Monday, October 31, 2016

Kisah Hikmah dari Fabel Aesop: Rubah dan Anggur Yang Masam... [Iri Tanda Tak Mampu]

loading...
Dalam Fabel Aesop diceritakan, pada suatu hari ada seekor rubah sedang berjalan-jalan di hutan dan ia melihat di sebuah bukit ada anggur yang melilit pohon, di ujung pohohn itu ada buahnya matang-matang kemerahan mengundang lapar..

Buah itu sungguh menawan, Terbit air liurnya membayangkan buah tersebut ia lumat di mulutnya. Rasa manis dan aroma wanginya..

Lalu rubah tersebut mendekati pohon itu dengan susah payah mendaki bukitnya. Tapi betapa kecewanya ia ternyata ia tidak bisa menjangkau buah tersebut. Ia tak bisa memanjatnya...meski berkali-kali mencoba. Ia tak bisa menjangkaunya...meski melompat-lompat setinggi yang ia bisa.

Ia mencoba memakai ranting dan kayu disekitarnya untuk memperpanjang daya jangkaunya...Dan,,,, uuugh masih juga tidak terjangkau.

Rasa lapar dan haus kini semakin terasa menyiksanya. Keringat telah banyak keluar, tenaga telah banyak ia kerahkan. Sungguh, hatinya kini mulai kesal. Ia kesal karena ia tahu betul, monyet dan burung yang lebih kecil dari tubuhnya akan mampu menikmati buah-buah tersebut dengan mudahnya. Bahkan ular yang melata pun akan sanggup juga mencapainya.

Sedang dirinya...???

Rubah itu akhirnya menyerah meski hatinya tidak bisa menerima kenyataan itu. Ia tidak rela binatang lain bahagia menikmati buah merah tersebut sedang ia tidak bisa. Maka ia pun memikirkan cara agar buah ini jangan sampai dinikmati binatang lain. Rubah itu  tersenyum licik.

Ia lalu berjalan keliling hutan membawa sehelai daun sambil berteriak,

"Jangan makan buah dari tanaman yang melilit pohon iniiiii..... Jangan makan yaa...agar kalian selamaaat..."

Para binatang mengerumuninya ingin melihat daun tersebut.

"Mengapa memangnya?" tanya Kelinci.

"Karena rasanya sungguh masam dan bikin kita sakit perut dan sakit kepala!!!" kata Rubah itu meyakinkan.

"Oh syukurlah keluargaku tidak makan buah tersebut! Ih, tidak kusangka ada buah yang demikian mengerikan!!" kata Kelinci langsung percaya. Cacing, ayam, dan bekicot juga setuju.

"Memangnya, kamu sudah memakannya, wahai Rubah?" tanya Monyet.

"Tidak usah ditanya, aku ini kan serba tahu. Aku kenal seisi hutan ini. Dan pohon inilah yang paling tidak menguntungkan untuk kita." kata Rubah itu setengah emosi.

"Sumpah, pohon ini pohon terkutuk!" Rubah itu menguatkan opininya dengan sumpah dan fitnah. Monyet jadi agak bimbang hendak berdebat dengan Rubah.

Tak berapa lama seekor burung jalak melintas. Melihat kerumunan binatang itu, ia pun penasaran dan mampir.

"Ada apa, Kawan-kawan?" tanyanya.

Para binatang pun bersemangat mengabarkan pohon terkutuk tersebut. Jalak tertarik untuk melihat daunnya. Ia tersenyum...

"Wah, aku dari sana. Keluargaku selalu rombongan ke sana. Buahnya manis kok. Dan kami tidak pernah sakit karenanya. Ini namanya buah anggur."

Seluruh binatang langsung memandang rubah dengan sorot tanya. Rubah itu jadi benci pada Jalak. Tadi ia telah mendapat perhatian positif kini kehadiran Jalak membuatnya terancam. Rubah langsung berteriak,

" Dusta..! Sungguh engkau telah mengatakan hal paling merugikan untuk kaummu. Bertobatlah. Jangan bersekutu dengan pohon itu."

"Bagaimana jika kita membuktikannya? Ayo kita semua ke sana sekarang. Aku akan memandu kalian ke sana. Memang jalannya cukup susah. Tapi kita harus sabar."

Rubah itu semakin terancam. Ia kesal sekali. Ketika rombongan kecil ini berangkat, ia terus berusaha menghambat,

"Kalian bodoh!! Kalian kok dengan mudahnya disuruh-suruh oleh Jalak itu. Percaya deh kalian akan rugi."

Setelah melewati perjalanan panjang yang melelahkan mereka sampai di bawah pohon itu. Jalak segera memetik beberapa buah anggur yang matang dan dibagikan. Sebagian masih takut mencoba karena terpengaruh perkataan si Rubah.

"Wah, manis sekali..." teriak Ayam.

"Iya, manis," timpal Cacing,"Makan saja, Kelinci, jangan ragu."

Kelinci pun memakannya. "Wah, ini manis sekali... Jalak, maukah kau memetikkan beberapa untuk kubawa pulang?"

Jalak tersenyum. Ia senang bisa membantu.

Monyet juga sangat senang, ia menemukan buah baru untuk keluarganya. Ia membantu teman-temannya memetik dan membawa pulang beberapa buah anggur.

Rubah sangat marah. Ia menahan dirinya untuk tidak mau makan buah itu. Dan ia pergi menjauh, tetap dengan opininya.

Binatang lain hanya geleng-gelenbg kepala,.

"Rubah itu sesungguhnya iri, tanda ia tak mampu... Kasihan..."
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih