Thursday, April 27, 2017

Parameter Sebuah Kebodohan

loading...
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

» وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ «


"Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata, "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil." (QS. Al-Qashash: 55).

Saudaraku,
Imam al-Dzahabi menukil kisah dalam karyanya yang sangat spektakuler "Siyar a'lam an-Nubala', jilid 3 hal, 202.

Suatu hari Nafi’ bin Abdul Harits mendatangi Amirul Mukminin (Umar bin Khattab) di daerah ‘Asfan (di mana Nafi' menjadi gubernur Mekkah kala itu).

Umar bertanya, “Siapa yang engkau tunjuk sebagai pejabat sementara di Mekkah jika engkau ke luar daerah?."

Nafi’ menjawab, “Ibnu Abza" (Abdurahman bin Abza al-Khuza'i).

Umar bertanya, “Siapa Ibnu Abza?."

Nafi’ menjawab, “Seorang budak."

"Apa alasanmu telah memberikan kepercayaan tersebut kepada seorang budak?." Desak Umar.

Nafi’ mengatakan, “Sesungguhnya budak tersebut adalah pakar di bidang faraidh dan qari' kitabullah (fasih membaca dan hafizh al-Qur'an)."

Kemudian Umar berkata, “Sungguh Nabi kalian telah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat sebagian orang dengan al-Qur’an ini dan merendahkan sebagian yang lain karenanya.” (Shahih Muslim: 817).

Saudaraku,
Mustafa al-Siba'i dalam bukunya "Min rawai' hadharatina" menjelaskan bahwa Abdul Malik bin Marwan, sang khalifah Bani Umayyah menobatkan ‘Atha’ bin Abi Rabah sebagai satu-satunya mufti (persoalan haji) di musim haji pada masa itu, di mana tidak diperkenankan seorang ulama pun memberikan fatwa kepada manusia selain 'Atha.

Padahal bila dilihat dari postur tubuhnya sangatlah tidak meyakinkan. Ia seorang yang berkulit hitam, hidungnya pesek, matanya tidak sempurna, pincang kakinya dan kriting ikal rambutnya. Apabila ia duduk ditengah-tengah muridnya yang berjumlah ribuan orang, maka seolah-olah ia seperti burung gagak hitam yang berada di tengah kebun kapas yang putih bersih. Tetapi ia menjadi rujukan terhadap permasalahan agama, menjadi imam dalam fatwa.

Dan sejarah telah menulis dengan tinta emas bahwa madrasah ‘Atha’ bin Abi Rabah telah melahirkan berpuluh-puluh ribu ulama handal yang berkulit putih. Ia senantiasa dihormati, dicintai dan dihargai oleh murid-muridnya.

Saudaraku,
Ibnul Qayyim dalam karya "Miftah dar al-Sa'adah” mengutip perkataan Ibrahim al-Harbi,
“Muhammad bin Abdurahman al-Auqash adalah seorang yang lehernya pendek sampai tenggelam ke badannya sehingga kedua bahunya menonjol keluar.

Dengan penuh perhatian dan kasih sayang ibunya berpesan, “Wahai anakku, sungguh kelak setiap kali engkau berada di sebuah majelis engkau akan selalu ditertawakan dan direndahkan orang, maka hendaklah engkau menuntut ilmu karena ilmu akan mengangkat derajatmu.”

Nasihat ibunya diteladani sehingga akhirnya ia diangkat menjadi Hakim Agung di Mekkah selama dua puluh tahun.”

Saudaraku,
Itulah potret kemuliaan dan derajat tinggi yang disandang oleh orang yang berilmu. Walaupun secara lahiriah tidak menampilkan pesona fisik. Seorang budak, miskin, berkulit gelap, berhidung pesek, bahu menonjol keluar, bermata tak sempurna berkaki tak seimbang dan seterusnya.

Namun dengan ilmu derajat mereka terangkat. Maha benar Allah yang telah berfirman,
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11).

Saudaraku,
Sebaliknya, pesona fisik yang melekat pada diri seseorang, kekayaan berlimpah, jabatan prestise tergenggam, bila tidak disempurnakan dengan kecakapan ilmu dan keindahan budi pekerti, akan melemparkan seseorang ke jurang kerendahan dan lembah keterpurukan. Di dunia, terlebih di akherat sana.

Untuk itu kita harus selalu mengukur diri kita sendiri, di manakah posisi kita sekarang. Apakah dalam kelompok orang-orang yang berilmu atau justru masuk dalam kafilah manusia yang jahil (tak berimu dan bodoh).

Abu Darda' memberi kita tiga standar ukuran dan parameter acuan untuk meraba hakikat kebodohan tersebut. Artinya apabila ada tiga perkara dalam diri kita, atau satu saja dari tiga hal tersebut, maka kita tergolong orang yang tiada berilmu atau bodoh.

Sahabat yang zuhud ini pernah bertutur, "Indikasi kebodohan itu ada tiga hal:

Ujub (mudah bangga diri).
Banyak mengobral pembicaraan yang tidak memiliki nilai manfaat.
Mencegah perbuatan dosa, tapi dia justru terpuruk di dalamnya.

Saudaraku,
Jika kita amati dan renungkan tiga indikator kebodohan yang telah dipasang oleh sahabat Nabi ini, maka sangat mungkin manusia yang secara kasat memiliki ilmu luas, pengetahuan yang dalam, prestasi puncak, menyabet banyak penghargaan dari manusia dan seterusnya. Ia masuk dalam katagori insan jahil, jika ia bangga dengan kelebihan yang ia miliki. Baik itu di bidang ilmu, amal, iman, dakwah, ibadah, penghambaan diri dan di bidang lainnya.

Karena seberapapun tinggi ilmu pengetahuan kita. Sehebat apapun prestasi ubudiyah kita. Sebanyak apapun ibadah harta yang pernah kita ukir dalam hidup. Seberapa banyak manusia yang bertaubat dan sadar lantaran nasihat dan bimbingan kita. Seberapa jauh medan perjuangan yang pernah kita jelajahi dan seterusnya.

Jika hal itu justru menyeret kita pada sikap ujub atau bangga diri, dan meremehkan ilmu, ibadah, sedekah, perjuangan dan peran serta kontribusi orang lain, maka kita tergolong dalam kafilah orang-orang bodoh (al-juhala'). Sebab sikap ujub itu akan menggerogoti pahala kebaikan, kelebihan, prestasi puncak dan kontribusi kita dalam memperjuangkan dien-Nya di permukaan bumi. Sehingga kita dapati hampa pahala dan keringnya kucuran pahala di sana.

Semua kita pasti pernah terjatuh ke lubang ujub. Bahkan para salafus shalih. Hanya saja mereka segera sadar dan istighfar, sementara kita malah menikmati hembusan setan tersebut.

Abdul Hamid al-Bilali dalam buku "al-Mushaffa min shifat al-du'at" mengutip perkataan Muqatil bin Sulaiman, ketika ia merasa telah berada di puncak ilmu. Ia berkata di hadapan murid-muridnya,

"Tanyakanlah kepadaku apa saja yang berada di bawah Arsy hingga di dasar bumi!."

Berkata salah seorang dari muridnya,

 "Kami tidak bertanya kepadamu tentang sesuatu yang berada di bawah ‘Arsy atau yang berada di dasar bumi. Tapi kami menanyakan kepadamu tentang sesuatu yang ada di permukaan bumi. Allah telah menceritakan dalam al-Qur'an prihal seekor anjing yang menyertai pemuda-pemuda Kahfi. Beritahu kami, apa warna anjing tersebut."

Maka pertanyaan tersebut, menjadikan Muqatil tergagap dan tak mampu menjawabnya. Ia sadar dengan kejahilan dirinya dan bertaubat kepada pemilik ‘Arsy.

Saudaraku,
Keluasan ilmu seseorang terukur dengan sikap yang berhati-hati dan waspada dalam berucap, bertindak dan berperilaku.

Tiada faedahnya berstatus sebagai guru besar, jika ucapannya tidak menetaskan keteladanan bagi orang lain. Prilakunya berseberangan dengan muatan ilmu dan bobot ucapannya.

Wakil rakyat atau calon anggota dewan, bisa mengelompokkan mereka menjadi golongan yang jahil, jika janji yang mereka obral kepada masyarakat di masa kampanye, tak pernah terwujud di alam realita kehidupan mereka.

Pengurus masjid, bisa disejajarkan dalam barisan al-juhala', jika memanfaatkan fasilitas rumah Allah untuk kepentingan pribadi, sebagai batu loncatan meraih mimpi dan ambisi pribadi.

Seorang ustadz, da'i dan penceramah agama, jika ucapannya tak sesuai dengan nilai yang dipropagandakannya kepada umat, maka ia telah memilih kelompok al-juhala' sebagai jaringan dan komunitasnya.

Dan siapapun kita, apapun keadaan kita, di manapun kita berada. Jika kita berbicara dan berkata-kata tidak menimbang baik buruknya, maslahat maupun mudharatnya, pahala dan dosanya, bermuatan dakwah atau dakwaannya, membesarkan hati orang lain ataupun melukai perasaannya dan seterusnya. Maka hal itu cukup melemparkan kita ke jurang kejahilan.

Saudaraku,
Orang yang cerdas akan menghadirkan contoh dan keteladanan yang baik. Orang yang jahil (bodoh), perilaku dan sepak terjangnya menciptakan celotehan banyak orang dan menghadirkan celaan mereka. Na'udzubillah min dzalik.

Saudaraku,
Apakah kita tergolong orang yang cerdas atau jahil wahai saudaraku? Bertanyalah pada hati nurani kita yang paling dalam. Wallahu a'lam bishawab.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ  يُسْتَجَابُ لَهَا


"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu', dari jiwa yang tidak pernah merasa kenyang dan dari do'a yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim).

Sumber: Copas Whats'App
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih