Orang Rajin Bersedekah Itu Bahagia, begini penjelasan ilmiahnya...

Pernahkah kita merasakan, ketika kita mengeluarkan sedekah kepada orang yang membutuhkan, ketika kita bisa membantu meringankan beban orang lain, lalu muncul perasaan bahagian entara dari mana dalam lubuk hari kita?;

Saturday, August 29, 2026

3 (Tiga) Rukun Syukur

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa syukur dibangun di atas tiga rukun: mengakui nikmat dalam hati, menyebutkannya secara lahir, dan menggunakannya untuk sesuatu yang diridhai oleh Pemberi nikmat.

3 rukun syukur

Dari sini kita belajar bahwa syukur bukan sekadar ucapan
alhamdulillah. Syukur adalah kesadaran yang hidup dalam hati, pengakuan yang keluar melalui lisan, dan kebaikan yang tampak dalam perbuatan.

Tiga Rukun Syukur

Ibnu Qayyim berkata tentang syukur:

الشكر مبني على ثلاثة أركان: الاعتراف بها باطناً، والتحدث بها ظاهراً، وتصريفها في مرضاة وليها ومسديها ومعطيها

“Syukur dibangun di atas tiga rukun: mengakui nikmat itu dalam hati, menyebutkannya secara lahir, dan menggunakannya untuk sesuatu yang diridhai oleh Pemilik, Pemberi, dan Penganugerah nikmat tersebut.”

Pertama, الاعتراف بها باطناً — mengakui nikmat dalam hati.

Syukur bermula dari cara kita memandang kehidupan. Kita menyadari bahwa apa yang kita miliki bukan semata-mata hasil usaha kita. Di balik ikhtiar ada pertolongan Allah; di balik kemampuan ada karunia-Nya; dan di balik setiap pencapaian ada begitu banyak nikmat yang sering tidak kita sadari.

Karena itu, orang yang bersyukur tidak hanya menghitung apa yang hilang, tetapi juga menyadari apa yang telah diberikan.

Kedua, التحدث بها ظاهراً — membicarakan dan mengungkapkan nikmat itu.

Nikmat yang disadari hati kemudian diakui oleh lisan. Alhamdulillah bukan sekadar kalimat yang diucapkan ketika memperoleh sesuatu yang menyenangkan. Ia adalah pengakuan bahwa segala kebaikan pada akhirnya berasal dari Allah.

Menceritakan nikmat bukan untuk membanggakan diri, tetapi untuk menghadirkan kesadaran bahwa kita hidup di antara begitu banyak pemberian-Nya.

Ketiga, تصريفها في مرضاة وليها ومسديها ومعطيها — menggunakan nikmat sesuai dengan keridaan Pemberinya.

Inilah bukti syukur yang paling nyata.

Jika Allah memberi ilmu, maka syukurnya adalah mengajarkannya.
Jika memberi harta, maka syukurnya adalah berbagi.
Jika memberi jabatan, maka syukurnya adalah berlaku adil dan melayani.
Jika memberi kekuatan, maka syukurnya adalah menolong.
Jika memberi waktu, maka syukurnya adalah mengisinya dengan kebaikan.

Sebab, nikmat yang tidak digunakan untuk kebaikan pada akhirnya hanya menjadi sesuatu yang kita miliki, bukan sesuatu yang kita syukuri.

Maka, syukur memiliki tiga bahasa: hati yang mengakui, lisan yang memuji, dan perbuatan yang membuktikan.

Jangan hanya bertanya, “Apa yang telah Allah berikan kepadaku?”
Tetapi tanyakan pula, “Untuk apa Allah memberikan semua ini kepadaku?”

Barangkali di situlah makna syukur yang lebih dalam: bukan sekadar menikmati karunia Allah, tetapi menjadikan setiap karunia sebagai jalan untuk mendekat kepada-Nya.

loading...

Friday, August 28, 2026

Hidup dengan Totalitas

 Ada manusia yang menjalani hidup sekadar untuk hidup.

Bangun, bekerja, mengejar kebutuhan, memenuhi kewajiban, lalu tidur. Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Ia hadir secara fisik, tetapi belum tentu hadir dengan sepenuh hati.

Padahal, Islam mengajarkan kita untuk menjalani kehidupan dengan totalitas.

Allah berfirman:

“Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-An'am: 162)

Ayat ini bukan hanya berbicara tentang ibadah dalam pengertian yang sempit. Ia berbicara tentang arah seluruh kehidupan.


Salat kita untuk Allah.
Ibadah kita untuk Allah.
Pekerjaan kita semestinya bernilai di hadapan Allah.
Ilmu yang kita pelajari semestinya menjadi jalan mendekat kepada Allah.
Keluarga yang kita bangun semestinya menjadi tempat menumbuhkan kebaikan.
Bahkan perjuangan, kesabaran, air mata, dan pengorbanan kita pun tidak sia-sia ketika semuanya diarahkan kepada-Nya.

Totalitas bukan berarti melakukan semuanya

Totalitas dalam Islam bukan berarti kita harus menjadi manusia yang sempurna dalam segala hal.

Totalitas berarti memberikan yang terbaik dari apa yang Allah titipkan kepada kita.

Jika kita menjadi seorang ayah, jadilah ayah dengan sepenuh hati.
Jika menjadi ibu, jadilah ibu dengan sepenuh jiwa.
Jika menjadi guru, ajarlah dengan ketulusan.
Jika menjadi pemimpin, pimpinlah dengan amanah.
Jika menjadi pelajar, belajarlah dengan sungguh-sungguh.
Jika menjadi pekerja, bekerjalah dengan jujur.

Sebab yang dinilai Allah bukan semata-mata sebesar apa posisi kita, tetapi seberapa sungguh-sungguh kita menjalankan amanah yang diberikan kepada kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya.”

Karena itu, jangan meremehkan peran yang sedang kita jalani.

Boleh jadi pekerjaan kita sederhana, tetapi keikhlasan kita menjadikannya mulia.
Boleh jadi jabatan kita kecil, tetapi amanah kita besar.
Boleh jadi kehidupan kita tidak terlihat istimewa di mata manusia, tetapi sangat bernilai di hadapan Allah.

Hidup ini terlalu singkat untuk dijalani dengan setengah hati

Ada orang yang baru menyadari nilai waktu ketika waktunya hampir habis.

Baru menyadari pentingnya keluarga ketika anak-anak telah dewasa.
Baru menyadari pentingnya kesehatan ketika tubuh mulai melemah.
Baru menyadari pentingnya berbuat baik ketika kesempatan telah pergi.
Baru ingin mendekat kepada Allah ketika usia telah sampai di penghujung.

Padahal kita tidak pernah tahu berapa panjang sisa perjalanan kita.

Karena itu, jangan menunggu sempurna untuk mulai bersungguh-sungguh.

Mulailah dari hari ini.

Jika bekerja, bekerjalah dengan baik.
Jika belajar, belajarlah dengan sungguh-sungguh.
Jika beribadah, hadirkan hati.
Jika mencintai, cintailah dengan tanggung jawab.
Jika meminta maaf, lakukan dengan ketulusan.
Jika berbuat baik, jangan menunggu dipuji.

Sebab hidup bukan tentang berapa lama kita berada di dunia, tetapi apa yang kita tinggalkan setelah kita tiada.

Totalitas membutuhkan hati yang lurus

Namun ada satu hal yang lebih penting daripada kesungguhan: niat.

Seseorang dapat bekerja keras tetapi kehilangan arah.
Dapat berjuang tetapi hanya mengejar pujian.
Dapat berprestasi tetapi lupa kepada siapa semua itu berasal.

Islam mengajarkan bahwa amal bukan hanya tentang apa yang kita lakukan, tetapi juga untuk siapa kita melakukannya.

Maka sebelum bertanya:

"Seberapa besar yang sudah aku lakukan?"

Tanyakan terlebih dahulu:

"Untuk siapa aku melakukan semua ini?"

Karena amal yang besar di mata manusia belum tentu besar di sisi Allah.

Sebaliknya, sesuatu yang kecil di mata manusia bisa menjadi sangat besar ketika dilakukan dengan ikhlas.

Totalitas adalah mempersembahkan hidup kepada Allah

Pada akhirnya, totalitas bukan tentang bekerja tanpa henti.
Bukan pula tentang mengejar dunia sampai lupa akhirat.

Totalitas adalah menempatkan seluruh hidup pada jalan yang benar.

Kita bekerja, tetapi tidak diperbudak pekerjaan.
Kita mencari harta, tetapi tidak diperbudak harta.
Kita mengejar prestasi, tetapi tidak kehilangan kerendahan hati.
Kita mencintai manusia, tetapi tidak melupakan Allah.
Kita menikmati dunia, tetapi tidak lupa bahwa kita akan kembali kepada-Nya.

Kita hidup di dunia dengan sepenuh tenaga,
tetapi hati tetap tertambat kepada akhirat.

Karena sesungguhnya kita bukan pemilik kehidupan ini.

Kita hanya penjaga amanah.

Allah memberi kita waktu.
Allah memberi kita kesehatan.
Allah memberi kita keluarga.
Allah memberi kita ilmu, kesempatan, kemampuan, bahkan setiap tarikan napas.

Dan suatu hari nanti, semua itu akan ditanyakan:

Untuk apa engkau gunakan?

Maka janganlah hidup sekadar hidup.

Hiduplah dengan kesadaran.
Berjuanglah dengan kesungguhan.
Berbuatlah dengan keikhlasan.
Dan persembahkanlah seluruh hidup kepada Allah.

Sebab ketika hidup telah diarahkan kepada-Nya,
tidak ada pekerjaan yang benar-benar sia-sia,
tidak ada perjuangan yang benar-benar hilang,
dan tidak ada air mata yang benar-benar percuma.

Totalitas dalam kehidupan bukan berarti memberikan seluruh hidup kepada dunia.
Totalitas berarti memberikan seluruh hidup kepada Allah, lalu menjalankan setiap peran di dunia dengan sebaik-baiknya.

Dan ketika suatu hari kita dipanggil pulang, semoga kita dapat kembali kepada-Nya dengan hati yang tenang:

“Ya Allah, aku telah berusaha. Tidak sempurna, tetapi aku telah memberikan yang terbaik dari apa yang Engkau titipkan kepadaku.”

loading...

Wednesday, April 22, 2026

Terlalu Sibuk "Menuntut", Lupa Untuk "Menjadi"

Saudaraku seiman...

Ada sebagian di kalangan kita yang sudah mengaji, sering berekspetasi bahwa saudara kita yang sudah mengaji harus sudah baik atau sempurna dalam semua aspek kehidupannya.

Sebagian dari kita sering ber-ekspetasi bahwa ikhwan / akhwat yang sudah hijrah dan mengaji harus memiliki muamalah yang baik, lisan yang lembut, akhlak nya mulia, nasihat nya hikmat, bebas dari kesalahan dan segala bentuk kebaikan-kebaikan lain nya. Alhasil, ketika ada satu atau dua orang ikhwan / akhwat yang tidak sesuai ekspetasi kita, mulai lah kita bergumam didalam hati “udah ngaji kok masih gitu akhlak nya” dan segala bentuk gumaman-gumaman lain nya.

Saudaraku, Hijrah memang butuh totalitas. Namun dalam mencapai totalitas, ada yang nama nya sebuah proses. Ingatlah bahwa bunga tak bermekar diwaktu yang sama.

Ada yang kita lihat secara dzahir ia baik-baik saja, namun ternyata ia sedang berperang dengan diri nya sendiri.

Ada yang kita lihat secara dzahir ia baik-baik saja, namun ternyata ia tertatih-tatih dalam meninggalkan kubangan riba.

Ada yang kita lihat secara dzahir ia baik-baik saja, namun ternyata ia berdarah-darah dalam meninggalkan kemaksiatan.

Ada yang kita lihat secara dzahir ia baik-baik saja, namun ternyata ia terseok-seok dalam meninggalkan musik, zina dan lain sebagainya.

Dan ada yang kita lihat secara dzahir ia baik-baik saja, namun gejolak batin nya sangat dahsyat bergemuruh.

Bersyukurlah jika kita diberikan Allaah kemudahan untuk memperbaiki lisan dan akhlak kita. Kami berharap,

Semoga semua kebaikan-kebaikan tersebut segera hadir didalam kehidupan kita semua. Kalau lah ada kesilapan yang dilakukan saudara kita, maka ahsan nya berilah udzur sebanyak-banyak nya. Memberi udzur kepada saudara kita adalah salah satu bukti bahwa ‘ilmu kita bermanfaat dan salah satu tanda berkah nya ‘ilmu.
Maka mulai hari ini, mari kita sama-sama belajar untuk SIBUK MENJADI BAIK dan BERHENTILAH MENUNTUT ORANG MENJADI BAIK.
Semoga Allaah ﷻ menerima taubatan kita, menjadikan kita insan yang memiliki sifat dan sikap ahli syurga, memperbaiki akhlak dan lisan kita, meneguhkan kita diatas Tauhid dan sunnah Rasulullah ﷺ mewafatkan kita dalam keadaan husnul khotimah
loading...

Thursday, November 25, 2021

[Kisah Hikmah]: Membeli Keringat Guru


Bersempena Hari Guru Nasional tahun 2021 ini, admin ingin share sebuah kisah penuh hikmah tentang arti penting kedudukan seorang guru. Semoga bisa menjadi ibrah bagi pembaca semua. 

Alkisah, dalam sebuah diskusi, seorang murid bertanya kepada gurunya:

Murid : "Jika memang benar para guru adalah orang-orang yang pintar, mengapa bukan para guru yang menjadi pemimpin dunia, pengusaha sukses, dan orang-orang kaya raya itu?

Gurunya tersenyum, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia masuk ke ruangan nya, dan keluar kembali dengan membawa sebuah timbangan.

Ia meletakkan timbangan tersebut diatas meja, dan  berkata : " Anakku, ini adalah sebuah timbangan, yang biasa digunakan untuk mengukur berat emas dengan kapasitas hingga 5000 gram".

"Berapa harga emas seberat itu? "

Murid mengernyitkan keningnya, menghitung dengan kalkulator dan kemudian ia mejawab,

"Jika harga satu gram emas adalah 800 ribu rupiah, maka 5000 gram akan setara dengan 4 milyard rupiah,"

Guru : "Baik lah anakku, sekarang coba bayangkan seandainya ada seseorang yang datang kepadamu membawa timbangan ini dan ingin menjualnya seharga emas 5000 gram, adakah yang bersedia membelinya?"

Murid berkata : "Timbangan emas tidak lebih berharga dari emasnya, saya bisa mendapatkan timbangan tersebut dengan harga dibawah dua juta rupiah, mengapa harus membayar sampai 4 milyar?"

Guru menjawab : "Nah, anakku, kini kau sudah mendapatkan pelajaran, bahwa kalian para murid, adalah seperti emas, dan kami adalah timbangan akan bobot prestasimu, kalianlah yang seharusnya menjadi perhiasan dunia ini, dan biarkan kami tetap menjadi timbangan yang akurat dan presisi untuk mengukur kadar kemajuanmu. "

Guru berkata lagi, "Satu lagi pertanyaanku. Jika ada seseorang datang kepadamu membawa sebongkah berlian ditangan kanannya dan seember keringat di tangan kirinya, kemudian ia berkata : "Ditangan kiriku ada keringat yang telah aku keluarkan untuk menemukan sebongkah berlian yang ada ditangan kananku ini, tanpa keringat ini tidak akan ada berlian, maka belilah keringat ini dengan harga yang sama dengan harga berlian"

"Apakah ada yang mau membeli keringatnya? "

"Tentu tidak." Ujar murid.

"Orang hanya akan membeli berliannya dan mengabaikan keringatnya. Biarlah kami, para guru, menjadi keringat itu, dan kalianlah yang menjadi berliannya."

Sang murid menangis, ia memeluk gurunya dan berkata : 

"Wahai guru, betapa mulia hati kalian, dan betapa ikhlasnya kalian, terima kasih guru. Kami tidak akan bisa melupakan kalian, karena dalam setiap kemajuan kami, setiap kilau berlian kami, ada tetes keringatmu..."

Guru berkata : "Biarlah keringat itu menguap, mengangkasa menuju alam hakiki disisi ilahi rabbi, karena hakikat akhirat lebih mulia dari segala pernak-pernik di dunia ini."

***

Untuk semua guru, Terima kasih atas segenap perjuanganmu semoga Allah Subhanahu wata'ala melindungmu dan melimpahkan karunia-Nya kepadamu sepanjang hayat. 🙏🙏🙏

loading...

Tuesday, March 10, 2020

Apa itu Allocation Uni Sizes? Mengenal Allocation Unit Sizes Pada Sebuah Disk

Assalamu 'alaikum sahabat semua. Pernah nggak kamu mengalami suatu ketika hardisk atau flashdisk mengalami kerusakan? Barangkali pernah ya.

Nah, biasanya ketika sebuah disk rusak, tak jarang orang mem-format kembali disk tersebut. Ketika kamu memformat Disk, pernahkan anda melihat pilihan allocation unit sizes.? apakah kamu penasaran apa sih gunanya.? berikut saya akan jelaskan setahu saya mengenai allocation unit sizes.

Allocation unit sizes atau cluster adalah: jumlah minimal ruang hard drive yang di tentukan untuk menyimpan data. 

Masih bingung? Baiklah saya akan memberi contoh gambaran sederhana mengenai cluster ini.

Misalkan anda mengatur allocation unit sizes menjadi 16kb pada sebuah disk dan anda memiliki file berukuran 1kb. Maka, file tersebut akan meminta memori sebanyak 16kb pada disk, sehingga boros 15kb. Namun, efek positifnya adalah bertambahnya kecepatan prossesing data, sehingga akan lebih cepat dalam membuka data ataupun menyalin data.

Dari sini apakah anda sudah mulai bingung.? Eh maksud saya paham.? Jadi kita mengatur allocation unit size menurut kebutuhan disk kita. Semakin besar clusternya maka semakin boros pula kita. Ga percaya.? mari kita buktikan.

Misalkan kita memiliki 1000 file dengan ukuran 1kb, dan mengatur cluster 16kb. Maka setiap file kita membuang 15kb. Jadi tempat terbuang keseluruhanya adalah 15kb x 1000(file) menjadi 15000kb atau lebih kurang 15mb. Lumayan tuh muat 2 -3 lagu. kan sayang. Itu perumpamaanya hanya 1000 file bagaimana kalo 10.000files.

Namun, perlu diingat. bahwa semakin kecil ukuran cluster, maka semakin lama pula proses membaca disk. karena semakin banyak bagian yang harus dibaca. Ya seperti ram kalo kecil, maka proses pengolahan data di motherboard akan lambat.

Singkatnya, allocation unit sizes berukuran kecil akan bekerja dengan baik jika disk menyimpan banyak file kecil. dan jika drive digunakan untuk menyimpan banyak file besar maka allocation unit sizes sebaiknya berukuran besar pula. jadi allocation unit size disetel menurut beban yang akan diterima oleh disk tersebut.

Sekali lagi, kapasitas disk semakin besar akan sangat mempengaruhi dalam memilih allocation unit sizes. Saya sarankan anda menggunakan nilai default dari microsoft yaitu sebesar 4096byte atau lebih kurang 4kb.
loading...