Wednesday, March 11, 2015

Masyarakat Jepang dan Surat Al-Ashr

loading...
Ada sebuah pertanyaan menggelitik dilontarkan seorang kawan: kalau mau berdakwah sama orang Jepang, kira-kira apa ya yang mau disampaikan?

Apa kira-kira respon orang Jepang ketika dikatakan kepada mereka: "Islam mengajarkan ummatnya agar tepat waktu, sebab Islam menghargai dan menghormati waktu, bahkan dalam al-Qur'an ada surah Al-Ashr".

Berdakwah kepada satu kaum yang bermasalah untuk menyelesaikan masalah mereka dengan Islam, mungkin akan jelas ujung pangkalnya. Namun, bagaimana hendak mengajak satu kaum yang begitu rapi cara hidupnya? Begaimana caranya berdakwah kepada penduduk sebuah negara yang begitu maju, bersih, dan tepat waktu seperti orang Jepang?

Pertanyaan provokatifnya: Apa mereka perlu kepada Islam? Dan jika perlu, untuk apa mereka perlu?Lebih provokatif lagi pertanyaannya sebagai berikut “jika tanpa Islam pun Jepang bisa maju, lantas untuk apa Islam bagi mereka?!”

Semua dunia sudah tahu bagaimana tepat waktunya orang Jepang! Itulah salah satu landmark budaya mereka yang tersohor ke seluruh dunia!

Tepat waktu merupakan suatu pencapaian yang sering dikaitkan dengan kemajuan suatu negara, termasuk Jepang. Amat banyak contoh bagaimana mereka begitu ketat dalam menghormati waktu.

Kita lihat salah satu contoh dalam sistem perkeretaapian Jepang. Ketepatan waktu bukan lagi dalam hitungan jam dan menit, tapi dalam hitungan detik! Catatan keterlambatan kereta api cepat Tokaido Shinkansen hanyalah 0.3 minit! (bayangkan, tidak pernah kereta ini terlambat melebihi angka tersebut!). Jika kereta api terlambat lima minit, maka pihak kereta api akan membuat pengumuman permohonan maaf! Bukan itu saja, perusahaan kereta api pun akan mengeluarkan “delay certificate” (遅延証明書) sebagai instropeksi bagi mereka! Begitulah Jepang!

Tragedi Kereta Api AMAGASAKI 2005
Ada cerita dari seorang anak muda bernama Ryūjirō Takami (23 tahun) yang bertugas sebagai pemandu kereta api. Sebagai pemandu, ia selalu dihantui oleh “Nikkin Kyoiku” atau “Latihan Siang!”. Program ini merupakan satu bentuk latihan profesional untuk mendisiplinkan pemandu keretapi dan pekerja-pekerja lain agar serius dalam menepati waktu.

Namun Latihan Siang itu mengandung risiko yang amat besar. Latihan ini diotengarai sebagai penyebab terjadinya tragedi berdarah keretapi Amagasaki pada pagi 25 April 2005. Sebuah kereta api yang dipandu melebihi batas laju yang telah ditetapkan menabrak sebuah apartment dan mengakibatkan kematian 107 orang termasuk pemandu, dan 562 orang lagi cidera.

Pagi itu, Ryūjirō Takami bertugas sebagai memandu kereta perusahaan JR Fukuchiyama dari Takarazuka ke Dōshisha-mae. Keretapi yang dipandu oleh Ryūjirō Takami mengalami keterlambatan beberapa minit.

Hari itu, ia tidak sanggup menghadapi tekanan dan rasa malu yang bakal dihadapinya di dalam Latihan Siang, ia tahu bahwa pemandu yang membuat keterlambatan akan dipaksa memotong rumput di siang hari, mencuci wastafel dan terus menerus dimarahi sehabisnya. Tertekan dengan keadaan itu, penyidik mengatakan bahwa Ryūjirō mengalami depresi yang begitu tinggi hingga ia jadi ragu-ragu untuk menggunakan atribut darurat walaupun masih mempunyai waktu beberapa detik untuk melakukan penyelamatan.


Akibatnya, kereta tanpa sadar dipandu dengan kecepatan 116 km per jam, padahal laju yang ditetapkan hanya 70 km per jam),  dan kereta tersebut tergelincir di landasan ketika melalui sebuah belokan lalu menabrak apartment yang berdekatan dengan stasiun.

Tragedi menyayat hati pagi ini membuat beberapa pihak meminta agar diadakan perombakan pada jadual kereta JR West yang terlalu padat. Selain itu, diminta pula agar pola “Nikkin Kyoiku” atau “Latihan Siang" dirombak total.

Lihat video ulasan Tragedi Amagasaki di bawah ini:


Pesan dalam Surah Al-Ashr
Allah bersumpah dengan masa. itu Tandanya masa itu amat penting. Ahli tafsir mengatakan bahwa segala sesuatu yang Allah Swt bersumpah deminya di dalam Al-Qur'an, maka itu menunjukkan hal tersebut adalah sesuatu yang penting!

Masa itu adalah umur. Waktu yang tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya akan menjadikan manusia hidup dalam kerugian. Satu detik yang berlalu, adalah lebih jauh dari pada 100 hari yang belum tiba.

Betapa pentingnya manusia menghargai kehidupan, sensitif dengan masa. Namun memuliakan masa itu ada rangkanya. Kita memuliakan masa karena memuliakan masa itu adalah ibadah kita kepada Allah, tanda keimanan kita kepada-Nya.

Ibadah-ibadah kita sangat banyak yang disandarkan kepada masa. Lima waktu solat, permulaan puasa dan berbuka, Ramadan dan Syawwal, haul untuk zakat, musim haji, dan amalan-amalan sunat yang disandarkan kepada masa-masa yang tertentu. Semua itu adalah pesan Islam agar ummatnya sensitiviti terhadap waktu dengan dorongan iman.

Waktu adalah bentuk pertanggung jawaban kita kepada Allah.
لا تسُبُّوا الدَّهرَ . فإنَّ اللهَ هو الدَّهرُ

Jangan kamu mencela masa, karena sesungguhnya Allah itu adalah masa!” [HR Muslim]

Artinya, masa itu secara eksklusif Allah yang mengendalikannya. Tanpa campur tangan makhluk. Panjangnya siang dan malam, cepat atau lewatnya perjalanan masa, semuanya dalam kekuasaan Allah dan kita sebagai manusia dipertanggungjawabkan dalam keadaan beriman dan beramal soleh, untuk mengatur hidup dalam ruang lingkup masa yang ada.

Manusia yang sukses, diberi bekal waktu 24 jam dalam sehari. Manusia yang gagal, juga diberi bekal waktu 24 jam sehari. Mereka yang berhasil, itu mereka yang memanfaatkan masa. Mereka yang gagal, itu mereka yang mensia-siakan masa.

Islam memberikan ketepatan masa suatu motif yang lebih tinggi daripada sekadar memenuhi keperluan manusia. Menepati waktu adalah dalam rangka untuk merealisasikan sifat kita sebagai hamba Tuhan, bukan hamba sesama manusia.

Dan untuk mencapainya, siang dalam malam kita dilatih pula dengan cara saling berpesan dengan kebenaran, dan berpesan dengan penuh kesabaran.

Jadi, perlukah Jepang kepada Surah al-Ashri?
Atau lebih tegasnya: Perlukan orang Jepang kepada Islam? Jawabnya: Perlu! Jepang yang sudah begitu menepati masa, memerlukan Islam untuk menyuntikkan sebuah MOTIF. Karena kebaikan tanpa MOTIF yang benar, adalah sebuah kekosongan makna yang menghilangkan arti sebuah perbuatan.

Ada perbedaan antara 'tepat waktu untuk menunaikan KEPERLUAN' dan 'tepat waktu untuk menunaikan TUJUAN'.

Biar pun tepat waktu itu mulia dan diakui sebagai pertanda kemajuan dan tamadun, tapi tepat waktu ala Jepang dan tepat waktu ala Islam memiliki perbedaan. Dalam budaya Jepang, tepat waktu adalah output, sedangkan dalam Islam, tepat waktu adalah proses.

Di dalam budaya Jepang, tepat waktu menjadi suatu objek yang hendak dicapai. Apabila ia dicapai, maka dinyatakan berhasil dan sukses, dan jika gagal dicapai, maka ia dianggap sebagai sebuah kemunduran.

[disadur dari: http://saifulislam.com/2014/11/perlukah-jepun-kepada-wa-al-asr]
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih