Thursday, July 11, 2013

[Kisah Nyata]: Pemuda Yang Masuk Islam Karena Sering Mendengar Azan

loading...
Azan adalah panggilan suci. Beruntunglah para mu'azzin yang menyeru manusia untuk tegak menyembah Allah Tuhan Semensta Alam.

Azan adalah panggilan hidayah. Jika dulu Buya Hamka pernah bercerita tentang seorang Belanda yang tersentuh hatinya setiap kali mendengar kumandang azan di masjid Jembatan Besi Padang Panjang, kisah berikut ini tak kurang menariknya. Ya, seorang pemuda mengikrarkan dua kalimat syahadat karena tersentuh dengan kumandang azan.

Jamaah shalat Ashar di Masjid Hasanuddin Majedi menjadi saksi pengikraran dua kalimat syahadat yang dilakukan oleh Andi Firdaus Pinayungan. Pada Ramadhan ini, Andi memantapkan hatinya untuk memeluk agama Islam dan meninggalkan agama lamanya yang sudah dia anut sejak kecil. Bagaimana kisah keislaman ini bermula?

Proses pembacaan syahadat dan ikrar masuk agama Islam dituntun oleh Ustadz Yusran Salman, Rabu (10 Juli 2013) sore seperti diberitakan Tribunnews. Anak dari pasangan Pidianto Pinayungan dan Roma Shinta Tobing itu juga sudah mendapat izin dari orangtuanya, saat memutuskan untuk berpindah agama. Orangtuanya yang asli dari Medan ini sama sekali tidak melarang Andi.

Dalam kesempatan itu Ustadz Yusran Salman memberikan pengarahan agar Andi tak perlu minder pada saat melakukan ibadah. “Dan segera mempelajari Islam secara mendalam dari sumber dan cara yang benar,” paparnya.

Andi bercerita, keputusan memeluk Islam bermula dari seringkali mendengarkan azan. Kebetulan rumahnya yang beralamatkan di Jalan Beruntung Jaya Kompleks Yudistira 12 ini berdekatan dengan mushalla yang membuatnya sering kali mendengarkan suara azan dalam setiap tibanya waktu shalat.

“Hafal waktu shalat juga bukan dikasih tahu orang, tapi sering kali dengar langsung setiap hari. Rasa terketuk hati dan ingin sekali ikut menjalankan ibadah shalat,” ujarnya.

Hingga suatu saat dia jalan-jalan bersama temannya. Kemudian temannya tersebut meminta izin untuk melaksanakan shalat. Merekapun berhenti di salah satu masjid, meskipun Andi menunggu di luar, namun dia dapat melihat temannya shalat. Terlihat ada ketenangan setelah menjalankan shalat, dari situ Andi sangat ingin menjalankan shalat juga.
Andi mengucapkan kalimat syahadatain

Saat duduk di bangku SMP, Andi juga sering mendengarkan penjelasan guru agama Islam yang sedang memberikan pelajaran. Dirinya memang dipersilahkan untuk keluar kelas, namun dia tetap mencuri dengar dari balik pintu kelas.

Kebiasaannya itu dirinya lanjutkan pada saat menginjak ke bangku SMA. Pada masa itu Andi sudah benar-benar ingin masuk Islam, namun dirinya malu untuk mengungkapkannya kepada orang lain, hingga menemukan sahabat yang dia rasa bisa benar-benar mengerti keinginannya, yaitu Suci Anggreani Lubis.

Suci pun bercerita kepada ibunya yaitu Ardiani. Dari situlah Andi mulai belajar tentang Islam kepada Ardiani. Pada 2012 Andi mulai belajar tentang agama Islam kepada Ardiani, “Masih belajar yang umum-umum saja, seperti rukun Islam dan Iman,” ujar Ardiani.

Pada tahun yang sama Andi juga memutuskan untuk dikhitan. Orangtuanya tidak melarang dengan keputusannya untuk berpindah agama, karena Andi sudah mempunyai hak untuk memilih agama apa yang bakal dia anut.

Pada saat dikhitan Andi menggunakan uangnya sendiri yang dikumpulkannya dari uang jajannya. Kini Andi sudah bisa gerakan-gerakan shalat, namun untuk bacaannya Andi mengaku masih perlu banyak belajar. Andi juga sudah bisa membaca surat Al Fatihah meskipun masih dengan terbata-bata.

“Setelah masuk Islam akan belajar lagi lebih dalam,” ujarnya. Kini Andi masih belum bekerja namun sudah melamar pekerjaan ke berbagai tempat, dengan masuknya dirinya ke agama Islam Andi berharap juga bisa mendatangkan rezeki bagi dirinya sehingga bisa cepat mendadapatkan pekerjaan.
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih