Sunday, October 27, 2013

[Artikel]: Kebangkitan Kelompok Rasis di Eropa

loading...
[Ditulis oleh: Sunny Hundal]

SourceL Al-Jazeera
Ketika pemimpin EDL (English Defence League) mengumumkan bahwa Ia tidak lagi terlibat dalam organisasi sayap-kanan itu beberapa minggu lalu, para pendukung terdekatnya merasa sangat terkejut.

Dalam empat tahun terakhir, Tommy Robinson telah menjadi ikon bagi gerakan nasionalis kulit-putih Inggris, Ia mengorganisir berbagai demonstrasi di seluruh Inggris melawan pengaruh ekstremisme Islam yang Ia klaim kian meningkat.

Demo-demo yang digelar EDL melibatkan kekerasan, meresahkan komunitas-komunitas setempat dan harus melibatkan kepolisian untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. EDL bukanlah sebuah partai politik tetapi sebuah pergerakan massa yang menggantungkan diri pada demonstrasi dan kerusuhan. Dan bukan sebatas masyarakat Inggris saja yang Ia libatkan: diketahui Robinson juga sering mengundang figur-figur sayap kanan dari seluruh Eropa dan Amerika Serikat di dalam demo yang dipimpinnya, untuk kemudian melakukan orasi dalam event-event tersebut.
                       
EDL yang muncul ke publik tahun 2009, tampaknya akan runtuh sepeninggal Robinson. Gerakan sayap kanan membutuhkan pemimpin yang karismatik, cerdas dan kuat untuk mendapatkan dukungan publik, dan Robinson merupakan salah satu di antaranya. Ia memainkan beberapa peran kunci dan tampaknya belum ada penerus yang sepadan.

Seekor serigala berjubah
Akan tetapi keruntuhan EDL tidaklah terlalu berarti jika hal itu justru membangkitkan gerakan sayap kanan yang jauh lebih radikal. Di hari pengunduran dirinya, Robinson mengatakan Ia tetap melanjutkan perjuangannya menentang hukum Syariah dan “Islamisme”, dirinya juga tidak membantah bahwa sejumlah anggota EDL telah bersikap rasis. Ia menambahkan bahwa demo-demo jalanan telah menjadi kontra-produktif bagi pencapaian tujuannya. Patut diingat, bahwa sang mantan pemimpin EDL bukanlah figur sayap-kanan pertama yang mencapai kesimpulan ini.

Di seantero Eropa, partai-partai sayap kanan menyadari bahwa taktik lama mereka tidak bekerja dan mereka membutuhkan cara-cara baru untuk memenangkan opini publik. Pada era 1990’an ketua partai politik rasis Inggris, The British National Party (BNP), mendeklarasikan bahwa mereka tidak lagi menggelar demonstrasi karena cara itu sama sekali tidak membantu. Mereka menggunakan cara-cara yang pintar dengan berhenti menggunakan bahasa yang kasar dan rasis, dan berupaya meraih penghormatan publik. Rencana itu berhasil, pelan-pelan BNP meraih dukungan dan pada tahun 2009 partai itu berhasil meraih satu juta suara, bahkan sukses mengirim kedua figur kunci intern partai menduduki kursi di parlemen Eropa. Ketua partai  politik yang sama, Nick Griffin, mengklaim dalam sebuh wawancara bahwa partainya bukan lagi sebuah pergerakan rasis.

Satu per satu, kelompok-kelompok sayap-kanan Eropa mengikuti langkah tersebut dan meninggalkan taktik tradisional mereka. Bahkan, kelompok-kelompok ini beralih menggunakan bahasa liberal (mempertahankan hak-hak wanita dan kaum gay) untuk mendiskreditkan kedua musuh mereka, yakni kaum imigran dan Muslim. Dalam beberapa kasus, mereka juga menjadi kaum populis ekonomi dengan menyerang partai-partai utama karena dianggap lebih berpihak pada kalangan bankir.

Pada tahun 2011, Koran The New York Times menjuluki Marine Le Pen, pemimpin baru partai sayap-kanan Perancis ‘National Front’ sebagai seorang “ekstremis yang lebih baik dan sopan”.  Putri dari tokoh racist Jean-Marie Le Pen itu saat ini “berpura-pura membela kaum gay, Yahudi dan wanita,” lapor The New York Times. Marie Le pen juga mengorientasikan partai National Front untuk lebih ke kiri dalam konteks ekonomi. Hal ini tidak hanya membuat para lawan politiknya lengah tetapi juga menarik dukungan baru dari rakyat yang sebelumnya tidak akan berpikir untuk berpihak pada partai National Front.

Rasisme Lintas Perbatasan
Kisaah yang sama muncul di Belanda, di mana “gerakan” sayap-kanan yang dipimpin Geert Wilders mengangkat isu hak-hak kaum gay, Yudaisme, dan feminisme untuk membuat gerakan politik mereka lebih diterima oleh para konstituen Belanda. Di puncak popularitasnya Wilders merilis “10 poin rencana untuk menyelamatkan Barat” yang meliputi kewajiban etnis minoritas di negara-negara Barat untuk menandatangani “kontrak asimiliasi yang bersifat mengikat secara hukum”, dan untuk menghentikan pembangunan mesjid. Ia juga mengatakan hak kebebasan beragama sebaiknya tidak diberikan kepada Islam.

Di AS, blogger penyebar kebencian seperti Robert Spencer dan Pamela Geller telah meraih popularitas dan sukses dengan berfokus pada pembunuhan karakter atas umat Muslim. Mereka menggunakan instrument paranoia yang disebut “Mesjid Ground Zero” dan mengeksploitasinya menjadi sebuah kontroversi nasional. Secara signifikan, upaya-upaya mereka ini seluruhnya dilakukan menggunakan media sosial dan blog dibandingkan demo-demo tradisional, dan mereka tetap menyatakan diri bukan seorang rasis atau anti imigran.

Hanya beberapa bulan sebelumnya, partai Kebebasan Austria yang berhaluan sayap-kanan berhasil menarik simpati seperlima pemegang hak suara mengingat anjloknya pencapaian suara partai-partai utama dalam pemilihan umum. Sekali lagi, partai ini juga memfokuskan diri pada masalah imigran, dan mengeksploitasi sentiment anti Uni Eropa. Akan tetapi bahasa yang mereka gunakan tergolong lunak dan halus.

Di Swiss, Skandinavia dan Eropa selatan pun kisah yang muncul sama. Kelompok sayap-kanan makin pandai untuk menjadi figur populis dan mengeksploitasi ketakutan rakyat atas imigrasi dan terorisme yang disponsori al-Qaeda untuk memenangkan dukungan politik.

Dalam komentarnya baru-baru ini di Twitter, mantan pemimpin EDL, Robinson mengatakan bahwa “Hukum Syariah melegalisasi pedofilia” dan bahwa “Islam memicu perang global/Holocaust terhadap orang Kristen”. Dalam sebuah pidatonya awal tahun ini Ia mengatakan: “Inggris memberlakukan sistem ganda di mana Muslim diperlakukan lebih baik dibandingkan non-Muslim”. Sejauh ini Ia belum menyatakan permohonan maaf atas pernyataan-pernyataannya tersebut. Jika Robinson mengikuti jejak sekutunya di Eropa, maka Ia mungkin menjadi lawan yang jauh lebih menantang dibandingkan EDL sejak awal kemunculannya.

Kebangkitan kembali sayap-kanan Eropa meski dalam jubah yang baru, dapat menghadirkan konsekuensi yang fatal bagi Eropa sekali lagi.

***
Tulisan asli artikel di atas berjudul The rise of Europe's respectable racists, ditulis oleh Sunny Huddal dalam situs Al-Jazeera tanggal 25 Oktober 2003.
Terjemahannya disadur dari Blog: http://opinipublika.blogspot.com/2013/10/kebangkitan-kelompok-rasis-eropa.html#more
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih