Monday, March 13, 2017

Hikayat Lembu Peteng - Dari Kitab Ahla al-Musamarah

loading...
Alkisah, konon Lembu Peteng adalah anak hilang dari pasangan Raja Brawijaya dan nyai Wandan Kuning.

Kenapa anak hilang? Begini ceritanya.

Syahdan, Raja Brawijaya merupakan raja terakhir dari kekuasaan Mojopahit. Ia pernah mengalami sakit yang cukup berat, tidak sembuh-sembuh dalam waktu yang cukup lama. Berbagai upaya dilakukan, hingga akhirnya mendatangkan para thabib (orang pinter) dari berbagai daerah kekuasaannya. Hasilnya, para thabib merekomendasikan untuk bisa sembuh dari penyakitnya, sang Raja harus kawin dengan Wandan Kuning.

Rekomendasi para thabib, bagi raja Brawijaya cukup berat dilakukan, mengingat nama Wandan Kuning adalah perempuan yang dikenal bukan turunan bangsawan, sekaligus wajahnya tidak berparas cantik. Tapi, keinginan sembuhnya, tetap mendorong Brawijaya untuk menikahi Wandan Kuning. Saatnya dalam waktu yang ditentukan akhirnya Brawijaya betul-betul menikahi Wandan Kuning, meskipun dengan sangat berat.

Setelah dapat tiga hari, sungguh terjadi keajiban luar biasa, ternyata penyakit Brawijaya berangsur angsur pulih. Dalam waktu yang tidak begitu lama, badan Brawijaya sembuh total dari penyakit yang disandangnya sebagaimana sedia kala. Bukan itu saja, dalam waktu yang tidak lama pula akan lahir si jabang bayi dari perut Istri sebab Wandan Kuning, istri Brawijaya, juga dalam kondisi hamil tua.
Perjuangan Anak Hilang

Seiring perjalanan waktu, Wandan Kuning akhirnya melahirkan anak laki-laki yang berparas ganteng dari pernikahannya dengan Raja Brawijaya, yang diberi nama Raden Bunden Kejawen.
Kehadiran anak, mestinya menjadi kebahagiaan keluarga. Tapi, bagi Brawijaya kehadiran putranya menjadi bencana sebab ia merasa malu, apalagi di lingkungan kerajaannya sebab Raden Bunden, putranya sendiri lahir dari perkawinan Brawijaya dengan perempuan yang dikenal Hina dan jelek.

Dari pada harus merasa malu diharapan rakyat dan tentaranya. Serta tanpa berpikir panjang lebar, Brawijaya terus membawa istrinya, Wandan Kuning, berikut anaknya Raden Bunden keluar dari area kekuasaannya menuju sebuah desa di wilayah madura, yang dikenal dengan nama Karang Jembu. Di desa ini, keduanya dititipkan kepada salah seorang petani yang miskin. Bersama petani ini, raden Bunden dan ibunya hidup, yang dalam kesehariannya sebagai petani hingga ia muda, tetap kehidupannya memprihatinkan; miskin dan terjebak dalam polah tingkah hidup yang buruk. Dari sini, kelak Raden Bunden dikenal di lingkungannya dengan sebutan "Lembu Peteng"/kerbau hitam, sebuah nama yang menjadimsimbol prilakunya.

Perasaan malu mulai muncul dari Lembu Peteng atas kondisi yang dialami. Bagaimana tida malu, ia putra raja yang dikenal memiliki kekuasaan yang luas, tapi hidupnya dalam kesengsaraan. Sungguh malu, itu yang tertanam dalam lubuk hati terdalam Lembu Peteng hingga akhirnya ia memilih keluar berkelana dari desa Karang Jembu dan menuju area pegunungan, yang dikenal dengan sebutan gunung Kadiyeng.

Di gunung Kadiyeng, Lembu Peteng meratapi nasibnya, sekaligus melakukan olah batin (riyadhah), sambil menyiksa dirinya dengan sedikit makan dan mengurangi tidur; dengan harapan ia memperoleh kekuasaan yang mampu mengendalikan pulau Jawa, sebagaimana kekuasaan ayahnya, Brawijaya.
Sungguh langkah bertapa model Lembu Peteng menarik, hingga dalam waktu yang tidak lama, ia mendengar "suara asing/suara tanpa fisik", yang mengatakan agar Lembu Peteng keluar dari pertapaannya menuju sebuah desa tertentu, untuk mencari seorang guru. Jika bertemu, kata suara tadi, berilah pelayan kepada sang Guru dengan total, ikhlas dan ikutilah segala perintahnya.

Singkat cerita, Lembu Peteng keluar dari pertapaannya. Ia melewati pegunungan, naik dan turun perbukitan. Menelusuri sawah dengan keluar masuk kampung-kampung lain. Pastinya, semua dilakukan dalam kondisi Lembu Peteng mengurangi ke enaan makan, minum dan tidur seadanya. Ia berharap kelak memiliki kedudukan yang mulia dan dimuliakan oleh masyarakatnya.

Setelah berjalan menelusuri pedesaan cukup lama, Lembu Peteng akhirnya bertemu dengan Ki Tarub. Ia pun mengenalkan dirinya. Tapi, nampaknya Ki Tarub memiliki mata batin yang luar biasa, ia mengetahui sebenarnya Lembu Peteng itu siapa?, setelah melihat paras wajahnya. Tanpa berpikir panjang, Lembu Peteng akhirnya berkata: aku menyerahkan jiwaku untuk menjadi santri dan berkhitmah total kepada panjenengan Ki Tarub, dengan harapan kelak aku memperoleh keberkahan hidup.

Keinginan Lembu Peteng disambut gembira oleh Ki Tarub, apalagi Ki Tarub tahu betul bahwa Lembu Peteng adalah putra Brawijaya yang hilang, dari istri Wandang kuning. Lantas, keduanya terjadi dialog sebagai berikut:

Ki TARUB: wahai anakku, jika anda berkhidmah padaku, maka kerjakanlah dengan benar dan sungguh sungguh. Dan jangan lupa, niat riyadhah batin dan tirakat untuk memperoleh impianmu menjadi raja dan penguasa.

LEMBU PETENG: aku akan mendengarkan dan taat terhadap perintah panjenengan Ki Tarub sebab inilah yang menjadi keinginanku. Dan, sungguh penerimaan panjenengan sebagai murid/santri adalah puncak dari kebahagiaanku agar kelak aku mendapat kehidupan yang berkah atas doa penjenengan setiap saat.

Setelah itu, Lembu Peteng berkhitmah betul kepada Ki Tarub dengan penuh ketulusan, tanpa merasa dirinya adalah anak orang besar. Totalitas berkhitmah ini dalam perjalanannya, Lembu Peteng selaku murid mendapat bimbingan spiritual langsung dari Ki Tarub selaku mursyidnya. Kematangan batinnya dari hari ke hari semakin tumbuh dan matang, bahkan menariknya selalu mendapat pantauan langsung dari Ki Tarub.

Kerja keras, totalitas belajar dan ketulusan khitmah Lembu Peteng kepada Ki Tarub tidak sia sia, hingga akhirnya impiannya terkabulkan sebab dalam perjanan waktu Lembu Peteng dikenal sebagai Panglima yang memegang teritorial Wilayah Madura. Bukan itu saja, dengan ketulusannya khitmah pada Gurunya Ki Tarub, Lembu Peteng menikah dengan Nawang Sih, yang merupakan putri Ki Tarub.

Oleh karenanya, Lembu Peteng adalah pelajaran bagi kita semua. Untuk menjadi hebat, tidak boleh menggunakan jalan pintas agar menuai keberkahan. Lembu Peteng menjadi panglima, tidak mengandalkan trah orang tuanya, Raja Brawijaya. Ia berproses secara tuntas, sambil totalitas mendekat sang Pemilik kekuasaan sejati, yaitu Allah Swt.

Menata batin dan belajar soal hakekat memberikan pelayanan kepada yang lain adalah salah satu potret pelajaran hidup dari Lembu Peteng. Bahwa itu semua, bila dilakukan dengan tulus, tidak sembrono apalagi merebut kekuasaan dunia dengan mengorbankan rakyat, akan mengantarkan kepemimpinan itu betul betul maslahah.

Sekali lagi, Lembu Peteng menjadi panglima, dilalui dengan kerja keras dan tirakat batin, bukan jalan pintas. Karenanya, jangan berpikir jalan pintas, yang banyak mengorbankan pihak lain, dipandang sebagai jalan terbaik sebab keberkahan Lembu Peteng muncul dari totalitas proses, bukan berpikir total pada hasil. Semoga Banyak model Lembu Peteng di Negeri ini, khususnya dalam kepemimpinan bangsa. Dan akhirnya, Lembu Peteng [kerbau hitam] menjadi Lembu Pote [kerbau putih]. Di akhir cerita, Mbah Fadhol mengutip syair:

بقدر الكد تكسب المعالى# فمن طلب العلى سهر الليالى.


Tidak ada kedudukan terhormat diperoleh, tanpa kerja keras.
Jika, menginginkannya, kurangi tidur malam.

.......................

[Diulas dari Kitab Ahla al-Musamarah fi Hikayah al-Auliya' al-Asyrah/Manisnya Bekadang: Hikayat Wali Sepuluh, karya Mbah Fadhol Bangilan Tuban, santri Hadlratusysyaikh Hasyim Asy'ari Jombang], al_Fatihah, untuk beliau berdua.

Sumber: Dari laman: Sahifa on Facebook
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih