Thursday, January 22, 2015

Ketika Bilal Menangis...

loading...
Dalam suatu riwayat dikisahkan, bahwa setelah Rasulullah Saw wafat menghadap Allah, suatu hari Bilal bin Rabah, sahabat Rasulullah Saw yang mulia bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW.

Dalam mimpi itu, beliau melihat Rasulullah Saw mendatanginya dan berkata:

"Mengapa engkau terlihat bersikap hambar wahai Bial? Apakah engkau tidak ingin mengunjungi kami?".

Syahdan, setelah  Bilal terbangun dari mimpinya itu, ia langsung menaiki untanya menuju kota Madinah. Berminggu-minggu lamanya ia baru sampai ke Madinah. Hingga ketika waktu subuh menjelang, barulah ia sampai ke kota tersebut.

Bertepatan pula waktu itu sang mu'azzin agak lambat mengumandangkan azan, maka Bilal pun langsung menuju Masjid Nabawi dan naik ke menara untuk mengumandangkan azan.

Beliau pun mulai mengumandangkan azam... sayup-sayup terdengar se anteo kota...

الله أكبر...ألله أكبر
الله أكبر...ألله أكبر
أشهد أن لاإله إلا الله
...أشهد أن لاإله إلا الله


Kemudian suara itu terhenti...
Para sahabat yang tinggal di Madinah terkejut. Mereka mengenal suara itu...  mereka yang pernah mendengar azan itu di zaman Nabi bangun dari tidur mereka dan menangis. Mereka bertanya-tanya..

“Apakah Rasulullah telah dibangkitkan kembali?". Tanya mereka satu sama lain.

Lamat-lamat terdengar kembali suara kumandang...

 أشهد أن محمد رسول الله

Ketika sampai pada kalimat itu, Bilal tak sanggup lagi meneruskan kumandangnya. Beliau terdiam lama, lalu menangis sekeras-kerasnya.

Khalifah Umar bin Khattan yang turut mendengar suara itu pun naik menyusul ke atas menara dan bertanya:

“Bilal…mengapa engkau menangis?”

“Bagaimana aku tak menangis wahai Umar. Ketika aku mengucapkan  أشهد أن محمد رسول الله... aku seakan melihat Rasulullah SAW keluar dari rumah beliau memasuki masjid untuk mengimami kita semua wahai Umar. Aku tak sanggup wahai Umar…”. Begitu jawab Bilal...

Dalam  sebuah riwayat dikatakan bahwa azan itupun kemudian diteruskan oleh mu'azzin lain.

***

Demikianlah gambaran cinta sang muazzin Bilal bin Rabah kepada Rasulullah SAW.

Cinta itu pula lah yang membuat Abu Bakar RA rela kakinya digigit ular saat menemani Nabi di gua Tsur sewaktu hijrah. Air matanya menetes menahan sakit dan jatuh ke pipi Rasulullah SAW.

Rasulullah pun terbangun dari tidurnya. “Wahai Abu Bakar, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini?” tanya Rasulullah.

“Tentu saja tidak ya Rasulullah, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun” potong Abu Bakar masih dalam kesakitan.

“Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?”

“Seekor ular, baru saja menggigit saya, wahai putra Abdullah, dan bisanya menjalar begitu cepat”. jawab Abu Bakar.

Rasulullah menatap Abu Bakar penuh keheranan, tak seberapa lama bibir manisnya bergerak

“Mengapa engkau tidak menghindarinya?”.

“Saya khawatir membangunkan engkau dari lelap, ya Rasulullah”. jawab Abu Bakar

Cinta itulah yang membuat Umar bin Khattab menyerahkan hampir lebih separuh dari hartanya dan ketika ditanya oleh Rasulullah, “Apa yang engkau tinggalkan bagi keluargamu wahai Umar?”

Ia menjawab, “aku tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasul Nya”.

Bagaimana dengan Kita?

Tentu saja kita semua akan menjawab dengan tegas, “Kami mencintaimu ya Rasulullah”.
Tapi, apakah jawaban yang sama akan kita dapatkan dari lisan beliau saat kita bertanya nanti,

“Apakah engkau mencintai kami ya Rasulullah?”.

Belum tentu jawaban beliau: “Aku mencintai kalian…” belum tentu…

Bisa jadi beliau malah mengatakan: “Bagaimana aku mencintaimu, sementara cintamu kepadaku hanya sebatas lisan saja…”

“Cintamu kepadaku hanya tiba ketika tiba bulan maulid”
“Cintamu kepadaku hanya ada saat hari Jumat datang”
“Kemana sunah-sunahku yang aku tinggalkan kepadamu?”
“Mengapa engkau diam saja, ketika namaku disebutkan? engkau pelit mengucapkan salawat kepadaku”
“Saat ajaran yang aku bawa dihina, dilecehkan, dipermainkan, kamu semua hanya diam saja.. tiada pedulimu”.
Maafkan kami ya Rasulullah...

loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih