Wednesday, March 11, 2015

Makan Rutin 3 Kali Sehari Tidak Baik Bagi Kesehatan....! [Penelitian]

Banyak orang mengamalkan pola makan rutin dalam jumlah tertentu, misalnya 3 kali dalam sehari. Pola ini menjadi kebiasaan banyak manusia di dunia, sehingga dikenal istilah sarapan (breakfast), makan siang (luch) dan makan malam (dinner).

Sejak dulu diyakini bahwa pola seperti ini akan membuat tubuh senantiasa sehat dan terhindar dari resiko penyakit.

Benarkah demikian? Ternyata hal ini dibantah oleh para peneliti mutakhir. Sekelompok peneliti kesehatan memperingatkan bahwa makan tiga kali sehari secara taat jadwal malah dapat membahayakan kesehatan.

Situs Mother Jones melaporkan, tidak ada bukti tiga kali makan dalam sehari bermanfaat untuk mengamankan kebutuhan energi tubuh.

Bahkan, dibandingkan secara ketat mengatur jadwal makan dalam sehari, melewatkan makan dan berpuasa justru lebih baik untuk menjaga kesehatan. Penelitian terbaru menunjukkan berpuasa justru bermanfaat bagi kesehatan, memicu penurunan berat badan, dan memperkuat sistem kekebalan tubuh, tulis situs Mail Online.

Sejumlah universitas pernah meneliti efek makan tiga kali sehari dan berpuasa bagi kesehatan. Sebuah studi oleh University of Bath menemukan seseorang yang melakukan sarapan membakar kalori lebih banyak daripada mereka yang melewatkannya. Pada akhir hari, konsumsi kalori bersih adalah sama.

Peneliti dari University of Alabama juga menemukan hal yang sama dalam penelitian mereka. Menurut tim ahli universitas ini, sarapan atau tidak, tidak  ada bedanya bagi mereka yang tengah melakukan program penurunan berat badan.

Dilansir dari Mail Online,  penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Metabolism menyimpulkan bahwa makan makanan setelah jeda delapan jam setiap hari dapat membantu menurunkan berat badan. Dalam penelitian itu, tikus yang diberi makanan tinggi lemak dalam jangka waktu delapan jam -- misalnya pada pukul 09.00 dan 17.00 -- ternyata menjadi lebih sehat dan lebih ramping ketimbang tikus yang terus menerus diberi makanan sepanjang hari.

Bahkan ketika tikus obesitas diberi makan setelah jeda sembilan jam, berat badannya terbukti turun hingga lima persen dalam beberapa hari, sementara jumlah kalori yang mereka konsumsi sama.  Â

Sedang University of Southern California dalam penelitian yang diterbitkan tahun lalu menemukan puasa selama dua sampai empat hari setiap enam bulan memaksa tubuh beralih pada mode bertahan hidup, yaitu dengan memanfaatkan cadangan lemak dan gula yang telah 'parkir' lama di dalam tubuh. Dampaknya, seluruh sistem kekebalan tubuh teregenerasi dan memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap infeksi dan penyakit.

"Ketika Anda kelaparan, sistem tubuh mencoba untuk menghemat energi, dan salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan mendaur ulang banyak sel-sel tubuh yang tidak diperlukan, terutama yang mungkin rusak," kata ketua tim peneliti, Valter Longo. Di sisi lain, tubuh kemudian mengirimkan sinyal memberitahu sel induk untuk menumbuhkan dan membangun kembali seluruh sistem.

Menurut sejarawan Abigail Carroll, makan tiga kali sehari adalah konstruksi budaya pemukim Eropa yang diberlakukan pada penduduk asli Amerika. Dalam buku barunya, Three Squares: The Invention of the American Meal, Carroll mengatakan para pemukim yang makan tiga kali sehari menganggap cara ini 'lebih beradab' ketimbang penduduk asli yang pola makannya bervariasi menyesuaikan musim, termasuk puasa. Kini bukti ilmiah justru menyodorkan hal sebaliknya, katanya.
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih