Tuesday, January 21, 2014

Adakah Raja Melayu di Kerajaan Chola Nadu?

Kata Sahibul Tarikh, dahulu kala di wilayah India Selatan terdapat satu kerajaan besar dan kuat bernama Kerajaan Chola. Dalam Epik Mahabaratha, kerajaan ini menjadi sebutan pengarang.

Bangsa Chola dipercaya memiliki hubungan dengan bangsa Siwi atau Sibi, bersama dengan Sindhu Sauwira. Dalam catatan sejarah, Kerajaan Chola tumbuh sebagai kerajaan yang besar. Angkatan perang mereka kuat di medan laut, dan suku bangsanya menghuni negara-negara di Asia Selatan.

Selain itu, Kerajaan Pandya, Chola dan Kerala juga muncul dalam susatra Tamil, dan merupakan salah satu kerajaan yang disebut dalam sastra Sanskerta (Ramayana, Mahabharata, Purana dan Veda).

Dikisahkan dalam dalam perang di Kurukshetra, kerajaan Chola memihak para Pandawa, bersama dengan kerajaan Randya dan Kerala, mereka memberikan pasukan dengan kekuatan dan jumlah yang besar.

Dalam catatan sejarah, ada satu hal menarik dalam perjalanan kerajaan ini. Menurut catatan, ada seorang raja Chola bernama Kulotungga. Hal ini menarik, sebab suffix 'tungga' itu pada umumnya meruapakan gelaran pada Raja-raja Srivijaya, dalam hal ini kita mengenal nama seperti Samaratungga, Sri Maravijayatungga atau Sangramavijayatungga.

Gelar 'tunga/tungga' memang asing dalam tradisi diraja Chola sebelum tahun 1070 Masehi. Asal-usul Kulothunga (Kulothunga Chola I) juga kabur dalam sejarah Chola dan trivianya.

Kulotungga naik takhta selepas kematian kontroversi Athirajendra Chola yang hanya sempat memerintah beberapa bulan saja.

Sebagaimana lazimnya sebuah dinasti, penerus kerajaan biasanya berasal dari anak keturunan sang raja. Namun dalam hal ini, Kulothunga sama sekali tidak memiliki kaitan keluarga dengan Athirajendra. Malah, kenaikan Kulotungga ke tahta Chola seakan 'mengakhiri' dinasti Chola Vijayalaya, yaitu raja Chola yang mengasaskan pemerintahan Chola setelah sekian lama menjadi negara bawahan antara Pandya dan Pallawa.

Lebih mengherankan, Sri Dewa, Kaisar Srivijaya, atau nama tempatannya Diwakara dilaporkan oleh laporan resemi imperial China sebagai 'pemerintah asing negeri Chola' pada tahun 1077 Masehi. Hal ini membuat sebagian ahli sejarah berkesimpulan bahwa Chola pada waktu itu sudah dikuasai oleh bangsa Melayu dari Sriwijaya.

Kematian dua orang raja sebelum Kulothunga secara misterius semakin menguatkan konklusi ini. Virarajendra Chola dilaporkan 'mati akibat peperangan', dan kematian Athirajendra Chola yang seperti disebut sebelum ini -hanya memerintah beberapa bulan- tidak diketahui sebab-musababnya. Sebagian berpendapat bahwa dia tewas di tangan Kulothunga yang menggantikannya itu.

Keterangan lain yang menguatkan hal ini adalah sebuah surat dari dinasti Song di Tiongkok yang menyatakan bahwa 'Chulien' [yakni Chola] adalah negeri bawahan Srivijaya pada tahun 1106 Masehi.

Pertanyaan penting lainnya, lantas siapakah sebenarnya insan misteri bernama Kulothunga ini?

Ada sesuatu yang disembunyikan dari sejarah Asia Tenggara. Banyak yang mengkritik bahwa selama ini, penulisan tentang sejarah Sriwijaya banyak yang sekedar ikut-ikutan.

Sejarah Sri Wijaya di Sri Lanka dan selatan India banyak direkam oleh riwayat-riwayat Sri Lanka. Hal ini kurang diketahui oleh para sejarawan di Asia Tenggara. Sejarah Raja Ligor dan keturunannya di Sri Lanka misalnya ada disebut dalam Mahavamsa, sebuah riwayat Sri Lanka yang terkenal.

Oleh karena banyaknya sejarahwan India yang menulis tentang Srivijaya, terutamanya Nilakanta Sastri, maka sejarawan-sejarawan melayu pun mengambil sumber dari mereka dan angguk-angguk geleng-geleng semua pandangan senget mereka. Dalam hal ini, tidak heran kemudian lahir kesimpulan yang mengatakan bahwa bangsa melayu berasal dari 'Negeri Keling' (Selatan India)!

Memang, ada adagium yang mengatakan bahwa 'sejarah ditulis oleh mereka yang menang', hal ini dapat dimaklumi. Tapi alangkah nestapanya jika yang terjadi adalah 'sejarah itu ditulis oleh mereka yang bodoh'...!
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih