Thursday, December 29, 2016

Jangan Duduk Menganggur, Karena Kematian Terus Memburumu...

loading...
Imam Syu'bah bin Hajjaj pernah mengatakan:
لا تقعدوا فراغًا. فإنَّ الموت يطلبكم
"Jangan sampai menganggur. Karena kematian terus memburumu!"

Ibnul Qayyim pernah berkata,

Menyia-nyiakan waktu (luang) lebih berbahaya daripada kematian; Karena sesungguhnya menyia-nyiakan waktu (luang) memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian memutuskanmu dari dunia dan penduduknya.

Di antara ciri orang beriman adalah berhati-hati dengan perbuatan yang sia-sia. Allah swt. berfirman, “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (Al-Mu’minun: 1-3)

Rasulullah saw. mewanti-wanti para sahabat agar berhati-hati dengan waktu senggang. Beliau saw. bersabda, “Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya yakni nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari)

Ada banyak cara menggusur letih dan jenuh. Letih dan jenuh kadang tidak cuma bisa disegarkan dengan santai. Ada banyak cara agar penyegaran bisa lebih bermakna dan sekaligus terjaga dari lalai.

Para sahabat Rasul biasa mengisi waktu kosong dengan tilawah, zikir, dan shalat sunnah. Itulah yang biasa mereka lakukan ketika suntuk saat jaga malam. Bergantian, mereka menunaikan shalat malam.

Bentuk lainnya adalah bermain dengan istri dan anak-anak. Rasulullah saw. pernah lomba lari dengan Aisyah r.a. Kerap juga bermain ‘kuda-kudaan’ bersama dua cucu beliau, Hasan dan Husein. Dari sini, santai bukan sekadar menghilangkan jenuh. Tapi juga membangun keharmonisan keluarga.

Rasulullah saw. mengatakan,

Orang yang cerdik ialah yang dapat menaklukkan nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah wafat. Orang yang lemah ialah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan muluk terhadap Allah.” (HR. Abu Daud)

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, juga pernah bersabda,

إِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَا بَكَ قَبْلَ هَرَ مِكَ  وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ  وَ غِنَا كَ قَبْلَ فَقْرِ كَ  وَ فَرَا غَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَ حَيَا تَكَ قَبْلَ مَوْ تِكَ

Gunakanlah yang lima sebelum datang yang lima: Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa kosongmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR Al-Hakim; disohihkan Al-Albany dalam At- Targhieb, 3355)

Hadis Nabi ini mengingatkan tentang pentingnya menjaga waktu dan memanfaakannya. Waktu luang adalah kesempatan berharga yang tidak akan berulang kembali kedatangannya. Dan “lima perkara sebelum lima perkara” itu memiliki maksud supaya kita mempergunakan waktu dan kesempatan dengan sebaik-baiknya, sebelum hilangnya kesempatan tersebut.

Hal ini mengingatkan kita, agar jangan sampai kita seperti orang-orang yang merugi dengan waktu, sebagaimana yang Allah ingatkan dalam firman-Nya,

والعصر. إن الإنسان لفي خسر. إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”(Al-“Ashr:1-3)

Manfaatkanlah Waktu luangmu !.

Wasiat Umar kepada kaum Muslimin:”Waspadalah terhadap waktu luang, karena ia lebih banyak membuka pintu maksiyat daripada pintu syukur. (Nasrud Durr,2/60)

Nasehat Syaikh Ibnu Utsimin,”Waktu luang bisa menjadi penyakit yang membinasakan pikiran, akal dan potensi fisik manusia, karena diri manusia harus beraktifitas dan berbuat. Jika diri manusia tidak beraktifitas maka pikirannya akan beku, akalnya akan buntu dan aktifitas dirinya akan lemah, sehingga hatinya akan dikuasai bisikan-bisikan pemikiran buruk, yang terkadang akan melahirkan keinginan-keinginan buruk. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua nikmat yang kurang diperhatikan oleh kebanyakan manusia; yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Abu Dawud, 4833, Tirmidzi, 2378 dan Hakim 4/189, dishahihkan oleh al-Albani)

Untuk mengatasi hal ini, hendaknya seorang Mukmin (terutama pemuda) berupaya untuk mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang cocok dan bermanfaat untuknya, seperti membaca, menulis, berwiraswasta atau kegiatan lainnya, untuk menghindari kekosongan aktifitas dirinya, dan menjadikannya sebagai anggota masyarakat yang berbuat kebaikan untuk dirinya dan orang lain. (Syaikh Ibn Al-Utsaimin, Min Musykilaatisy Syabaab, hal. 12)

Semoga bermafaat.
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih