Sunday, April 26, 2015

[Kisah Nyata Penuh Inspirasi]: Aku Memilih Bersama Rasulullah SAW

loading...
Ini adalah kisah nyata tentang kejujuran,  suatu hal yang telah langka dan nyaris hilang di tengah kehidupan kita saat ini.

Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar membuka mata kita tentang kejujuran dan meyakinkan bahwa selalu ada pilihan bagi kita untuk berbuat jujur.

Dalam sebuah ujian kelas IV Sekolah Dasar Hasan bin  Haitsam di Saudi Arabia,  guru pengawas ujian dikejutkan oleh perilaku seorang murid yang tentu saja masih kanak-kanak.

Saat itu tengah berlangsung ujian sesi esai,  mereka diminta memahami sebuah teks dan menuliskan penjabaran tentang teks tersebut.

Bertepatan,  salah satu teks yang diujiankan tersebut adalah hadits Rasulullah Saw yang berbunyi:

من غشنا فليس منا

"Siapa yang menipu kami,  maka ia bukanlah termasuk golongan kami"

Salah seorang murid yanbg agak bingung membaca hadits tersebut mengacungkan tangan:

"Pak guru,  apa yang dimaksud dengan 'bukan golongan kami'  ini? ".  Tanya sang murid dengan lugu.

Sang guru pengawas berkata:

" Ya,  kira-kira maksudnya,  orang yang menipu itu tidak termasuk ke dalam golongan umat Rasulullah Saw... ".  Jawab sang guru dengan singkat.

Sang murid itu pun terdiam

Ketika ujian berakhir,  sang guru kaget melihat kertas jawaban sang murid yang bertanya tadi penuh dengan coretan.  Dan anehnya lagi,  jawaban yang dicoret itu adalah jawaban yang benar lalu diganti dengan jawaban yang salah.

Keesokan harinya,  sang guru yang bernama Abbud Abdullah tersebut memanggil sang murid ke ruangannya untuk mengkonfirmasikan hal tersebut.

"Anakku,  mengapa engkau mencoret jawaban-jawabanmu yang benar dan menggantinya dengan jawaban yang salah? ".  Tanyanya.

" Maafkan saya guru,  sebenarnya jawaban yang benar itu saya peroleh dari hasil mencontek.  Dan ketika saya mendengar guru mengatakan bahwa orang yang menipu itu tidak termasuk golongan ummat Rasulullah Saw,  saya pun jadi sangat takut,  lalu saya memutuskan lebih baik saya bersama-sama dengan Rasulullah Saw dan biarlah saya tidak lulus dalam ujian ini..."

Sang guru terperangah mendengar jawaban tersebut.  Tak sadar beliau pun menitiskan air mata.

Esoknya,  kejadian tersebut ia laporkan ke kepala sekolah.  Dan alangkah bahagianya sang kepala sekolah mendengar kenyataan yang demikian.  Sang kepala sekolah memberikan hadiah kehormatan untuk murid tersebut meski ia mendapat nilai yang rendah.

Berita tentang murid tersebut menjadi sorotan publik setelah dimuat di surat kabar  Sabq dan sang murid diwawancarai di stasiun radio setempat. 
loading...

1 comment:

  1. Subhanallahh.......
    Yaa Rabb....
    Ampuni kami yang masih sering mendholimi diri kami sendiri ..

    ReplyDelete

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih