Monday, April 29, 2013

Tafakkur Dalam Sepiring Nasi

loading...

Apa yang pernah terlintas dalam fikir kita, ketika sepiring nasi beserta lauk dan sayur terhidang di depan kita?

Mungkin karena 'makan' nasi sudah menjadi rutinitas sehari-hari, sehingga sudah tak terfikir lagi apa yang ada dibalik sepiring nasi beserta lauk dan sayurnya, apalagi kalau perut kita sudah lapar bukan kepalang.


Memang tidak ada salahnya kita menikmati makanan yang telah kita masak atau kita beli sebagai rezeki dan nikmat yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada kita, namun akan lebih berasa nikmatnya dan bertambah syukur kita, ketika sekali waktu kita berfikir sejenak apa yang ada dibalik sepiring nasi beserta lauk dan sayurnya yang akan kita nikmati itu.

Ada para Petani dan Buruh Tani yang bekerja keras peras keringat sepanjang hari, merawat padi, mulai dari membajak tanah, meratakan tanah, mengairi, menanam benih, memupuk, membersihkan rumput, mengusir hama, lalu memanen, dengan hasil yang tak seberapa dibandingkan dengan modal dan tenaga yang dikeluarkan, kadang mereka sendiri tak menikmati padi yang ia tanam itu, ia memilih beras raskin murahan untuk ia makan.

Pernahkah sekali waktu kita cium tangan mereka? Karena memang tangan mereka layak kita cium dan layak kita kasih penghargaan ketika banyak orang tidak begitu menghargai jerih payah mereka bahkan memandang sebelah mata kepada mereka. Lihatlah sekali waktu betapa telapak tangan mereka yang begitu kasar dan retak-retak, demi melayani kita, memenuhi kebutuhan utama kita.

Ada Para Nelayan yang menyabung nyawa di tengah lautan, berbantalkan ombak dan berselimut angin, dan seringkali juga bertarung melawan badai hanya untuk mengais ikan yang sudah semakin langka agar kebutuhan gizi dan protein kita tercukupi, ada juga kuli panggul yang mengantar hasil tani dan nelayan itu hingga sampai di tempat kita.

Dan ada banyak orang yang belum bisa melahap sebutir nasi pun sebelum membanting tulang mencucurkan keringat dari pagi hingga siang hari, dan sebagian mereka juga sangat tidak mudah untuk mencari sesuap nasi setiap harinya.

Dari tangan mereka yang kasar dan retak-retak serta cucuran deras keringat mereka itulah sebagian besar kebutuhan pokok kita terpenuhi, rasanya sangat layak kalau kita sekali waktu mencium tangan mereka, agar kita bisa meraba dan melihat langsung tangan mereka yang begitu sabarnya menekuni pekerjaan yang tidak ringan itu.

Rasulullah SAW junjungan kita, suri tauladan kita, Beliau pernah mencium tangan sahabatnya yang kasar, retak dan bernanah yang profesinya sebagai pencari kayu bakar.

Ya, sekali waktu kita perlu bertafakkur, agar hidangan yang setiap hari menghiasi meja makan kita menjadi lebih bermakna.
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih