Orang Rajin Bersedekah Itu Bahagia, begini penjelasan ilmiahnya...

Pernahkah kita merasakan, ketika kita mengeluarkan sedekah kepada orang yang membutuhkan, ketika kita bisa membantu meringankan beban orang lain, lalu muncul perasaan bahagian entara dari mana dalam lubuk hari kita?;

Monday, October 29, 2018

[Belajar Bahasa Al-Qur'an] Siapa Yang Memberi Titik Pada Huruf Qaf (ق) Dan Fa (ف)

Pada zaman Nabi Saw dan para sahabat bentuk huruf Qaf (ق) sama dengan huruf Fa (ف). Tidak ada pembeda sama sekali. Tidak ada titiknya. Demikian pula huruf yang lain. Banyak yang kembar. Ada yang kembar lima yaitu huruf Ba (ب), huruf Ta (ت), huruf Tsa (ث), hurun Nun (ن) dan huruf Ya (ي). Ada yang kembar tiga yaitu huruf Jim (ج), huruf Ha (ح), dan huruf Kha (خ). Dan ada juga yang kembar dua.

Yang kembar dua ada tujuh pasang. Yaitu huruf Dal (د) dan Dzal (ذ), huruf Ra (ر) dan Zay (ز), huruf Sin (س) dan Syin (ش), huruf Shad (ص) dan Dhad (ض), huruf Tha (ط) dan Zha (ظ), huruf ‘Ain (ع) dan Ghain (غ), lalu huruf Fa (ف) dan Qaf (ق). Terlihat di sini huruf Fa dan Qaf termasuk pasangan kembar dua sama dengan enam pasang huruf lainnya.

Imam Nashr bin ‘Ashim (w. 90 H.) menambahkan pembeda pada huruf kembar dua dengan menambahkan satu titik di bawah huruf pokok dan satu titik di atas huruf cabang. Misalnya huruf Dal dan Dzal. Maka huruf Dal sebagai huruf pokok diberi titik satu di bawah. Dan huruf Dzal sebagai cabang diberi titik satu di atas. Demikian pula huruf Fa  dan Qaf. Huruf pokoknya, yakni Fa, diberi titik satu di bawah, dan huruf cabangnya, yakni Qaf, diberi titik satu di atas.

Lalu imam Yahya bin Ya’mur (w. -+100 H.) menyederhanakan titik yang dibuat Nashr bin ‘Ashim (w. 90 H.) dengan menghapus titik di bawah huruf pokok dan menetapkan titik di atas huruf cabang. Huruf Dal, Ra, Sin, Shad, Tha, dan ‘Ain menjadi tidak bertitik. Sedang huruf Dzal, Zay, Syin, Dhad, Zha, dan Ghain bertitik satu di atas seperti yang kita lihat sekarang. Kecuali huruf Fa dan Qaf. Titiknya dibiarkan seperti semula. Yakni Fa tetap dengan satu titik di bawah dan Qaf dengan satu titik di atas.

Banyak yang mengatakan bahwa yang melakukan penyederhanaan dengan membuang titik di bawah huruf pokok dan menetapkan titik di atas huruf cabang kecuali pada Fa dan Qaf adalah imam Nashr bin Ashim sendiri. Bukan imam Yahya bin Ya’mur. Ada juga yang mengatakan imam Nashr bin Ashim sudah melakukannya bersama imam Yahya bin Ya’mur dari awal. Mungkin hal ini disebabkan karena tarikh hidup imam Yahya bin Ya’mur yang diikhtilafkan para ulama. Imam Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H.) mengatakan “Yahya bin Ya’mur wafat sebelum tahun 100 hijrah dan ada yang mengatakan setelah tahun 100 hijrah.”

Mengapa imam Nashr bin A’shim dan imam Yahya bin Ya’mur tidak menyederhanakan formasi titik huruf Fa dan Qaf? Seandainya dilakukan mungkin sekarang kita akan melihat huruf Fa tanpa titik dan huruf Qaf dengan titik satu di atas. Tidak ada referensi yang menjelaskan alasannya. Hanya saja tampaknya untuk membedakan dengan huruf ‘Ain dan Ghain saat di tengah.

Bentuk huruf Fa dan Qaf yang berada di tengah kata, yakni tidak di pembuka dan tidak di penutup kata, akan mirip dengan huruf ‘Ain dan Ghain di posisi yang sama. Jika Fa dihilangkan titiknya di bawah maka akan tertukar dengan ‘Ain yang juga tidak punya titik. Fa yang bertitik pula tidak akan tertukar dengan Ghain. Karena titik Fa ada di bawah sedang titik ghain ada di atas.

Lalu sejak kapan titik di atas Qaf menjadi dua dan titik di bawah Fa naik ke atas? Ini diinisiasi oleh imam al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w. 170 H.) saat menyempurnakan bentuk harakat Al-Quran setelah sebelumnya hanya berupa titik oleh Abu al-Aswad al-Duali (w. 69 H.). Pada mulanya titik di bawah Fa dipindahkan ke atas kepala Fa agar badan Fa, tampaknya, tidak khawatir disangka Ba. Lalu huruf Fa menjadi kembar lagi dengan Qaf maka Qaf ditambah titik satu lagi di atas sehingga menjadi dua.

Huruf Qaf dengan dua titik di atas dan huruf Fa dengan satu titik di atas menjadi huruf resmi yang dipergunakan dalam tulis-menulis huruf Arab, khususnya tulisan Al-Quran, kecuali di wilayah Islam bagian Barat yang meliputi Maroko, Libya, Tunisia, Muritania dan lain-lain. Huruf Qaf mereka masih ditulis satu titik di atas dan huruf Fa dengan satu titik di bawah. Bahkan hingga sekarang mushaf Al-Quran yang dicetak di sana menggunakan huruf Qaf dan Fa yang lama dengan riwayat Warsy dan Qalun dari imam Nafi’.

loading...

Friday, October 26, 2018

Cara Mudah Mengatasi File PDF Yang Tidak Bisa Dicopy, Diprint dan Sebagainya

Saat sekarang ini, banyak dokumen-dokomen ilmiah seperti buku, makalah, jurnal, tesis, skripsi dll yang disimpan dalam bentuk file PDF.

Ada kalanya, kita ingin mengcopy sebagian atas seluruh dari isi dokumen tersebut, tapi ada masalah: ternyata kita tidak bisa mengambil dan mengcopy isi, teks, gambar, tabel, grafik, dll, yang pada file pdf tersebut, Ada pula yang file PDF Yang tidak bisa diprint.

Apa penyebab File PDF tidak bisa dibuka? Ternyata dile tersebut adalah file yang  terproteksi (SECURED).

Biasanya saat mendownload file PDF, menjumpai file PDF yang tidak bisa di copy ataupun di Print. Itu dikarenakan file PDF tersebut di Kunci oleh yang membuat file PDF tersebut.

Jadi bingung saat dapat filenya tetapi tidak bisa digunakan? Bisa saja tulis ulang file tersebut tetapi itu akan memakan waktu yang lama, bukan?



Gambar di atas adalah contoh dari file PDF yang terkunci. Dari gambar diatas dapat terlihat bahwa file PDF itu terkunci atau SECURED dan saat di klik kanan tidak muncul kata COPY.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Cara membuka LOCK dari file PDF dapat diatasi dengan beberapa cara berikut:

1. Buka dengan aplikasi PDF Unlocker. Silahkan cari programnya di internet.

2. Secara online, bisa melalui beberapa layanan web berikut:

situs: Unlock-pdf.com


Unlock-pdf adalah salah satu cara membuka file PDF yang terkunci, caranya sangat mudah. Pertama buka unlock-pdf.com.

Lalu browse file PDF yang ingin Unlock. Lalu klik UNLOCK FILE, tunggu sebentar. Dan download file PDF yang sudah di Unlock.


3. Melalui situs : Crackmypdf.com


Sama seperti pembuka PDF diatas, cara menggunakan crackmypdf juga demikian.

Pertama buka crackmypdf.com lalu browse file PDF yang akan di Unlock, setelah file PDF dibrowse kemudian klik UNLOCK.

Tunggu beberapa saat, lalu download file PDF yang sudah di UNLOCK tadi.

4. Melalui situs:  Pdfunlock.com


Pertama buka pdfunlock.com untuk membuka file PDF. Lalu pilih PDF yang akan di Unlock dengan menekan My Computer, Lalu tekan UNLOCK untuk membuka file PDF. Tunggu beberapa saat lalu downloadlah file PDF yang sudah di UNLOCK tadi.

Jadi begitulah cara membuka file PDF yang terkunci/terproteksi. Setelah membuka proteksi dari PDF, sekarang bisa mengcopy-paste, print dan sebagainya. Tanpa perlu menulis ulang PDF tersebut.
loading...

Thursday, October 25, 2018

[Tarikh] Syeikh Muhammad Zain Nuruddin Batu Bahara Indera Pura, Qadhi dan Ulama Kharismatik Dari Batubara

Istana Lima Laras di Batubara
Muhammad Zein Nuruddin al-Alim as-Syaikh Abbas Al-Imam al-Khalidi bin Haji Muhammad Lashub bin Haji Abdul Karim Tuan Fakih Negeri Batu Bara, Pesisir. Namun beliau lebih akrab dikenal dengan nama Syeikh Muhammad Zein.

Beliau dilahirkan ibunya - Hajjah Shofiah - di Desa Dahari Selebar, yang sekarang di wilayah Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara, pada tahun 1881 atau sekitar 1301 Hijrah. [Baca juga: Biografi Syekh Silau Asahan]

Beliau dibesarkan didaerah kelahirannya dibawah pengawasan dan didikan ayahnya, al-Alim Syeikh Abbas al-Khalidy, yaitu seorang penganut Tarikat Naqsabandy al-Khalidiy yang kuat.

Pertama sekali Syeikh Muhammad Zein mempelajari ilmu agama - seperti baca al-Quran, tata bahasa arab dan ilmu agama Islam lainnya - melalui ayahnya. Perhatian khusus dan kecemerlangan otaknya, maka beliau dapat menguasai buku-buku karangan Imam al-Asy'ari dan al-Ghazali. Madzhab Syafii adalah merupakan madzhab anutannya dalam bidang fikih.

Pada tahun 1901 M beliau berangkat menuntut ilmu ditanah Malaya (Malaysia), dan bermukim disana selama dua tahun. Kemudian kembali ke kampung halamannya di Sumatera Timur. Setahun lamanya di Sumatera beliau berangkat menunaikan ibadah haji. Namun setelah pelaksanaan haji ini, beliau tidak langsung pulang ke tanah air. beliau bermukim di Mekah selama 8 (delapan) tahun. Beliau belajar di Mekah dengan para ulama ulama disekitar Masjidil Haram.

Setelah itu beliau kembali ketanah air dan dijodohkan dengan seorang puteri Pesisir, yang bernama Kemala Intan. Setelah meaksanakan rukun Islam yang ke lima, Kumala Intan, ditambah namanya menjadi Kumala Intan Hajjah Fatimah binti Haji Muhammad Tayyib Idris.

Setelah setahun di kampung halamannya, beliau kembali ke Mekkah. Kemudian kembali lagi ketanah air. Kali ini beliau berhasrat untuk memboyong isterinya ke Mekkah. Namun karena tidak disetujui orangtua dan mertuanya, beliau mengurungkan niatnya. Beliau kembali ke Mekkah, selama setahun beliau kembali lagi dengan membawa kitab-kitab yang beliau baca dan pelajarinya di Mekkah.

Beberapa tahun menetap di Pesisir Dahari Selebar (sekarang : Kecamatan Talawi), beliau diangkat menjadi Qadhi (Hakim) Islam oleh pemerintahan setempat, yang pada masa itu dikepalai oleh Datuk Pesisir, Batu Bara. Kepada Syeikh Muhammad Zein inilah orang pada saat itu belajar agama dan meminta fatwa tentang hukum Islam. Beliau sempat mengambil sumpah pengukuhan jabatan Datuk Abdul Jalil sebagai Datuk menggantikan Datuk Peisir yang telah habis masa jabatannya (pensiun).

Beberapa lama kemudian, terjadi kesalahpahaman antara beliau dengan datuk Abdul Jalil dalam suatu permasalahan, maka Syeikh Muhammad Zein mengundurkan diri dari jabatan Qadhi. Dan karena tidak puas dengan pemerintahan seteempat maka beliau meninggalkan daerah kelahirannya ini menuju ke Kerajaan Indrapura, tepatnya di kampung Mualim sebagai tempat bermukimnya (sekarang adalah wilayah Desa Lalang Kecamatan Medang Deras. Pada saat itu kerajaan Sipare Indrapura diperintah oleh seorang raja yang bergelar Tengku Bungsu. Beliau Menetap disini sampai akhir hayatnya dengan mengadakan kegiatan dakwah. Atas prakarsa beliau bersama dengan masyarakat mendirikan masjid Mualim yang sekarang berada di Desa Lalang. Disinilah beliau memusatkan kegiatan dakwahnya dalam menyampaikan ajaran Islam.

Karya tulis

Sebagai seorang ulama, beliau juga telah menulis beberapa karya berupa kitab. Di antara karangan Syeikh Muhammad Zain Nuruddin yang telah ditemui hanya dua judul,

Yang pertama, kitab yang berjudul Fawaid az-Zain fi ‘Ilm al-‘Aqaid Ushul ad-Din (فوائد الزين فى علم العقائد وأصول الدين), diselesaikan waktu Dhuha, pukul 8, hari Jumaat, 7 Rabiulakhir 1342 H/16 November 1923 M (pada cetakan dinyatakan 7 Rabiulawal 1342 H, adalah salah cetak). Dicatatkan “Pada masa kerajaan Saiyiduna wa Maulana wa Qudwatuna Abdullah yang bergelar Datuk Muda Lela Wangsa ibni al-Marhum Datuk Tih ibni al-Marhum Datuk Samuangsa Tua Raja yang memerintah Negeri Pesisir Bahara ... “ Dicetak oleh Mathba’ah at-Taqaddum al-‘Ilmiyah, Mesir, yang dimiliki oleh waris Saiyid Abdul Wahid Bek at-Thubi, Mesir, tanpa dinyatakan tarikh.

Kandungan kitab ini membicarakan tentang persoalan akidah dengan menggunakan berbagai rujukan kitab-kitab Arab, karya ulama-ulama dunia Melayu dan karya guru-gurunya.

[Berdasarkan keterangan penulis asli artikel ini, Kitab ini ia diperolehi hari Isnin, 28 Rejab 1417 H/9 Disember 1996 M berasal dari milik seorang ulama bernama Syeikh Abdul Ghani bin Abdul Hamid, Pinang Baik, Selayang, Selangor]

Kitab yang kedua adalah kitab yang berjudul Miftah ash-Shibyan fi ‘Aqaid al-Iman (مفتاح الصبيان فى عقائد الإيمان), kitab ini selesai ditulis pada 11 Safar 1366 H/4 Januari 1947 M. Tanpa menyebut nama percetakan, hanya disebutkan oleh pengarangnya, “Telah al-haqir benarkan mencetak atau menthaba’ ini risalah yang bernama Miftah ash-Shibyan fi ‘Aqaid al-Iman akan akhina al-Fadhil, lagi Arif, Muhammad Qasim bin al-Marhum Tuan Haji Muhammad ‘li barang di mana-mana tempat cetak dan thaba' dengan tiada dakwa dakwi, demikianlah adanya.”

Pada mukadimah Fawaid az-Zain, Syeikh Muhammad Zain Nuruddin memetik pendapat dua ulama dunia Melayu yang beliau bersanad kepadanya. Kedua-dua ulama itu ialah Syeikh Muhammad Zain bin Faqih Jalaluddin Aceh dan Syeikh Zainal Abidin bin Muhammad al-Fathani, kata beliau, “Kata ulama, haram belajar ilmu usuluddin pada orang yang tiada mahir ilmunya dan tiada mengambil daripada gurunya ...”

Pada konteks ini beliau tulis pada halaman depan kitab Miftah ash-Shibyan dengan merujuk kitab Syeikh Muhammad Zain bin Faqih Jalaluddin Aceh saja katanya, “Bahawa adalah kitab yang kita baca itu yang mengarangnya orang yang dibilang orang, dengan sekira-kira barang mana negeri dimasuknya maka tiada disalahkan orang ilmunya. Dan lagi pula bahawa adalah itu dengan mengambil daripada gurunya jangan ditelaah saja pada kitabnya. Kerana tiada hasil ilmu itu melainkan dengan pengambilan. Dan daripada kerana inilah kebanyakan manusia yang mendakwa dirinya alim, mentelaah dengan tiada pengambilan daripada gurunya maka tiba-tiba disalahkan oleh orang awam, dan orang yang dungu. Dan terkadang dia pula menyalahkan kitab mazhab orang yang lain bukan mazhab dirinya. Demikianlah kelakuan mereka itu.” (Miftah ash-Shibyan, hlm. kulit).

Daripada perkara-perkara disebutkan inilah barangkali menjadi sebab Syeikh Muhammad Zain Nuruddin sangat cermat menyebut beberapa orang gurunya, yang kemudian diiringinya dengan sanad. Tentang sanad kata beliau, “Dan hamba menyebutkan sanad itu kerana perkataan ulama, iaitu al-Alim al-Allamah as-Saiyid Ahmad bin as-Saiyid Abdur Rahman an-Nahrawi, “Bahawasanya mengetahui sanad itu setengah daripada pekerjaan agama. Dan barang siapa tiada baginya sanad, maka iaitu seperti anak yang dipungut, yang tiada tentu bangsanya ...” (Miftah ash-Shibyan, hlm. 30).

Petikan dari Syeikh Zainal Abidin bin Muhammad al-Fathani saja, katanya, “Dan setengah daripada mereka itu yang berpegang dengan ayat Quran yang mutasyabihat atau hadis yang mutasyabihat padahal tiada dilintungkan dengan qawathi’ aqliyah dan naqliyah yang muhkamat tetapi diambil akan zahir mutasyabihat itu, maka jadi jatuh mereka itu pada laut kufur. Maka sesat mereka itu dan mereka itu menyesatkan pula akan manusia yang awam ... Maka adalah mereka itu seperti Dajjal. Atau lebih jahat lagi daripada Dajal.” (Fawaid az-Zain, hlm. 3).

Mengenai ini Syeikh Muhammad Zain Nuruddin menjelaskan selanjut bahawa asal kufur dan asal bidaah tujuh perkara. Ketujuh-tujuhnya beliau sebut satu persatunya, pada konteks di atas ialah yang keenam, berpegang pada iktikad iman dengan semata-mata zahir Quran dan hadis dengan tiada takwil atas beberapa barahin aqliyah dan qawathi' yang syar'iyah. (Fawaid az-Zain, hlm. 7).

Syeikh Muhammad Zain Nuruddin menyebut bahawa rujukan mengenai ini ialah dari kitab Muqaddimat oleh Imam Sanusi. Perkara yang sama juga disebut oleh Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani dalam ad-Durr ats-Tsamin, Syeikh Ahmad al-Fathani dalam Jumanah at-Tauhid, dan ulama-ulama yang lain dalam kitab-kitab mereka.

Amalan wirid
Menurut Syeikh Muhammad Zain Nuruddin sebab-sebab yang boleh memerdekakan diri dari api neraka beliau telah memetik tulisan al-Allamah asy-Syeikh Muhammad Shalih Kamal bin Shiddiq Kamal, Mufti Mekah daripada Syeikh al-Allamah Alauddin. Dari demikian banyak yang disebutkan disimpulkan saja, ada hadis riwayat daripada Bazzar, daripada Malik, dari Nabi s.a.w., “Barang siapa membaca surah al-Ikhlas 100,000 kali, maka sungguhnya ia telah membeli akan dirinya daripada Allah ... “

Maksud hadis ini ialah menebus dirinya atau orang lain daripada api neraka jika dibacakan dengan ikhlas jumlah demikian sepanjang hidupnya. Mengenai ini dikaitkan pula bahawa ada hadis, “Barang siapa membaca tahlil 70,000, nescaya adalah ia tebus dirinya daripada api neraka.” (Miftah ash-Shibyan, hlm. 19).

Sesudah menyebut satu rangkaian zikir dan wirid yang agak panjang, Syeikh Muhammad Zain Nuruddin menyebut bahawa wirid yang tersebut beliau terima daripada Syeikh Ahmad Khathib di Mekah (Miftah ash-Shibyan, hlm. 20). Sungguh pun sangat popular dalam sejarah bahawa Syeikh Ahmad Khathib al-Minankabawi sangat anti terhadap Tarekat Naqsyabandiyah. Namun Syeikh Muhammad Zain Nuruddin juga membicarakan tarekat tetapi beliau tidak menolaknya.

Bahkan Syeikh Muhammad Zain Nuruddin menyebut dalil mengenai zikir itu beliau petik dari tulisan Syeikh al-Islam al-Alim al-Allamah Muhammad al-Khalili pada fatwanya dan daripada Fat-h al-Mubin, oleh al-Allamah Syeikh Ahmad Khathib Imam asy-Syafie di Makkah al-Musyarrafah. Syeikh Muhammad Zain Nuruddin menyebut, Kitab yang tersebut diijazahkan Syeikhuna kepada hamba al-Haqir pada masa di dalam Mekah al-Musyarrafah. (Miftah ash-Shibyan, hlm. 21).

Syeikh Muhammad Zain Nuruddin juga sempat belajar dengan Syeikh Wan Ali Kutan al-Kalantani. Oleh itu pada bicara pelbagai jenis amalan seperti wirid, selawat, istighfar, dan lain-lain beliau sebut judul kitab ulama Kelantan itu, iaitu Lum’atul Aurad (Miftah ash-Shibyan, hlm. 30-32). Di antara amalan yang sangat penting beliau sebutkan ialah dua jenis selawat yang dibangsakan kepada wali Allah Syeikh Ahmad al-Badawi yang menurut beliau sangat besar fadilat mengamalkannya. Untuk memperoleh sesuatu fadilat perlulah beramal dengan kekal.

Sumber tulisan: 
Wan Mohd. Shaghir Abdullah dalam Harian © Utusan Melayu (M) Berhad. Link di sini: UTUSAN MELAYU
loading...

[Kisah Hikmah] Belajar Dari Sifat Kepiting

Mungkin banyak yang tahu wujud kepiting, tahu enaknya makan kepiting tapi tidak banyak yang tahu sifat kepiting. Di Filipina, masyarakat pedesaan gemar sekali menangkap & memakan kepiting sawah.

Kepiting sawah itu ukurannya kecil namun rasanya cukup lezat. Kepiting-kepitingitu dengan mudah ditangkap di malam hari lalu dimasukkan ke dalam baskom/wadah tanpa diikat.

Keesokan harinya, kepiting-kepitingini akan diserebus lalu disantao untuk lauk. Yang paling menarik dari kebiasaan ini, kepiting-kepiting itu akan selalu berusaha untuk keluar dari baskom sekuat tenaga mereka dengan menggunakan capit²nya yang kuat.

Namun seorang penangkap kepiting yang handal selalu tenang meskipun hasil buruannya selalu berusaha untuk meloloskan diri. Resepnya hanya satu, yaitu si pemburu tahu betul sifat dari kepiting.
Bila ada seekor kepiting yang hampir meloloskan diri keluar dari baskom, teman-temannya pasti akan menariknya lagi ke dasar. Jika ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom, lagi-lagi temannya akan menariknya turun! Dan begitu seterusnya sampai akhirnya tidak ada yang berhasil keluar.
Keesokan harinya sang pemburu tinggal merebus mereka semua & matilah sekawanan kepiting yang dengki itu satu sama lain.

Sahabat...
Begitu pula dalam kehidupan ini. Tanpa sadar manusia terkadang menjadi seperti kepiting-kepiting itu. Yang seharusnya sama-sama bergembira jika teman atau saudara kita mengalami kesuksesaan namun malah mencurigainya, jangan-jangan kesuksesan itu diraih dengan jalan yαήg tidak benar.

Apalagi di dalam bisnis atau hal lain yαήg mengandung unsur kompetisi, sifat iri, dengki atau munafik akan semakin nyata & kalau tidak segera kita sadari, tanpa sadar itu sudah membunuh diri sendiri.

Jangan sampai sifat kepiting tersebut ada di dalam kehidupan :
- Keluarga,
- Antar kakak adik
- Pekerjaan dan sesama rekan kerja
- Pelayanan
- Berbangsa & bernegara

Seharusnya kepiting-kepitingitu tolong-menolong keluar dari baskom, sebab dibutuhkan jiwa yang besar untuk melakukannya.

Demikian hidup makin berarti & makin indah kalau satu sama lain saling mendukung.

Hendaklah kita saling membantu menanggung beban orang, supaya ϑengαή demikian kita mentaati perintah Tuhan.
loading...

Wednesday, October 24, 2018

Menangislah... Orang Yang Bisa Menangis Itu Sungguh Beruntung.

Saudaraku... Menangis itu bukan tanda kelemahan. Menangis itu tanda kelembutan hati dan kasih sayang.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (QS. Al-Anfal: 2)

وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

"Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi." (QS. Al Ma'idah: 83)

Tidak mau menangis itu tanda keras hati. Tanda bahwa Syaitan sudah berhasil menyusupkan penyakit ujub dan sombong ke dalam diri kita.

Ketika kita sudah sulit atau bahkan tidak bisa lagi menangis saat melihat atau mendengar sesuatu yang menyentuh, maka ber-istighfar-lah dan mohon ampun kepada ALLAH subhanahu wa ta'ala, dosa apa yang sudah kita lakukan sampai tidak lagi memiliki kemampuan untuk menangis.

Jika kita menganggap menangis itu tanda orang cengeng sehingga tidak mau melakukannya. Maka jangan menyesal jika di hari akhir kita harus menangis darah untuk memohon pengampunan-NYA.

Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu telah melihat keuntungan jual beli ini, dia berkata, ”Sesunggunya, aku menangis karena takut kepada Allah, ini lebih aku cintai dari pada bersedekah sebanyak seribu dinar.”

Mari kembali belajar menangis sebagaimana kita pertama kali dilahirkan ke dunia ini.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda:

عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

“Dua mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang bermalam (begadang) untuk berjaga-jaga (dari serangan musuh) ketika berperang di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi)

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Menangis itu dibagi menjadi sepuluh bagian, yang satu bagian karena Allah dan yang sembilan bagian semuanya karena riya’. Jika yang satu bagian itu terjadi setahun sekali, insya Allah dia akan selamat dari neraka.”

Mari melatih mata ini untuk meneteskan air tanda kesedihan dan pengharapan ketika berdzikir, membaca Al Qur'an, atau mengingat dosa serta kesalahan. Insyaa ALLAH Penuh Berkah.

Sumber tulisan:
FB Ust. Muhammad A.
loading...