Sunday, September 17, 2017

"Sky Burial", Prosesi 'Pemakaman' Ala Tibet Yang Menyeramkan dan Bikin Bulu Kuduk Merinding

loading...
Jika umumnya jenazah seorang manusia dimakamkan dengan cara dikubur dalam tanah, namun di berbagai tempat di belahan dunia, terdapar prosesi pemakaman yang tidak lazim dari biasanya.

Misalnya saja di Tibet. pada umumnya, selain dikubur layaknya mayat di belahan bumi manapun, di Tibet masih ada tiga jenis pemakaman, yaitu dipersembahkan kepada laut (water burial), yaitu pemakaman dengan cara mayat diberikan kepada ikan-ikan untuk jadi santapan di laut. Ada juga dengan cara dikremasi. yaitu dibakar hingga menjadi abu, ada ada pula yang disebut dengan sky burial, yaitu pemakaman mayat dengan cara mayat dipersembahkan kepada vultures atau burung bangkai.

Secara bahasa, Sky Burial berarti 'dikuburkan di langit', yang mana daging-daging dari jenazah tersebut dimakan oleh burung -burung bangkai yang kemudian akan terbang ke angkasa.

Dalam bahasa Tibet, Sky burial disebut sebagai བྱ་ གཏོར་, Wylie: bya gtor, lit. Praktek sky burial dilakukan dengan meletakkan mayat manusia diletakkan di atas puncak gunung untuk membusuk saat terkena unsur-unsur atau menjadi dimakan oleh hewan pemakan bangkai, terutama burung bangkai.

Praktek Sky Burial sebenarnya tidak hanya dilakukan di Tibet saja, tapi juga di beberapa tempat di sekitar daratan China. Dikutip dari Wikipedia, praktek Sky Burial dikenal juga dan dipraktekkan di beberapa provinsi China dan daerah otonom seperti Tibet, Qinghai, Sichuan dan Mongolia Dalam, serta di Mongolia, Bhutan dan sebagian India seperti Sikkim dan Zanskar.

Lokasi persiapan dan penguburan langit dipahami dalam tradisi Buddhis Vajrayana sebagai dasar penguburan, Praktik yang sebanding dengan ini adalah seperti yang ditemukan dalam praktik pemakaman Zoroaster dimana si jenazah terkena unsur dan burung pemangsa pada struktur batu yang disebut Dakhma. Kendati demikian, hanya sedikit saja praktek penguburan ini dapat ditemukan saat ini, alasannya bisa karena marginalisasi agama, urbanisasi dan berkurangnya populasi burung nasar yang biasa menjadi pemangsa daging manusia..

Ada juga yang mengatakan, pemakaman sky burial ini bermula karena kondisi alam di Tibet itu sendiri, di mana mereka kesulitan menggali kubur dan mencari kayu untuk mengkremasi mayat. Sebagaimana diketahui, kondisi geografis Tibet bergunung-gunung yang sangat terjal dan sangat menyulitkan pemakaman normal.

Karena alasan inilah, ada sebuah kelompok aliran tertentu di Tibet yang memilih pemakaman mayat dengan cara sky burial. Intinya adalah memberikan jasad orang mati kepada burung pemakan bangkai. Dan, mereka percaya bahwa sky burial lebih mempercepat ruh untuk naik ke nirvana. Perjalanan ke nirvana akan jauh lebih cepat dengan bantuan burung vultures. Dalam bahasa Tibet burung pemakan bangkai ini disebut Dakinis (sky dancer) yang berarti malaikat.

Ritual pemakaman ini dinilai sangat mengerikan dan dianggap tidak menghormati mayat. Oleh karenanya, upacara sky burial pernah dilarang oleh pemerintah China ketika China masih berkuasa di Tibet pada tahun 1960-1970.

Namun, pada tahun 1980-an pemerintah Tibet mengizinkan kembali upacara ini tetap berlangsung, karena faktanya, ritual ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Tibet.

Sky burial juga merupakan ritual agama yang mempunyai arti sangat penting bagi kelompok yang menyakininya dan merupakan warisan budaya Tibet. Di tahun-tahun belakangan ritual ini menarik perhatian para jurnalis dunia untuk menggali berbagai informasi tentang sky burial dan tentu menarik bagi para turis. Upacara sky burial ini lebih sering dilakukan sangat tertutup. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menyaksikan jalannya upacara yang membuat bulu roma berdiri ini.

Kecangihkan teknologi informasi hari ini membuat kita bisa menyaksikan bagaiman praktek sky burial ini berlangsung. Video-video tentang pelaksnaan pemakaman ini bisa kita saksikan misalnya lewat beberapa channel Youtube. (searhc aja sendiri, pakai kata kunci sky burial).

Sumber:
Wikipedia
Kaskus
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih