Orang Rajin Bersedekah Itu Bahagia, begini penjelasan ilmiahnya...

Pernahkah kita merasakan, ketika kita mengeluarkan sedekah kepada orang yang membutuhkan, ketika kita bisa membantu meringankan beban orang lain, lalu muncul perasaan bahagian entara dari mana dalam lubuk hari kita?;

Showing posts with label Ya Salaam. Show all posts
Showing posts with label Ya Salaam. Show all posts

Friday, April 12, 2019

Manfaat Bunga Lawang Untuk Kesehatan .. Mujarab dan Luar Biasa

Bagi penggmar makanan hangat Sup, pasti sudah akrab sama yang namanya bunga lawang, ataupun juga penggeman masakan-masakan timur tengah dengan citarasa yang khas. Ya, bunga lawang memang kerap dipakai dalam masakan-masakan tersebut. Di Indonesia, biasanya rempah ini sering dipakai sebagai bumbu semur, ayam kecap, masakan Cina, hingga minuman hangat.



Bunga lawang atau Kembang Lawang atau disebut juga pekak adalah rempah yang memiliki rasa yang mirip dengan Adas manis. Rempah ini banyak digunakan di dalam masakan negara-negara Asia. Bunga lawang adalah salah satu bumbu tradisional masakan Cina yaitu ngo hiong yang terdiri dari lima jenis rempah. Nama Bunga Lawang dalam Bahasa Tionghoa adalah ba jiao atau bat gok yang memiliki arti "delapan tanduk", sesuai dengan bentuknya yang memiliki delapan kelopak. 

Bunga lawang memiliki bentuk seperti bintang dengan biji kecil di dalamnya. Selain bermanfaat untuk melezatkan masakan, bunga lawang ternyata kaya akan manfaat sehat, lho. Ini dia manfaat bunga lawang untuk kesehatan tubuh.

Memperlambat penuaan
Bunga lawang mengandung vitamin A, C, dan zat antioksidan. Mengonsumsinya bermanfaat untuk memperlambat penuaan dini serta membantu mengendalikan kadar gula darah.



Anti Oksidan
Bunga lawang mengandung minyak esensial linaool dan vitamin C yang merupakan sumber antioksidan. Antioksidan adalah senyawa alami yang melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas dan racun lingkungan seperti asap rokok dan polusi udara.

Radikal bebas yang ada di dalam tubuh mempercepat proses penuaan tubuh. Akibatnya, Anda berisiko terkena berbagai penyakit seperti jantung dan kanker hingga penuaan dini pada kulit. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Chemico-Biological Interactions, menemukan fakta bahwa bunga lawang dapat bahkan dapat mengurangi perkembangan sel kanker.

Mengobati mual
Konsumsi bunga lawang atau adas akan membantu mengobati mual serta mengurangi kram perut.

Meningkatkan libido
Untuk meningkatkan gairah seksual yang menurun, hancurkan kembang lawang dan campur dengan air matang. Saring lalu minum beberapa jam sebelum berhubungan seksual.

Menyehatkan pencernaan
Minum air rebusan bunga lawang membantu dalam menghilangkan gas, kembung, sembelit, dan gangguan pencernaan lainnya.


Sembelit yang dibiarkan terlalu lama dapat berkembang menjadi wasir yang bisa menyebabkan buang air besar berdarah dan menyakitkan. Satu sendok makan ekstrak bunga lawang mengandung satu gram serat atau setara dengan 3-4 persen dari kebutuhan harian Anda, tergantung pada usia dan jenis kelamin.

Mengobati nyeri
Mengoleskan minyak esensial yang terbuat dari bunga lawang bermanfaat untuk mengobati nyeri sendi serta rematik.


Mengatasi gangguan tidur
Dikutip dari Mercola, bunga lawang juga banyak digunakan untuk mengatasi berbagai gangguan tidur. Pasalnya, pengobatan tradisional menemukan fakta bahwa bunga lawang memiliki sifat penenang ringan yang membantu menenangkan saraf. Cobalah untuk mengonsumsi teh ekstrak bunga lawang setiap harinya. Jika gangguan tidur yang Anda miliki dapat teratasi, maka kualitas kesehatan fisik dan juga mental akan semakin membaik.

Anti jamur
Bunga lawang memiliki sifat anti jamur sehingga mengoleskan minyak dari bunga lawang juga bisa membantumu dalam mengobati infeksi jamur seperti kandida.

Menurut Korean Journal of Medical Mycology, esktrak tanaman yang satu ini memiliki sifat antijamur dan antibakteri alami. Bunga lawang mampu mengendalikan jenis jamur tertentu seperti Candida albicans.

Jamur yang satu ini menjadi penyebab infeksi yang paling umum. Biasanya Candida albicans dapat tumbuh tanpa terkendali dan menyebabkan penyakit kandidiasis. Selain itu, para ilmuwan di Taiwan juga menemukan ada empat senyawa antimikroba di dalam bunga lawang yang efektif mengatasi 70 strain bakteri yang resistan alias kebal terhadap obat.

Kesehatan Ibu Hamil
Selain dapat meningkatkan kesehatan tubuh secara keseluruhan, bunga lawang dapat membantu mengatasi berbagai penyakit selama kehamilan. Sehingga tanaman herbal yang satu ini aman dan baik dikonsumsi saat hamil.

Bahkan, ibu menyusui juga bisa mencoba bunga lawang untuk meningkatkan produksi ASI. Senyawa antehole pada bunga lawang juga menunjukkan sifat mirip hormon estrogen yang dapat mengatur fungsi hormon pada wanita.



Menyembuhkan sakit tenggorokan
Kamu sedang terkena sakit tenggorokan? Minumlah teh dari bunga lawang untuk menyembuhkan batuk dan sakit tenggorokan yang mengganggu.

Mengobati Flu dan Batuk


Manfaat bunga lawang yang mungkin tidak Anda duga ialah mengatasi flu dan juga batuk. Hal ini karena bunga lawang mengandung asam shikimat yang tinggi. Berdasarkan Journal of Medical Virology, kombinasi asam shikimat dan antioksidan quercetin dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Dengan begitu, tubuh mampu melindungi dirinya secara maksimal dari serangan penyakit terutama yang diakibatkan oleh virus. Selain itu, mengonsumsi secangkir teh ekstrak bunga lawang tiga kali sehari membantu menghilangkan batuk dan sakit tenggorokan.

Tanaman obat memang sudah tersedia di sekelilingmu. Salah satu contohnya adalah bunga lawang tersebut. Maka, jika penyakitmu tidak terlalu parah, obati dengan tanaman obat seperti contoh di atas.
loading...

Thursday, September 6, 2018

[Tari Piring Minangkabau Yang Luar Biasa] Misteri Penari Melompat-Lompat di Atas Pecahan Kaca Tanpa Terluka

Siapa tak kenal tari piring? Tari piring merupakan salah satu tari tradisional yang berasal dari Minangkabau. Tari yang menggunakan properti piring ini biasanya berjumlah ganjil yaitu 3, 5 atau 7 orang.

Tari piring sudah dikenal keistimewaannya ke seluruh penjuru dunia. Tarian ini turut dipentaskan dalam tur festival kebudayaan nusantara. Bahkan, tidak hanya di dalam negeri, tetapi sampai ke luar negeri. Tari ini pernah dipentaskan dalam festival budaya nusantara di Malaysia, Singapura, Serbia, serta beberapa negara di Eropa.

Dalam awal tarian, penari akan membawa piring-piring beling di tangannya sambil mendentingkan suara “ting…ting…” yang ditimbulkan oleh piring dan cincin, atau antara satu piring dengan lainnya.

Gerakan Tari Piring
Tari piring memiliki 3 jenis gerakan, yaitu tupai bagaliuk (tupai bergeliuk), bagalombang (bergelombang), dan aka malik (akar melilit).

Musik pengiring tarian ini adalah musik talempong dan saluang. Jumlah penarinya berjumlah ganjil, tiga sampai tujuh orang penari. Pakaian yang digunakan penari adalah pakaian yang berwarna cerah nuansa merah dan kuning keemasan. Gerakan tari piring dimulai dengan meletakkan dua buah piring di atas kedua telapak tangan. Piring-piring tersebut diayunkan secara cepat tanpa terlepas dari genggaman tangan.

Gerakan piring sangat cepat, karena itu merupakan kunci sukses agar piring tidak terlepas dari tangan dan jatuh ke lantai. Buat yang pertama kali melihat tarian ini, pasti akan merasa was-was dan kagum dengan kemahiran teknik para penari piring.

Pada mulanya, tari yang konon bermula dari Solok, Sumatera Barat ini adalah ritual rasa syukur atas hasil panen berlimpah yang didapatkan oleh masyarakat Minang.

Di sebalik gerakannya yang gemulai dan memukau, Tari Piring menyimpan makna sebuah ungkapan persembahan bagi tamu, tetua adat, dan pembesar negeri serta sebagai hiburan bagi masyarakat.

Selain itu, tari piring ini juga memberikan pesan-pesan positif seperti kegembiraan, kebersamaan, gotong-royong, kesejahteraan, dan kemakmuran.

Gerakan tarinya terbilang sangat unik, karena tarian ini mencoba meniru gerakan para petani bercocok tanam. Dimulai dari tarian pasambahan sebagai tanda hormat kepada penonton, dilanjutkan dengan rangkaian gerakan menanam padi sampai panen, serta diakhiri dengan gerakan memecah dan menginjak piring. Saat menari, penari mengayunkan dua piring yang diletakan di atas tangan penari dan biasanya terdapat juga lilin yang dinyalakan di atas piring tersebut.

Yang paling memukau dan membuat penonton tercengang adalah pada prosesi puncak, di mana penghujung tarian, penari akan menginjakkan pecahan kaca yang sudah disediakan dan juga pecahan kaca dari hasil lemparan piring-piring yang dibawanya. Dan anehnya tidak ada satupun penari yang terluka, walaupun mereka berloncat-loncat di atas pecahan kaca tersebut. Karena itulah tari piring membuat decak kagum siapapun yang menyaksikannya. Gerakan ini sebagai lambang kesucian niat sang penari.

Dalam melakukan atraksi ini, konsentrasi dan kepercayaan yang penuh sangat dibutuhkan oleh sang penari. Penari pun juga harus dalam keadaan bersih, dalam hal ini yaitu bersih hati, tidak sombong dan tidak sedang haid. Sebelum menginjak pecahan kaca dan menari di atasnya, penari harus berwudu sedangkan pawang harus sholat terlebih dahulu. Niscaya pertunjukan akan berjalan dengan lancar, dan seluruh penonton terhibur.

Musik talempong, gandang dan saluang selalu setia mengiringi tarian ini. Sedangkan untuk kostum, pakaian penari biasanya dipilih warna yang mencolok seperti merah dan kuning keemasan agar menarik perhatian penonton. Buat kamu yang belum pernah menonton secara langsung salah satu aset terpenting kebudayaan Minangkabau, Sumatera Barat ini, kamu wajib menyaksikannya, dan kalau tertarik mempelajarinya, banyak sanggar yang bisa kamu ikuti. I’m proud to be Indonesian.

Dikutip dari Okezone [buka link], tari piring pertama kali diciptakan oleh Syofyani Yusaf (74) yang diturunkannya dari kakeknya, Dt. Tumanggung.

"Dulu, kakek saya sempat dibuang oleh Belanda ke Boven Digul. Di situ, dia berguru dengan sesorang yang menurunkannya ilmu seperti ilmu kekebalan," cerita Syofyani, saat jumpa pers Festival De Montoire di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin (23/7/2012).

Tarian piring tersebut tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang karena membahayakan. "Harus orang yang berhati bersih dan tidak sombong, kalau tidak kakinya bisa terluka," tuturnya. Tak mengherankan karena Tari Piring dilakukan di atas pecahan 300 botol bir.

"Sebelum tarian dimulai, penari harus berkonsentrasi dengan iringan musik. Kalau kata kakek saya, kalau pecahan kaca itu belum tampak seperti lumut, jangan dimulai," jelasnya.

Namun, karena kini Tari Piring kerap dipertontonkan di luar negeri dengan waktu yang ditentukan penyelenggara, maka kemudian dilakukan banyak penyesuaian. "Sekarang, kami mengajarkan bagaimana penari dapat berkonsentrasi dengan lebih cepat untuk menyesuaikan dengan standar internasional," kata Syofyani.

Seiring perjalanannya, Syofyani beberapa kali menemukan penari yang terluka saat menarikan tarian ini. ”Pernah ada yang kakinya berdarah-darah dan dibawa ke dokter. Dokter bilang harus diamputasi, tapi kemudian kami bawa ke kampung dan diobati secara tradisional dan sembuh total,” ceritanya.

Syofyani dengan kemampuannya menari tradisional Minang kemudian mendirikan Sanggar Tari Syofyani. Sanggar tari yang dikelola oleh putrinya, Soni Drestiana, sudah memiliki tiga cabang, yaitu di Padang, Bandung, dan Jakarta.

"Di Padang ada sekira 80-100 murid. Kalau di Jakarta dan Bandung masing-masing kira-kira 50 murid," sahut Soni pada kesempatan yang sama. Sanggar tari ini sudah menerima banyak penghargaan dan diundang ke berbagai pentas budaya di luar negeri.
loading...

Friday, August 31, 2018

Kisah Nyata Tentang Cinta dan Kesetiaan : Zainab Putri Rasulullah Saw

Sebelum Nabi Muhammad saw diangkat menjadi rasul, Abul Ash bin Rabi' menghadap beliau.
“Saya ingin menikahi Zainab, putri sulung Anda”
Sebuah contoh kesantunan dan tatakrama.

Nabi Muhammad saw. menjawab, “Aku tak mau melakukannya sebelum meminta izin padanya”. Sesuai syariat yang nanti akan diwahyukan kepadanya.

Nabi saw. menyampaikannya pada Zainab. “Anak pamanmu mendatangiku dan menyebut-nyebut namamu. Apakah engkau rela ia menjadi suamimu?”

Wajahnya memerah dan ia tersenyum. Malu-malu.

Nabi saw. kemudian menikahkan Zainab dengan Abul Ash. Bermulalah dahsyatnya sebuah kisah cinta. Dari pernikahan berkah ini lahirlah Ali dan Umamah.

Tiba masanya muncul sebuah masalah baru.

Yaitu, terkait diutusnya Nabi Muhammad saw sebagai Rasul Allah. Saat itu Abul Ash sedang bepergian beberapa saat lamanya. Ketika ia kembali, Zainab sudah memeluk Islam dan mengimani risalah yang dibawa ayahnya. Abul Ash pun mengetahuinya.
Zainab berkata, “Aku punya sebuah berita besar untukmu”.

Abul Ash berdiri, lalu meninggalkan Zainab. Zainab mengejarnya, kemudian ia berkata:
“Ayahku diutus sebagai nabi dan aku telah memeluk Islam.”

Abul Ash menjawab, “Bagaimana sikapmu? Beritahu aku!”

Zainab menimpali, “Aku takkan mendustakan ayahku. Karena ia bukan pendusta. Ia adalah orang jujur dan sangat dipercaya. Bukan hanya aku yang berislam kepadanya. Ibuku dan saudara-saudaraku juga melakukannya. Ali bin Abi Thalib sepupumu juga beriman. Anak bibimu, Usman bin Affan juga memeluk Islam. Sahabatmu Abu Bakar juga menyatakan Islam".

Kalau Aku.... kata Abul Ash.
“Aku tak mau nanti orang-orang mengatakan Abul Ash menghinakan kaumnya, kafir dengan nenek moyangnya demi istrinya. Ayahmu pasti akan tertuduh. Mohon maaf. Hargailah sikapku?"
Sebuah dialog cinta yang jauh dari memperturutkan ego dan gengsi.

Zainab tersenyum, “Jika bukan aku, siapa lagi yang akan memaklumimu? Tapi suamiku, aku adalah istrimu. Aku ingin membantumu dalam kebaikan hingga engkau bisa memutuskannya dengan benar.”

Zainab membuktikan kata-katanya selama 20 tahun. Ia bersabar. Setia dengan cintanya. Setia dengan akidahnya.

Abul Ash tetap berada dalam sikapnya. Hingga sampailah saat hijrah nabawi. Zainab menghadap ayahnya.

“Ya Rasulallah, mohon izin aku ingin menetap bersama suamiku.” Bukti cintanya yang sangat dalam. Dan Nabi saw mengizinkannya dengan penuh sayang.

Zainab menetap di Mekah. Saat terjadi Perang Badar, suaminya memutuskan bergabung berperang bersama pasukan Quraisy. Menarget Nabi Muhammad dan kaum muslimin. Suaminya turut memerangi ayahnya. Rasulullah saw..

Bermalam-malam ia menangis dan merintih, tenggelam dalam duka. Ia panjatkan doa dan bermunajat penuh kepasrahan.

“Ya Allah... aku takut jika setiap matahari terbit akan menerima kenyataan bahwa anakku menjadi yatim atau aku kehilangan ayahku...”

Abul Ash bertempur masih dengan keyakinanya. Meski ia sendiri tak benar-benar yakin akan sikapnya. Usailah pertempuran Badar. Abul Ash tertawan. Beritanya sampai ke Mekah.

Dengan penuh cemas ia menanyakan tentang kabar ayahnya.

“Kaum Muslimin menang” ia mendapat kabar demikian. Ia bersujud pada Allah, mensyukuri karunia-Nya. Ia juga bertanya berita tentang suaminya.

Mereka menjawab, “Ia ditawan oleh mertuanya.”
Ia bergegas ingin menebus suaminya. Ia kirimkan kalung perhiasan.
Ia tak punya apa-apa yang berharga selain perhiasan dari ibunya yang ia kenakan. Perhiasan yang selalu melekat di dadanya. Kalung itu kemudian dibawa saudara kandung Abul Ash menghadap Rasulullah saw.

Nabi Muhammad saw terhenyak ketika melihat kalung istrinya, Khadijah yang sangat dikenalnya.
“Tebusan siapa ini?”
“Tebusan Abul Ash bin Rabi`”

Ada tetesan air mengalir dari pelupuk mata beliau, seraya berbisik pelan, ”Ini adalah kalung Khadijah.” Sebuah ungkapan kesetiaan yang terpatri dalam hati. Tak luntur meski jasad pemiliknya sudah bertahun-tahun terpendam dalam tanah.

Beliau kemudian berdiri dan berkata, “Wahai manusia… Lelaki ini tidak aku cela sebagai menantu.”
Sebuah narasi pengakuan dan sikap adil yang nyata.

"Mengapa kalian tak bebaskan ia dari tawanan? Mengapa kalian tak mengembalikan kalung tebusannya kepada Zainab?"

Para sahabat menjawab , “Labbaik, wahai Rasulullah”. Kesantunan dan ketaatan tertulis dalam sejarah.

Nabi saw kemudian memberikan kalung tersebut kepada Abul Ash dan berkata, “Sampaikan kepada Zainab agar jangan mengabaikan kalung Ibunya, Khadijah.” Sebuah pesan cinta dan kesetiaan yang dahsyat.

Nabi saw. berkata, “Wahai Abul Ash aku sampaikan sebuah rahasia.”
Kemudian Abul Ash mendekati Rasulullah saw.

“Wahai Abul Ash. Sesungguhnya Allah sudah memerintahkan kepadaku untuk memisahkan antara perempuan muslimah dan orang kafir. Maka, kembalikanlah putriku kepadaku!”

Dengan penuh penghormatan Abil Ash berkata, “Siap. Aku akan melakukannya!”

Zainab keluar rumah menuju gerbang kota Mekah hendak menyambut jantung hatinya. Sabar ia tunggu kedatangan suaminya. Abul Ash terlihat. Tak lama kemudian ia mendekat. Suaminya membisikinya. “Aku akan pergi”

“Ke mana?” pendar mata binar Zainab kembali meredup.

“Bukan aku, tapi Engkau yang pergi. Aku berjanji menyerahkanmu pada ayahmu!”
“Mengapa?”

“Untuk memisahkan antara aku dan dirimu. Kembalilah pada ayahmu!”. Abul Ash menepati janjinya.

“Mengapa engkau tak membersamaiku saja. Masuk Islam-lah...” Zainab membujuk penuh harap, penuh cinta.

Dan Abul Ash tetap pada pendiriannya. Zainab pun meninggalkan Mekah. Meninggalkan suaminya. Menaati perintah Allah dan ayahnya. Ia hijrah ke Madinah membawa anak-anaknya.

Sejak saat itu, selama 6 tahun silih berganti para lelaki melamarnya. Namun, Zainab tak pernah berkenan menerima. Ia tetap setia menunggu cintanya yang tertinggal di Mekah. Bersama sekeping harap agar mantan suaminya datang menghadap ayahnya dan membersamainya kembali seperti sedia kala.

Setelah tahun-tahun sulit. Menjelang terjadinya Fathu Makkah, Abul Ash sebagaimana biasa ia melakukan perjalanan, berdagang ke negeri Syam.

Dalam perjalanan pulang ke Mekah ia bersama kafilah dagang Quraisy membawa 100 ekor unta dengan 170 orang. Mereka terendus oleh pasukan mata-mata umat Islam. Mereka pun akhirnya ditawan. Namun, Abul Ash berhasil kabur, lenyap dan menghilang.

Abul Ash berlindung di balik kegelapan malam yang semakin gelap serta larut. Ia mengendap-endap memasuki kota Madinah. Bersembunyi beberapa saat.

Menjelang fajar ia semakin mendekat. Rumah Zainab yang ditujunya. Inilah tsiqoh, sebuah kepercayaan.

Zainab bertanya, “Apakah Engkau datang dalam keadaan muslim?”

Abul Ash menjawab, “Bukan. Aku kabur!”

“Mengapa engkau tidak berislam saja”

“Tidak”

Abul Ash meminta jaminan dan perlindungan. Dan Zainab bersedia melindungi. Menjamin dirinya.

“Jangan takut, anak bibiku. Selamat datang wahai Abu Ali dan Abu Umamah”

Rasulullah saw. berdiri di mihrab, mengimami kaum muslimin Shalat Fajar berjamaah. Beliau mengucapkan takbiratul ihram, para makmum di belakang beliau juga bertakbir. Saat itu dari shaf jamaah perempuan, Zainab mengangkat suaranya. Ia berkata, “Aku Zainab binti Muhammad, telah memberi jaminan kepada Abul Ash, maka lindungilah dia.”

Ketika selesai shalat, Nabi Muhammad saw. menoleh kepada para jamaah dan bertanya, “Apakah kalian semua mendengar seperti yang aku dengar?”

Mereka menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.”

Nabi Muhammad saw bersabda, “Demi Dzat yang diriku ada dalam genggaman-Nya. Aku tidak tahu kecuali apa yang aku dengar, seperti yang kalian dengar. Sungguh orang yang paling lemah di antara kaum muslimin telah memberi perlindungan.”

Nabi Saw berdiri menyeru, “Wahai para manusia. Sungguh terhadap lelaki ini sebagai menantu saya tidaklah mencelanya. Menantuku ini telah berbicara denganku dan ia membenarkanku, ia memberi janji dan ia menunaikan janjinya terhadapku”.

Penuh khidmat dan hening para sahabat Nabi saw mendengarkannya.

“Bila kalian setuju untuk mengembalikan hartanya dan membiarkannya pulang ke negerinya, maka ini lebih aku sukai. Tetapi bila kalian menolak, maka semua urusan kuserahkan kepada kalian, keputusan ada di tangan kalian. Saya takkan memprotesnya.”

Inilah musyawarah. Beliau tidak menggunakan otoritas kepemimpinannya.

“Kami bersedia menyerahkan kembali hartanya”. para sahabat menyetujui Rasulullah saw. Dan inilah adab dan kesantunan sebagai balasan keteladanan dan tawadhu pemimpin.

Lalu Nabi Saw bersabda, “Wahai Zainab, kita telah memberi perlindungan kepada orang yang engkau beri perlindungan dan jaminan.”

Lalu Rasulullah membersamai putrinya ke rumahnya, “Wahai Zainab! Hormatilah Abul Ash. Dia itu putra bibimu, dia adalah ayah dari anak-anakmu. Tetapi jangan dekati dia, itu tidak halal bagimu.” Syariat dipraktekkan dan dipadu dengan akhlak mulia serta kasih sayang.

Zainab menganggukkan kepala, “Labbaik, wahai Rasulullah.”

Zainab menemui Abul Ash bin Rabi’ dan berkata, “Perceraian kita telah menyulitkan kita. Maukah engkau masuk Islam dan tinggal bersama kami?”.

Harapan dan cinta menyatu, keluar dari bibir putri manusia termulia. Namun, Allah belum mengabulkannya.

Abul Ash mengambil hartanya dan pulang menuju Mekah. Sesampai di kota Mekah ia berkata kepada penduduk Mekah, “Wahai penduduk Mekah, terimalah harta kalian. Apakah masih ada yang kurang?"

Mereka menjawab, “Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu. Engkau telah menunaikan amanah dengan sangat baik.”

Abul Ash berkata, "Aku sungguh bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya."

Bergegas, Ia pun pergi berhijrah menuju Madinah. Menjemput hidayahnya. Menyusun kembali kepingan cinta dan kesetiaannya.

Ketika waktu fajar, ia memasuki kota Madinah. Ia bergegas menghadap Nabi Saw. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, kemarin Engkau memberi perlindungan kepadaku. Kini, saksikanlah aku datang dan bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya.”
Abul Ash melanjutkan, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memberi izin kepadaku untuk kembali (ruju’) kepada Zainab?”

Nabi saw. memegang pundak Abul Ash dan berkata, “Mari berjalan bersamaku.”

Beliau ke rumah Zainab, mengetuk pintu dengan penuh bahagia, “Anakku, Zainab. Ini anak bibimu datang kepadaku. Dia meminta izin kepadaku untuk kembali kepadamu. Bersediakah engkau?”

Maka, nampak muka Zainab kemerahan seraya tersenyum. Malu-malu. Pertanda rela, ungkapan persetujuannya.

Seisi Madinah gegap gempita, menyambut bahagia. Merayakan pertemuan cinta dan kesetiaan. Langit cerah, seputih ketulusan cinta Zainab.

Namun, ini bukan akhir sebuah kisah…

Setahun kemudian, Zainab putri Rasulullah saw. dipanggil oleh Allah. Ajalnya telah sampai.
Isak tangis kesedihan Abul Ash terdengar. Menyayat siapa saja yang mendengarnya. Para sahabat menyaksikan Rasulullah saw mengusapnya. Turut merasakan kesedihan yang mendalam. Menerima takdir Allah dengan penuh keimanan.

Suara berat Abul Ash menyeruak, “Wahai Rasulullah aku tak mampu hidup tanpa Zainab”
Dan benar, setahun kemudian ia menyusul kekasihnya. Menghadap Allah subhânahu wa ta’âlâ.

Itulah kisah tentang cinta dan kesetiaan. Bersyukurlah, Allah telah karuniakan perempuan baik mendampingimu. Rawatlah cintanya. Ajaklah membangun istana cinta di dunia. Kelak Allah akan membalasmu dengan karunia cinta yang abadi, kesetiaan yang tak pernah luntur oleh masa.

Sumber tulisan:
1. https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=208173 atau di tautan: https://al-maktaba.org/book/31615/34748
2. Beberapa redaksi diambil dari At-Tarikh al-Islamiy karya Mahmud Syakir, Siyar a’lâm an-Nubalâ karya Imam al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabiy.
3. Hadis jaminan Zainab kepada Abul Ash juga diriwayatkan oleh ath-Thabraniy, al-Hakim dan al-Baihaqi dari riwayat Ummu Salamah ra.

****
Dialihbahasakan oleh al-faqîr ilâ ‘afwi rabbih *Dr. Saiful Bahri* dengan beberapa perubahan redaksi dan penambahan.
loading...

Monday, August 13, 2018

Mengenal Borosilicate Glass, Kaca Berkualitas Tinggi Tahan Panas Ekstrim

Kaca Borosilicate (Borosilicate Glass) adalah salah satu jenis kaca yang paling berkualitas di dunia. Disebut demikian, karena  mengandung unsur trioksida boron (B - 2 - 3) o 5 ~ 13% (m/m). Pada tahun 1997, dirilis oleh ISO 12775" produksi massal normal kaca komposisi klasifikasi dan metode pengujian yang ditetapkan dalam borosilicate glas (termasuk gelas netral) yang mengandung boron trioksida (B - 2-3 o) lebih besar dari 8% (m/m).

Karena kekuatan dan ketahanannya, kaca jenis ini sering dijadikan sebagai bahan perkakas sehari hari seperti botol makanan dan minuman, panci dan lain sebagainya.

Menggunakan bahan borosilicate glas untuk botol memberikan keutungan yang luar biasa, terutama mengingat daya tahan panasnya yang tinggi, dibandingkan dengan kaca biasa, terutama resistensi dampak dan suhu resistansi tinggi.

Bahkan jika Anda Panaskan boron silikon kaca dan menempatkannya dalam air dingin, boron kaca tidak akan retak.

Banyak orang yang telah menguji borosilicate glas secara pribadi, ada yang membakarnya di atas api selama 20 menit, dan ternyata tidak berdampak apa-apa terhadap kaca.

Sekarang borosilicate glas mulai banyak digunakan untuk perkakas masak dalam microwave, oven, surya tabung reaktor kimia, dll. Bahkan, sekarang ini borosilicate glass mulai digunakan untuk banyak perkakas.

Untuk saat ini, borosilicate glas dinilai sebagai kaca teraman di dunia, karena itu tak heran botol  susu bayi saat ini juga menggunakan bahan ini. Bahan borosilicate glas dikenal sebagai bahan yang transparan dan halus, mudah dibersihkan,  dan tidak mudah ditempeli kotoran, tanah terhadap minyak, asam dan alkali.

JIka kaca borosilicate glas diadu dengan kaca lain, maka kaca lain akan pecah dengan mudah. Jika kaca biasa memiliki residu (serbuk) tidak demikian halnya dengan kaca jenis ini.

Berikut adalah standar internasional untuk bahan borosilicate glas : Internasional standar ISO 4802. 1-4802 
loading...

Thursday, August 2, 2018

[Hikmah dari Kisah Sahabat Rasul] Hathib bin Abi Balta'ah.... Siapakah Orang Yang Baik Itu?

Dalam hadits yang sahih diriwayatkan, bahwa tatkala saat Rasulullah bertekad untuk menaklukkan kota Mekah dalam peristiwa yang terkenal dalam sejarah dengan sebutan Fathu Makkah, ada salah seorang Shahabat Nabi sekaligus veteran perang Badar yang membocorkan rencana itu. Namanya Hathib bin Abi Balta’ah (حاطب بن أبي بلتعة). Bocoran itu ditulisnya di sebuah surat kemudian dikirimkan ke Mekah secara diam-diam melalui seorang kurir wanita.

Rasulullah mengetahui hal itu melalui wahyu. Beliaupun mengutus beberapa Shahabat untuk mengejar wanita itu, menangkapnya dan merampas suratnya. Ketika tahu pengirimnya Hathib maka Rasulullah pun menginterogasinya.

Dalam interogasi itu terungkap, ternyata Hathib melakukan hal tersebut dengan alasan ingin menyelamatkan keluarganya agar tidak menjadi korban penaklukan Rasulullah. Pengakuan yang jujur ini diterima sepenuhnya oleh Rasulullah.

Hanya saja Umar bin Al-Khatthab sudah tidak sabaran ingin menindak tegas Hathib dengan cara memenggal kepalanya karena dipandang sudah tergolong munafik. Tetapi Rasulullah menolak gagasan dan penilaian Umar seraya bersabda,

مَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ

Artinya,
“…engkau tidak tahu kan, bisa jadi Allah telah mengetahui para pahlawan Badar itu sehingga berfirman, ‘lakukan sekehendak kalian..” (H.R. Al-Bukhori)

Sabda Rasulullah ini memberi satu kaidah penting nan besar kepada kita bahwa orang yang memiliki jasa besar dalam Islam, kalaupun melakukan kesalahan maka ia harus dimaafkan dan tidak boleh dihancurkan kredibilitasnya karena kesalahan itu. Para pejuang perang Badar memiliki jasa besar bagi dakwah Islam, karena perang itu adalah perang tidak seimbang antara kafir Quraisy yang jumlahnya sekitar 1000 orang melawan kaum muslimin yang jumlahnya 300-an.

Bisa dibayangkan jika kaum muslimin kalah dalam perang ini dan Rasulullah syahid. Secara rasional tentu saja dakwah Islam akan terhenti total dan risalah Islam bisa terancam mati. Oleh karena itu, para pahlawan perang Badar memiliki kedudukan tinggi yang tidak dimiliki shahabat Nabi yang tidak ikut perang Badar karena mereka adalah “penyelamat” Rasulullah dan “penyelamat” dakwah Islam. Demikian ridhanya Allah pada mereka sampai-sampai Allah berfirman, “lakukan sesuka kalian karena aku telah mengampuni”. Maksudnya, seolah-olah Allah mengatakan, “Kesalahan-kesalahan kecil kalian akan Kumaafkan, tidak akan sampai membuat Aku menghapus amal besar kalian.”

Ibnu Abdil Barr berkata,

وَكَانَ خَيْرُهُ غَالِبًا وَشَرُّهُ أَقَلُّ عَمَلِهِ

“…(orang baik yang bisa diambil ilmunya adalah) orang yang kebaikannya dominan dan keburukannya adalah amalnya yang paling sedikit…” (Jami’ Bayani Al-‘Ilmi Wa Fadhlihi, juz 2 hlm 1117)

Senada dengan itu, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah berkata,

من قواعد الشرع وَالْحكمَة ايضا ان من كثرت حَسَنَاته وعظمت وَكَانَ لَهُ فِي الاسلام تَأْثِير ظَاهر فَإِنَّهُ يحْتَمل لَهُ مَالا يحْتَمل لغيره ويعفي عَنهُ مَالا يعفي عَن غَيره فَإِن الْمعْصِيَة خبث وَالْمَاء إِذا بلغ قُلَّتَيْنِ لم يحمل الْخبث بِخِلَاف المَاء الْقَلِيل فَإِنَّهُ لَا يحمل ادنى خبث

Artinya:
Di antara kaidah syara’ dan hikmah juga, bahwasanya orang yang banyak nan agung kebaikannya sementara dia memiliki pengaruh nyata dalam Islam, maka dia bisa dimaklumi dengan kemakluman yang tidak diberikan kepada selain dia dan dimaafkan dengan maaf yang tidak bisa diberikan kepada selain dia. Alasannya, maksiat itu najis sementara air jika sudah mencapai dua qullah maka tidak terpengarus najis. Berbeda dengan air sedikit. Air seperti ini terpengaruh oleh najis sekecil apapun… (Miftahu dari As-Sa’adah, juz 1 hlm 176)

Karena itu, orang baik itu bukan orang yang tidak pernah berdosa, tidak pernah salah, tidak pernah terkena waham, tak pernah melakukan zallah (ketergelinciran), tidak pernah khilaf dan tidak pernah lalai.

Orang baik itu adalah orang yang KEBAIKANNYA LEBIH DOMINAN daripada keburukannya.

Laksana najis yang jatuh pada air. Jika volume air melebihi dua qullah (321 liter), maka najis itu tidak mempengaruhi status kesucian air.

Jadi, berhentilah mencari malaikat (di kalangan manusia selain Nabi dan Rasul) yang tidak pernah ada kekurangannya, tidak pernah ada salahnya, tidak pernah ada cacatnya, dan yang sempurna dalam segala hal.

Sangat wajar jika orang-orang yang engkau cintai seperti orang tuamu, suamimu, istrimu, kawan baikmu, dan tetanggamu adalah orang-orang yang memiliki banyak kebaikan tetapi mereka juga memiliki sejumlah kesalahan, aib, kekurangan, dan dosa. Selama kebaikan pada mereka dominan maka mereka adalah orang baik.

Demikian pula sikap kita terhadap ulama!

Jika kita mengetahui kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan pada Al-Ghazali, misalnya pada riwayat-riwayat dhoif dalam kitab beliau; Ihya’ Ulumuddin, atau sesuatu yang tidak disukai sebagian kaum muslimin seperti dukungan beliau terhadap tashowwuf, atau mungkin akidah beliau yang barangkali dianggap sebagian kalangan “bermasalah”, maka janganlah hal-hal tadi membuat kita menutup mata akan jasa-jasa besar beliau. Jangan lupa, Al-Ghaazali adalah pengarang kitab fikih penuh berkah seperti “Al-Basith”, “Al-Wasith” dan “Al-Wajiz” yang ilmunya sangat bermanfaat bagi ulama dan kaum muslimin penganut madzhab Asy-Syafi’i. Beliau juga yang mengarang “Al-Mushtashfa” yang mengajarkan ilmu Ushul Fikih. Beliau jugalah yang mengarang kitab “Tahafutu Al-Falasifah” yang membantu membentengi umat Islam agar tidak teracuni oleh cara fikir filsafat yang bisa mengantarkan pada kekufuran.

Bahkan, menurut Majid ‘Irsan Al-Kailani kitab Ihya’ Ulumiddin Al-Ghozzali lah yang mampu merevolusi mental kaum muslimin di zamannya sehingga mampu terbetuk tentara tangguh yang kokoh nan bersih jiwanya karena terdidik tashawwuf ala Al-Ghozzali, sehingga di bawah pimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi, mereka berhasil membebaskan Baitul Maqdis dari tangan kuffar salibis!

Sikap yang sama seharusnya juga kita berikan untuk Imam Malik, Ibnu Ishaq, Yahya bin Ma’in, ‘Ikrimah, Adz-Dzuhli, Ibnu Taimiyyah, As-Suyuthi, As-Sakhowi, Hasan Al-Banna, Abul A’la Al-Maududi, Taqiyyuddin An-Nabhani, Al-Albani, Ibnu ‘Utsaimin, Ibnu Baz, K.H.Ahmad Dahlan, K.H Hasyim Asy’ari dan semua ulama yang lahirnya tampak tulus dalam berdakwah dan menasihati umat serta nyata jasanya bagi umat.

Inilah sikap adil. Kritis terhadap kesalahan tapi tidak menafikan kebaikan dan jasa. Selama kesalahan tidak termasuk fatal, seyogyanya ilmu ulama tetap kita manfaatkan. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang maksum selain Nabi dan Rasul. Janganlah kebencian terhadap suatu kaum mencegah kita untuk bisa berbuat adil. Allah memerintahkan kita berbuat adil karena keadilan itu lebih dekat dengan ketakwan.

رحمهم الله رحمة واسعة
اللهم اجعلنا من محبي العلماء الصالحين
Dikutip dari laman Irtaqi [http://irtaqi.net/2017/11/24/siapakah-orang-baik-itu/]

loading...

Monday, July 30, 2018

Mengenal Kitab Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab Karya Imam An-Nawawi

Kitab Al-Majmu’ (المجموع) merupakan penjelasan (syarah) terhadap kitab Al-Muhadzdzab karya Imam Asy-Syirazi. Kitab ini menjadi salah satu kitab pegangan dalam fiqih, khususnya Fiqih mazhab Syafi'i.

Sebenarnya ada dua syarah Al-Muhadzdzab yang terkenal dan tercetak:

PertamaAl-Bayan (البيان) karya Yahya Al-‘Imroni ( 558 H),
Kedua, adalah Al-Majmu’ karya Imam An-Nawawi ini.

Di antara dua kitab ini, Al-Majmu’ lebih populer dan lebih mendapatkan perhatian karena kedudukan besar imam An-Nawawi sebagai muharrir dalam madzhab Asy-Syafi’i.

Sebagai referensi untuk mengetahui pendapat mu’tamad madzhab Asy-Syafi’i, posisi Al-Majmu’ berada di urutan kedua setelah kitab At-Tahqiq. Jadi, bisa disimpulkan Al-Majmu’ adalah di antara referensi terbesar dan terpenting yang berada di deretan kitab posisi puncak dalam madzhab Asy-Syafi’i.

Bukan hanya penting dalam madzhab Asy-Syafi’i, tetapi juga rujukan penting untuk fikih Islam secara umum. Hal itu dikarenakan Al-Majmu’ menyajikan uraian perbandingan madzhab sebagaimana gaya penulisan Al-Umm karya Asy-Syafi’i, Al-Muhalla karya Ibnu Hazm, Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, Al-Mabsuth karya As-Sarakhsi, Bidayatu Al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd, Al-Fiqhu Al-Islami Wa Adillatuhu karya Wahbah Az-Zuhaili dan lain-lain. Jadi, Al-Majmu’ adalah rujukan penting jika berbicara ensiklopedi fikih klasik maupun modern.

Al-Majmu’ adalah di antara karya terbesar An-Nawawi. Demikian luasnya ilmu An-Nawawi dalam kitab ini bisa kita ukur ketika kita mengetahui bahwa kitab Al-Muhadzdzab yang tebalnya sekitar 140 lembar itu disyarah oleh An-Nawawi dalam Al-Majmu’ menjadi 9 jilid (edisi cetakan menajdi 23 jilid). Itupun belum tuntas, karena An-Nawawi hanya mensyarah sampai pada bab riba.

Keistimewaan Al-Majmu’ adalah membahas pendapat madzhab-madzhab lain secara komperhensif, lengkap dengan dalilnya kemudian mentarjih pendapat terkuat juga lengkap disertai dalil yang mendukungnya.

Demikian bermutu isi Al-Majmu’ sampai-sampai Al-Isnawi dan Ibnu Al-Mulaqqin berkata,

ليته أكمله، وانخرمت باقي كتبه

Artinya;

Andai saja beliau menyelesaikannya, dan (tidak masalah) lenyap semua kitab-kitab beliau yang lain..”

Adz-Dzahabi juga berkomentar, “sangat bagus dan berkualitas!”

Ibnu Katsir memuji, “Seandainya (Al-Majmu’) selesai (ditulis) semua maka tidak ada kitab yang dikarang yang bisa menandinginya!”

Hal lain yang menunjukkan tingginya kualitas Al-Majmu’ adalah berita bahwa Taqiyyuddin As-Subky, ulama Asy-Syafi’iyyah abad 8 H (yang selalu didorong untuk melanjutkan syarah An-Nawawi dan menyempurnakan Al-Majmu) selalu maju mundur karena merasa tidak pantas. Beliau baru berani maju menulis syarah setelah beristikhoroh.

Adapun sistematikanya, kata As-Suyuthi, Al-Majmu’ ditulis dengan gaya seperti Al-Mughni karya Ibnu Qudamah. Secara ringkas, sistematika penulisan An-Nawawi pada saat menulis Al-Majmu’ adalah sebagai berikut.

Pertama-tama beliau membahas aspek bahasa. Kepakaran An-Nawawi dalam bahasa tampak di sini. Bagaimana tidak? An-Nawawi adalah murid “raja” nahwu yang tersohor itu, yakni Ibnu Malik yang mengarang alfiyyah Ibnu Malik dalam bidang nahwu. Kita tahu, manzhumah ini dihapalkan ribuan santri di seluruh dunia. Yang dibahas An-Nawawi adalah lafaz-lafaz ghorib dalam Al-Qur’an, hadis, atsar, maupun matan Al-Muhadzdzab tulisan Asy-Syirozi. Jika yang dianggap ghorib makna bahasa maka dibahas dulu makna bahasa termasuk analisis sharafnya berdasarkan ilmu matnul lughoh, setelah itu baru pembahasan makna istilah fuqoha’.

Setelah itu An-Nawawi menyebut hadis-hadis atau riwayat-riwayat yang berhubungan dengan topik. Penyebutan hadis dan riwayat itu tidak semata-mata penukilan tetapi juga disertai penjelasan takhrij dan kualitasnya. An-Nawawi termasuk ahli hadis, maka beliau cukup piawai menerangkan aspek ini. Kitab Al-Majmu’ bebas hadis maudhu’ dan jika ada hadis atau riwayat yang dhoif maka An-Nawawi menjelaskaannya.

Setelah itu An-Nawawi membahas kasus-kasus fikih rincian, kemudian menyebut mana yang rojih dari madzhab Asy-Syafi’i dari sekian aqwal, wujuh dan thuruq yang ada. Di bagian inijuga beliau menyebut ikhtilaf ulama yang lain. Dalam hal sikap, umumnya An-Nawawi membela madzhab Asy-Syafi’i. Bagian ini adalah bagian terpanjang dan terluas karena memang untuk maksud ini kitab ini ditulis. An-Nawawi menambah furu’, tatimmat dan zawa-id yang tidak disebutkan oleh Asy-Syirozi.

Kemudian An-Nawawi menjelaskan biografi singkat para shahabat dan ulama yang disebutkan oleh Asy-Syirozi.

Jadi, Al-Majmu’ bukan hanya menjadi sumber referensi ilmu fikih tapi juga sumber pembahasan definisi bahasa, definisi istilah, dhobth lafaz, takhrij hadis, ilmu ikhtilaf, ilmu ijma’, dan biografi tokoh.

Sayangnya kitab Al-Majmu’ tidak tuntas. Usia An-Nawawi memang relatif pendek. Sekitar usia 45 tahun beliau wafat dalam keadaan belum menikah. An-Nawawi sendiri saat proses penulisan kitab ini sudah merasa tidak akan sanggup menyelesaikan Al-Majmu’. Beliau hanya mensyarah sampai bab riba. Oleh karena itu, beliau memberi wasiat kepada muridnya; Ibnu Al-‘Atthor untuk menyempurnakan kitab tersebut, tapi Ibnu Al-‘Atthor tidak berhasil.

Setelah itu, kira-kira satu abad kemudian bangkitlah Taqiyyuddin As-Subki (wafat 756 H) melanjutkan syarah An-Nawawi. Tapi pekerjaan beliau juga tidak tuntas. Beliau hanya sampai pada bab “Ar-Rodd Bi Al-‘Aib”. Tapi ada sedikit kesimpangsiuran terkait sampai mana syarah An-Nawawi dan syarah Taqiyyuddin As-Subki.

Kata As-Sakhowi, tidak ada satupun ulama yang berniat untuk menyempurnakan Al-Majmu’ kemudian berhasil. Isma’il Al-Husbani, Taqiyyuddin As-Subki, Ibnu An-Naqib, Al-Bulqini (dengan karyanya “Al-Yanbu’ Fi Takmilati Al-Majmu’ “), Al-‘Iroqi, dan Abu Zur’ah Ar-Rozi semuanya tidak berhasil menuntaskannya. Ini dipandang sebagai di antara karomah An-Nawawi.

Di zaman sekarang yang berhasil menyempurnakannya adalah Najib Al-Muthi’i (konon nama aslinya Mahmud Ibrahim Ath-Thowabi. Beliau terpaksa mengubah nama karena di zamannya dikejar-kejar pemerintahan Gamal Abdel Nasser).

Pekerjaan Al-Muthi’i cukup terhambat karena di masa hidupnya beliau ditahan oleh rezim Gamal Abdel Nasser. Setelah keluar dari penjara beliau sempurnakan dengan agak terburu. Hal ini barangkali yang menyebabkan karyanya kurang maksimal. Ada yang bahkan agak sinis mengatakan bahwa Al-Muthi’i yang bermadzhab hanafi dalam mensyarah disinyalir hanya “copas” dari Al-Mughni karya Ibnu Qudamah atau dari Al-Bayan karya Al-‘Imroni.

Selain Al-Muthi’i ada juga informasi bahwa Isa Manun juga berusaha mensyarah melanjutkan pekerjaan As-Subki untuk melengkapi Al-Majmu’.

Ada juga upaya melengkapi syarah An-Nawawi dan As-Subki yang diklaim dilakukan 8 doktor (versi lain menyebut 10 doktor, bahkan 20) dan diterbitkan penerbit Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, tapi dinilai sangat buruk. Masih lebih baik karya Al-Muthi’i.

Bagaimanapun juga, upaya menyempurnakan karya An-Nawawi, baik yang dilakukan oleh As-Subki dan Al-Muthi’i (apalagi oleh mereka yang masih diragukan kualitas keilmuannya) tidak akan mencapai level An-Nawawi dalam menyebutkan wujuh, riwayat, aqwal dan tarjihat. Siapapun yang membaca Al-Majmu tulisan An-Nawawi dan membandingkan dengan syarah takmilah karya As-Subki dan Al-Muthi’i pasti merasakan betul perbedaannya.

Penerbit Maktabah Al-Irsyad di Jedah, Saudi Arabia telah mencetak kitab Al-Majmu’ menjadi 23 jilid dengan tahqiq dan syarah penyempurna Najib Al-Muthi’i. Cetakan Dar Al-Fikr membagi Al-Majmu’ menjadi 3 bagian: Syarah An-Nawawi, syarah Taqiyyuddin As-Subki, dan syarah Najib Al-Muthi’i.

رحم الله النووي رحمة واسعة
اللهم اجعلنا من محبي العلماء الصالحين

dikutip dari : 
http://irtaqi.net/2017/11/08/mengenal-kitab-al-majmu-karya-nawawi/
loading...

Wednesday, July 25, 2018

[Kisah Nyata] Ketika Pencuri Mentimun Tidak Bisa Duduk

Berikut admin berbagi kisah nyata tentang karomah Kiyai Kholil Bangkalan, Madura.

Alkisah, pada suatu hari petani timun di daerah Bangkalan sering mengeluh. Setiap timun yang siap dipanen selalu kedahuluan dicuri maling. Begitu peristiwa itu terus-menerus, akhirnya petani timun itu tidak sabar lagi.

Setelah bermusyawarah, maka diputuskan untuk sowan ke Mbah Kholil. Sesampainya di rumah Mbah Kholil, sebagaimana biasanya kiai tersebut sedang mengajar kitab Nahwu.

“Assalamu’alaikum, Kiai,” ucap salam para petani serentak.

“Waalaikumussalam,“ jawab Mbah Kholil.

Lukisan al-'Alim al-'Allamah
asy-Syekh Muhammad Kholil bin Abdul Lathif
Basyaiban al-Bangkalani al-Maduri al-Jawi asy-Syafi'i
di museum Den Haag, Belanda
Melihat banyaknya petani yang datang. Mbah Kholil bertanya, “Sampean ada keperluan, ya?”

“Benar, Kiai. Akhir-akhir ini ladang timun kami selalu dicuri maling, kami mohon kepada Kiai penangkalnya,” kata petani dengan nada memohon penuh harap.

Ketika itu, kitab yang dikajinya kebetulan sampai pada kalimat “qoma zaidun” yang artinya “zaid telah berdiri”. Lalu serta-merta Mbah Kholil berbicara sambil menunjuk kepada huruf “qoma zaidun”.

“Ya, karena pengajian ini sampai ‘qoma zaidun’, ya ‘qoma zaidun’ ini saja pakai sebagai penangkal,” seru kiai dengan tegas dan mantap.

“Sudah, Pak Kiai?” ujar para petani dengan nada ragu dan tanda tanya.

“Ya sudah,” jawab Mbah Kholil menandaskan.

Mereka puas mendapatkan penangkal dari Mbah Kholil. Para petani pulang ke rumah mereka masing-masing dengan keyakinan kemujaraban penangkal dari Mbah Kholil.

Keesokan harinya, seperti biasanya petani ladang timun pergi ke sawah masing-masing. Betapa terkejutnya mereka melihat pemandangan di hadapannya. Sejumlah pencuri timun berdiri terus-menerus tidak bisa duduk. Maka tak ayal lagi, semua maling timun yang selama ini merajalela diketahui dan dapat ditangkap. Akhirnya penduduk berdatangan ingin melihat maling yang tidak bisa duduk itu, semua upaya telah dilakukan, namun hasilnya sia-sia. Semua maling tetap berdiri dengan muka pucat pasi karena ditonton orang yang semakin lama semakin banyak.

Satu-satunya jalan agar para maling itu bisa duduk, maka diputuskan wakil petani untuk sowan ke Mbah Kholil lagi. Tiba di kediaman Mbah Kholil, utusan itu diberi obat penangkal. Begitu obat disentuhkan ke badan maling yang sial itu, akhirnya dapat duduk seperti sedia kala. Dan para pencuri itupun menyesal dan berjanji tidak akan mencuri lagi di ladang yang selama ini menjadi sasaran empuk pencurian.

Maka sejak saat itu, petani timun di daerah Bangkalan menjadi aman dan makmur. Sebagai rasa terima kasih kepada Mbah Kholil, mereka menyerahkan hasil panenanny yaitu timun ke pondok pesantren berdokar-dokar. Sejak itu, berhari-hari para santri, di pondok kebanjiran timun, dan hampir-hampir di seluruh pojok-pojok pondok pesantren dipenuhi dengan timun. ()

Wallahu A'lam.
loading...

Tuesday, July 17, 2018

Mengapa Kita [Tetap] Merasa Benar, Walaupun Sejatinya Salah?

Pada tahun 1894, sebuah surat yang telah disobek-sobek ditemukan di keranjang sampah oleh staf dari seorang Jendral Prancis. Maka dilakukanlah investegasi besar-besaran untuk mengetahui siapa yang lewat bukti surat itu telah menjual rahasia militer Perancis ke pihak Jerman. Dan kecurigaan kebanyakan orang mengarah pada Letkol. Alfred Dreyfus.

Dreyfus tidak punya track record yang tercela, tidak juga punya motif untuk melakukan pengkhianatan. Cuman ada dua Kesalahan Dreyfus. Pertama, tulisannya mirip dengan surat yang  ditemukan, dan lebih parah lagi, dia satu-satunya pejabat militer yang  beragama Yahudi. Waktu itu, Militer Perancis dikenal anti Yahudi.

Sumber gambar:
http://criticalanimal.com
Lalu rumah Dreyfus digeledah, mereka tidak menemukan bukti apapun. Tapi inipun malah dianggap sebagai bukti betapa liciknya Dreyfus. Tidak hanya berkhianat, dia juga dengan sengaja menghilangkan semua bukti. Lalu mereka memeriksa personal history-nya, bahkan menginterview guru sekolahnya. Ditemukan dia sangat cerdas, menguasai 4 bahasa, dan punya memori yang sangat tajam. Maka inipun dianggap sebagai "bukti" bahwa Dreyfus punya motif dan skill untuk kerja pada agen inteligen asing. Bukankah memang agen inteligen harus punya 3 skill itu?, benarkan?.

Maka Dreyfus diajukan ke pengadilan militer, dan dinyatakan bersalah. Di depan publik, lencananya dilucuti, kancing baju dicabut, pedang militernya nya dipatahkan. Peristiwa ini dikenang sebagai "Degradation of Dreyfus".

Saat diarak oleh massa yang menghujat dia, Dreyfus teriak, "Saya bersumpah saya tidak bersalah, saya masih layak untuk mengabdi pada negara, Hidup Perancis.. Hidup Angkatan Darat". Tapi semua orang sudah tidak peduli dengan teriakannya, dan Akhirnya dia divonis dipenjara seumur hidup di Devil's Island, pada 5 Januari 1895.

Mengapa serombongan orang pintar dan berkuasa di Perancis waktu itu begitu yakin bahwa Dreyfus bersalah?.

Dugaan bahwa Dreyfus memang sengaja dijebak, ternyata keliru. Para sejarawan meyakini bahwa Dreyfus tidak dijebak, dia hanya menjadi korban dari sebuah fenomena yang  disebut "MOTIVATED REASONING". Yaitu sebuah penalaran yang nampak sangat logis dan rasional, padahal semua itu hanyalah usaha mencari PEMBENARAN atas suatu ide yang telah diyakini sebelumnya. Tujuannya? termotivasi untuk membela atau menyerang idea tertentu, bukan mencari KEBENARAN secara jernih, dari pihak manapun kebenaran itu berasal.

Maka kalau kita sudah mengeras sikapnya untuk sangat pro/anti terhadap sesuatu, sebut saja misalnya terhadap partai politik tertentu, atau sudah terlanjur gandrung atau benci sama seseorang, maka kita akan cenderung mengalami "motivated reasoning" ini. Apapun pendapat orang lain yang kita anggap musuh akan nampak salah di pikiran "rasional" kita. Karena memang itulah hebatnya otak kita, selalu bisa menemukan alasan rasional kenapa mereka salah, dan saya benar. Kita akan bisa mencari 1000 bukti yang membenarkan sikap kita itu. Bahkan hal-hal yang sifatnya netral tiba-tiba jadi nampak sebagai "bukti" dari kebenaran sikap kita ini.

Kalau hati sudah dikuasai oleh cinta atau benci, dan berketetapan, pokoknya saya pro ini, anti itu, kita akan cenderung meyakini kebenaran segala pendapat yang mendukung pendapat kita, dan mengabaikan segala argumen yg berlawanan dengan keyakinan kita. Kita jadi kehilangan akal sehat yang adil dan proporsional dalam menyikapi segala hal. Para psikolog menyebut kesesatan pikir yang mewabah akhir-akhir ini: CONFIRMATION BIAS.

Fenomena confirmation bias dan motivated reasoning ini sudah sangat jamak ditemukan di sekitar kita, bahkan kadang kita pun ikut jadi pelaku utamanya. Karena hampir semua dari kita telah mengambil sikap untuk memilih partai tertentu, suka tokoh tertentu, punya agama/mazhab tertentu, bahkan mungkin menjadi anggota fanatik supporter klub sepak bola tertentu. Semua ini telah menjadikan kita secara otomatis mudah sekali terjebak dalam 2 kesesatan pikir di atas.

By the way , bagaimana dengan nasib Dreyfus? Adalah Colonel Georges Picquart, yang walaupun dia juga anti Yahudi, mulai berpikir, bagaimana jika memang Dreyfus tidak bersalah? Bagaimana jika karena salah tangkap, penjahat sebenarnya masih berkeliaran dan terus membocorkan rahasia militer Perancis pada Jerman? Kebetulan dia menemukan ada pejabat militer lain yang tulisan tangannya lebih mirip dengan surat yang ditemukan, dibanding tulisan Dreyfus. Singkat cerita, atas perjuangan Colonel Picquard, Dreyfus baru dinyatakan tidak bersalah 11 TAHUN kemudian.

Yang paling menakutkan dari Motivated Reasoning & Confirmation Bias ini adalah, pelakunya seringkali tidak menyadari dan membela pendapatnya mati-matian sambil menghujat pendapat lain yang berbeda, sehingga efeknya terjadi perang mulut, bahkan di beberapa negara, terjadi  genocida, dan perang saudara.

Maka bagaimana caranya agar kita bisa berpikir lebih adil dan jernih? Bukankah Al-qur'an (dan saya rasa juga kitab-kitab suci lain, secara substansial) menegaskan:

"Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak adil terhadap mereka. Bersikap adil-lah, karena itu lebih dekat dengan taqwa",.

Bagaimana agar kita selamat dari 2 sesat pikir di atas? agar kita bisa membuat prediksi yang akurat, membuat keputusan yang tepat, atau sekadar membuat good judgement? Menariknya, ini tidak berkaitan dengan seberapa pintar atau seberapa tinggi IQ kita atau gelar akademis kita. Kata para ahli tentang "good judgment", ini justru berkaitan erat dengan bagaimana anda "merasa" (how you feel). Berikut beberapa tips untuk memiliki "penilaian yg jernih" :

1. Jangan terlalu emosional. Semakin kita emosional, semakin kita termotivasi untuk menyeleksi kebenaran. Semua argumen yang berlawanan akan cenderung kita abaikan. Sementara hoax-pun, asal cocok dengan selera kita akan buru-buru kita yakini kebenarannya.

2. Pertahankan rasa ingin tahu (curiosity). Rasa penasaran ingin tahu ini akan membuat kita lebih ingin mengecek argumentasi dari dua kubu. Tidak cepat puas buru-buru meyakini segala informasi yang masuk.

3. Milikilah hati dan pikiran yang terbuka (open-mind & open-heart). dengan begini kita akan cenderung mau mendengarkan dan berempati atas posisi masing-masing dari dua kubu yang berseteru. Jangan menutup diri hanya mau menerima informasi dari pihak yang pro sama kita, dan langsung mencurigai, bahkan menolak berita dari semua yang kita anggap pro lawan kita.

4. Jadilah orang yang Independen (grounded). Jangan mudah anut grubyuk ikut-ikutan pendapat sesorang atau satu kelompok. Jangan letakkan harga diri kita berdasarkan omongan orang lain tentang kita. Silakan pro ini atau anti itu. Tapi jangan overdosis, sampai menganggap segala hal yang dari pihak kita pasti benar dan segala hal yang dari pihak lawan pasti salah.

5. Milikilah kerendahan hati (humbleness) bahwa memang kita punya keyakinan tertentu tentang segala hal (politik, sikap keagamaan, aliran pemikiran, dll) tapi dengarkan dengan empatik juga pendapat-pendapat yang berlawanan dengan kita. Dan jika bukti-bukti menunjukkan kita memang salah, jangan sungkan-sungkan untuk mengakui dan minta maaf.

Kesimpulannya, menurut Julia Galef, uang ceramahnya di TEDX mendasari tulisan ini:

"Untuk memiliki good judgment (penilaian yang jernih), khususnya untuk hal-hal yang kontroversial, kita tidak terlalu membutuhkan kepintaran atau analisa yang canggih, tapi kita lebih membutuhkan kedewasaan psikologis dan pengelolaan emosi yang baik"

Jadi apa yg paling kita inginkan?
Apakah membela mati-matian pendapat subyektif kita?
Ataukah ingin melihat dunia dengan mata hati sejernih mungkin?

Sumber: Copas WA
loading...

Sunday, July 15, 2018

Riwayat] Kesederhanaan Syekh Yasin Al-Fadani

Putra bangsa ini berkiprah dan banyak dihormati oleh para cendekiawan Muslim sedunia. Ialah Syekh Yasin al-Fadani, pria berdarah Sumatra Barat yang lahir di Makkah dan menjadi ahli fikih dan muhadis terkemuka pada abad ini.

Ulama ini bahkan mendapatkan gelar Almusnid Dunya atau yang berarti ulama ahli musnad dunia dalam keahliannya di bidang ilmu periwayatan hadis.

Namanya sangat terkenal, terutama bagi kalangan pelajar Indonesia yang menimba ilmu di Makkah. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan ijazah sanad hadis darinya.

Lahir di Makkah pada 1916, pria yang mempunyai nama lengkap Abu al-Faidh' Alam ad-Diin Muhammad Yasin bin Isa al-Padani ini telah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa.

Ketika remaja, ia mampu mengungguli rekan-rekannya dalam hal penguasaan ilmu agama, terutama di bidang hadis dan fikih yang membuat para gurunya kagum terhadapnya.

Ini membuat orang tuanya, Syekh Muhammad Isa bin Udiq al-Fadani dan Maimunah binti Abdullah Fadani, sangat bangga.

Selain berguru langsung pada kedua orang tua yang ahli agama ini, ia juga banyak belajar dari pamannya sendiri, yaitu Syekh Mahmud Engku Hitam al-Fadani.

Guru-gurunya yang lain, yang banyak memengaruhi pendidikannya adalah Syekh Muhktar Usman, Syekh Hasan al-Masysath,

Habib Muhsin bin Ali al-Musawa, dan banyak lagi ulama terkemuka lainnya di ash-Shautiyyah, lembaga pendidikan tempatnya mengabdi.
Sekitar 1934, terjadi sebuah konflik di tanah Hijaz. Direktur Ash-Shautiyyah telah menyinggung beberapa pelajar asal Asia Tenggara, terutama dari Indonesia, maka Syekh Yasin mengemukakan ide untuk mendirikan Madrasah Darul Ulum di Makkah.

Niat untuk menunjukkan rasa nasionalisme pada bangsanya ini membuat para pelajar Al-Shawlatiyyah berbondong-bondong pindah ke Madrasah Darul Ulum, padahal madrasah tersebut masih baru. Syekh Yasin kemudian menjabat sebagai wakil direktur Madrasah Darul Ulum Makkah, selain masih mengajar di berbagai tempat, terutama di Masjidil Haram. Materi-materi yang disampaikan mendapat sambutan yang luar biasa, terutama dari para pelajar asal Asia Tenggara.

Satu hal yang menarik dan rahasia dari sosok Syekh Yasin adalah kesederhanaannya. Meski ia adalah ulama terkemuka yang kecerdasannya diakui dunia, ia tak segan untuk keluar masuk pasar sendiri berbelanja, kemudian memikul barang-barangnya sendiri. Ia sering terlihat mengenakan kaus oblong dengan sarung sambil nongkrong di warung teh, menghisap shisha, semacam rokok arab yang menjadi kesukaannya.

Rumahnya pun tak pernah sepi dari kunjungan para cendekiawan dari seluruh penjuru dunia. Apalagi, ketika tiba musim haji karena ia sering mengundang ulama dunia ke rumahnya untuk berdiskusi mengenai perkembangan dunia islam. Bahkan, Gus Dur pun pernah singgah di rumahnya.

Karya-karya yang telah ditelurkannya pun lebih dari 100 judul kitab. Semua hasil karyanya tersebut tersebar dan menjadi rujukan lembaga-lembaga Islam, pondok pesantren, baik itu di Makkah maupun di Asia Tenggara.

Syekh Yasin al-Fadani banyak menuai pujian, baik oleh para ulama maupun para gurunya. Salah satunya adalah seorang ulama hadits bernama Sayyid Abdul Aziz al-Gumari yang menjuluki Syekh Yasin sebagai ulama kebanggaan Haromain (Makkah dan Madinah).

Ulama besar lain yang berasal dari Hadramaut, Yaman, yaitu al-Allamah Habib al-Segaf bin Muhammad Assegaf, juga sangat kagum dengan keluasan keilmuannya hingga ia memberikan sebutan Sayuthiyyu Zamanihi, yang artinya Imam al-Hafid Assayuthy pada zamannya.

Syekh Yasin juga sering mengadakan kunjungan-kunjungan ke berbagai negara, termasuk Indonesia yang merupakan asal dari nenek moyangnya.

Hingga akhirnya, ia meninggal pada 1990. Meski ia telah tiada, ilmunya terus dipakai sebagai rujukan dan selalu berkembang di semua lembaga pendidikan Islam di seluruh dunia.

loading...

Thursday, January 11, 2018

[Video] Proses Menangkap Dhabb {Sejenis Biawak atau Kadal Arab}

Bagi sebagian masyarakat di Timur Tengah (terutama di Arab Saudi dan Teluk Arabia), mengkonsumsi dhabb [latin: uromastyx] merupakan kegemaran, karena di samping rasanya yang lezat, daging dhabb ini dipercaya bisa meningkatkan hasrat dan kemampuan seksual seorang pria.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa daging dhabb kaya akan protein dan unsur mineral lainnya seperto sodium, potasium, fosfor, magnesium, dan kalsium. Demikian juga lemak tak jenuh. Situs dailymedicalinfo.com menyebukan bahwa daging dhabb bisa mengatasi tubuh yang kurus (kurang gizi), menormalkan detak jantung, meningkatkan imunitas tubuh, memiliki efek detoksifikasi (membuang racun) dan menguatkan otot-otot.

Bagaimana cara orang Arab menangkap dhabb? silahkan tonton cara dan teknik menangkap Dhabb ala masyarakat Timur Tengah:


Silahkan tonton proses membersihkan dhabb sebelum dikonsumsi


Ohya, memakan daging dhabb halal hukumnya. Walaupun Nabi Muhammad Saw sendiri tidak ingin memakannya. Dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Al Bukhari dalam Kitab Khabarul Ahad, Bab Khobarul Mar’ah Waahidah, disebutkan:


قَالَ (ابن عمر رضي الله عنه): كَانَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلىالله عليه وسلم، فِيهمْ سَعْدٌ، فَذَهَبُوا يَأْكُلُونَ مِنْ لَحْمٍ،فَنَادَتْهُمُ امْرَأَةٌ مِنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم،إِنَّهُ لَحْمُ ضَبٍّ، فَأَمْسَكُوا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم:كُلُوا أَوِ اطْعَمُوا، فَإِنَّهُ حَلاَلٌ أَوْ قَالَ: لاَ بَأْسَ بِهِ وَلكِنَّهُلَيْسَ مِنْ طَعَامِي.

Abdullah Bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Orang-orang dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu’alaihi wasallam yang di antara mereka terdapat Sa’ad makan daging. Kemudian salah seorang isteri Nabi Shallallahu’alaihi wasallam memanggil mereka seraya berkata, ‘Itu daging Biawak dhab’. Mereka pun berhenti makan. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Makanlah, karena karena daging itu halal atau beliau bersabda: “tidak mengapa dimakan, akan tetapi daging hewan itu bukanlah makananku“.

dhabb
Hadits diatas merupakan salah satu hadits yang menerangkan tentang kehalalan hewan dhab sehingga tidak ada keraguan lagi pada diri kita akan kehalalannya. Namun, yang menjadi masalah adalah banyak sebagian dari kita yang menterjemahkan dhab dengan biawak sehingga konsekwensinya mereka menghalalkan pula memakan biawak. (pengalaman pribadi: ketika kami memberikan ta’lim ada beberapa ikhwah dibeberapa majelis yang menanyakan tentang hal tersebut).

Perbedaan Dhab dan Biawak

Walaupun dhabb sering diterjemahkan sebagai 'biawak' atau 'kadal Arab', tapi sebenarnya hewab ini berbeda lho.

Dikutip dari muslim.or.id, untuk membedakan antara kedua hewan tersebut, perlu dijelaskan ciri-ciri atau karakteristik hewan dhabb untuk membedakannya dengan biawa:

1. Bentuk tubuhnya

  • Bentuk tubuh dhabb hampir mirip dengan biawak, bunglon dan tokek.
  • Ukuran tubuhnya lebih kecil dari biawak.
  • Dhab itu berekor kasar (mirip duri duren kalau menurut saya), kesat dan bersisik. Ekornyapun tidak terlalu panjang berbeda dengan biawak.
  • Dhab jantan memiliki dua dzakar dan dhab betina memiliki dua vagina.

2. Warnanya

warna tubuhnya mirip dengan warna tanah, berdebu kehitam-hitaman (غُبْرَة مُشْرَبةٌ سَواداً), apabila telah gemuk maka dadanya menjadi berwarna kuning.

3. Makanannya

  • Rerumputan
  • Jenis-jenis belalang
  • Dhab tidak memangsa dan memakan hewan lain (selain belalang), bahkan Ibnu Mandzur mengatakan bahwa dhabb tidak mau memakan kutu.

4. Tempat Hidupnya

Dhab hanya tinggal digurun pasir. Mereka tidak bisa tinggal dirawa-rawa seperti halnya biawak.

5. Sifatnya

Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa dhobb tidak memangsa hewan lain kecuali hanya jenis-jenis belalang, maka kami katakan dhab bukanlah hewan buas dan tidak pula membahayakan, berbeda sekali dengan biawak yang sudah kita kenal.

dhabb yang telah dimasak dengan nasi
Dhab tidak suka dengan air, berbeda sekali dengan biawak yang jago berenang dan menyelam dalam mencari mangsa sehingga terkenal menjadi musuh para petani ikan.

Dikatakan pula bahwa dhab tidak meminum air secara langsung. Dhab hanya meminum embun dan air yang terdapat di udara yang dingin. Apabila Orang Arab menggambarkan keengganannya dalam melakukan seseuatu maka mereka berkata: “لا افعل كذا حتى يرد الضب الماء”/ Aku tidak akan melakukannya sampai dhab mendatangi air.

Dhab tidak pernah keluar dari lubangnya selama musim dingin.
Dikatakan pula bahwasannya umur dhab bisa mencapai 700 tahun.

6. Hubungannya dengan biawak

Dhab merupakan salah satu hewan yang kerap menjadi mangsa biawak. Jadi, biawak ini buas, sedangkan dhabb hanya makan nabati dan sebagian seranggga.

7. Bangsa Arab memandang dhabb

Orang arab suka memburu dhabb dan menyantapnya sebagai makanan, namun mereka merasa jijik terhadap biawak dan menggolongkannya ke dalam hewan yang menjijikan.

Dari beberapa ciri hewan dhabb sebagaimana yang kami sebutkan diatas, memang ada kemiripan bentuk tubuh antara dhab dengan biawak, namun pada banyak hal terdapat banyak sekali perbedaan antara kedua hewan tersebut, yang paling menonjol adalah pada makanannya, dimana dhab merupakan hewan yang jinak(tidak buas) memakan makanan yang bersih dan tidak menjijikan berbeda sekali dengan biawak yang merupakan hewan buas dan pemangsa serta memakan makanan yang menjijikkan. Diantara makanan biawak adalah bangkai, ular, musang, kelelawar, kala jengking, kodok, kadal, tikus,  dan hewan kotor lainnya.

Selain merupakan hewan yang menjijikkan, biawak juga merupakan hewan yang licik dan zhalim. Abdul Lathif Al-Baghdadi menyebutkan bahwa diantara kelicikkan dan kedzaliman biawak adalah bahwa biawak suka merampas lubang ular untuk ditempatinya dan tentunya sebelumnya dia membunuh dan memakan ular tersebut, selain itu biawak juga suka merebut lubang dhab, padahal kuku biawak lebih panjang dan lebih mudah untuk digunakan membuat lubang.

Karena kedzalimannya, orang-orang Arab sering mengungkapkan: “Dia itu lebih zhalim daripada biawak”. [baca juga: beberapa pepatah Arab tenang dhabb]

Kesimpulan

  • Dhabb tidak sama dengan biawak
  • Dhabb merupakan hewan yang halal untuk dimakan.
  • Dhabb berbeda dengan biawak. Sebenarnya kalau kita mau membuka kamus kita akan dapati bahwa biawak dalam bahasa arab disebut warol (الوَرَلُ), bukan dhab(الضَّبّ).
  • Biawak haram dimakan dikarenakan:
  • Biawak merupakan hewan yang menjijikkan (khabits)
  • Biawak merupakan hewan buas
  • Para ulama mutaqaddimin telah mengharamkan biawak. Para ulama muta'akhirin dari kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah telah menegaskan tentang kejelasan haramnya biawak
loading...

Friday, January 5, 2018

[Foto] Kereta Api Cepat Al-Haramain Hubungkan Kota Mekkah dan Madinah Dalam Jarak Tempuh 1,5 Jam !!!

Jika di Jepang ada "Shinkansen", di negeri Hijaz sekarang ada Qithar al-Haramain, alias kereta Api cepat al-Haramain dengan kecepatan yang hampir sama, 300 km /jam.

Kereta api super cepat ini akan menghubungkan dua kota suci Madinah-Makkah Non stop.. Dengan kecepatan rata-rata 300 KM/jam, maka Madinah-Makkah yang jaraknya 450 KM akan dapat ditempuh hanya 1.5 jam saja.

Jadi beruntunglah jika anda yang melaksanakan umrah atau haji di tahun depan, tidak perlu lagi menghabiskan waktu 6 hingga 8 jam di bis untuk menempuh jarak dua kota suci ini.

Kereta Al-Haramain ini baru saja diresmikan oleh Menteri Transportasi Arab Saudi, Dr. Nabil al-Amudi pada 31 Desember 2017 yang lalu, melalui uji coba langsung dari Stasiun Madinah al-Munawarah menuju Stasiun Mekkah non-stop.

Menurut keterangan resmi yang dikutip makkahnewspaper, kereta api ini selain dipergunakan untuk transportasi masyarakat tempatan, juga diperuntukkan bagi seluruh penziarah, baik haji maupun umrah.

Kereta api ini memiliki 5 stasiun pemberhentian, yaitu: Mekkah, Jeddah, Bandara King Abdul Aziz, King Abdullah City di Rabigh dan Madinah al-Munawwarah.

Dengan kapasitas sebanyak 35 unit, kereta mampu membawa 417 penumpang yang terdiri dari kelas bisnis (4 gerbong) dan ekonomi (8 gerbong) disertai 1 gerbong sebagai penyimpan makanan.

Penasaran sama kereta ini, mari kita lihat foto-fotonya:









loading...

Tuesday, January 2, 2018

[Nyata dan Unik]: Istri Minta Cerai Karena Suami Terlalu Sayang Kepada Istri Melebihi Ibu Kandungnya Sendiri

Umumnya, seorang istri sering berkonflik dengan suaminya gara-gara sang suami terlalu peduli sama ibunya dan istri merasa diabaikan.

Tapi yang terjadi di Arab Saudi ini sungguh berbeda!

Seorang istri di Provinsi Al-Bahah, sebuah kawasan subur di sebelah selatan Juddah, menggugat cerai suaminya dengan alasan sang suami terlalu peduli kepada dirinya sehingga sang suami kerap mengabaikan ibunya sendiri.

Awalnya, sang suami, 29 tahun, dikejutkan dengan surat dari Pengadilan yang memintanya hadir di persidangan atas gugatan cerai dari sang istri. Sang suami yang merasa selama ini sangat sayang terhadap istrinya itu merasa kaget: apa gerangan yang menyebabkan sang istri menuntut cerai.

Sebagaimana dikutip dari koran 'Ukazh (31/12/2017), awalnya hakim memerintahkan suami istri tersebut untuk menempuh mediasi, namun gagal dan sang istri tetap bersikukuh ingin meminta khuluk.

"Bukankah selama ini aku begitu menyayangimu? Bukankah aku rela mengabaikan keluargaku sendiri demi engkau?". Tanya suami kepada istrinya di depan hakim.

"Itu benar sekali, bahkan engkau rela mengeluarkan uang tak sedikit untuk menyenangkan aku, mengajakku berwisata ke luar negeri... sampai-sampai engkau mengabaikan ibumu sendiri!". Jawab sang istri, yang membuat suaminya terperangah.

"Tuan hakim, orang yang rela mengabaikan ibunya sendiri demi istrinya, akan begitu mudah baginya suatu saat nanti mengabaikan istrinya itu... dan aku tak sanggup membayangkan hari itu datang!". Pinta sang istri kepada pengadilan.

Entah bagaimana kelanjutan perkara ini, belum ada kabar yang pasti apakah pengadilan mengabulkan gugatan cerai sang istri atau tidak. Yang jelas, alasan perceraian seperti ini terbilang unik dan langka sehingga mengundang keheranan banyak orang.

Bagaimana menurut anda?
loading...

Friday, December 22, 2017

Link [Download] Film Indonesia Ayat-Ayat Cinta 2 MP4 Bluray MKV Ultra HD Quality.... Is it There? Absolutely Not!

Ayat-Ayat Cinta 2 is an Indonesian drama film made in Medan City, North Sumatra, released on December 21, 2017 at Cinemaxx and on January 11, 2018 in Malaysia, and Brunei Darussalam. The film was directed by Guntur Soehardjanto, who previously won nine awards at the 2005 Indonesian Film Festival thanks to the July TV movie in June. This film is the second film Ayat Ayat Cinta that reap success in 2008 ago

Synopsis [based on Wikipedia]

The film is a continuation of the previous film tells Fahri Abdullah (Fedi Nuril) currently living alone in Edinburgh, along with his assistant Hulusi (Pandji Pragiwaksono). Fahri had lost Aisha seven months ago, when Aisha volunteered in the Gaza Strip. From that moment Fahri never again heard the news of Aisha.

Fahri continued to wait in her sorrow that plagued her heart. The sadness he tried to overcome with his busy life as a lecturer and successful entrepreneur in the city. Fahri was also preoccupied with the presence of Misbah (Arie Untung), his old friend, who wanted to ride with him.

Fahri is often confronted with the problems of his various neighbors. There is a Jewish grandmother, Catarina (Dewi Irawan) who is having problems with her stepson. There is also Keira McGills (Chelsea Islan) a talented violinist who hates Fahri very much, being considered a terrorist who has caused the death of their father by a bomb in London.

Please watch the trailer here:


Fahri tries to keep Aisha's trust so she can help the people around her. Fahri's good intentions often make misunderstanding and drag into more complicated issues and endanger her life. Fahri's life became even more complicated when Hulya (Tatjana Saphira) Aisha's nephew now grown into a beautiful girl.

Hulya is cheerful and dynamic, showing her interest in Fahri. Hulya was willing to replace Aisha's role in Fahri's life. Fahri hesitates to open her heart to Hulya's presence, it's the same she admits that Aisha is dead. Fahri still hope, every night, Aisha re-emerged in her life. All supported Fahri continuing his life with Hulya, including Sabina (Dewi Sandra) a disabled faceless woman Fahri accommodated to stay with them. Sabina who is considered a brother by Fahri, was not only help to take care of Fahri's house, but also able to make Fahri continue his life.

***
Director : Guntur Soehardjanto

Producer  :  Manoj Punjabi, Dhamoo Punjabi
Scenario: Alim Sudio , Ifan Ismail

Based on : Ayat Ayat Cinta 2
by Habiburrahman El Shirazy

Cast : Fedi Nuril, Tatjana Saphira, Chelsea Islan, Dewi Sandra, Nur Fazura, Pandji Pragiwaksono, Arie Untung, Bront Palarae, Dewi Irawan, Cole Gribble, Mathias Muchus, Millane Fernandez, Nino Fernandez,  Dian Nitami, Malay Nicole Hall, Jihane Almira, Syifa Hadju, Music Tya Subiakto,

Editor:  Cesa David Luckmansyah

Company production
MD Pictures

Release date: Medan, December 21, 2017,  Malaysia, Brunei: January 11, 2018

Duration: 2-hour 5-minute

***
Currently many people are looking for movie download link "Ayat-ayat Cinta 2" on the internet. Does this link exist? of course not!

So, get used to watching movies legally. To support the progress of the Indonesian film industry, watch this movie in an official cinema with your family.  OK? :)

bukan link download
loading...

Thursday, November 30, 2017

[Kisah Khalifah Harun Al-Rasyid]: Berebut Sandal Guru

Siapa yang tidak kenal Khalifah besar Harun Ar Rasyid. Harun sangat serius mendidik calon penggantinya kelak. Apalagi kekuasaannya terbesar dan terkuat di muka bumi saat itu.

Al Amin dan Al Makmun. Mereka belajar dari banyak ahli ilmu. Di antaranya belajar kepada alim besar bernama Al-Kisai.

Suatu hari Al Amin dan Al Makmun baru selesai belajar. Al Kisai pun berdiri dan berniat meninggalkan majlis.

Al Amin dan Al Makmun segera berlari menuju sandal Al Kisai dan berebut siapa yg menyiapkan sandal gurunya. Akhirnya mereka berdua sepakat bahwa Al Amin menyiapkan sebelah dan Al Makmun yg sebelah lagi.

Berita ini sampai ke Amirul Mu'minin  Harun Ar Rasyid.

Harun memanggil guru anak-anaknya, Al Kisai.

Harun Ar Rasyid bertanya : "Siapakah orang paling mulia?".

Al Kisai : "Aku tdk melihat ada yg lebih mulia dari amirul mu'minin."

Harun : "Justru orang paling mulia adalah orang yg ketika hendak pergi dari majlisnya, dua putra mahkota muslimin berebut utk menyiapkan sandalnya, sampai keduanya sepakat menyiapkan satu-satu."

Mendengar itu Al Kisai menduga bahwa Khalifah marah. Dan segera meminta maaf.

Tapi ternyata Harun Ar Rasyid malah berkata :

"Kalau kamu hentikan kebiasaan mereka berdua itu, aku akan memarahimu. Karena hal itulah yg mengangkat derajat keduanya."

(Allahu Akbar, itu khalifah besar menyikapi kedua anaknya yg kelak keduanya jadi khalifah besar.

Kini, tahukah kita kiamat pendidikan itu?
Kita ini...
Khalifah bukan...
Amirul Mu'minin bukan...
Tapi menempatkan guru anak-anak kita, selayaknya karyawan yg kita gaji.

Kalau ini dilanjutkan... kita bukan bagian dari kebangkitan dan kebesaran.

Maafkan kami, guru...😭

{disadur dari tulisan Ust. Budi Ashari yang viral di Medsos]
loading...

Saturday, October 21, 2017

[Inovasi] Minyak Goreng dari Ulat Jerman...

Jika biasanya minyak goreng yang biasa kita konsumsi terbuat dari bahan nabati seperti kelapa, kelapa sawit, zaitun, jagung, bunga matahari, conola dan lain sebagainya, tapi tahukah anda ternya minyak makan ternyata juga bisa diproduksi dari seranggga?

Ya, ternyata minyak goreng juga bisa diproduksi dari serangga, salah satunya adalah dari 'Ulat Jerman'. Seperti diberita oleh BBC, sekelompok mahasiswa dari Universitas di Malang saat ini tengah mengembangkan Minyak goreng dari ulat Jerman, dan direncanakan akan segera dikomersialkan dan perusahaan-perusahaan di Eropa sudah siap jadi pembeli.

Ulat jerman atau dalam bahasa ilmianya disebut zophobas morio merupakan salah satu jenis ulat yang berukuran kurang lebih 6 cm. Selama ini, ulat Jerman banyak digunakan sebagai pakan untuk hewan reptile, burung kicauan dan unggas lainnya. Di kalangan orang yang memiliki hobi memelihara reptile, burung kicauan dan unggas, ulat jerman dikenal sebagai king mealworm. Nilai gizi dari ulat jerman lebih tinggi dari ulat lainnya dan ulat jerman juga dianggap lebih aman dibandingkan dengan ulat lainnya yang digunakan oleh pemelihara burung kicauan di Indonesia.

Ulat Jerman memiliki system imun yang lebih tinggi ketimbang ulat jenis lainnya, sehingga ketika ulat jerman menjadi pakan burung, maka ulat jerman tersebut dapat membantu dalam menangkal berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, parasite yang dapat menyerang burung. Selain itu, ulat jerman lebih gampang di cerna oleh hewan peliharaan burung walaupun burung mengkonsumsi ulat jerman dalam jumlah yang banyak. 

Belakangan ini, budidaya ulat jerman memang sangat marak di Indonesia walaupun jumlah pembudidaya ulat jerman masih sedikit dibanding pembudidaya ulat hongkong.

Dikutip dari situs goodnewsfromindonesia.id, minyak dari Ulat Jerman ini dikembangkan oleh Muhammad Ifdhol dan rekan-rekannya Mahasiswa dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang bersama timnya Biteback. Tim ini adalah tim insect mineral oil yang meraih juara dua dalam lomba Thought For Food, yakni lomba teknologi ketersediaan pangan yang berkesinambungan, di Swiss tahun 2016 lalu. 

Disebutkan, proyek ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi minyak sawit yang sering disebut-sebut sebagai penyebab kerusakan hutan. Salah seorang anggota tim, Mushab Nursantio mengatakan setelah menang lomba mereka melakukan pengembangan bisnis di Eropa dalam satu tahun terakhir dan telah ada enam perusahaan di Eropa yang siap bekerja sama.

Apakah Halal?
Dikutip dari BBC, ini dia yang paling banyak menjadi pertanyaan dari masyarakat: apakah minyak itu tergolong haram atau halal. Soal halal dan haram itulah sebagian dari sekitar 1.200 komentar terkait minyak yang dikembangkan tim mahasiswa Brawijaya, Malang, melalui Facebook BBC Indonesia.

Menjawab pertanyaan ini, Mushab mengatakan, "Serangga secara umum halal, dan tak perlu disembelih...ada contoh perwarna makanan warna merah alami dan bahan bakunya serangga sudah dinyatakan halal."

BBC Indonesia juga bertanya kepada Arwani Faishal, anggota komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan untuk menentukan halal tidaknya "diperlukan fatwa MUI karena serangga jenisnya banyak sekali... dan perlu diteliti apakah ada darah mengalir (dari ulat saat akan diproses)." Arwani juga mengatakan semut dan laron serta kutu kasur sudah dipastikan halal.

Ulat Jerman ini dikembangkan dari jenis kumbang mealworm dengan daur hidup cepat dan hanya perlu sekitar tiga puluh hari.

Bagaimana kandungan nutrisinya?
Menurut penelitian tim, minyak dari ulat Jerman ini kandungan lemaknya jauh lebih sehat karena lemaknya rendah dan mengandung omega tiga tinggi, juga rendah kolesterol. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Nur Hidayat mengatakan, seperti dikutip dalam blog BiteBack di TFF, bahwa minyak ini memiliki kandungan tinggi asam lemak Polyunsaturated Fatty sehingga cocok untuk konsumsi minyak. "Produk ini juga merupakan solusi alternatif minyak masak yang berkelanjutan," tambahnya.

Prospek Bisnisnya?
Mushab mengatakan karena pengembangan ulat Jerman sangat murah, budidaya ini "membuka peluang bagi masyarakat menengah yang ingin berwira usaha dengan modal dan risiko yang rendah."

"Serangga ini sangat potensi yang besar bagi masyarakat yang misalnya tak punya lahan untuk berbinis. Dan bisa pakai untuk pakai ruang di rumah masing-masing...dengan satu kamar kosong (untuk mengembangkan kumbang) untuk dapat penghasilan tambahan misalnya."

"Budidaya ini juga sangat efisein, satu kumpang bisa menghasilkan 500 telur dan bisa jadi ulat tiap dua minggu...untuk pakan dikasih limbah organik dari pasar atau limbah industri sereal dari limbah penggilingan gandum," tambahnya.

"Untuk modalnya kira-kira tiap bulan, sekitar 500 kumbang, kurang dari Rp100.000 tapi bisa dijual antara Rp300.000 sampai Rp500.000," tambah Mushab.

Sumber: 
BBC [http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-41602634]
Goodnewsfromindonesia.id [https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/10/13/baru-minyak-goreng-dari-ulat-jerman-boleh-jadi-inovasi-masa-depan]
loading...