Friday, January 16, 2015

Kisah dari Palembang... Ketika Ibuku Ditegur...

loading...
Kisah ini diceritakan oleh seseorang Sumatera Selatan. Kisah ini sangat inspiratif dan menggugah keimanan kita:

Kejadian ini terjadi pada Ibuku sendiri. Semoga dapat diambil hikmahnya. Ibuku memiliki sejumlah suku emas (suku adalah satuan berat emas di Palembang), yang diperkirakan total setara dengan Rp. 60 jutaan.

Emas-emas ini berupa perhiasan kalung, gelang dan anting yang disimpan ibuku di laci almari. Setiap kondangan atau hajatan lainnya ibuku selalu mengenakannya. Jujur, aku selalu tidak menyukai ketika melihat ibu mengenakan perhiasan-perhiasan itu.

Dua tahun lalu aku wisuda. Bapak ibu dan kakak-kakakku akan datang untuk menghadiri acara wisuda. Dengan semua persiapan sudah dilakukan, service mobil, mengunci semua pintu, menggembok pagar, sampai menitipkan kepada tetangga bila terjadi apa-apa. Kunci rumah pun sudah dititipkan ke pamanku agar ia sesekali mengecek rumah.

Lima hari sebelum acara wisuda, berangkatlah keluargaku dari Kota Palembang ke Yogyakarta dengan perjalanan darat. Semuanya berjalan lancar. Di sini aku pun sudah booking 2 kamar motel untuk 3 hari. Acara wisudaku berjalan dengan lancar, alhamdulillah.

Wajah kebanggaan atas wisudaku nampak jelas di wajah bapakku. Tak tertahankan pula menetes air mata ibuku. Keharuan ibuku masih tampak setiap kulihat foto kenangan wisuda, dimana mata ibuku masih terlihat sembab. Kakakku memelukku hangat selepas aku keluar dari gedung tempat acara wisuda. Hari yang begitu menggembirakan bagiku.

Ketika malam selepas isya, kami sekeluarga duduk-duduk santai di aula motel, tiba-tiba handphone bapakku berdering. Bapakku agak menjauh dari kami. Kami mengira telpon itu dari kantor (mengenai pekerjaan). Setelah menutup panggilan itu bapak mengajak untuk kembali ke kamar untuk beristirahat. Aku dan kakak-kakakku masih bercengkrama di kamar, sebelum akhirnya aku pulang ke kos.

Paginya aku kembali lagi ke motel, agar supaya bisa ikut sarapan bersama. Semua berjalan seperti biasa, aku memesan nasi goreng saat itu. Di tengah-tengah sarapan secara mengejutkan bapakku mengatakan bahwa rumah kita kebobolan maling. Kejadiannya adalah malam, sehari setelah keberangkatan. Dan ibu berkata dengan penuh penyesalan,

iyo nang, memang salah ibu nian” (Iya nak memang ini karena salah ibu). Suasan hening sejenak saat itu. Kemudian bapak melanjukan cerita.

Bapak memperkirakan bahwa maling ini orang satu kampung, yang sudah tahu rencana keberangkatan keluarga kami. Tidak diketahui berapa orang maling itu. Lanjut bapak, maling masuk lewat atap membobol genteng dan plafon tepat di atas kamar tidur bapak-ibukku.

Ternyata telpon tadi malam itu adalah telpon dari pamanku yang mendapat kabar dari tetangga. Tetangga melihat genteng rumah bolong sekitar 7 genteng. Waktu itu sedang musim hujan dan takut isi rumah kebanjiran, karenanya tetanggaku menelpon pamanku yang kemudian pamanku mengecek rumah. Terkejut pamanku ketika membuka kamar bapak-ibukku yang sudah berantakan bak kapal pecah dengan atap yang bolong.

Laci-laci meja kerja bapakku sudah terbuka berantakan, tidak luput pula pakaian-pakaian berhamburan di semua tempat. Laci tengah lemari sudah terbuka, perhiasan-perhiasan yang disimpan ibu di sana pun telah raib. Namun anehnya hanya perhiasan ibu saja yang digondol maling. Hanya kamar bapak-ibu yang berantakan, semua barang di ruangan lainnya masih ada seperti semula. Padahal, tepat di bawah laci itu ada kabin susunan pakaian. Dimana di bagian bawah susunan pakaian itu ada beberapa amplop berisi 90 juta-an. Susunan pakaian dan amplop-amplop itu seolah tidak tersentuh oleh maling. Tidak ada satu amplop-pun yang hilang. Uang di amplop-amplop itu rencananya oleh ayahku digunakan untuk membayar pembelian tanah, cicilan mobil dan pajak bumi dan bangunan.

Setelah selesai sarapan, aku diajak bapakku pergi membeli oleh-oleh khas Jogja mengenakan sepeda motor. Ibu dan kakak-kakakku tinggal di motel. Di perjalanan bapak berkata,

Ibu kau sudah tigo taon belum ngeluarke zakat. Padahal setiap haul sudah kuingetke. Katonyo lupo-lupo terus. Dak taulah mungkin ini kendak Allah nak negur ibu kau”. (Sudah tiga tahun ibumu belum mengeluarkan zakat emas-emasnya. Setiap haul bapak selalu mengingatkan, tapi ibu belum juga membayar. Katanya lupa-lupa terus. Entahlah mungkin ini sudah kehendak Allah menegur ibumu).

2,5 % zakat lebih baik dari perhiasan, motor, mobil, rumah yang kita beli bahkan dari semua harta yang ada di dunia. Janganlah pula kita akal-akali supaya harta itu tidak pernah mencapai nisabnya dalam satu haul. Bayarlah sebelum diambil paksa oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saudaraku, bertakwalah kepada Allah, ada hak orang lain di harta kita.

[Sumber: http://bersamadakwah.net/2015/01/kisah-nyata-ibuku-ditegur-allah/]
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih