Thursday, November 27, 2014

Beberapa Kiat Agar Berhenti Dari Kebiasaan Ghibah [Bergunjing]

loading...
Penyakit ghibah merupakan salah satu dosa yang banyak dilakukan orang, baik secara langsung maupun melalui sarana seperti percakapan telepon dan lain sebagainya.

Dalam ajaran Islam, ghibah atau bergunjing merupakan dosa yang sengat merugikan. Al-Qur'an menggambarkan bahwa orang yang suka menggunjing orang lain adalah ibarat seseorang yang memakan bangkai saudaranya sendiri. Na'udzubillah...

Lantas, bagaimana kiat agar kita bisa terhindar dari kebiasaan meng-ghibah, bergunjing, bergosip dan sebagainya? Mari kita belajar dari ulama-ulama kita terdahulu.

Abdullah bin Wahb rahimahullah berkata:

جعلت على أن أصوم يوما إن اغتبت أحدا فهان علي الصوم فجعلت على نفسي درهم صدقة فأمسكت

"Aku pernah mengharuskan puasa sehari pada diriku bila aku menggunjing orang lain. Hanya saja puasa menjadi sesuatu yang mudah bagiku. Lalu akupun mensyaratkan pada diriku agar bersedekah dengan sekeping dirham (setiap kali menggunjing orang lain). Akhirnya akupun benar-benar berhenti (dari ghibah)". (Siyarus Salaf: 1134)

Subhanallah.. Sang ulama ini memperingatkan dirinya sendiri dengan konsekuensi sedekah! Jika ia melakukan ghibah, ia berjanji akan bersedekah 1 dirham perak hari itu juga. Hingga akhirnya beliau bisa berhenti dari perbuatan tersebut. Awalnya beliau mencoba dengan puasa, tapi ternyata puasa bagi beliau terlalu mudah!

Jadi, kalau kita ingin terbebas dari perbuatan ghibah, kita bisa mempraktekkan cara ini. Berjanjilah kepada diri sendiri: andai hari ini saya meng-ghibah orang lain, maka saya akan ganti dengan suatu ibadah yang menurut saya cukup berat, misalnya bersedekah dengan jumlah besar!

Imam Bukhori pernah mengatakan,

قال البخاري: ما اغتبت أحدا قط منذ علمت أن الغيبة حرام، إني لأرجو أن ألقى الله ولا يحاسبني أني اغتبت أحدا.

"Aku tak pernah menggibahi seorangpun sejak aku tahu bahwa ghibah itu haram. Sungguh aku berharap agar saat bertemu Allah nanti Dia tidak menghisabku karena aku pernah mengghibahi orang lain". (Thabaqaat As Subki: 9/20)

Kedua atsar di atas patut dijadikan bahan renungan, terutama di zaman ini, di mana ghibah telah berubah bak bumbu majelis. Bahkan sebagian orang menjadikannya sebagai profesi dan tontonan yang mengasyikkan.

Ingat..!

Pelaku ghibah dan orang yang ikut duduk di majelis ghibah, atau menyaksikan tayangan ghibah melalui televisi sama dalam pandangan syariat, kecuali bila dia mengingkarinya.

Terkadang dalam satu majelis sebagian orang tidak ikut meng-ghibah-i orang lain, namun dia ikut tertawa, tersenyum dan lain-lain yang memperlihatkan sikap ridha terhadap perbuatan tersebut, maka dia pun mendapat hukuman yang sama.

Bila suasana majelis anda telah berubah menjadi majelis ghibah, maka ubalah dengan lisan, bila tidak maka berdirilah dan tinggalkan majelis tersebut, karena yang hadir dalam majelis anda saat itu bukan hanya manusia saja.

Imam Az-Zuhri mengatakan:
إذا طال المجلس كان للشيطان فيه نصيب

Bila waktu bermajelis mulai panjang, maka syaithan punya bagian dalam majelis tersebut” (Al-Hilyah)

Karena itu, jangan biasakan mengobrol lama-lama, sebab di situlah potensi setan akan ikut campur menebar bibit-bibit dosa dari ghibah.
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih