Wednesday, October 23, 2013

[Artikel Bersejarah]: HAMKA - Tjita-tjita Al-Ichwanul Muslimin Tetap Hidup

loading...
Artikel berjudul "Tjita-tjita Al-Ichwanul Muslimin Tetap Hidup" merupakan tulisan Buya HAMKA dalam majalah Hikmah edisi 11 Desember 1954 dalam rubrik Luar Negeri – Dunia Islam.

Tulisan ini beliau tulis pasca penangkapan dan hukuman mati besar-besaran terhadap pemimpin dan aktivis al-Ikhwanul Muslimin di era Presiden Gamal Abdul Nasser.

Seperti biasanya, tulisan Buya Hamka sarat makna, dituturkan dalam bahasan yang indah dan ringan, namun mudah difahami dan meresap dalam fikiran. Berikut tulisan yang bernas itu:

***
Tjita-tjita Al-Ichwanul Muslimin Tetap Hidup

Seseorang dibuang seumur hidup dengan kerja paksa dan 6 orang digantung! Inilah putusan yang telah dikeluarkan oleh Dewan Revolusi Mesir terhadap pemimpin-pemimpin Al Ikhwan Al Muslimun. Dalam pada itu disiarkanlah kabar-kabar bahwasannya Ikhwan hendak berontak. Di mana-mana telah ditangkap senjata gelap.

Besar juga pengaruhnya dalam Angkatan Laut dan Darat. Dan perkumpulan itu telah dibubarkan. Markas besarnya telah dibakar habis bersama dengan arsip-arsip yang tersimpan di dalamnya. Dan kekayaan lain-lain semuanya dibeslah [disitadan digabungkan menjadi harta benda. “Barisan Revolusi” yang dibentuk oleh rezim militer yang sekarang ini, dipergunakan untuk menggembleng rakyat Mesir untuk mencapai maksud Djamal A Nasser.

Sikap Terakhir

Sikap (Militer) kepada Ikhwan adalah sikap terakhir sesudah menyingkirkan orang-orang yang dirasa akan menghambat langkah mereka menjadi kekuasaan bulat. Rasjad Mahna yang sangat populer dalam kalangan tentara tengah meringkuk dalam penjara.

Jendral Nadjib telah disingkirkan ketepi. Sekarang kekuasaan Mesir telah bulat dalam tangan mereka. Segala mulut disumbat, kemerdekaan pers sangat dikekang. Yang boleh berbicara hanyalah kalangan mereka saja. Ada saja walaupun sedikit suara yang kira-kira menentang atau tidak sejalan dengan pemerintah, akibatnya adalah kebinasaan. Mesjid Raudhah pernah diserang polisi, sebab di sana seorang khatib pernah berkhutbah yang mengkritik pemerintah.

Dari revolusi kesehari sampailah pemerintah “Revolusi Mesir” kepada suatu pemerintaahan diktator yang keras! Dan dari sehari kesehari pula negeri Mesir kian jauh daripada hati Umat Islam dan kehilangann simptai dari negeri-negeri Islam.

Penggantungan 6 orang pemimpin Ikhwan menggoncangkan hati umat Islam di seluruh negeri Islam!

Penggantungan 6 orang pemimpin Ikhwan menimbulkan reaksi yang sebebat di seluruh Alam Islamy, adalah menjadi bukti yang terang bagaimana pengaruh ajaran Ikhwan bagi membangunakan pikiran baru dalam membangun cita-cita Islam di seluruh dunia pada masa kini. 25 tahun perkumpulan itu telah bekerja, kalau sekiranya dia bukan satu cita-cita besar, pasti akan tumbuh dengan suburnya dalam kebangkitan Islam yang baru, tidaklah akan sebanyak itu korban yang ditempuhnya.

Korbannya yang pertama adalah Syekh Hasan Al Banna yang dibunuh orang di tengah saat ramai, di zaman Radja Farouk. Di tahun 1949 sesudah Hasan Al Banna dibunuh, perkumpulan itu dibubarkan. Pengikutnya ditangkapi beribu-ribu banyaknya dan dikirim ke consetras camp di Thur. Ketika saya ke Mesir di tahun 1950, saya melihat rumah-rumah Ikhwan yang pintunya disegel. Di zaman pemerintahan Wafd tahun 1952, barulah perkumpulan Ikhwan dibebaskan kembali dan dinyatakan tidak bersalah. Dan setelah terjadi, “Revousi Mesir”, mereka memberikan sokongan yang amat besar bagi revolusi itu.

Ikhwan tetap bicara

Tetapi Ikhwan tidaklah dapat menutup mulutnya kalau dilihatnya ada perkara-perkara yang salah dalam jalannya revolusi. Berlaki-kali mereka memberikan teguran kepada Dewan Reovlusi, salah satunya seorang diantara pemimpinnya Syaekh Al Abaquri duduk dalam kabinet revolusi.

Segala partai politik dibubakan, tetapai Ikhwan tidak dalam dibubarkan. Adalah memang amat sukar membubarkan perkumpulan sebagai demikian. Karena dia bukan perkumpulan politik. Tetapi semata-mata suatu perkumpulan agam Islam, yang sebagaimana kita tahu 'tidak mebedakan yang mana yang sosial dan mana yang politik'. Cita-citanya hanya satu yaitu menunjukan kebenaran islam dan berlakunya hukum-hukum kebenaran Allah dalam alam ini.

Tentu saja dewan revolusi Mesir yang kendalinnya dipegang kaum militer muda-muda memandang bahwasannya Ikhwan ini adalah salah satu batu penarung bagi maksudnya. Kalau sekiranya segala mulut disumbat dan segala pers dikekang dan disensor, payahlah melakukan yang demikian itu kepada Ikhwan, karena pengaruhnya yang besar di mana-mana, dalam kalangan siswa, dan kalangan tentara, dalam kalangan kaum tani dan buruh.

Perselisihan sudah sampai ke puncaknya setelah persetujuan di antara Mesir (Dewan Revolusi) dengan Inggris tentang perkara penarikan tentara Inggris dari Terusan Suez. Sebab dalam perjanjian itu ada disebuktan, mesipkun tentara Inggis ditarik dari sana, namun kalau terjadi peperangan dunai ketiga, tentara itu berhak kembali menduduki Terusan Suez.

Ini tidak dapat diterima oleh Ihwan. Sebab dengan ini nyata bahwa kepentingan Mesir tidak lagi merdeka. Dia telah dipengaruhi oleh strategi politik negara-negara Barat, khususnya Inggris dan Amerika.

Siapakah yang berani membantah persetujuan ini padahal pers dikekang, suara rakyat dibekukan, partai-partai politik telah bubar? Siapa yang berani membantah ini sedang parlemen telah lama tidak ada persidangannya lagi? Dan suara apakah yang terdengar lain daripada suara pemerintah? Hanya Ikhwanlah yang berani menyebut hal itu sebagai saluran daripada jiwa kecil rakyat Mesir.

Maka datanglah tuduhan kepada Ikhwan, bahwasannya ia ada anti revolusi, kerjasama dengan komunis, nasional, dll. Sejak itu, berturut-turut diadakan propaganda kepada dunia tentang kebusukan-kebusukan Ikhwan. Orang yang tidak mengetahui cita-cita dan gerak Ikhwan tentu akan lekas percaya.

Dan apabila kekuasaan ada dalam tangan sendiri, dan lawan tidak boleh berbicara, segala sesuatu kemungkinan, walaupun telah diatur lebih dahulu, tidak ada yang akan dapat membantah. Akhirnya tuduhan bahwa Ikhwan akan menggulingkan pemerintah Mesir. Dia menyimpan senjata gelap dan lain sebagainya. Dan untuk menggenapkan itu, diadakanlah seseorang yang akan dituduh membunuh PM Djamal Abdul Nasser. Orang-orang itu menembaknya 8 kali, tetapi tidak sekali juga yang kenal. Dan orang itu, ”tentara” disuruh oleh Ikhwan!

Inilah kesempatan yang sebaiknya untuk menangkapi pemimpin-pemimpin Ikhwan. Lantas dihadapkan kemuka hakim yang menjadi “hakim rakyat” itu dari orang-orang dewan revolusi sendiri. Hasilnya, 7 orang dihukum gantung! tetapi reaksi dunia Islam sangat hebat, sehingga Syaikh Hudaiby (Mursyid IM -red) diganti hukumannya menjadi kerja paksa seumur hidup. Setelah hukuman dijatuhkan, sekali Ikhwan dibubarkan. Orang-orang yang tertuduh beraliran Ikhwan ditangkapi, dikejar-kejar, dihadapkan kemuka hakim tanpa saksi.

Dan sebelum itu, sudah keluar fatwa ualma Azhar bahwa kaum Ikhwan itu adalah murtad dari agama! Dengan jalan demikian, menurut pertimbagan Dewan Revolusi Mesir, selesailah sudah pekerjaanya. Mereka sudah boleh lebih leluasa melakukan tindakan, tidak ada yang membantah lagi. Siapa yang membantah tuduh saja jadi Ikhwan telah murtad dari agama, boleh dihadapkan ke muka hakim, tanpa saksi, dihukum sesuka hati. Sebab hakim ialah pemerintah sendiri. Senang sajalah yang berkuasa!

Cita-cita Ikhwan

Tetapi akan habis sajakah soal itu sehingga begitu? Adakah suatu cita-cita besar yang tidak meminta korban? Dan adakah korban yang seperti demikian dapat menghanyutkan cita-cita tadi?

Seketika Abdul Kadir Audaah dijatuhi hukuman gantung sampai mati, dia menerima hukuman dengan tersenyum! Sebab, bagi seseorang yang hidup itu ialah cita-citalah yang seperti ini dipandangnya adalah suatu konsekuensi dari para pendirian. Badan boleh saja mati, tetapi cita-cita tidak mati.

Ingatlah bahwasanya bangunnya Ikhwan adalah sebagai gejala daripada kebangunan Islam kembali, beratus tahun Islam dan umat Islam jatuh tersungkur dihadapan pikiran-pikiran Barat dan penjajahan Barat. Sudah hampir putus asa umat muslimin melihar aliran ideologi yang simpang siur di dunia ini. Al Ikhwan Al Muslimun adalah pelopor daripada penggalian cita-cita itu kembali.

Sebagai organisasi masa di Mesir, ia dapat dilumpuhkan oleh kekuatan senjata dan adikara dan diktator di Mesir. Tetapi, sebagai suatu cita-cita, dia telah tumbuh dan telah menjalar ke mana-mana ke pelosok dunia. Buah pikiran mereka telah dibaca ke seluruh dunia Islam. Buku-buku yang mereka karang Risalah-risalah Hasan Al Banna, brosur dari Hasan Al Hudaiby, Abdul Kadir Audah, Muhammad As Sibai, Muhammad Al Ghazali, Sayyid Qutb, Said Ramadhan, Jaudah as Sabhar, dll tersiar.

Jika dibunuh di Mesir, mereka ada di Suriah, Irak, Palestina, Libanon, Pakistan, India, Indonesia, Turki dan lainnya. Cita yang menyelip dalam segala mazhab, dalam segala fikrah dan dalam segala partai Islam.

Cita-cita Ikhwan menyeliap jiwa haji Sulong di Thailand, Haji Kamloon di Filipina, Muhammad Quasim di Burma, dan dalam jiwa sebagian besar pelopor negara dan ulama di Pakisatn. Cita Ikhwan masuk ke dalam perjuangan umat Islam di Tunisia, Maroko, Aljazair, sehingga di segala tempat itu sekarang timbul pemberontakan yang percaya kepada kekuatan Iman sendiri, berpadu kepada Laa ilaaha iIlallah. Lebih hebat sebenarnya revolusi di Afrika Utara daripada revolusi Go Chi Min yang terang dapat bantuan RRC dan Rusia! Cita-cita Ikhwan menyelinap dalam jiwa pemimpin-pemimpin Islam di Indonesia, baik Masyumi, NU, atau Partai Sakrikat Islam, dan juga Muhammadiyah!

Buku-buku mereka dibaca oleh pemimpin-pemimpin itu, sehingga menjadi padu didalam menegakkan cita-cita Islam, baik mereka oposisi atau mereka mendukung pemerintah!

Memang, Ihwan bukanlah partai politik, tetapi pembangkitan nilai cita Islam yang telah mereka sumbangkan kepada Alam Islamy telah menumbuhkan semangat baru dalam Islam. Mungkin di Mesir mereka dihancurkan, tetapi yang hancur hanya syiar. Walaupun seribu dewan revolusi Djamal A Naser bersidang hendak menghancurkan, tidaklah akan terhancurkan lagi.

Kalau disudut hatinya, Djamal Abdul Naser, masih ada teselinap agak sedikit keislaman, akan datang masanya jiwa mereka tertekan oleh besarnya kesalahan mereka . Dan suatu gerak yang tidak berdasar cita-cita akan runtuh, dan cita yang besar tentang bangunan pikiran Islam akan tumbuh.

Satu selangpun tak dapat menghambatnya. Pada waktu itu, kelak Tuhan menunjukkan kebesaranNya, dan Ikhwan kebali hidup dalam hati setiap umat Mesir. Umur satu cita, jauh lebih panjang daripada umur orang!

***

Imam Hasan al-Banna bersama Panitia Kemerdekaan Indonesia yang berkunjung ke Kairo dalam rangka mencari dukungan dunia Internasional. Mesir merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. 


loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih