Thursday, July 11, 2013

Hadits-Hadits Palsu dan Dha'if Seputar Ramadhan

loading...
Mumpung lagi bulan Ramadhan, Admin mau ngajak ngaji bareng dulu. Kali ini kita mau bahas tentang beberapa hadits lemah (dha’if) dan palsu yang sering kita dengar di bulan suci ini.

Apalagi, kebiasaan di negeri kita, setiap kali bulan Ramadhan, diadakan yang namanya santapan rohani, kultum (kuiah tujuh menit) dan lain sebagainya. Nah, tak jarang, para ustadz dan penceramah sering membawakan hadits-hadits yang lemah dan palsu ketika menyampaikan ceramahnya. Bahkan, saking akrabnya di telinga kita, kita mengira hadits-hadits ini sudah mencapai standar hadits sahih.

Berikut beberapa hadits yang lemah dan palsu tersebut:

1. Hadits tentang pembagian bulan Ramadhan menjadi 3 bagian. Hadits ini sangat panjang, tapi yang paling kita dengan penggalannya sebagai berikut:

وهو شهر أوله رحمة ووسطه مغفرة وآخره عتق من النار

Artinya:
“Bulan Ramadhan itu adalah bulan yang awalnya rahmat, pertengahannya ampunan, dan terakhirnya pembebasan dari api neraka”.

Hadits ini adalah hadits yang MUNKAR (salah satu jenis hadits dha’if). Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah.
Menurut Syaikh al-Albani, hadits ini sangat dhaif karena dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Ali Bin Zaid Bin Jad’an. Ibnu Khuzaimah sendiri mengatakan: “Saya tidak mau berhujjah dengan haditsnya, karena hafalannya sangat buruk”.

2. Hadits tentang tidur di bulan puasa itu ibadah:

الصائم في عبادة وإن كان راقدا على فراشه

Artinya:
“Orang berpuasa itu selalu dalam keadaan beribadah, meskipun ia sedang tidur di atas kasurnya”.

Hadits ini dimuat oleh Imam al-Suyuthi dalam al-Jâmi al-Shaghir. Hadits ini DHA’IF. Dalam sanadnya banyak perawi-perawi yang tidak terpercaya, seperti Muhammad Bin Ahmad Bin Sahal yang dikatakan Ibnu Uday sebagai pembuat hadits palsu.

Namun, Abdullah Bin Ahmad Bin Hanbal ada memuat hadits ini secara mauquf dalam Zawâid al-Zuhd. Jadi, diperkirakan bahwa perkataan ini bukanlah hadits Nabi, tapi hanya perkataan Sahabat Rasulullah Saw.

3. Hadits tentang lafal doa berbuka puasa. Di antaranya yang

« اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ »

Hadits ini diriwayatkan dari Mu’adz Bin Zuhrah r.a.  Hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani berkat: hadits ini MUNKAR JIDDAN. Di dalam sanadnya terdapat Dawud Bin Zabarqan dan Ismail Bin Amru al-Bajili yang sangat lemah. Al-Azidi mengatakan bahwa dua orang perawi ini sebagai pendusta.

4. Hadits tentang puasa dan kesehatan.

صوموا تصحوا
Artinya:
“Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat”.

Hadits ini DHA’IF seperti dinyatakan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Thabrani dalam Mu’jam al-Awsath dan Abu Nu’aim dalam al-Thibb dari Abu Hurairah r.a. Hadits ini dimuat juga oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin. Al-Hafizh al-Iraqi mengatakan dalam takhrij al-Ihyâ: “sanadnya dha’if”.

Bahkan, Al-Shaghani memasukkan hadits ini dalam daftar hadit-hadits PALSU.
Kendati demikian, kita tak perlu meragukan bahwa puasa meningkatkan kualitas kesehatan seseorang. Sebab secara medis memang terbukti demikian, tapi tak perlu pakai dalil hadits dha’if kan....? :D

5. Hadits tentang harapan seluruh bulan Ramadhan.

لو يعلم العباد ما رمضان لتمنت أمتي أن تكون السنة كلها رمضان

Artinya:
Andaikan para hamba itu mengetahui apa yang ada pada bulan Ramadhan, niscaya umatku berharap agar sepanjang tahun semua Ramdhan”.

Hadits ini PALSU (MAUDHU’) seperti yang dikatakan oleh Syaikh al-Albani dalam Dha’if al-Targhîb wa al-Tarhîb. Hadits ini disanadkan kepada Abu Mas’ud al-Ghiffari r.a dari Jarir Bin Ayyub, yang mana ia merupakan perawi yang sangat lemah. Dalam Riwayat Imam Thabrani, hadits ini diriwayatkan dari Hayaj Bin Bistham yang juga perawi yang sangat lemah.

loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih