Sunday, December 22, 2013

Kaki Sultan di Leher Kaisar

loading...
Gambar yang anda lihat di samping ini adalah lukisan yang dibuat oleh salah seorang seniman Eropa pada abad ke-XVI M. Lukisan itu menggambarkan seorang Sultan Muslim menginjakkan kakinya di leher salah seorang Kaisar Romawi.

Sang seniman melukis gambaran ironi ini sebagai pengingat dan pembangkit memori bangsa Eropa dalam memerangi kaum Muslimin.

Sultan yang dimaksud dalam lukisan tersebut adalah Sultan Aleb Arslan, sedangkan Kaisar adalah Kaisar Romanus IV dari Byzantium. Apa latar belakang dan sejarah lukisan ini?

Lukisan itu merupakan gambaran dari kisah nyata. Pada tahun 1071 M (463H), meletuslah pertempuran Maladz Kurd yang terjadi antara pasukan kaum Muslimin dari Dinasti Saljuq (salah satu bangsa Turki) melawan pasukan Romawi dari Byzantium. Sebelum peperangan, Sultan Arslan berkali-kali meminta Kaisan untuk mengadakan perjanjian damai, tapi hal itu ditolak sang Kaisar, hingga akhirnya berkobarlah peperangan yag hebat itu.

Pasukan muslim dipimpin langsung oleh Sultan Aleb Arslan, dan pasukan Romawi juga dimpimpin langsung oleh Kaisar Romanus IV.

Setelah melewati peperangan yang sangat lama, pasukan Romawi akhirnya takluk di hadapan pasukan Islam. Sejarah mencatat, inilah gerbang awal keruntuhan Romawi Timur.

Pasukan Romawi ditaklukkan, Kaisar Romanus IV pun menjadi tawanan. Ia diseret ke hadapan Sultan. Sang Sultan menginjakkan kakinya di leher Kaisar, seraya bertanya:

"Kaisar, seandainya saya yang menjadi tawanan anda, apa yang akan anda lakukan terhadap saya?".

Romanus menjawab:

"Andai itu terjadi, barangkali aku akan membunuhmu! Atau aku akan menyeret tubuhmu dan mempertontonkannya di sepanjang jalan Constantine!". Jawab Romanus.

Arslan berkata:

"Hmm.. kalau begitu, aku akan menyiksamu dengan hukuman yang lebih sadis: aku memaafkanmu dan melepaskanmu!".

Mendengar itu, Romanus kaget. Ia nyaris tak percaya apa yang ia dengar.

Dan benar saja, Sultan Arslan melepaskan sang Kaisar. Sultan lalu memperlakukannya dengan lemah lembut, dan menawarkan pejanjian damai seperti yang pernah ditawarkannya dulu sebelum perang. Kendati ia dalam masa penawanan, Sultan tetap mengajaknya makan dalam satu meja dan memberinya pakaian yang layak.

Seminggu lamanya Sultan memperlakukan Kaisar tersebut secara baik. Sultan meminta agar ia pasukan Romawi meninggalkan wilayah Antokiah, Edesta dan Herapolis. Selain itu, Sultan juga meminta tebusan sebesar 10 juta keping emas sebagai tebusan bagi kebebasan Sang Kaisar, serta upeti sebesar 360.000 keping emas setiap tahunnya.
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih