Saturday, October 21, 2017

[Inovasi] Minyak Goreng dari Ulat Jerman...

loading...
Jika biasanya minyak goreng yang biasa kita konsumsi terbuat dari bahan nabati seperti kelapa, kelapa sawit, zaitun, jagung, bunga matahari, conola dan lain sebagainya, tapi tahukah anda ternya minyak makan ternyata juga bisa diproduksi dari seranggga?

Ya, ternyata minyak goreng juga bisa diproduksi dari serangga, salah satunya adalah dari 'Ulat Jerman'. Seperti diberita oleh BBC, sekelompok mahasiswa dari Universitas di Malang saat ini tengah mengembangkan Minyak goreng dari ulat Jerman, dan direncanakan akan segera dikomersialkan dan perusahaan-perusahaan di Eropa sudah siap jadi pembeli.

Ulat jerman atau dalam bahasa ilmianya disebut zophobas morio merupakan salah satu jenis ulat yang berukuran kurang lebih 6 cm. Selama ini, ulat Jerman banyak digunakan sebagai pakan untuk hewan reptile, burung kicauan dan unggas lainnya. Di kalangan orang yang memiliki hobi memelihara reptile, burung kicauan dan unggas, ulat jerman dikenal sebagai king mealworm. Nilai gizi dari ulat jerman lebih tinggi dari ulat lainnya dan ulat jerman juga dianggap lebih aman dibandingkan dengan ulat lainnya yang digunakan oleh pemelihara burung kicauan di Indonesia.

Ulat Jerman memiliki system imun yang lebih tinggi ketimbang ulat jenis lainnya, sehingga ketika ulat jerman menjadi pakan burung, maka ulat jerman tersebut dapat membantu dalam menangkal berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, parasite yang dapat menyerang burung. Selain itu, ulat jerman lebih gampang di cerna oleh hewan peliharaan burung walaupun burung mengkonsumsi ulat jerman dalam jumlah yang banyak. 

Belakangan ini, budidaya ulat jerman memang sangat marak di Indonesia walaupun jumlah pembudidaya ulat jerman masih sedikit dibanding pembudidaya ulat hongkong.

Dikutip dari situs goodnewsfromindonesia.id, minyak dari Ulat Jerman ini dikembangkan oleh Muhammad Ifdhol dan rekan-rekannya Mahasiswa dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang bersama timnya Biteback. Tim ini adalah tim insect mineral oil yang meraih juara dua dalam lomba Thought For Food, yakni lomba teknologi ketersediaan pangan yang berkesinambungan, di Swiss tahun 2016 lalu. 

Disebutkan, proyek ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi minyak sawit yang sering disebut-sebut sebagai penyebab kerusakan hutan. Salah seorang anggota tim, Mushab Nursantio mengatakan setelah menang lomba mereka melakukan pengembangan bisnis di Eropa dalam satu tahun terakhir dan telah ada enam perusahaan di Eropa yang siap bekerja sama.

Apakah Halal?
Dikutip dari BBC, ini dia yang paling banyak menjadi pertanyaan dari masyarakat: apakah minyak itu tergolong haram atau halal. Soal halal dan haram itulah sebagian dari sekitar 1.200 komentar terkait minyak yang dikembangkan tim mahasiswa Brawijaya, Malang, melalui Facebook BBC Indonesia.

Menjawab pertanyaan ini, Mushab mengatakan, "Serangga secara umum halal, dan tak perlu disembelih...ada contoh perwarna makanan warna merah alami dan bahan bakunya serangga sudah dinyatakan halal."

BBC Indonesia juga bertanya kepada Arwani Faishal, anggota komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan untuk menentukan halal tidaknya "diperlukan fatwa MUI karena serangga jenisnya banyak sekali... dan perlu diteliti apakah ada darah mengalir (dari ulat saat akan diproses)." Arwani juga mengatakan semut dan laron serta kutu kasur sudah dipastikan halal.

Ulat Jerman ini dikembangkan dari jenis kumbang mealworm dengan daur hidup cepat dan hanya perlu sekitar tiga puluh hari.

Bagaimana kandungan nutrisinya?
Menurut penelitian tim, minyak dari ulat Jerman ini kandungan lemaknya jauh lebih sehat karena lemaknya rendah dan mengandung omega tiga tinggi, juga rendah kolesterol. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Nur Hidayat mengatakan, seperti dikutip dalam blog BiteBack di TFF, bahwa minyak ini memiliki kandungan tinggi asam lemak Polyunsaturated Fatty sehingga cocok untuk konsumsi minyak. "Produk ini juga merupakan solusi alternatif minyak masak yang berkelanjutan," tambahnya.

Prospek Bisnisnya?
Mushab mengatakan karena pengembangan ulat Jerman sangat murah, budidaya ini "membuka peluang bagi masyarakat menengah yang ingin berwira usaha dengan modal dan risiko yang rendah."

"Serangga ini sangat potensi yang besar bagi masyarakat yang misalnya tak punya lahan untuk berbinis. Dan bisa pakai untuk pakai ruang di rumah masing-masing...dengan satu kamar kosong (untuk mengembangkan kumbang) untuk dapat penghasilan tambahan misalnya."

"Budidaya ini juga sangat efisein, satu kumpang bisa menghasilkan 500 telur dan bisa jadi ulat tiap dua minggu...untuk pakan dikasih limbah organik dari pasar atau limbah industri sereal dari limbah penggilingan gandum," tambahnya.

"Untuk modalnya kira-kira tiap bulan, sekitar 500 kumbang, kurang dari Rp100.000 tapi bisa dijual antara Rp300.000 sampai Rp500.000," tambah Mushab.

Sumber: 
BBC [http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-41602634]
Goodnewsfromindonesia.id [https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/10/13/baru-minyak-goreng-dari-ulat-jerman-boleh-jadi-inovasi-masa-depan]
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih