Wednesday, October 14, 2015

Mengapa bulan Muharram Disebut Sebagai Bulan Suro Dalam Kalender Jawa?

loading...
Di hari yang baik ini, admin ingin mengucapkan selamat memasuki Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1437 Hijriyah, teriring doa semoga kita semua di tahun ini dan di tahun-tahun berikutnya selalu diberi kesehatan oleh Allah Swt, diberi kelapangan rizki dan senantia termasuk ke dalam hamba-hambaNya yang soleh. Amin.

Dalam perhitungan sistem kalender Jawa, bulan Muharram biasa disebut sebagai bulan Suro. Ada banyak orang yang bertanya-tanya, mengapa bulan Muharram disebut sebagai bulan Suro?

Perlu diketahui, bahwa bulan Muharram sendiri merupakan salah satu di antara 4 bulan yang dimuliakan Allah Swt, atau biasa disebut sebagai bulan haram.

Allah Swt berfirman di dalam al-Qur'an:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Terkait ayat ini, seorang ulama bernama Ibnu Rajab mengatakan,
”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.”
Mengapa empat bulan tersebut dinamakan sebagai bulan haram? Hal ini dijelaskan oleh Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah, beliau mengatakan,
”Dinamakan bulan haram karena dua makna. Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”
Lantas, apa saja empat bulan suci tersebut? Hal ini dijelaskan pula dari sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban."

Kembali ke persoalan awal, timbul pertanyaan: mengapa bulan Muharram disebut sebagai bulan Suro?

Sebagian ahli mengatakan, kata Suro dalam penyebutan bulan ini diambil dari kata Asyura, yaitu hari tanggal 10 bulan Muharram sebagai momen sakral di hari tersebut, Karena itu, dapat dimengerti bahwa dinamakan bulan Suro karena pada bulan tersebut terdapat hari Asyuro/Asyura.

Hari Asyura memang termasuk hari sakral dalam sejarah agama dan biasa dirayakan sejak zaman Nabi-Nabi terdahulu. Ummat Nabi Musa merayakan Ayura sebagai perayaan. Konon, pada hari tersebut Bani Israel dibebaskan Allah Swt dari penindasan Fir'aun.

Dalam Islam, Rasulullah Saw tetap memuliakan hari Asyura dengan memerintahkan ummatnya berpuasa sunnah pada bulan tersebut. Dan untuk membedakannya dengan orang Yahudi, Rasulullah Saw perintahkan pula untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram atau biasa disebut sebagai Tasu'a.

Terkait kata Suro, masyarakat Jawa juga sering menamakan anak mereka dengan nama Suro, biasanya diberikan kepada anak laki-laki. Makna Suro di sini adalah Keberanian.

Dalam arti lain, suro juga bermakna 'ikan hiu', hal ini bisa dilihat misalnya dari penamaan kota Surabaya yang berasal dari kat 'Suro' dan 'Boyo' yang berarti ikan hiu dan buaya. Karenanya, ikon kota Surabaya dilambangkan dengan patung ikan hiu dan buaya yang tengah bergumul.

Benarkan bulan Suro adalah bulan sial?
Ada sebagian masyarakat yang beranggapan bahwa bulan suro adalah bulan penuh musibah, penuh bencana, penuh kesialan, bulan keramat dan sangat sakral.

Itulah berbagai tanggapan masyarakat mengenai bulan Suro atau bulan Muharram. Sehingga kita akan melihat berbagai ritual untuk menghindari kesialan, bencana, musibah dilakukan oleh mereka. Di antaranya adalah acara ruwatan, yang berarti pembersihan. Mereka yang diruwat diyakini akan terbebas dari sukerta atau kekotoran. Ada beberapa kriteria bagi mereka yang wajib diruwat, antara lain ontang-anting (putra/putri tunggal), kedono-kedini (sepasang putra-putri), sendang kapit pancuran (satu putra diapit dua putri). Mereka yang lahir seperti ini menjadi mangsa empuk Bhatara Kala, simbol kejahatan.

Karena kesialan bulan Suro ini pula, sampai-sampai sebagian orang tua menasehati anaknya seperti ini: “Nak, hati-hati di bulan ini. Jangan sering kebut-kebutan, nanti bisa celaka. Ini bulan suro lho.”

Karena bulan ini dianggap sebagai bulan sial, sebagian orang tidak mau melakukan hajatan nikah, dsb. Jika melakukan hajatan pada bulan ini bisa mendapatkan berbagai musibah, acara pernikahannya tidak lancar, mengakibatkan keluarga tidak harmonis, dsb. Itulah berbagai anggapan masyarakat mengenai bulan Suro dan kesialan di dalamnya.

Benarkan demikian? Tenti tidak! Ketahuilah bahwa sikap-sikap di atas tidaklah keluar dari dua hal: yaitu mencela waktu dan beranggapan sial dengan waktu tertentu. Ingatlah bahwa mengatakan satu waktu atau bulan tertentu adalah bulan penuh musibah dan penuh kesialan, itu sama saja dengan mencela waktu. Dan hal ini merupakan perkara terlarang dalam ajaran Agama kita.
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih