Sunday, July 28, 2013

Lambang Negara: Antara Garuda, Lambang Kerajaan Samudera Pasai dan Sintang

loading...
Keberadaan burung Garuda sebagai lambang negara Republik Indonesia sepertinya tak habis diperbincangkan. Beberapa waktu lalu, berkembang sebuah isyu bahwa lambang burung garuda diadaptasi dari lambang salah satu kerajaan di Nusantara. Klaim ini muncul dari R Indra S Attahashi yang merupakan keturunan dari silsilah Kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Menurut Indra, lambang Garuda Pancasila meniru lambang Kerajaan Samudera Pasai.

Indra membandingkan gambar yang dimilikinya yang merupakan warisan dari Muluk Attahashi bin Teuku Cik Ismail Siddik Attahashi. Teuku Raja Muluk Attahashi bin bin Teuku Cik Ismail Siddik Attahashi yang merupakan Sultan Muda Aceh yang diangkat pasca peristiwa Perang Cumbok pada 1945. Ketika itu di Aceh Tamiang ada kerajaan sendiri bernama Kerajaan Sungai Iyu.

Jika diperhatikan sekilas, lukisan lambang peninggalan kerajaan Aceh itu mirip dengan Garuda Pancasila. Gambarnya berwarna keemasan dengan tulisan-tulisan, dengan bentuk seperti seekor burung garuda.

Lambang kerajaan Samudera Pasai
Di bagian tengah badan burung garuda ini, terlihat kotak bertuliskan rangkaian tulisan berwarna merah dan biru.

Perihal lambang Negara Indonesia mirip dengan lambang Kerajaan Samudera Pasai juga dituturkan oleh Ibrahim Qamarius dosen Universitas Malikulsaleh Aceh Utara. Setelah digelar seminar International Conference and Seminar "Malikussaleh; Past, Present and Future di Aceh Utara pada 11-12 Juli 2011, masyarakat mengirim lambang Kerajaan Samudera Pasai yang merupakan replika.

Lambang itu dilukis oleh Teuku Raja Muluk Attahashi, keturunan dari panglima Turki Utsmani yang ke Aceh ketika Sultan Iskandar Muda menghadapi Portugis, pimpinan dari Panglima Tujuh Syarif Attahashi.

Isyu lain yang beredar adalah bahwa lambang burung garuda merupakan ide dari Sultan Abdul Hamid II dari Pontianak. Lambang negara yang selama ini dinyatakan sebagai  kreatifitas sejumlah tokoh nasional, -sebut saja Soekarno, mantan presiden pertama republik ini- mendapat bantahan. Dikatakan, bahwa lambang garuda merupakan hasil kreasi dari Sultan Hamid II. Hal inilah yang kini tengah diperjuangkan Kalbar di tingkat Nasional.

Namun fakta baru muncul dari kerajaan Sintang. Kerajaan yang pernah disebut-sebut sebagai kerajaan terbesar ke dua di region Kalimantan ini setelah kerajaan Kutai. Raja Sintang H.R.M.Ichsani Ismail Tsyafioeddin dalam sebuah ritual adat kerajaan melayu pada pernikahan salah satu keponakannya mengatakan bahwa sultan hamid II yang disebut-sebut sebagai pencetus ide lambang negara ini telah meminjam lambang kerajaan Sintang. Tepatnya di tahun 1948 dan dibawa ke pontianak. Sultan Hamid II sendiri merupakan putra pertama raja kerajaan Pontianak sultan Syarif Muhammad Alkadrie.

Untuk hal ini sultan Sintang dan tokoh sepuh yang masih kerabat keraton Gusti Djamadin mengaku masih menyimpan dokumen peminjaman lambang kerajaan Sintang oleh Sultan Hamid II tersebut.

Lambang kerajaan Sintang sendiri yang kini masih tersimpan di istana Al-Muqqaromah Sintang ada berupa patung burung yang memang sama dengan lambang negara kita saat ini. Patung burung itu sendiri menurut Gusti Djamadin dibuat oleh seorang putra Dayak yaitu Sutha Manggala di masa kerajaan Sultan Abdurrahman. Patung tersebut disyahkan sebagai lambang kerajaan Sintang tahun 1887.

Gambar patung burung yang kemudian dijadikan sebagai lambang kerajaan Sintang ini menurut penuturan Gusti Djamadin diambil dari salah satu bagian gantungan gong dari bagian seperangkat gamelan yang dijadikan barang hantaran lamaran Patih Lugender kepada putri kerajaan Sintang Dara Juanti. Pada bagian gantunga gong terdapat ukiran menyerupai burung garuda. Memiliki dua kepala yang berlawanan pandang. Satu kepala asli burung namun satu lagi menyerupai kepala manusia. Sedangkan pada lambang kerajaan Sintang kepala patung diukir menyerupai kepala manusia.







loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih