Monday, January 19, 2015

Perut Buncit dan Kegemukan Dalam Pandangan Para Ulama

Kegemukan (obesitas) dan perut buncit disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya pola makan yang salah, faktor genetik dan lain sebagainya.

Peluang terjadinya berbagai macam penyakit karena obesitas memang tinggi, khususnya penyakit jantung, diabetes tipe 2, apnea tidur obstruktif, kanker tertentu, osteoartritis dan asma.

Pada tahun 2013, orang dengan kegemukan di dunia berjumlah 2,1 miliar dan Indonesia masuk urutan 10 besar dengan orang kegemukan berjumlah 40 juta orang atau setara seluruh penduduk Jawa Barat. Tidak seperti halnya di negara maju yang gemuk kebanyakan adalah laki-laki, maka di Indonesia yang gemuk kebanyakan adalah perempuan.

Dalam kacamata agama, kegemukan dan buncit memang bukan merupakan sesuatu yang hina atau dosa. Namun, ada pandangan menarik untuk kita cermati dari para ulama tentang fenomena ini.

Diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i (204H) rahimahullah pernah mengatakan:

“Sama sekali tidak akan beruntung orang yang gemuk, kecuali Muhammad bin Hasan Asy-Syaibany (189H).”

Imam Syafi’iy ditanya:

“Mengapa demikian wahai Imam?”

Beliau menjawab:

“Karena seorang yang berakal tidak lepas dari dua hal; sibuk memikirkan urusan akhiratnya atau urusan dunianya, sedangkan kegemukan tidak terjadi jika banyak pikiran. Jika seseorang tidak memikirkan akhiratnya atau dunianya berarti ia sama saja dengan hewan.” (diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam Hilyatul Auliya)

Artinya, menurut Imam Syafii bahwa kegemukan tidak akan muncul kalau seseorang selalu mendayagunakan akal fikirannya untuk terus berfikir. Dapat juga diambil kesimpulan bahwa jika ingin terhindar dari kegemukan, banyak-banyaklah berfikir.

Imam Syafi’iy juga pernah menceritakan kisah seorang raja yang sangat gemuk sampai tidak bisa berbuat apa-apa. Sang raja mengumpulkan para dokter dan berkata:

“Carilah cara untuk mengurangi berat badanku.”

Akan tetapi tidak seorang dokterpun yang bisa memberi solusi.

Kemudian sang raja mendengar tentang seorang yang pandai, beradab, bisa mengobati, dan meramal. Lalu sang raja mengutus seseorang kepadanya meminta pengobatan dan akan diberi kekayaan.

Orang pintar berkata:

“Semoga Allah menyembuhkan sang raja, saya adalah seorang dokter dan peramal, maka berilah saya kesempatan malam ini untuk melihat nasib yang mulia, dan obat apapun yang sesuai dengan ramalan nasib yang mulia maka akan aku berikan.”

Keesokan harinya, orang pintar berkata:

“Wahai sang raja, beri aku perlindungan!”

Raja menjawab:

“Jangan takut, kamu akan aman... aku menjamin keamananmu”

Orang pintar itu berkata:

“Aku telah melihat ramalan yang mulia dan menunjukkan bahwa umur yang mulia hanya tinggal satu bulan. Maka terserah yang mulia, apakah masih mau aku obati atau tidak. Dan kalau yang mulia tidak percaya, maka tahanlah aku disini. Jika perkataanku benar, maka bebaskan aku. Dan jika tidak, maka hukumlah aku.”

Sang raja pun gundah gulana. Ia amat cemas dan memerintahkan agar orang pintar itu ditahan. Sejak hari itu, sang raja suka menyendiri dan perasaan risau terus menghantuinya, ia terus menunduk tidak pernah mengangkat kepala, menghitung hari demi hari sisa hidupnya. Makin bertambah hari berlalu, makin bertambah pula rasa cemasnya. Sampai akhirnya ia menjadi kurus, setelah berlalu 28 hari.

Kemudian sang raja memanggil orang pintar tersebut dan berkata,:

“Bagaimana menurutmu?”

Orang pintar itu berkata:

“Semoga Allah memuliakan sang raja, saya lebih hina dihadapan Allah untuk mengetahui yang gaib. Dami Allah umur saya pun tidak aku ketahui, lalu bagaimana mungkin aku mengetahui umur yang mulia? Aku sama sekali tidak punya obat kegemukan kecuali rasa khawatir dan cemas, dan aku tidak bisa membuat yang mulia merasa cemas kecuali dengan cara ini.”

Akhirnya tubuh sang raja tidak gemuk lagi, dan orang pintar tersebut diberi hadiah yang baik. (Manaqib Imam Asy Syafi’i)

Komentar Umar bin Al Khathab tentang Perut Gendut
Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu pernah bertemu seseorang di jalan, dan bertanya kepadanya.

“Kenapa perutmu besar seperti ini?”, tanya Umar bin Khattab radhiyallahu ‘Anhu.

“Ini karunia dari Allah,” jawab orang tersebut.

“Ini bukan berkah, tapi azab dari Allah!”, seru Umar.

Ia pun melanjutkan:

“Hai sekalian manusia, hai sekalian manusia. Hindari perut yang besar. Karena membuat kalian malas menunaikan shalat, merusak organ tubuh, menimbulkan banyak penyakit. Makanlah kalian secukupnya. Agar kalian semangat menunaikan shalat, terhindar dari sifat boros, dan lebih giat beribadah kepada Allah.”

Sekali lagi, tulisan ini hanyalah motivasi untuk kita selalu menjaga kesehatan raga, dan para ulama tersebut tentu bukan sama sekali bermaksud menyudutkan apalagi menghina mereka-mereka yang obesitas dan berperut buncit, sebab boleh jadi hal itu muncul karena gangguan genetik dan lain sebagainya.

[Baca juga: Tips mudah mengecilkan perut buncit dengan aman]
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih