Tuesday, June 24, 2014

Empati; Agar Hidup Kita Tidak Sia-sia...

Hellen Keller dan Anne, 1988
"Asalkan saudara dapat mengurangi penderitaan orang lain, kehidupan tidak akan sia-sia” 

Demikian kata Helen Keller dalam sebuah tulisannya. Keller pasti mengerti seperti apa kepedihan emosi itu. Ketika ia berusia 19 bulan, suatu penyakit membuatnya sama sekali buta dan tuli. Namun, seorang guru yang berbaik hati mengajari Helen membaca dan menulis dalam huruf Braille dan, kemudian, berbicara.

Guru Keller, Ann Sullivan, tahu benar bagaimana frustrasinya saat berjuang menghadapi cacat fisik. Ia sendiri nyaris buta. Tetapi, Ann dengan sabar merancang suatu cara berkomunikasi dengan Helen dengan ”mengejakan” huruf-huruf pada tangan Helen.

Tergerak oleh empati gurunya, Helen memutuskan untuk membaktikan hidupnya sendiri guna membantu para tunanetra dan tunarungu. Setelah mengatasi cacat fisiknya sendiri melalui upaya yang besar, ia dapat seperasaan dengan orang-orang yang mengalami keadaan serupa. Ia ingin membantu mereka.

Sebagai manusia, terlebih sebagai Muslim, kita diperintahkan untuk mengasihi sesama dengan sungguh-sungguh. Rasulullah Saw menegaskan: "Kasihilan apa yang ada di bumi, niscaya Yang Di Langit akan mengasihimu".

Namun sering kali ada suatu kenyataan yang tak dapat kita pungkiri: Meskipun kita benar-benar berniat untuk mengasihi satu sama lain dengan sungguh-sungguh, kita sering kali kehilangan kesempatan untuk meringankan penderitaan orang lain. Kesempatan itu mungkin lewat begitu saja karena kita tidak tanggap terhadap kebutuhan mereka.

Di sinilah dibutuhkan suatu ras yang disebut 'Empati'. Empati adalah kunci yang dapat membuka peluang bagi kita untuk berbuat kebaikan hati dan dan menyayangi sesama.

Apakah Empati Itu?
Sebuah kamus mendefinisikan empati sebagai ”pengenalan dan pemahaman akan keadaan, perasaan, dan motif orang lain”. Kata ini juga dilukiskan sebagai kesanggupan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain.

Oleh karena itu, agar dapat berempati, pertama-tama, kita harus memahami keadaan orang lain dan, kedua, kita berbagi perasaan yang timbul dalam dirinya karena keadaan itu. Ya, empati berarti kita merasakan penderitaan orang lain di hati kita.

Kata ”empati” tidak muncul dalam kitab suci dan nash-nash religi, karena ia sebuah istilah baru. Namun dari intrepretasi terhadap istilah ini amat banyak ditemukan. Misalnya dalam hadits-hadits Rasulullah Saw:

"Cintailah saudaramu seperti apa dirimu ingin dicintai".

"..Dan cintailah untuk orang lain apa yang engkau cintai untuk dirimu, maka engkau adalah seorang Muslim.."

Seorang pemuda datang kepada Rasulullah Saw dan memohon izin untuk berzina. Rasulullah Saw pun mengetuk hati pemuda ini dengan membuka pintu kesadarannya melalui rasa empati. Rasulullah Saw melontarkan pertanyaan-pertanyaan: "Sudikah engkau jika orang berzina dengan ibumu? Dengan saudarimu? Dengan bibimu...dst".

Pemuda itu terdiam. Itulah empati yang menyadarkan rasa individualisme.

Semua nash-nash itu seakan mengajarkan kepada kita, rasanya sulit untuk mengasihi sesama kita seperti diri sendiri jika kita tidak menempatkan diri kita pada posisi orang lain!

Kebanyakan orang memiliki tingkat empati yang alami. Siapa yang tidak akan tergugah saat menyaksikan gambar yang menyayat hati tentang anak-anak yang kelaparan atau para pengungsi yang putus asa? Dapatkah ibu yang pengasih mengabaikan isak tangis anaknya?

Tetapi, tidak semua penderitaan dapat terlihat dengan mudah. Betapa sulit untuk memahami perasaan orang yang sedang mengalami depresi, gangguan fisik yang tidak kentara, atau bahkan kelainan perilaku makan—jika kita sendiri belum pernah mengalami problem seperti itu!

Kkarena itu, seperti pesan Rasulullah Saw kepada pemuda di atas, hendaknya kita selalu berusaha mengembangkan sikap seperasaan terhadap orang yang keadaannya belum pernah kita alami!

Cara Memupuk Empati
Ada tiga cara utama untuk meningkatkan kepekaan kita terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain, yakni dengan mendengarkan, mengamati, dan membayangkan.

Dengarkan. Dengan mendengarkan secara saksama kita mengetahui problem apa yang dihadapi orang lain. Dan, semakin baik kita mendengarkan, semakin besar kemungkinan mereka membuka hati dan mengungkapkan perasaan mereka.

Karena itu, siapkanlah telinga anda untuk mendengarkan masalah orang lain. Meski terkadang kita tak sanggup membantu, tapi sekedar mendengar ceritanya saja barangkali akan meringankan masalahnya.

Amati. Tidak semua orang akan secara terbuka memberi tahu kita apa yang mereka rasakan atau apa yang sedang mereka alami. Karena itu terkadang kita perlu memperhatikan orang lain -bukan dalam arti usil- untuk mengetahui problem mereka.

Inilah yang dilakukan oleh Umar bin Khattab r.a yang berkeliling kota Madinah hampir setiap malam secara sembunyi-sembunyi untuk mengetahui apa problem yang dihadapi oleh rakyatnya. Jauh sebelum dikenal istilah 'blusukan' seperti sekarang ini.

Bayangkan. Gunakan imajinasi Saudara. Cara paling ampuh untuk menggugah empati adalah dengan mengajukan pertanyaan kepada diri kita sendiri: ’Seandainya saya berada dalam situasi ini, bagaimana perasaan saya? Bagaimana saya akan bereaksi? Apa yang akan saya butuhkan?’

Manusia yang tidak sempurna sering kali lebih mudah mengkritik kesalahan daripada memahami perasaan. Namun, jika kita berupaya keras untuk membayangkan kesusahan yang diderita seseorang, hal ini akan membantu kita untuk bersimpati dan bukannya menyalahkan.

Itulah pengajaran yang diajarkan oleh Rasulullah Saw kepada pemuda yang hendak berzina itu. Menggugah nalar dengan pertanyaan-pertanyaan empati.

Semoga kita bisa...!
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih