Tuesday, January 28, 2014

Perjalanan Sejarah Surat-surat Kabar Melayu Beraksara Latin Pertama di Indonesia

loading...
Pertengahan abad ke-XVIII disinyalir sebagai masa awal terbitnya surat kabar di Hindia Belanda, namun umumnya surat-surat kabar yang terbit masa itu diterbitkan oleh orang-orang Belanda dan berbahasa Belanda.

Seiring dengan itu, beberapa waktu kemudian bermunculan pula surat-surat kabar yang diterbitkan dalam bahasa Melayu yang kebanyakan beraksara Arab Jawi, aksara Jawa ataupun campuran dengan aksara Latin.

Sedangkan surat kabar pertama di Hindia Belanda yang diterbitkan dalam bahasa Melayu dan murni beraksara Latin, serta memiliki redaksi orang pribumi asli dan diterbitkan oleh orang pribumi asli adalah surat kabar Warta Berita yang terbit pada tahun 1901.

Surat Kabar Tertua di Sumatera
Menurut berbagai catatan, surat kabar tertua di Sumatera adalah Sumatera Courant yang didirikan pada tahun 1859 di kota Padang, Sumatera Barat. Mula-mula koran ini berukuran kecil, terbit hanya beberapa kali dalam seminggu. Pendirinya seorang Indo terkenal sekali di Padang pada abad 19, bernama L.N.H.A. Chatelin yang sekaligus juga menjadi pemimpin redaksinya.

Entah apa sebabnya, perusahaan tersebut dijual ke tangan seorang Indo terkenal bernama H.A. Mess, walaupun Chatelin tetap sebagai pimpinan redaksi. Tahun 1878 koran ini telah terbit tiap dua hari sekali, tetapi nama Chatelin tidak disebut-sebut lagi.

Hampir bersamaan waktunya, terbit pula di Padang surat kabar tertua nomor dua yaitu Padangsche Nieuws en Advertentieblad oleh R.H. Van Wijk Rz. Edisi perdananya muncul tanggal 17 Desember 1859, seterusnya terbit tiap Sabtu.

Koran tertua nomor tiga ialah Padangsche Handelsblad, mulai terbit tahun 1871 oleh sebuah perusahaan milik seorang Indo bernama H.J. Klitsch & Co. Mula-mula terbit hanya dua kali seminggu, tapi semenjak 1881 meningkat menjadi tiga kali. Semenjak tahun itu pula nama penerbitnya seperti tercantum di koran itu sendiri, menjadi Klitsch & Holtzapffel. Redaksinya dipimpin oleh seorang yang tak asing lagi di Padang, yaitu Mr. J. van Bosse, pengacara terkenal. Tahun 1883 nama koran ini diganti menjadi Nieuw Padangsche Handelsblad.

Koran tertua nomor empat adalah De Padanger yang mulai terbit pada awal Januari 1900. De Padanger merupakan hasil merger antara Sumatera Courant dengan Nieuw Padangsche Handelsblad setelah perusahaan penerbitannya diambil alih oleh J. van Bosse. Sejak saat itu De Padanger terbit setiap hari.

Kedua surat kabar tadi menguasai opini umum selama paruh kedua abad yang lalu. Mereka sering cakar-cakaran. Walaupun menentang keras segala upaya pemerintah memajukan pendidikan modern bagi anak-anak pribumi dan pada umumnya sering mengejek bangsa pribumi, namun harus diakui bahwa tidak sedikit tulisan mereka menghantam secara keras politik Belanda. Yang paling banyak dikritik ialah keserakahan bangsa Belanda, tetapi kritik mereka bukan disebabkan mereka bersimpati pada perjuangan kaum pribumi, tetapi lebih pada karena kepentingan mereka yang semakin terdesak bahkan dengan semakin banyaknya pergerakan kemerdekaan dari pribumi semakin keras mereka menentang perjuangan kemerdekaan karena mereka menganggap orang Indo [Belanda] lebih tinggi dari bangsa Indonesia. Pada perang dunia kedua, banyak sekali dari kaum Indo ini mendukung kaum Fasis.

Bersamaan dengan mergernya Sumatera Courant dan Nieuw Padangsche Handelsblad menjadi De Padanger sejak awal Januari 1900, kedua usaha penerbitan juga disatukan dengan nama baru: "N.V. Snelpersdrukkerij Insulinde’" berkantor di Pondok. Saingan mereka ialah koran Sumatera Bode yang telah terbit pada tahun 1892 oleh Karl Baumer. Keluarga Baumer merupakan pengusaha suskes di kota Padang pada awal abad ke 19.

Koran Berbahasa Melayu
Koran berbahasa Melayu tercatat terbit pertama pada tahun 1877 di Padang dengan namanya Bentara Melayu, berukuran kecil dan terbit tiap hari Selasa sejak Juni 1877, dipimpin oleh seorang Indo bernama Arnold Snackey. Ibunya adalah anak Datuk Mudo, salah seorang penghulu di Air Bangis. Tidak lama terbitnya, pada akhir tahun 1877 sudah tak terbit lagi.

Tetapi ini mudah dimengerti. Menerbitkan koran dalam bahasa Melayu sedangkan orang Melayu sendiri waktu itu belum banyak bisa membaca tulisan Latin, memang sulit. Orang Belanda sendiri pasti tidak mau berlangganan, apalagi bicara tentang pemasangan iklan.

Rupa-rupanya Snackey telah membicarakan terlebih dahulu dengan pihak gereja untuk bertindak sebagai sponsor. Kalangan gereja ini melihat banyak keuntungan akan bisa dicapai melalui sebuah penerbitan. Mungkin sekali modal pertama didapatnya dari pihak gereja. Menurut sebuah artikel dalam salah satu koran waktu itu timbul percekcokan antara Snackey dan sponsornya hingga Bentara Melayu distop penerbitannya sesudah hidup hanya selama setengah tahun.

Dalam buku "Sejarah Pers Indonesia" karangan Abdurrachman Surjomihardjo disebut bahwa surat kabar yang tertua berbahasa Melayu adalah Bintang Pertama yang disebutkan terbit di kota Padang tahun 1871. Tetapi kebenarannnya sulit ditelusuri selain karena tidak ada satupun eksemplar yang tersisa, surat-surat kabar lain di kota Padang tidak pernah menyebut apapun tentang keberadaannya padahal biasanya surat kabar waktu itu sering sekali menyerang artikel-artikel atau paling sedikit memberi komentar pada surat kabar yang lain.

Bentara Melayu, Pelita Kecil, Warta Berita dan lain-lain pada saat ini tidak dapat dilihat contohnya. Tetapi kita tahu bahwa koran-koran itu memang pernah terbit berkat surat kabar lain yang menulis. Oleh karena itu agak diragukan apakah Bintang Pertama itu betul-betul pernah terbit di Padang, kira-kira 6 tahun sebelum Bentara Melayu atau mungkin hanya salah cetak dan tidak di kota Padang, tetapi di tempat lain.

Sebuah lagi surat kabar tua berbahasa Melayu, di bawah pimpinan pribumi asli walaupun masih diterbitkan oleh seorang Belanda, ialah Pelita Kecil terbit untuk pertama kalinya tanggal 1 Februari 1886. Pemimpinnya Mahyuddin Datuk Sutan Marajo. Penerbitnya (H.A. Mess) ialah pemimpin umum harian Sumatera Courant.

Kelompok Sumatera Courant tadi, tahun 1892 menerbitkan lagi surat kabar berbahasa Melayu yaitu Pertja Barat di bawah pimpinan Ja Endar Muda. Awal abad ini Ja Endar Muda pernah pula memimpin koran berbahasa Batak, Tapian na Uli yang diterbitkan oleh penerbit yang sama. Di samping itu Ja Endar Muda juga memimpin surat kabar berbahasa Belanda yaitu Sumatera Nieuwsblad pada tahun 1904. Ja Endar Muda aktif dalam bidang penerbitan antara lain: Editor Padang’s Insulinde, sebuah buku pelajaran bulanan berbahasa Melayu untuk para guru, duduk dalam dewan editor surat kabar Alam Minangkabau, di Medan ia juga menerbitkan Pewarta Deli.
Sayang, kedua penerbitan ini tidak bertahan lama.

Harian Sumatra Bode yang dipimpinan Paul Baumer tahun 1897 juga menerbitkan koran berbahasa Melayu, yaitu Tjaja Sumatra, pada permulaan pimpinan redaksi dipegang oleh Lim Soen Lin dan terus terbit hingga Jepang datang menyerbu ke Sumetara.

Koran Pribumi Pertama
Pada tahun 1901, Datuk Sutan Marajo bersama adiknya bernama Baharudin Sutan Rajo nan Gadang menerbitkan dan memimpin sendiri sebuah surat kabar yang diberinya nama Warta Berita yang merupakan surat kabar pertama di Indonesia yang berbahasa Melayu dengan huruf Latin, redaktur dan pemiliknya adalah orang pribumi asli.

Modal pertama didapat dari seorang pedagang terkenal di Padang waktu itu, Abdul Manan Sutan Marajo. Koran ini dicetak secara sederhana di daerah Pasar Mudik. Pemimpin redaksinya Datuk Sutan Marajo yang juga pernah menjadi jaksa sebentar di Pariaman. Datuk Sutan Marajo terkenal sebagai seorang otodidak dengan pena cukup tajam terutama sewaktu dia memimpin Utusan Melayu. Dia sangat ahli dalam modernisasi yang dibawa Belanda terhadap kaum ortodoks apalagi yang menamakan diri "kaum bangsawan". Mahyudin Datuk Sutan Marajo lahir kira-kira tahun 1858 di Sulit Air, meninggal dan dikebumikan di Padang bulan Juni 1921.

Sayangnya, Warta Berita yang tercatat sebagai surat kabar tertua ini umurnya tidak begitu panjang, hanya kurang dari 10 tahun, koran ini kemudian berhenti diterbitkan.

Sebagai catata, Datuk Sutan Marajo pernah dihukum denda 100 Gulden atau kurungan 15 hari karena tulisannya pada tanggal 23 Februari 1892 mengenai nasib rakyat kecil dan karena sebuah tulisannya tentang Aceh, namun untuk yang terakhir ini Datuk Sutan Marajo divonis bebas. Abas Sutan Mantari dari Bukti Tinggi juga pernah mengalami hal serupa karena tulisannya tanggal 26 Desember 1890 yang dianggap menghina seorang kontrolir di Kabupaten Agam.

Koran Melayu lain di Indonesia
Sebelum Arnold Snackey mengeluarkan Bentara Melayu yang berbahasa Melayu dan murni beraksara Latin pada tahun 1877, di Hindia Belanda sudah atau pernah terbit tujuh buah surat kabar berbahasa Melayu dengan huruf Latin yaitu enam di Pulau Jawa dan satu di Manado. Tetapi tidak satupun yang dipimpin oleh pribumi, apalagi menjadi penerbitnya.

Malahan kedua surat kabar yang terbit di Solo dan berbahasa Jawa, Bromartani dan Juru Martani, bukan diterbitkan oleh pribumi.

Salah satu surat kabar tertua yang berbahasa Melayu terbit di Surabaya, yakni Bintang Timur semenjak 1862. Koran ini terbit satu kali seminggu dipimpin oleh seorang penerjemah resmi waktu itu, bernama Van den Berg. Akhir tahun 1860-an kabarnya ada pula sebuah surat kabar lagi di Surabaya dalam bahasa Indonesia, diterbitkan oleh E. Fuhri & Co. Tetapi sayang, tidak ada keterangan lebih banyak.

Lange, seorang Indo, pada tahun 1858 menerbitkan Soerat Khabar Batawi. Tetapi masih berupa campuran huruf Arab, separo Latin. Surat kabar ini terbit tiap hari Sabtu dan hanya sanggup bertahan selama tiga bulan saja dengan terbitan terakhir bernomor 26 Juli 1858.

Juga di Betawi pada tahun 1868 terbit surat kabar Bintang Barat, dipimpin seorang Indo bernama E.F. Wiggers dan dicetak oleh Ogilvie & Co dan mulai 1891 menjadi harian. Akhirnya masih ada satu lagi yang terbit berbahasa Indonesia dengan huruf Latin di Betawi, yaitu Hindia Nederland. Pemimpin redaksinya Indo asal Padang bernama L. Wollfe yang juga dibantu oleh istrinya dan diicetak oleh Van Dorp, terbit dua kali seminggu.

Di Semarang semenjak 1876, pihak gereja Protestan mengeluarkan Slompret Melayu yang terbit tiap Sabtu. Pemimpin redaksinya bernama W. Hoe-zoo, dicetak oleh Van Dorp. Koran lain yang juga diterbitkan golongan gereja ialah Bintang Johar di Betawi, sekali seminggu. Mungkin nomor perdananya muncul sekitar tahun 1870. Yang aneh ialah pemimpin surat kabar ini adalah seorang Inggris bernama Crawford, pria yang pernah berdiam di Singapura ini penuh kontroversi, dikabarkan bahwa selama Perang Aceh ia pernah mengusulkan agar Pemerintah Hindia Belanda melepas saja seribu tukang jagal asal Maluku ke sana supaya masalah cepat selesai.

Itulah keenam surat kabar di Pulau Jawa, bersamaan atau sedikit lebih dahulu dari Bentara Melayu asuhan Arnold Snackey di Padang. Di Sulawesi Utara, terdapat juga surat kabar tertua yang dikeluarkan golongan gereja, yakni Cahaya Siang yang terbit di Manado semenjak tahun 1869.

Bianglala di Betawi yang juga dicetak oleh Ogilvie & Co pada tahun 1870-an memang tua, tetapi lebih bersifat majalah dan terbit sekali 2 minggu.

Rentetan catatan sejarah di atas memberikan gambaran bahwa kota Padang pada bagian kedua abad XIX  memegang peranan penting dan kancah jurnalisitik nasional.

Ketiga penerbitan (Bentara Melayu, Pelita Kecil, dan Warta Berita) tidak terdapat di Perpustakaan Museum Nasional, Jakarta. Kedua koran di Betawi Hindia Nederland dan Bintang Barat sejak 1871 mempunyai wartawan mereka di Padang yang bernama Jamin Bandaro Sutan.

Koran Berbahasa Melayu di Belanda
Surat kabar berbahasa Melayu dan beraksara Latin tidak hanya terbit di Hindia Belanda, tetapi juga di negeri Belanda sendiri. Tercatat, pada tahun 1856 di Rotterdam terbit sebuah surat kabar dengan mana Bintang Utara dengan redaksi bernama Dr. P.P. Roorda van Eysinga. Meskipun isinya sulit dimengerti karena banyak bercampur dengan kosa kata Arab tetapi surat kabar ini paling sering memuat kisah-kisah dari Seribu Satu Malam.

Pada tahun 1890 di Amsterdam juga pernah terbit koran berbahasa Melayu dengan nama Pewarta Boemi dengan redaksi seorang mantan asisten residen Y. Strik yang waktu itu berprofesi sebagai guru bahasa Melayu di sekolah pertanian.

Pada tahun 1902 masih di Amsterdam terbit juga sebuah surat kabar dengan nama Bendera Wolanda yang kemudian diganti menjadi Bintang Hindia dengan penerbit bernama H.C.C. Clockener Brousson. Dua orang pelajar dari pribumi waktu itu duduk sebagai redaksinya yaitu A. Rivai dan R.A.A. Kusumo Yudo.

Letnan Clockener Brousson ini juga pernah memimpin surat kabar Soerat Chabar Soldadoe yang ditujukan khusus pada tentara Hindia Belanda keturunan Ambon yang sempat cukup populer dan akhirnya berhenti diterbitkan karena alasan yang tidak jelas. Clockener ini menurut surat kabar di Haarlem pada November 1902, mengubah agamanya menjadi Islam supaya dapat memperlancar urusannya di Indonesia.

Pada tahun 1877, di Singapura juga telah terbit tiga surat kabar berbahasa Melayu dengan tulisan Arab yaitu Wazir India yang juga diterbitkan di Batavia.

Kisah dan Jasa Arnold Snackey
Pada zamannya, Arnold Snackey merupakan satu-satunya orang di Padang yang berusaha keras menyelidiki dan mendalami sejarah dan kebudayaan Minangkabau. Sebelum dan sesudah dia menerbitkan Bentara Melayu, Arnold Snackey sering sekali menulis tentang bahasa, sejarah, dan kesusasteraan Minang. Antara lain dialah yang banyak menerjemahkan "kaba" yang begitu populer di antara rakyat.

Dia pula yang menerjemahkan "Permulaan Berdirinya Pohon" yang dianggap sejarah paling lengkap semenjak Belanda dengan VOC-nya sampai di Padang hingga zaman pendudukan Inggris. Dia juga banyak menulis sejarah bersumberkan cerita-cerita lisan, menampilkan syair dan pantun khas Minang seperti kisah Cindur Mato.

Snackey juga pernah menerjemahkan syair-syair Multatuli, dan dia benar-benar menguasai bahasa Melayu dengan baik. Arnold Snackey juga berjasa melalui wawancaranya dengan orang-orang tua waktu itu, mengungkapkan sedikit latar belakang hidup di Sumatera Barat, khususnya di kota Padang sejak awal abad ke-19. Begitu pula tentang orang-orang yang menjalankan peranan selama Perang Pidari [Paderi].

Selain itu, Arnold juga menerbitkan brosur kecil di Betawi tahun 1888, berjudul "Syair Sunur". Walaupun begitu, namanya tak pernah didengar, apalagi penghargaan atas semua karyanya. Mungkin ini disebabkan karena dia bukan pegawai pemerintah, mungkin pula karena dia tidak tergolong ahli sejarah.

Siapa pula yang mau memperhatikan seorang Indo walaupun sering menulis, di suatu tempat kecil di pantai barat Pulau Sumatera. Waktu itu, untuk mendapat pengakuan, orang harus mengadakan penyelidikan mendalam, mengarang buku-buku tebal, tidak sekedar menulis karangan-karangan di koran!

Namun jasa-jasanya bagi sejarah dan kebudayaan Minang, patut mendapat perhatian. Sebagai keluarga khas Indo di Padang yang menyandang nama Snackey, bertebaran dimana-mana menduduki tempat - tempat khas disediakan untuk kaum Indo.

Sejarah keluarga Arnold Snackey memiliki riwayat yang cukup banyak di Sumatera Barat. Seorang pria bernama A.A. Snackey yang pernah menjabat sebagai Panitera (Griffier) di kantor Pengadilan Batusangkar, ia kemudian pindah ke Balai Selasa pada tahun 1773. Seorang lagi, J.G Snackey mencapai pangkat cukup lumayan yakni Kepala Kantor dibawah Sekretaris Gubernur Sumatera Barat sekitar awal tahun dua puluhan. Dia memulai kariernya di kantor polisi Padang dan sekitarnya. Dan seorang lagi A.V. Snackey pernah komis di Painan, kemudian dipindahkan ke kantor Residen Padang Darek di Bukit Tinggi tahun 1887.

Dari berbagai sumber.

Referensi:
Rusli Amran, Sumatera Barat hingga Plakat Panjang, 1981, Cetakan Pertama, Penerbit Sinar Harapan

Rusli Amran, Padang Riwayatmu Dulu, 1988, Cetakan Kedua, Penerbit CV. Yasaguna.

Abdurrachman Surjomihardjo, Sejarah Pers Indonesia, Jakarta 1977.
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih