Thursday, May 2, 2013

Kisah Ibu Bermata Satu [Inspiratif]

loading...
Kisah nyata ini dituturkan seorang hamba Allah. Penulis terjemahkan untuk menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua.

Selamat membaca dan meresapi maknanya.

Aku memiliki seorang ibu. Ya, seorang ibu yang cacat matanya. Bila orang normal memiliki dua mata untuk melihat, ibuku hanya punya 1 mata yang sehat, sedangkan biji matanya yang satu lagi tidak ada. Hanya ada cekungan pada tempat yang seharusnya berisi biji mata tersebut.
Aku adalah anak satu-satunya yang dimiliki ibu. Ayahku sendiri sudah meninggal dunia beberapa bulan setelah aku dilahirkan. Ibulah yang menjadi penopang ekonomi keluarga, apalagi di kota tempat kami tinggal, kami tidak memiliki sanak saudara tempat bertenggang.
Ibuku berjualan di kantin sebuah Sekolah Menengah Pertama. Dan di sekolah itu pula aku belajar. Dari pekerjaan itulah, ia menghidupi keluarga dan membiayai aku belajar. 
Kondisi fisik ibuku yang cacat kerap membuatku malu. Di sekolah, aku selalu manjaga jarak dengan ibu, apalagi di depan teman-temanku, aku tidak ingin mereka tahu bahwa wanita cacat itu adalah ibuku! 
Suatu ketika, ketika hendak masuk kelas, ibuku lewat di depan kelas kami, ia baru saja mengantar pesanan makanan untuk kepala sekolah. 
Ibu menyapaku... aku merasa malu sekali ketika teman-temanku menoleh ke arah ibu dengan pandangan yang asing.
"Eh, wanita bermata satu tadi, ibumu ya?". Tanya teman-temanku di dalam kelas. 
Aku hanya diam. Mereka jadi tahu bahwa dia adalah ibuku... Rasanya, aku ingin mengubur diri saat itu... 
Sepulangnya ke rumah, aku membentak ibu:
"Ibu membuatku malu saja! Lain kali tidak usah lewat di depan kelas dan menyapaku di hadapan teman-temanku!!!" Teriakku di muka ibu.
"Maafkan ibu, Nak...". Jawab ibuku singkat. Aku tidak mempedulikan perasaannya...
Kemudian ibu kembali ke dapur dan mengerjakan tugasnya mempersiapkan dagangan untuk esok hari.
Hari pun berlalu. Ketika aku masuk SMA, aku semakin malu dengan kondisi Ibu. Aku tidak pernah mengajak teman-teman ke rumah agar mereka tidak tahu bahwa aku memilik ibu yang cacat! 
Aku bertekad untuk belajar sekuat tenaga, melanjutkan kuliah ke tempat jauh dan memiliki pekerjaan yang bonafid agar aku menjadi orang terpandang di masyarakat.  
Tamat dari SMA, aku pun melanjutkan kuliah di kota yang cukup jauh. Kutinggalkan ibu sendiri di kota kecil kami. Sesekali, ibu mengirimkan surat dan uang kepadaku untuk biaya kuliah, meski sebenarnya aku tidak berharap ibu mengirimkannya, sebab di kota ini aku kuliah sambil bekerja part time, jadi gaji yang kuterima cukup untuk biaya kuliah dan biaya hidup. Saat itu, lega sekali rasanya aku tidak lagi bertemu dan berhubungan dengan ibu yang membuatku selalu malu. 
Setamat kuliah, aku mendapat pekerjaan yang bonafid. Gaji yang cukup besar kuterima setiap bulannya. Aku pun pindah ke rumah yang cukup elit, sehingga surat-surat yang dikirimkan ibu tidak kuterima lagi. Dan ibu pun sudah tidak mengetahui alamatku yang sekarang.  
Beberapa bulan kemudian, aku menikah dengan gadis pujaanku. Gadis dari keturunan orang berada. Dan tentu saja aku tidak mengundang ibu ke pesta pernikahanku. Beberapa tahun kemudian, aku memiliki 3 orang anak. Aku sangat menikmati kehidupanku yang sekarang, kehidupan yang penuh sejahtera dan bahagia. 
Suatu hari, seorang wanita tua bermata satu datang ke pagar rumah kami dan mengucapkan salah, anak-anakku yang masih kecil terpaku melihat wanita tersebut dari taman rumah, lalu mereka menangis dan berlari ke arahku. Wanita itu adalah ibuku... ia sudah kelihatan sangat tua dibanding beberapa tahu lalu.  
Aku pun menyuruh anak-anak masuk ke rumah, lalu aku mendekati ibu. 
"Untuk apa ibu kemari? Dari mana ibu tahu alamat saya?!!!". Tanyaku ketus. 
"Alhamdulillah, ternyata ini benar rumahmu. Ibu kira ibu tersesat...". Ujar ibu tanpa peduli pertanyaanku.  
"Ibu datang ke sini hanya membuat anak-anakku takut saja... sebaiknya ibu pulang saja!". Ujarku sedikit emosi. Lalu aku sodorkan sejumlah uang. 
"Maafkan ibu, Nak...". Jawab ibuku singkat. Ia tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Ibu pun membalikkan badannya kemudian hilang dari pandanganku.  
Sejak hari itu, ibu tidak lagi pernah datang ke rumah kami. Hingga tujuh tahun kemudian... Pada suatu hari, aku mendapat undangan reuni dari SMP tempat aku belajar, SMP di kota kelahiranku, tempat ibuku tinggal.  
Lama tidak bertemu dengan kawan-kawan, rasanya rindu juga untuk melihat kota masa kecilku. Dalam hati, kuniatkan juga untuk bertemu ibu kalau sempat. Karena itu, aku sengaja tidak membawa istri dan anak-anak.  
Perjalanan yang cukup jauh ke kota kecilku terbayar dengan lepasnya kerinduan bertemu dengan kawan-kawan lama. Mereka semua memujiku karena dianggap sukses dalam hidup.  
Seusai reuni, aku pun menyempatkan diri berkunjung ke rumah ibu di sore hari, rumah masa kecilku. Ketika aku sampai ke halaman, kulihat daun-daun kayu banyak berserakan dan menutupi tanah, seakan rumah ini tak berpenghuni. Jaring lab-laba pun bergelantungan dan membuat rumah seakan menyeramkan.  
Kuketuk pintu, kuucapkan salam, tiada jawaban. Tiga kali kuketuk dan tiada jawaban, aku pun berjalan ke rumah tetangga sebelah. Ternyata mereka bukan lagi tetanggaku semasa kecil, mereka orang baru sepertinya. 
"Ke mana wanita yang tinggal di rumah sebelah?". Tanyaku kepada tetannga. 
"Oh, maksudmu wanita tua bermata satu itu ya?". 
"Iya". 
"Dia sudah meninggal dunia 3 bulan yang lalu...". Ujar tetangga. 
Jantungku berdegup. Fikiranku melayang jauh ke masa silam. 
"Ohya, anda ini siapa? Apa anda kenal dengan anak ibu ini? Dia pernah bercerita kalau dia punya seorang anak laki-laki, kira-kira seusia anda...". Tanya tetangga menyadarkanku dari lamunan. 
"Oh, tentu... saya kenal...". Ujarku terbata-bata. 
"Alhamdulillah... baguslah. Soalnya beberapa hari sebelum meninggal, ibu tua itu pernah menitipkan sebuah surat, dia berpesan kalau anaknya datang ke rumah, agar di sampaikan kepada anaknya itu. Tapi sampai sekarang dia belum kunjung datang, jadi saya titipkan saja pada anda". Ujar tetangga. 
"Baiklah, mana suratnya...?". 
Tetangga itu pun masuk ke rumah, lalu kembali dan menyerahkan sepucuk surat yang sudah lusuh.  
"Ohya, di mana kuburan wanita tersebut?". Tanyaku. 
Tetangga itu pun menunjukkan sebuah jalan, dan aku sudah mengetahuinya. 
Setelah itu, aku berpamitan dan langsung menuju ke pusara ibu. Di dekat pusara itu, kubuka surat dari ibu yang bertuliskan: 
"Anakku sayang...

Tahukah engkau, betapa aku memikirkan engkau setiap saat... Tahukah engkau betapa dalamnya rasa rindu terhadapmu... Tapi biarlah, mungkin kerinduan ini akan ada ujungnya, sebagaimana fikiran juga ada batasnya... 
Ibu faham, selama ini ibu telah membuatmu malu... Mata ibu yang cacat menjadikanmu minder di hadapan teman-temanmu... Maafkan ibu Nak...
Tapi ibu ingin menceritakan sesuatu untukmu...
Dulu ketika engkau masih berumur sekitar 3 tahun, ketika itu ibu masih muda... engkau bermain dan berlari-lari... karena asyiknya bermain, engkau terjatuh dan matamu yang sebelah kiri tertusuk kayu... Ibu bawa engkau ke rumah sakit, dan dokter memutuskan untuk mengeluarkan matamu... 
Tapi ibu tidak tega melihat engkau tumbuh dan besar dengan satu mata... Akhirnya, ibu meminta agar mata ibu yang sebelah kiri ini didonorkan kepadamu... Biarlah ibu yang cacat, asal jangan engkau... Dan rumah sakit pun menyetujuinya, hingga akhirnya operasi itu berhasil dan mata ibu tinggal satu...
Anakku... 
Sekarang ibu bangga, engkau telah menjadi orang orang sukses... seperti yang ibu lihat dari rumahmu yang besar... anak-anakmu yang lucu... 
Ibu bangga, mata ibu yang sebelah itu engkau manfaatkan sebaik-baiknya untuk melihat dunia ini.... Jadi, meskipun ibu mati nanti, ibu seakan masih melihat dunia ini lewat mata yang ada di wajahmu...
Ibu ucapkan terima kasih, Nak... 
Semoga engkau selalu bahagia dalam hidupmu.
Salam cinta yang tulus dari Ibumu..." 
Syahdan setelah membaca surat itu, air mataku tak terbendung membasahi pusara ibu...
loading...

1 comment:

  1. subhanalloh .. sungguh cerita yang sangat menyentuh dan penuh pelajaran...

    ReplyDelete

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih