Friday, August 15, 2014

Kekhawatiran Buya HAMKA Terhadap Nasib Bahasa Melayu

loading...
James T. Collins mengatakan bahwa Bahasa Melayu adalah bahasa dunia. Bahasa ini telah menjadi bahasa pemersatu bagi semua rakyat di wilayah nusantara sejak dahulu.

Namun nasib bahasa ini menjadi kegundahan seorang ulama yang juga sejarwan dan sastrawan melayu, Buya Hamka. Beliau begitu mengkhawatirkan bahwa pasca lahirnya negara-negara baru pasca kolonialisme akan ikut menggerus bahasa Melayu yang selama ini kental dengan nafas Islam.

Berikut kita kutip tulisan Witrianto, dosen Sejarah pada Universitas Andalas, yang mengupas sumbangsih pandangan Buya Hamka dalam mempertahankan Bahasa Melayu:
Di dalam bukunya Kenang-kenangan Hidup, Buya Hamka bicara tentang Sumpah Pemuda 1928. Sumpah tersebut menurut Hamka, bukanlah dimaksud membuat atau menciptakan suatu bahasa yang baru sebagai bahasa persatuan, tetapi menetapkan suatu bahasa yang sudah terpakai ratusan tahun lamanya sebagai lingua franca di Nusantara.
Kerajaan Melayu yang tertua, yang bernama Kerajaan Sriwijaya, berdiri sejak abad ke-6, bersamaan dengan abad lahirnya Nabi Muhammad SAW. Bahasa Melayu sudah terpakai dalam kerajaan, dan setelah dipelajari prasasti-prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuo ternyata memakai Bahasa Melayu.
Perkembangan berjalan terus sampai Sumpah Pemuda tahun 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Berdirinya dua negara di Gugusan Kepulauan Nusantara, yaitu Indonesia yang merdeka dari jajahan Belanda tahun 1945 dan Malaysia yang merdeka dari jajahan Inggris tahun 1957, tidaklah dapat memisahkan, apalagi memecah persatuan bahasa, meskipun memakai nama yang berbeda, yaitu Bahasa Indonesia di Indonesia dan Bahasa Melayu di Malaysia.
Penjajahan asing yang bercokol berabad-abad lamanya di Nusantara ini ternyata tidak bisa melemahkan, apalagi akan menghapuskan Bahasa Melayu yang menjadi bahasa persatuan itu. Di dalam persoalan ini, Buya Hamka mengemukakan pemikirannya sebagaimana digariskan dalam Kenang-kenangan Hidup Jilid II.[9] Ada tiga pokok masalah yang dikemukakannya.
  1. Penggantian huruf (aksara) dari huruf Arab yang dulu dinamakan “huruf Jawi” ke huruf Latin. Langkah ini dimulai di Indonesia, sedangkan Malaysia yang pada mulanya tetap bertahan pada huruf asli (huruf Jawi), akhirnya mengikuti langkah Indonesia. Ada beberapa akibat buruk dari penukaran huruf ini, kata Buya Hamka. Terutama sekali putusan hubungan angkatan yang datang kemudian dengan perbendaharaan nenek moyangnya. Kalau mereka hendak mencari juga, terpaksa dengan perantaraan orang lain karena awak sendiri tidak dapat mengetahui sumber aslinya yang ditulis dengan huruf Melayu itu.
  2. Berkisarnya dari memakai kata-kata Arab untuk memperkaya bahasa nasional ke kata-kata bahasa bekas penjajah. Perkisaran itu di Indonesia sudah lama berjalan, semenjak zaman Belanda. Adapun di Malaysia, pada mulanya masih mendahulukan (mencari) bahasa Arab. Misalnya perkataan iqtishad untuk ekonomi, siasat untuk politik, tahniah untuk ucapan selamat, dan ta’ziah untuk melayat kematian. Akan tetapi semenjak pergantian huruf Jawi ke huruf Latin, perkembangan ini berubah haluan. Perkataan iqtishad diganti oleh ekonomi. Siasat hilang, politik menjadi gantinya. Adapun di Indonesia kian lama kian terasa usaha halus hendak mengganti, baik yang Bahasa Melayu asli atau yang dari Bahasa Arab, dengan bahasa Jawa. Misalnya perkataan turis yang Bahasa Melayunya pelancong, dan bahasa Arabnya tamasya, diusahakan menggantinya dengan Bahasa Jawa pariwisata. Buya Hamka memberikan pandangan yang agak tajam: Usaha hendak mengganti Bahasa Melayu, seumpama pelancongan dengan pariwisata, atau ta’ziah dengan bela sungkawa, nampaknya adalah hendak melepaskan dendam terpendam, mengapa Bahasa Melayu yang dipakai hanya oleh lebih kurang 30 juta orang Melayu di seluruh Nusantara, yang dijadikan bahasa persatuan, lingua franca? Mengapa bukan Bahasa Jawa, padahal orang Jawa tidak kurang dari 60 juta? Sebab itu dalam masa 50 tahun hendaklah diusahakan secara halus agar bahasa Jawa-lah yang mempengaruhi Bahasa Indonesia, bukan lagi Bahasa Melayu.
  3. Menurut Hamka, kita harus awas memperhatikan ekspansi kultur, serta serbuan kebudayaan dari segi bahasa, yang tujuannya terakhir tidak lain ialah hendak memperlemah agama kita. Bertahun-tahun lamanya kedua negara, Indonesia dan Malaysia memperdekat persepahaman pemakaian Bahasa Melayu ini, yang di Indonesia dinamai Bahasa Persatuan, dan di Malaysia dinamakan Bahasa Kebangsaan. Karena terjadi persimpangan sejarah, air gedang batu ber-sibak, kadang-kadang dirasakan sebagai dua bahasa, padahal bukan. 
 Buya Hamka mengatakan bahwa dirinya bisa diterima oleh rakyat Indonesia dan Malaysia dengan sama baiknya adalah karena persamaan bahasa. Sambutan masyarakat Makasar terhadap dirinya sama baiknya dengan sambutan masyarakat Kota Kinabalu. Mahasiswa mengerumuni Hamka di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) meminta tanda tangan sama halnya dengan kerumunan mahasiswa di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Membaca Khotbah Jum’at di Masjid Negara di Kuala Lumpur, tidak ada bedanya dengan membaca Khotbah di Masjid Al-Azhar Jakarta. Berziarah di Slembah Indah Sri Menanti, sama halnya dengan ziarah ke Batusangkar. Semua dihadapi Hamka dengan bahasa yang satu, yaitu Bahasa Melayu atau Bahasa Indonesia.
Demikianlah tiga pemikiran penting Buya Hamka mengenai persoalan Bahasa Indonesia yang kian hari semakin menunjukkan perbedaan dengan Bahasa Melayu di Malaysia. Jika pada tahun 1950-an hampir semua orang Malaysia mengerti dengan baik Bahasa Indonesia, saat ini banyak generasi muda Malaysia yang sudah tidak mengerti lagi Bahasa Indonesia, terutama dialek Jakarta yang menghiasi layar kaca dan layar film dewasa ini di Indonesia. Sinetron-sinetron Indonesia yang banyak diputar di televisi Malaysia saat ini sudah disertai dengan teks di bawahnya karena banyaknya kosakata Bahasa Indonesia yang tidak dimengerti oleh orang Malaysia.
Hal yang sama hari ini terjadi pula di Indonesia, generasi baru Indonesia, terutama yang berasal dari Pulau Jawa dan Indonesia Timur, banyak yang tidak mengerti Bahasa Melayu Malaysia. Sewaktu saya kuliah di Universitas Gadjah Mada, ketika ada kunjungan dosen tamu dari Malaysia yang memberikan kuliah, teman-teman yang sebagian besar berasal dari etnis Jawa dan Indonesia Timur ternyata tidak mengerti dengan yang diucapkan oleh dosen tamu dari Malaysia tersebut, sehingga dosen tamu tersebut kemudian mengganti bahasa pengantarnya dengan Bahasa Inggris. Dalam kelas yang terdiri dari 12 orang itu mungkin hanya saya, yang berasal dari etnis Melayu Minangkabau, satu-satunya mahasiswa yang mengerti dengan baik apa yang diucapkan oleh dosen tamu tersebut, di samping tentunya Prof. Dr. Teuku Ibrahim Alfian, M.A., dosen UGM yang berasal dari Aceh, yang mendampingi dosen tamu tersebut, yang beberapa kali menjelaskan beberapa istilah Melayu yang diucapkan oleh dosen tamu  tersebut yang tidak dimengerti oleh teman-teman mahasiswa.
Apa yang dikhawatirkan oleh Buya Hamka beberapa dekade yang lalu terbukti hari ini, Bahasa Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh Bahasa Jawa, karena orang Jawa merupakan penutur Bahasa Indonesia yang terbesar, dan pengaruh dialek Bahasa Gaul Jakarta telah menyebabkan Bahasa Indonesia menjadi semakin berbeda dengan Bahasa Melayu Malaysia yang saat ini justru sangat banyak dipengaruhi oleh Bahasa Inggris, negara yang pernah menjajah Malaysia.

(Sumber lengkap: Blog Witrianto)
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih