Tuesday, September 29, 2015

Kisah Syaikh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dan Senampan Nasi Biryani

loading...
Kisah ini diceritakan oleh murid Abuya Syaikh Muhammad Alawi al-Maliki, seorang ulama syafi'iyyah yang hidup di negeri Haramain, Makkah al-Mukarramah. Beliau memiliki murid yang sangat benyak, termasuk dari Indonesia.

Salah seorang murid bercerita:

Pada suatu malam Ramadhan, abuya Sayyid Muhammad sibuk dengan banyak hal sehingga baru siap istirahat jam 2malam.

Ketika beliau bersiap-siap hendak beristirahat tiba-tiba beliau berkata: "Andai saja ada nasi biryani yang masih panas.."

Sayapun tersenyum karena menganggap kalimat Abuya itu sebagai canda; nasi biryani panas di tengah malam. Tapi sepertinya Abuya memang sedang membayangkan nasi biryani, mungkin kesibukan beliau sejak habis tarawih itu membuat beliau lapar lebih cepat.

Beberapa saat kemudian terdengar suara bel pintu gerbang berbunyi, kamipun terkejut karena ada tamu di tengah malam. Tak lama kemudian pejaga pintu gerbang datang memberi tahu Abuya bahwa seseorang mau bertemu abuya, saya lupa siapa orang itu, yang pasti dia orang Makkah murid Abuya.

Dengan rasa aneh abuya mengizinkan tamu itu masuk. Tamu itupun masuk membawa nampan besar yang tertutup, nampan itu diletakkan di hadapan Abuya yang sedang duduk di kursi.

Setelah basa basi sebentar tamu itu pulang. Suasana masih sedikit tegang karena kami merasa tidak wajar seorang murid Abuya berani menemui beliau di tengah malam hanya untuk memberikan makanan, Abuya menyuruh seorang dari kami untuk membuka nampan itu, ternyata isinya adalah nasi biryani yang masih panas.

Kami semua tersenyum dan tiba-tiba sadar kalau sepuluh menit yang lalu Abuya menginginkan nasi biryani.

Namun tiba-tiba Abuya beristighfar berulang-ulang, wajah beliau nampak sangat sedih. Beliau kemudian berkata:

"Andai saja tadi aku menginginkan ampunan Allah saja, andai saja tadi aku tidak menginginkan nasi biryani.."

Abuya merasa Allah mengabulkan keinginan beliau maka beliau menyesal karena keinginan itu adalah kenikmatan dunia; nasi biryani. Penyesalan itu membuat Abuya tidak selera makan, beliau nampak sedih seperti kehilangan sesuatu yang amat berharga!
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih