Tuesday, November 17, 2015

[Renungan]: Aku Milik Suamiku, Dan Suamiku Milik Ibunya

Sebagai bahan renungan untuk kaum muslimah, terutama mereka yang pernah atau sedang bermasalah dengan mertuanya, simak dan renungkanlah nasihat ini baik-baik;

Seburuk apapun mertua, aku selalu ingat bahwa dia, adalah wanita yang mengandung suamiku dalam kepayahan selama 9 bulan.

Dia, adalah wanita yang air susunya menjadi makanan pertama bagi suamiku. Dia, ialah wanita yang mendidik dan membesarkan suamiku, yang mengajarkan kepada suamiku akhlaq sehingga aku nyaman di sisi suamiku saat ini.

Aku, ngga pernah keluar uang sepeserpun untuk menyekolahkan suamiku, hingga ia dapat ijazah, yang sekarang ijazah itu ia gunakan untuk mencari nafkah, untuk menafkahi aku!

Aku, ngga sedikitpun mendidik suamiku hingga kini ia jadi pria yang penuh tanggungjawab, dan aku merasakan bahagia menjadi istrinya.

Setelah pengorbanannya yang bertubi tubi, anak laki-lakinya menikah denganku, dia bagi kasih sayang anaknya denganku.

Cemburu? Pasti dia cemburu. Aku wanita asing, yang kini selalu disayang-sayang oleh anak laki-lakinya.

Harta anak laki lakinya tercurah untuk kunikmati, padahal ia yang melahirkan, membesarkan dan mendidik.

Aku memahami cemburu itu, walau aku pun merasakan cemburu ketika suamiku lebih memihak mertuaku.

Aku bukan malaikat yang tidak pernah jengkel dengan mertuaku, dan mertuaku pun bukan malaikat yang selalu kubela.

Adakalanya aku marah, cemburu dan sakit hati. Namun aku ingat semua jasanya pada suamiku, jasa yang sampai akhir hayat-pun aku ngga akan mampu membayarnya.

Pada ujung tangisku, terngiang nasehat ibundaku tercinta:

"Nak, dukunglah suamimu untuk berbakti pada ibunya. Jangan suruh ia memilih antara kau dan ibunya. Karena, kelak kau akan merasakan bagaimana sakitnya diperlakukan seperti itu oleh anak laki lakimu. Apa yang kau lakukan pada mertuamu, akan dilakukan pula oleh menantumu. Segala sesuatu pasti ada timbal baliknya.."

Dan tangisku makin deras.

Oh suamiku, bahagiakanlah orang tuamu semampumu. Semoga kelak anak-anak kita pun membahagiakan kita, sebagai balasan baktimu pada orang tuamu. Mumpung mereka masih hidup, belum tentu pula mereka masih bisa ngerepotin kita 10 tahun ke depan. Tidak lama, tapi balasannya adalah syurga.
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih