Monday, March 3, 2014

Crimea, Negeri Muslim Yang Terlupakan

loading...
Saat ini, dunia internasional dihebohkan dengan invasi militer ke semenanjung Crimea. Ukraina menuduh hal tersebut ditunggangi oleh pasukan Rusia.

Terlepas dari hal itu, tahukah anda bahwa Crimea mempunyai sejarah yang sangat kuat sebagai negeri Islam. Berikut beberapa catatan tentang Islam di Crime yang dirangkum dari beberapa sumber.

Crimea adalah sebuah kawasan semananjung yang terletak di pantai utara Laut Hitam. Saat ini, Crimea berada dalam teritorial Ukraina. Crimea sendiri berasal dari bahasa Tatar yang berarti 'benteng'. Bangsa Tatar (salah satu etnik Turki) inilah yang merupakan penduduk asli dan mendiami kawasan ini berabad-abad lamanya. Saat ini, Crimea oleh pemerintah Ukraina dijadikan sebuah wilayah Republik Otonom.

Ibukota Republik dengan luas 26.000 m2 ini adalah Simferopol, dulunya kota ini bernama Oq Mesjit yang berarti 'Masjid Putih', namun setelah dijajah Rusia, kota tersebut diubah namanya menjadi Simferopol dan semua situs-situs islam dihancurkan oleh mereka.

Crimea merupakan wilayah strategis yang penting, selain itu kaya pula akan tambang mineral seperti minyak bumi, gas, batubara dan bermacam logam. Belum lagi potensi pertanian dan lain sebagainya.

Islam masuk ke Crimea sekitar 700 tahun yang lalu. Di sana Islam berkembang dan memerintah berabad-abad lamanya, Sultan Islam pertama di sana adalah Haj Dawlat Kheiri yang memerintah pada tahun 1428 M.

Sisa puing-puing Masjid yang hancur di Crimea
Di masa kaum Muslimin memerintah di Crimea, Moskwo menjadi wilayah taklukan dan membayat jizyah ke sultan Crimea setiap tahunnya! Hal itu terus berlangsung hingga melemahnya kesultanan Ottoman di Turki.

Pada akhir abad ke XVIII Masehi, Rusia berhasil menguasai Crimea dan melakukan genosida hebat terhadap kaum muslimin di kawasan tersebut. Tak kurang dari 350.000 orang Islam dibantai dalam waktu 1 tahun, dan sekitar 1 juta penduduk Crimea melarikan diri mencari suaka ke daerah lain.

Selain membantai, pasukan Rusia juga mengambil tanah dengan paksa, melakukan penyiksaan, dan menghancurkan serta mengubah fungsi masjid yang ada di sana.

Pada awal abad ke-XX, kaum Muslimin banyak yang kembali ke Crimea dan menyusun kekuatan baru, hingga mereka mengumumkan berdirinya pemerintahan baru, namun pemerintahan komunis Rusia menolak mengakui mereka, dan kembali melakukan pembantaian.

Pada tahun 1928, Pemimpin Rusia. Stallin mengirim banyak orang Yahudi ke Crimea, hal ini membuat kaum muslimin di sana memberontak, perlawanan mereka dikomandoi oleh para Imam Masjid. Tak ayal, hal ini membuat pemerintah Rusia berang, hingga akhirnya tak kurang dari 3500 orang pejuang muslim dihukum mati.

Akibat pembantaian masal tersebut, populasi umat Islam di Crimea turun drastis, dari yang awalnya beberapa juta orang berdasarkan sensus 1883, hingga tersisa sekitar 850 ribu orang pada sensus 1941!

Salah satu masjid di Crimea
Ketika Perang Dunia ke-II meletus, Stallin menuduh kaum muslimin bersekongkol dengan Jerman, padahal waktu banyak sekali pemuda Islam yang dipaksa ikut wajib militer oleh Rusia. Akibatnya, hukuman mati massal kembali dirasakan oleh kaum Muslimin di Crimea pasca berakhirnya PD II, dan ratusan ribu orang Islam lainnya bermigrasi ke wilayah lain.

Akhirnya, kaum muslimin menjadi minoritas di daerah tersebut. Crimea modern resmi diumumkan sebagai negara pada 18 Oktober 1921.

Saat ini, Crimea berpopulasi sekitar 1,9 hingga 2,5 juta jiwa, sedangkan jumlah kaum Muslimin di sana hanya sekitar 400-500 ribu jiwa saja. Bukan hanya itu, kaum muslim di sana pun hidup dalam kondisi memprihatinkan, mereka terpinggirkan dan hidup dalam kemiskinan.

Silahkan tonton liputan tentang kaum Muslimin ci Crimea pada video di bawah ini:


loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih