Sunday, May 5, 2013

[Kisah Nyata]: Keikhlasan Yang Cerdas Seorang Pemuda di Mekkah

[Kisah nyata ini diceritakan oleh seorang Ustadz ketika sedang melaksanakan ibadah Umrah]:

Suatu hari aku di Mekah di salah satu supermarket. Setelah selesai memilih barang-barang yang hendak aku beli dan aku masukan ke kereta barang maka akupun menuju tempat salah satu kasir untuk mengantri membayar.

Saat itu, kasir tengah melayani seorang wanita bersama dua putri kecilnya, dan di belakang mereka (tepatnya di depanku) ada seorang pemuda yang juga ikut antrian. Aku antrian yang ketiga.

Aku perhatikan, ternyata setelah menghitung jumlah belanja wanita tadi, lalu sang kasir mengatakan, "Totalnya 145 Riyal...!".

Lalu sang wanita pun memasukkan tangannya ke tas kecilnya untuk mencari-cari uang. Tapi ternyata ia hanya mendapatkan pecahan 50 Riyal dan beberapa lembar pecahan sepuluhan Riyal. Aku juga melihat kedua putrinya juga sibuk mengumpulkan uang pecahan beberapa Riyal yang mereka miliki berdua, hingga akhirnya terkumpullah uang mereka sebanyak 125 Riyal.

Maka nampaklah ibu mereka berdua kebingungan, dan mulailah sang ibu mengembalikan sebagian barang-barang yang telah dibelinya. Salah seorang putrinya berkata, "Bu, yang ini kami tidak jadi beli, tidak penting Bu..".

Tiba-tiba, aku melihat sang pemuda yang berdiri persis di belakang mereka melemparkan selembar uang 50 Riyal di samping sang wanita dengan sembunyi-sembunyi dan cepat. Lalu sang pemuda tersebut segera berbicara kepada wanita itu dengan penuh kesopanan dan ketenangan.

"Saudariku, lihat, mungkin uang 50 Riyal ini jatuh dari tas kecilmu…" ujar sang pemuda.

Lalu sang pemuda menunduk dan mengambil uang 50 Riyal tersebut dari lantai, kemudian ia berikan kepada sang wanita. Sang wanita pun berterima kasih kepadanya lalu melanjutkan pembayaran barang ke kasir, kemudian wanita itupun pergi.

Setelah sang pemuda menyelesaikan pembayaran barang belanjanya di kasir,  ia pun segera pergi tanpa melirik ke belakang seakan-akan ia kabur melarikan diri.

Akupun segera menyusulnya dan berkata: "Saudaraku,…tunggu sebentar dulu…! Aku ingin berbicara denganmu sebentar".

Lalu aku bertanya kepadanya, "Demi Allah, bagaimana engkau punya ide yang cepat dan cemerlang seperti tadi?".

Tentunya, pada mulanya sang pemuda berusaha mengingkari apa yang telah ia lakukan, akan tetapi setelah aku kabarkan kepadanya bahwa aku telah menyaksikan semuanya, dan aku menenangkannya dan menjelaskan bahwasanya aku bukanlah penduduk Mekah, aku hanya menunaikan ibadah umroh dan aku akan segera kembali ke negeriku, dan kemungkinan besar aku tidak akan melihatnya lagi. Lalu ia pun berkata:

"Saudaraku, demi Allah aku tadi bingung juga, apa yang harus aku lakukan, selama dua menit tatkala wanita tersebut dan kedua putrinya berusaha mengumpulkan uang mereka untuk membayar kasir… akan tetapi Allah subhaanahu wa ta'aala mengilhamkan kepadaku apa yang telah aku lakukan tadi, agar aku menolong wanita tersebut sehingga ia tidak malu di hadapan kedua putrinya… Demi Allah, saya mohon agar engkau tidak bertanya-tanya lagi dan biarkan aku pergi".

Aku berkata kepadanya: "Wahai saudaraku, aku berharap engkau termasuk dari orang-orang yang Allah berfirman tentang mereka :
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى  فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى 
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah" (QS Al-Lail 5-7)

Lalu sang pemuda itupun menangis, lalu meminta izin kepadaku dan berjalan menuju mobilnya sambil menutup wajahnya.
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih