُلُ قَوْمَهُ عَلَى الْحَقِّ؟ قَالَ صلى الله عليه وسلم: " لَا "

Sahabat Anas ibn Malik berkata, ada seseorang mendatangi Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah termasuk ‘ashobiyyah jika seseorang menolong kaumnya dalam perkara yang hak?” Nabi menjawab, “Tidak.”

Dengan adanya beberapa jalur sanad ini Ibnu Muflih al-Maqdisi (w. 763) dalam kitab ‘al-Adab al-Syar’iyyah’ juz 1, hlm 81 menyimpulkan bahwa hadis ini mempunyai kualitas hasan.

- Rahimahumullaah wa jazaahum ‘anaa khairan - 
- Wallahu a’lam bi al-shawaab- 
______
Sumber tulisan: Copas dari Ust. Arif

DOWNLOAD KITAB AL-ARBA'UN AL-BULDANIYYAH karangan Syaikh Yasin Al-Fadani
loading...

Sunday, October 21, 2018

Mengenal Metode Baghdadiyah dan Keunggulannya [Belajar Mengaji]

Bagi generasi Zaman dulu,selain kenangan indah tentang masa bermain, masa belajar juga memiliki memori indah tersendiri. Salah satunya adalah Belajar Mengaji (baik mengaji di masjid, surau, ataupun rumah).

Dulu untuk belajar membaca Alquran,metode yang sering digunakan oleh Ustad dan atau guru mengaji adalah metode Bahgdadiyah. Jauh sebelum bermunculan metode-metode baru yang menawarkan kemudahan membaca Al-Quran, rasanya belum ada yang menandingi metode Baghdadiyah ini.

Kitab belajar mengaji Baghdadiyah ini banyak di jual di pasar dengan harga yang sangat murah, hanya sekitar 5.000 rupiah saja! Itupun sudah dilengkapi dengan Juz 'Amma, yang menggambarkan bahwa kitab ini memang dirancang khas untuk kanak-kanak.

Bayangkan, harga sebungkus rokok saja sudah Rp. 20.000! Tapi masih banyak juga orangtua yang merasa berat membelikan kitab ini untuk anak mereka!

Penerbit kitab Baghdadiyah ini tidak perlu membayar royalti penulis, karena hingga saat ini belum diketahui siapa penemu dan penulis metode membaca Al-Qur'an yang penuh berkah ini!

Sesuai namanya, metode ini dikenal berasal dari Baghdad, Irak. Banyak sumber mengatakan, metode ini ada mulai zaman Daulah Abbasiyah, namun siapa yang menyusun metode ini belum ada sumber yang valid. Setiap huruf dieja dengan harakatnya. Alif fathah a, alif kasrah i, alif dhammah u, bacanya a-i-u.


Di Sumatera dan juga berbagai tempat di negeri Melayu, metode ini juga disebut belajar an in un. Di kawasan pesisir barat Sumatera, khususnya di ranah Minangkabau, terkenal ungkapan baduo di ate ban, baduo di bawah bin, baduo di dopan bun, dengan irama khas yang diajarkan oleh para guru kepada murid di Surau. (Maksudnya, huruf Ba dengan harakat dua di atas dibaca Ban... dst)

Di tanah Semenanjung (Malaya) dan Negeri Melayu pada umumnya, belajar metode ini biasa disebut sebagai Muqaddam (biasa juga disingkap Mukadam atau Kadam), yang berarti permulaan, karena memang kitab ini diperuntukkan bagi mereka yang mula-mula sekali belajar mengaji.

Sementara di tanah Jawa, ada yang menyebut metode ini dengan istilah Turutan. Ada yang menyebutnya Alifan, Quran Kecil, Juz Amma, dan masih banyak lagi penamaannya sesuai daerah masing-masing.

Metode Baghdadiyah ini sendiri selain dikenal sebagai metode Membaca Alquran Tertua, juga memiliki 5 Keunggulan,yaitu:

1. Pola Bacaan yang Unik
2. Penekanan Keterampilan Mengeja
3. Pengenalan Hitungan Arab
4. Santri Hapal Huruf Hijaiyyah
5. Penguatan Dasar Tajwid

Selain metode baghdadiyah, buku yang digunakan untuk belajar mengaji memiliki kesan tersendiri.
Satu hal lagi, kata orang tua dulu..jika anak itu lancar mengaji, maka dia akan pintar mencerna pelajaran di sekolah.
loading...

Friday, October 19, 2018

Suami Saya Susah Diajak Sholat, Apa Yang Harus Saya Lakukan?

Karena shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab saat hari kiamat, tidak diragukan lagi bahwa hidup bersama dengan seorang suami yang tidak shalat adalah sebuah petaka dimana kemungkaran yang tidak diperbolehkan secara syar'i.

Ada pertanyaan dari seorang ikhwati muslimah,  bagaimana menyikapi suami yang malas shalat, sementara istrinya wanita muslimah yang taat dan bagaimana kedudukan ana sebagai istri selama bertahun-tahun menunggu tetapi tidak ada perubahan.?

Tidak diragukan lagi bahwa hidup bersama dengan seorang suami yang tidak shalat adalah sebuah petaka dimana kemungkaran yang tidak diperbolehkan secara syari, apalagi anda telah bersabar selama ini dalam masa yang panjang. Shalat memang perkara berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Shalat adalah hubungan langsung antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Shalat adalah amal yang pertama kali akan dihisab.

Shalat adalah timbangan yang dengannya kita bisa mengetahui agama dan kebaikan seseorang. Barangsiapa menjaganya, maka dia memiliki cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat. Dan barangsiapa tidak menjaganya maka dia tidak memiliki cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat, dan akan dikumpulkan bersama Fir’aun, Haman, Qorun dan Ubay ibn Khalaf.

Shalat adalah sebuah kewajiban yang tidak akan gugur dari seorang manusia selagi dia bernafas dan punya ingatan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kepada ‘Imran ibn Husain radhiallahu ‘anhu artinya:

“Shalatlah dalam keadaan berdiri, jika anda tidak mampu maka dengan duduk, jika tidak mampu maka dengan (berbaring) di atas lambung.” (Al-Bukhari, 1006)

Beberapa perkara yang dapat membantu memperbaiki suami yang malas shalat. Di antara hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menyandarkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Tunduk kepada-Nya demi hidayah kepada laki-laki tersebut, dan yang benar adalah kita berdo’a untuk seseorang di waktu malam, dan mendakwahinya di waktu siang, sesuai dengan kadar keikhlasan dan kejujuran kita, maka kebaikan dan pengabulan akan datang.

2. Mengambil jalan masuk yang baik menasihatinya

Menyampaikan kata-kata yang indah, memilih waktu-waktu yang sesuai, dan sebutkanlah kebaikan-kebaikan serta sifat-sifatnya yang baik. Dan berusahalah membantunya untuk mempersiapkan kepercayaan dirinya dengan mengatakan, misalnya:

“Anda alhamdulillah adalah seorang yang baik, anda bertanggung jawab, dan manusia menyebutmu dengan kebaikan, dan akan sangat bagus lagi kalau anda konsisten mengerjakan shalat lima waktu. Karena sesungguhnya aku senang melihat suamiku keluar seperti laki-laki lain bersama keluarganya menuju rumah-rumah Allah.”

3. Minta Bantu Kerabat yang Shalih

Mendorong orang-orang shalih dari mahrammu untuk menziarahinya dan mengajaknya shalat tanpa dia merasa bahwa hal tersebut adalah sebuah kesepakatan di antara kalian. Dan lebih memilih waktu-waktu shalat dalam ziarah hingga dia bisa pergi ke masjid bersama mereka.

4. Memberikan buku tentang shalat

Membelikan buku-buku kecil yang menjelaskan hukum orang yang meninggalkan shalat, serta hukuman orang yang meremehkan pelaksanaan shalat pada waktunya, dan meletakkan buku-buku kecil tersebut pada tempat yang biasa dia jangkau dengan tangannya.

5. Mengajak shalat dengan cara yang santun

Berambisi agar dia konsisten dalam mengerjakan shalat lima waktu untuk pertama kalinya, kemudian mendakwahinya agar mendirikannya dengan kekhusyu’annya, rukuknya dan tumakninahnya. Hal yang demikian tidak akan terjadi kecuali dengan rutin mengerjakan shalat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya dengan berfirman artinya:

“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS Al-Mukminun: 9)

Dikarenakan rutin dan menjaga shalat akan menghantarkan kepada kekhusyukan, dan shalat tidak akan bermanfaat kecuali dengan khusyuk.

6. Mengajaknya ke Masjid

Jika rumah tidak jauh dari Masjid, ajaklah suami ke Masjid untuk shalat jama'ah.
Dengan adanya shalat berjama'ah hatinya akan tertarik untuk shalat.
Demikian pula ketika adzan sudah berkumandang,  ingatkan bahwa Allah SWT telah memanggil umatnya untuk shalat.

7. Menjelaskan bahayanya meninggalkan shalat tepat pada waktunya

Mush’ab ibn Sa’ad ibn Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepada bapaknya saat membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala artinya:

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,” (QS. Al-Ma’un: 5)

Dia berkata,

“Wahai bapakku, apakah mereka adalah orang-orang yang tidak shalat?” Maka berkatalah Sa’ad: “Tidak, seandainya mereka meninggalkan shalat, maka mereka telah kafir, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang mengakhirkan (menunda)nya dari waktunya.” (HR Al-Bazzar 1145, dan Thabarani dalam Al-Aushath 2276)

8. Memberikan warning

Menggunakan sarana-sarana dan senjata berpengaruh yang dimiliki oleh seorang wanita untuk memaksanya agar rutin mengerjakan shalat, seperti menolak makan bersamanya, duduk dengannya, serta menolak tidur di pembaringan, dan tidak ada larangan menyampaikan keinginan cerai jika dia tidak menjaga pelaksanaan shalat.

Perkara shalat ini bukan perkara kecil namun sangat penting, prihatin jika melihat suami dengan mudahnya melalaikan shalat.

Ini perkara surga dan neraka, dan ini perkara Allah tak sudi menolong kita dan anak-anak kita gegara selalu melalaikan shalat. Naudzubillahi mindzalik, semoga Allah memudahkan perjalanan hidup kita sampai ke jannahNya.
loading...

Thursday, October 18, 2018

[Kisah Inspiratif] Ikan Yang Takut Kehilangan Air

Alkisah pada suatu hari, seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang di tepi sungai. Sang Ayah berkata kepada anaknya,

“Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati.”

Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengar percakapan itu dari bawah permukaan air, ikan kecil itu mendadak gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini.

Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, “Hai tahukah kamu dimana tempat air berada? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati.”

Ternyata semua ikan yang telah ditanya tidak mengetahui dimana air itu, si ikan kecil itu semakin kebingungan, lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sepuh yang bijak laksana. kepada ikan sepuh yang banyak pengalaman itu ikan kecil ini menanyakan hal yang sama,

“Dimanakah air?”

Ikan sepuh itu menjawab dengan bijak,

“Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita semua akan mati.”

Manusia kadang-kadang mengalami situasi yang sama seperti ikan kecil, mencari kesana kemari tentang kehidupan dan kebahagiaan, padahal ia sedang menjalaninya, bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya sampai-sampai ia sendiri tidak menyadarinya.
.
loading...