Monday, July 29, 2013

[Cerita Inspiratif]: Saya Ingin Menjadi Televisi

loading...
Suatu ketika, seorang guru wanita sedang memeriksa satu persatu karangan anak muridnya di rumah. Sewaktu melihat satu karangan yang ditulis oleh seorang pelajarnya, dia menjadi sangat emosi dan menangis terisak-isak.

Melihat hal tersebut, Lalu ditanya oleh suaminya:

"Ada apa Dik? Kok menangis?"

"Lihat cerita karangan murid saya ini, Bang...". Jawab sang istri singkat.

Dengan segera, kertas berisi cerita karangan itu diambil oleh suami sang guru. lalu ia pun membacanya dengan penuh khusyuk.

Berikut ceritanya:

Saya Ingin Menjadi Sebuah Televisi
"Oh Tuhan, malam ini saya ingin meminta kepada-Mu sesuatu yang sangat istimewa... Jadikan saya sebuah televisi... 
Saya ingin sekali mengambil kedudukan televisi yang istimewa itu... menikmati kehidupan sebagaimana telivisi di rumah saya, di mana saya akan memiliki 'tempat' tersendiri dalam hati keluarga sehingga mampu menjadikan keluarga senantiasa berada di sekeliling saya. 
Saya akan diberi perhatian serius ketika berbicara... Saya ingin kedua orangtua saya menjaga saya seperti mereka menjaga televisi... Saya ingin ayah saya rindu bertemu saya setiap kali ayah pulang dari tempat kerja walaupun keletihan. Saya ingin ibu bersama-sama saya saat sedih dan kecewa...
Saya ingin abang dan kakak berebut waktu untuk bisa bersama saya.....
Saya ingin merasakan keluarga saya sanggup meninggalkan kepentingan lain untuk meluangkan waktu bersama-sama saya. 
Terakhir, jadikan saya mampu membuat semua anggota keluarga yang saya sayangi itu merasa terhibur dan gembira dengan kehadiran saya di rumah... 
Tuhan, saya tidak meminta lebih dari itu. Saya hanya ingin hidup seperti televisi di setiap masa".

Selesai suaminya membaca karangan tersebut, suaminya berkata:

"Kasihan sekali anak malang ini.. ia haus akan kasih sayang. Ibu bapanya sangat tidak berperasaan dan tidak perhatian sama sekali...!!!". Ujarnya geram.

Mendengar itu, tangisan si isteri semakin kuat. Lalu ia  berkata:

"Abang, itu cerita karangan anak kita...!".
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih