Thursday, February 12, 2015

Burung Punai Dalam Tradisi Melayu

loading...
Pantun orang-orang dahulu mengatakan:

Tebang penak tebang meranti
Tebang pulau condong ke jalan
Di mana semak di situ menanti
Bagai punai rindu sekawan

Pantun di atas bermakna kias tentang seseorang yang jatuh hati pada kekasihnya, sehingga di mana ada kesempatan ia melihat sang pujaan, ia hadir di sana untuk sekedar bisa menatap wajahnya.

Kerinduannya diibaratkan pada punai yang rindu memiliki pasangan. Ada juga pantun sebagai berikut:

Dari mana punai melayang
Dari paya turun ke padi
Dari mana datangnya sayang
Dari mata turun ke hati

Ada pula sebuah kias pepatah yang cukup populer:

Harapkan burung terbang tinggi, punai di tangan di lepaskan

Artinya: karena berharap sesuatu yang lebih besar, seseorang melepas sesuatu yang berharga yang jelas-jelas berada di tangannya, padahal harapan yang ia damba itu belum tentu bisa jadi kenyataan.

Memang, burung punai sejak dahulu kala sudah akrab dalam tradisi melayu dalam berbagai aspek, baik tradisi lisan dan lain sebagainya. Amat banyak pantun dan pepatah melayu menghadirkan nama punai dalam sampiran maupun kiasan.

Secara zoologis, punai adalah burung berukuran sedang hingga besar dari keluarga Columbidae dan bersaudara dekat dengan merpati. Punai termasuk burung arboreal yang beraktifitas di atas pokok atau pepohonan. Punai terbiasa memakan buah-buahan.

Genus burung punai setidaknya terdiri dari 23 spesies, yang terkenal di antaranya adalah 'punai daun', 'punai tanah' dan lain sebagainya. Punai biasa hidup berkelompok dalam jumlah besar.

Menangkap burung punai
Sejak dulu, orang melayu terbiasa menangkap burung punai, baik untuk dipelihara maupun untuk dikonsumsi.

Dengan ukurannya yang cukup besar, daging punai biasa diolah menjadi berbagai masakan, seperti gulai punai, masak kari, goreng dan lain sebagainya.

Kebiasaan punai yang suka hidup secara komunal dan berkelompok memancing orang untuk menangkapnya.

Ada beberapa cara menangkap punai:

1. Dengan pemikat
Yaitu dengan memakai umpan berupa burung punai lain. Burung pemikat ini biasanya dimasukkan dalam sebuah sangkar dengan desain khusus, lalu datanglah punai lain masuk ke sangkar tersebut dan tidak bisa keluar lagi.

Dalam novel 'Padang Bulan', Andrea Hirata menulis bahwa berpuluh ekor punai dapat ditangkap melalui umpan seekor burung punai lain yang disebut sebagai 'Pekatik'.

2. Dengan pelekat
Punai suka bergerombolan dan tidur malam bersama-sama di sebuah pohon. Pohon tersebut kemudian ditandai, dan diberi perekat berupa getah yang biasanya diambil dari pohon tarap (tarok).

Ketika para punai hinggap di pohon tersebut, kaki atau bulu mereka melekat sehingga tidak bisa terbang lagi. Bila cara ini sukses, biasanya dapat menangkap punai puluhan ekor dalam satu malam.

3. Dengan jala
Cara lain adalah dengan jala ikan. Ini dilakukan pada pepohonan yang cukup rendah. Jala ditebar dengan teknik tertentu sehingga para punai terperangkap di dalamnya.

4. Dengan ditembak
Baik dengan ketapel, senapan angin ataupun alat lainnya.

Punai burung salah nama
Terkadang, punai disebut juga sebagai burung salah nama. Mengapa demikian? Sebab, nama 'punai' juga dipakai untuk mengganti sebutan 'kemaluan laki-laki' dalam percakapan sehari-hari.

Orang marah lalu berkata kotor dengan menyebut kemaluan, maka ia menyebut burung punai sebagai majasnya. Oleh karena itulah, orang menyebut punai sebagai burung salah nama.
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih