Tuesday, November 12, 2013

Mutiara Nasihat Para Ulama tentang Menjaga Lisan dan Tutur Kata

Lisan adalah anugerah Allah SWT yang teramat besar bagi manusia. Meski ukurannya kecil, tapi pengaruh dan akibatnya amatlah luar biasa.

Lisan akan meninggikan derajat mereka yang menjaganya, dan menghinakan mereka yang menyia-nyiakannya.

Siapa yang menanam benih kebaikan dengan lisannya, di akan menuai buah kemuliaan. Dan siapa yang menanam benih keburukan dengan lisannya, dia akan menuai buah penyesalan.

Abdullah Ibn Mas'ud pernah berkata: "Wahai lisanku... ucapkanlah kata-kata yang baik, niscaya engkau akan beruntung. Atau diamlah, jangan umbar kalimat keburukan, engkau akan selamat. Waspadalah sebelum menyesal...".

Lihatlah, bagaimana Rasulullah SAW menjaga lisan. Beliau hanya berbicara seperlunya, sedikit dan selalu bernilai kebaikan.

Aisyah r.a pernah berkata:

كان النبي صلى الله عليه و سلم يحدّث حديثا لو عدّه العادّ أحصاه [ مسلم : 2493 ] و [ البخاري : 

"Sesungguhnya perkataan Rasulullah SAW itu, sungguh dapat dihitung oleh orang" (HR. Bukhari - Muslim)

Saudaraku, banyak bicara akan menyebabkan panjangnya hisab di akhirat. Banyak bicara akan menghilangkan kewibawaan. Banyak bicara akan memusnahkan ketenangan. Banyak bicara akan menjerumuskan pada selaksa kesalahan,

Abdullah Ibn Mas'ud pernah berujar: "Demi Allah Yang Tiada Tuhan Selain-Nya, tidaklah ada sesuatu yang lebih pantas untuk dipenjara lebih lama, kecuali lisan".

Umar Bin Abdul Aziz menulis surat kepada Imam al-Auza'i, beliau mengatakan: "Amma Ba'du, sesungguhnya orang banyak mengingat mati, maka dia akan bahagia dengan rizki dunia yang sedikit. Dan barangsiapa yang lebih banyak amalnya daripada bicaranya, maka hendaklah ia berkata-kata seperlunya saja".

Abu Bakar Ibn 'Ayyasy bercerita: "Suatu ketika, 4 orang raja berkumpul, yaitu Raja India, Raja Cina, Raja Kisra dari Persia dan Kaisar dan Romawi. Salah seorang dari raja itu berkata:

"Aku sungguh menyesali kata-kata yang pernah aku ucapkan, dan aku tidak menyesali apa yang tidak pernah aku ucapkan">

Raja yang lain berkata:

"Bila aku mengucapkan suatu perkataan, maka perkataan itu akan memperbudakku, sedang aku tidak dapat memperbudaknya. Sementara bila aku tidak mengucapkannya, maka akulah yang memperbudaknya".

Raja yang ketiga berkata:

"Sungguh kasihan mereka yang telah banyak bicara. Jika ia menarik perkataannya, itu membuatnya malu. Sedang jika ia tidak menariknya, itu pun tidak berguna".

Raja yang keempat berkata:

"Aku lebih sanggup menampik apa yang belum aku ucapkan, sementara apa yang sudah aku ucapkan, aku tak mampu lagi menampiknya".

Imam al-Mawardi berkata: "Sesungguhnya lisan adalah alat bertutur kata. Sedangkan tutur kata itu merupakan penyampai apa yang tersembunyi di dalam dada, pengkhabar apa yang terahasia di dalam minda. Sungguh kata-kata itu tidak dapat ditarik kembali, tidak dapat dielakkan dampak buruknya. Maka bagi mereka yang berakal, hendaklah selalu waspada agar tidak tergelincir dengan kata-katanya, hendaklah selalu menahan lisannya, hendaklah selalu berbicara seperlunya".

Hasan al-Bashri pernah berkata:
ما عقل دينه من لم يحفظ لسانه

"Tidak berakal agama seseorang, selama ia tidak mampu menjaga lisannya".

Ali Ibn Abi Thalib berkata:

اللسان قِوام البدن , فإذا استقام اللسان استقامت الجوارح , و إذا اضطرب اللسان , لم يقم له جارحة

"Lisan adalah penopang badan. Bila lisannya teguh, maka sempurnalah seluruh anggota tubuh. Bila lisannya goyah, maka tidak sempoyonganlah jasadnya".

Imam al-Darani berkata:
إذا طلبت صلاح قلبك فاستعن عليه بحفظ لسانك

"Bila engkau ingin kebahagiaan di hatimu, maka dapatkanlah dengan cara menjaga lisanmu".

Tidak akan selamat dari keburukan lisan, kecuali mereka yang mampu mengikatnya dengan kendali syariat.
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih