Friday, February 27, 2015

[Posting ke-1000]: Teruslah Menulis... Karena Menulis Itu Ibadah

loading...
Admin merasa sangat berbahagia, karena tanpa disadari postingan kali ini merupakan tulisan ke 1000 dalam blog komunitas sederhana ini.

Sebenarnya, kalau dirunut sejak awal kelahiran blog ini, sebenarnya tulisan kali ini bukan tulisan ke-1000, sebab blog ini dahulunya menggunakan platform wordpress yang kemudian mengalami masalah teknis sehingga harus ditutup dan admin kehilangan banyak tulisan yang belum sempat diselamatkan.

Tapi tidak mengapa, yang namanya menulis tidak ada habisnya. Seorang budayawan Arab pernah mengatakan bahwa sebagaimana angka tiada akhirnya, tulisan dan kata pun tiada ujungnya. Admin kembali bermuhasabah dan instropeksi sebelum melangkah lebih jauh, apa-apa yang perlu diperbaiki untuk di masa mendatang.

Yang jelas, admin akan terus mengingat kata-kata seorang ulama Islam bernama Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya berjudul 'Shaidul Khatir', beliau mengingatkan agar kita selalu menuliskan ide atau apa pun yang terlintas di fikiran kita sebelum ide tersebut hilang dimakan lupa.

Menulis sebagai ibadah
Dalam sebuah blog, admin pernah membaca bahwa menulis dapat menjadi sesuatu yang bernilai ibadah, asalkan tulisan tersebut berorientasi pada kebaikan. Ketika hal ini disadari dengaan penuh pemaknaan, maka siapa pun akan merasa bahwa aktifitas menulis akan menjadi suatu kenikmatan tersendiri yang bahkan akan membuat para penulis semakin termotivasi untuk menulis.

Disamping itu, menulis merupakan pekerjaan yang sangat mulia karena ia mengambil peran tabligh sebagai sarana dakwah bil qalam (atau dakwah bil-keyboard) di masa sekarang.

Hal ini tentu saja disertai dengan kesadaran akan kewajiban untuk senantiasa menjaga etika ketiak membuat sebuah tulisan, agar sebuah tulisan bernilai ibadah/pahala disisi Allah maka tulisan itu harus mengandung nilai kebenaran dalam penyampaiannya.

Dalam penggalan sejarah Islam, kita dapat mengetahui bahwa aktifitas menulis memiliki peran yang sangat urgen dalam sejarah kejayaan umat Islam beberapa abad silam. Semua ulama yang menjadi arsitek peradaban dan kejayaan Islam masa lalu adalah para penulis ulung yang telah menghasilkan berbagai buah karya mereka yang sampai saat ini masih menjadi rujukan umat Islam sedunia dalam berbagai disiplin keilmuan.

Dalam sejarah Islam, akan kita dapati pakar-pakar keilmauan mayoritas adalah para ulama. Kedokteran, geografi, oftik, kartografi, farmasi, kimia, astronomi, matematika, dan yang lainnya.

Patut untuk dibanggakan, ketika Eropa di abad pertengahan berada di masa kegelapab, ternyata umat Islam pada waktu bersaaan memiliki puluhan tokoh yang memiliki multiple intelligence. Sebagai contoh, kejeniusan Ibnu Sina dibidang kedokteran menghasilkan karya menumental Al-Qanun Fi Ath-Thibbi, Asy-Syifa dan yang lainnya. Ibnu Rusyd yang faham dengan sangat baik filsafat Yunani, sehingga mampu memberikan koreksi dan catatan kaki atas kekeliruan yang ada didalam buku mereka ternyata juga seorang faqih yang dari tangannya lahir Bidayah-Al-Mujtahid, sebuah rujukan perbandingan madzhab dalam ilmu fiqih yang sampai sekarang tetap diperhitungkan. Belum lagi Al-Khawarizmi pencipta Al-Jabar (ilmu ukur/Matematika) yang fenomenal, Al-Haitsam Bapak ”optik” sekaligus penemu Kamera Analog. Al-Idrisi bapak kartografi dari pulau Sisilia. Al-Biruni, Ibnu Khaldun, dan tokoh-tokoh Islam lainnya.

Galileo yang terkenal dengan teleskopnya ternyata kalah awal oleh ulama-ulama di Baghdad yang telah lebih dahulu menciptakan observatorium untuk mengamati pergerakan dan fenomena bintang- bintang. Al-kohol, al-kalin, sinus, kosinus, tangent, azimuth, natir dan istilah-istilah lain dalam berbagai disiplin ilmu lahir dari rahim keilmuan kaum muslimin. Begitu pula dibidang Fiqih, Hadits, Tafsir, Ilmu Kalam, dan sebagainya. Semua itu hadir karena mereka memegang teguh tradisi keilmuan, yaitu menulis disamping tradisi membaca pada sisi yang lain.

Dan berbagai kemunduran umat Islam dewasa ini bisa dipastikan karena tradisi menulis setelah membaca yang pernah dipopulerkan oleh para ulama masa lalu telah ditinggalkan. Umat Islam malas ”membaca dan menulis”. Melalui tulisan diyakini peradaban impian akan bisa diraih. Melalui tulisan fakta mengatakan sebuah kemajuan akan bisa dicapai. Melalui tulisan jelas kebenaran akan mudah tersampaikan.

Sampai disini, kita bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya kekuatan sebuah tulisan. Ia bisa menjadi senjata melawan kezaliman ketika meriam telah dihancurkan, ketika senapan dan mesiu telah tenggelam dalam lautan.

Di akhir tulisan ini, penulis mencoba untuk melakukan self-critical, bahwa tujuan blog ini adalah untuk berbagai hal-hal yang baik yang akan membawa kebaikan bagi semua. Admin akan selalu mengingat apa yang pernah dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib ra:

Semua penulis akan meninggal
Hanya tulisannya lah yang akan kekal
Maka tulislah olehmu sesuatu
Yang akan membuatmu bahagia kelak
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih