Friday, March 20, 2015

Kisah Sa'id bin Muhafah: Mabrurnya Haji Tukang Sol Sepatu...

ِAlkisah, Syaikh Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al-Marwazi, seorang ulama terkemuka yang hidup di kota Mekkah menceritakan riwayat berikut ini:

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu rangkaian manasik haji, beliau beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Beliau pun mendengar percakapan mereka,

“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.

“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.

“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”

“Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.

“Apa?” ia menangis dalam mimpinya.

“Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.

“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni . Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”

“Kenapa bisa begitu”

“Itu Kehendak Allah”

“Siapa orang tersebut?”

“Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damaskus”

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun. Selesai melaksanakan manasik haji, beliau lantas tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus di negeri Syam.

Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya
Sa’id bin Muhafah.

“Ada, ia tinggal di pinggir kota” Jawab salah seorang sol seraya menunjukkan tempat tinggal orang dimaksud.

Tanpa menunggu waktu, beliau pun langsung berjalan ke tempat tersebut dan menemui tukang sepatu yang berpakaian lusuh.

“Benarkah engkau bernama Sa’id bin Muhafah?” Tanya beliau.

“Betul, siapa gerangan tuan?”

“Aku Abdullah bin Mubarak”

Said pun terharu, ia berkata:

"Oh, ternyata tuan adalah ulama terkenal itu? Alangkah bahagianya saya dengan kunjungan tuan. Ada apa gerangan sebab tuan datang ke rumah saya?”

Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya.

“Saya ingin tahu, adakah sesuatu amal yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”

“Wah, kalau itu saya sendiri tidak tahu!”

“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini.

Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.

“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar : Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika laka. Ya Allah, aku datang karena panggilanMu. Tiada sekutu bagiMu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyanMu dan
kekuasaanMu. Tiada sekutu bagiMu.

Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis. Ya allah aku rindu Mekkah... Ya Allah aku rindu melihat ka'bah..  Ijinkan aku datang….. ijinkan aku datang ya Allah..

Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.

Saya pun siap-siap menunaikan berhaji..."

Sejenak pria itu terdiam...

“Tapi anda batal berangkat haji” Tanya ulama tersebut.

“Benar”

“Apa yang terjadi?”

“Istri saya hamil, dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat. Ia bertanya: Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini? Aku menjawab: Ya... . Lalu istriku berkata: Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku”

Duhai tuan, demi mendengar istri yang yang hamil itu, saya pun mencari sumber bau masakan itu. dan ternyata berasal dari gubuk yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya. Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan

“Tidak boleh tuan, anda tidak boleh memakan masakan kami".

Aku bersikeras dan memohon: "dijual berapa pun akan saya beli.

Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil berlinang mata.

Akhirnya saya tanya kenapa? Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan” katanya.

Dalam hati saya: Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim? Karena itu saya mendesaknya lagi

“Kenapa?” “Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak. “Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan.” Namun bagi Tuan, daging ini haram. Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang. Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, Kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu “ Ini masakan untuk mu”

Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.

"Pakailah uang ini untukmu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”

Ya Allah……… di sinilah Haji-ku Ya Allah……… di sinilah Mekkah-ku...".

Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air mata. “Kalau begitu engkau memang patut mendapatkannya”
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih