Orang Rajin Bersedekah Itu Bahagia, begini penjelasan ilmiahnya...

Pernahkah kita merasakan, ketika kita mengeluarkan sedekah kepada orang yang membutuhkan, ketika kita bisa membantu meringankan beban orang lain, lalu muncul perasaan bahagian entara dari mana dalam lubuk hari kita?;

Friday, November 6, 2015

5 Cara Mudah Mengedit File Berformat PDF

Dokumen-dokumen yang tersedia di penyimpanan komputer terkadang berbentuk dalam format PDF. Seperti diketahui, forman dokumen PDF merupakan fomat mati alias tidak bisa lagi dilakukan pengeditan seperti biasa di microsoft Office.

File berformat PDF umumnya digunakan untuk menyimpan dokumen berupa tulisan maupun gambar. Format file PDF memang sangat unik, berbeda dengan file lainnya. Sekilas file pdf nampak seperti gambar statis yang sifatnya permanen atau tidak dapat diubah lagi. Selain itu PDF tidak memiliki source seperti file HTML yang terdiri dari source teks itu sendiri, gambar dan javascript

Lantas, bagaimana kalau misalnya kita ingin mengubah atau mengedit file yang berformat PDF tersebut? Banyak anak kuliahan atau mahasiswa yang memerlukan ini, misalnya untuk mengedit makalah yang banyak tersedia di internet.

Memang Adobe Reader bisa digunakan untuk membaca file PDF, namun untuk urusan edit, anda harus membeli lisensi khusus.

Tapi jangan khawatir, sekarang ini sudah banyak software gratisan yang bisa anda manfaatkan untuk mengedit file berformat PDF.

Berikut selengkapnya:

Infix PDF Editor


Software Infix PDF Editor ini merupakan software amazing buatan Iceni. Bagaimana tidak, software ini mampu mengedit teks dalam PDF seperti mengedit teks pada MS Word.

Selain itu, ada banyak kelebihan lain dari Infix PDF Editor, seperti:
  • Mampu mengedit teks seperti MS Word.
  • Bisa edit semua komponen PDF baik teks, ukuran teks, tipe atau jenis teks, gambar dan lain-lain.
  • Selain untuk mengedit pdf bisa juga untuk membuat file PDF dari dokumen apa saja (membuat PDF dengan MS Office).
  • Teks hasil editan bisa dirapihkan sehingga tidak nampak berbeda dengan versi aslinya.
  • Mampu mengekstrak dan menyalin gambar dari PDF.
  • Terdapat fitur search and replace, fitur ini sangat berguna misalnya untuk mencari kesalahan penulisan dan menggantinya secara otomatis.
Salah satu fitur uniknya adalah Tool penerjemah yang memungkinkan untuk mengexport file PDF menjadi XML untuk diterjemahkan dan diaplikasikan ulang pada file PDF.

PDF-XChange Viewer
Orang lebih mengenal aplikasi ini sebagai software yang berfungsi untuk membuka atau membaca file saja. Padahal, aplikasi ini sangat hebat dan bisa digunakan untuk mengedit pdf secara gratis. Kemampuannya tidak kalah dari program sejenis bahkan, PDF XChange mengklaim dirinya lebih cepat, ringan dan lebih banyak fitur.


Bahkan, software ini bisa dipakai untuk memberi password pada file PDF. Sehingga orang lain tidak bisa merubah, meng ekstrak atau mencetak dokumen anda.

Fill Any PDF

Yang satu ini justru tidak membutuhkan instalasi software, lah.. kok bisa? Karena FillAnyPDF adalah aplikasi edit PDF berbasis WEB. Jadi, anda tinggal mengupload dokumen yang akan diproses kemudian mulai menambah, merubah atau menghapus isi file PDF anda. Gampang bukan? Semua diproses secara online!

Penting : untuk menggunakan aplikasi online pdf editor ini, komputer anda harus sudah terinstal Microsoft Silverlight. Klik disini untuk mengunduh

Setelah puas mengedit dokumen, anda bisa menyimpan ke komputer atau membagikan (share) ke rekan kerja, teman atau orang lain yang belum anda kenal.

PDF Escape
Sama seperti sebelumnya, PDF Escape tidak perlu download dan install software di komputer anda. Cukup upload dan mulai mengedit file yang ingin dirubah secara online. Satu hal yang membedakan kedua aplikasi online ini, PDF Escape lebih cepat dan mudah dalam memproses PDF files.


Mengedit File PDF via Website

Selain menginstal software, anda juga bisa mengedit file PDF melalui fitur beberapa website yang menyediakan layanan edit pdf secara gratis.

Keuntungannya, anda tidak perlu mendownload plug-in tambahan seperti Microsoft Silverlight. Tampilannya juga lebih sederhana dan user friendly. Begitu selesai mengedit dokumen, anda bisa langsung mencetak lewat printer atau disimpan ke hard disk komputer.
loading...

Thursday, November 5, 2015

[Kisah Inspiratif]: Hidup Seperti Mengisi Toples

Dalam sebuah semuinat, seorang guru besar di depan audiensnya memulai materi kuliah dengan menaruh topless yang bening dan besar di atas meja.

Lalu sang guru mengisinya dengan bola tenis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya: "Sudah penuh?"

Audiens menjawab: "Sudah penuh".

Tapi  kemudian sang guru mengeluarkan kelereng dari dan memasukkannya ke dalam topless tadi. Kelereng mengisi sela-sela bola tenis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya: "sudah penuh?"

Audiens menjawab: "sudah penuh".

Tapi Setelah itu sang guru mengeluarkan pasir pantai dan memasukkan nya ke dalam topless yang sama. Pasir pun mengisi sela-sela bola dan kelereng hingga tidak bisa muat lagi. Semua sepakat kalau topless sudah penuh dan tidak ada yang bisa dimasukkan lg ke dalamnya.

Tetapi terakhir sang guru menuangkan secangkir air kopi ke dalam toples yang sudah penuh dengan bola, kelereng dan pasir itu.

Sang Guru kemudian menjelaskan bahwa:

"Hidup kita kapasitasnya terbatas seperti topless. Masing-masing dari kita berbeda ukuran toplesnya:
- Bola tenis adalah hal-hal besar dalam hidup kita, yakni tanggung-jawab terhadap Tuhan, orang tua, istri/suami, anak-anak, serta makan, tempat tinggal & kesehatan.
- Kelereng adalah hal-hal yang penting, seperti pekerjaan, kendaraan, sekolah anak, gelar sarjana, dll.
- Pasir adalah yang lain2 dalam hidup kita, seperti olah raga, nyanyi, rekreasi, Facebook, BBM, WA, nonton film, model baju, model kendaraan dll.
- Jika kita isi hidup kita dengan mendahulukan pasir hingga penuh, maka kelerengdan bola tennis tidak akan bisa masuk. Berarti, hidup kita hanya berisikan hal-hal kecil. Hidup kita habis dengan rekreasi dan hobby, sementara Tuhan dan keluarga terabaikan.
- Jika kita isi dengan mendahulukan bola tenis, lalu kelereng dst seperti tadi, maka hidup kita akan lengkap, berisikan mulai dr hal-hal yang besar dan penting hingga hal-hal yang menjadi pelengkap.
Karenanya, kita harus mampu mengelola hidup secara cerdas dan bijak. Tahu menempatkan mana yang prioritas dan mana yang menjadi pelengkap.

Jika tidak, maka hidup bukan saja tidak lengkap, bahkan bisa tidak berarti sama sekali".

Lalu sang guru bertanya: "Adakah di antara kalian yang mau bertanya?"

Semua audiens terdiam, karena sangat mengerti apa inti pesan dalam pelajaran tadi.

Namun, tiba-tiba seseorang nyeletuk bertanya:

"Apa arti secangkir air kopi yang dituangkan tadi .....?"

Sang guru besar menjawab sebagai penutup: "Sepenuh dan sesibuk apa pun hidup kita, jangan lupa masih bisa disempurnakan dengan bersilaturahim sambil "minum kopi" ..... dengan tetangga, teman, sahabat yang hebat. Jangan lupa sahabat lama. Saling bertegur sapa, saling senyum bila berpapasan ..... betapa indahnya hidup ini !

loading...

Wednesday, November 4, 2015

Sejarah Islam di Tanah Papua [500 Tahun Islam di Papua, Dari Raja Ampat Hingga Sultan Papua]

Sejarah Islam di tanah papua sudah berlangsung sejak lebih dari 5 abad yang lalu, seiring masuknya dakwah-dakwah Islam ke kepulauan Melayu hingga ke perairan pasifik.

Asal-usul kata Papua
Ada banyak pendapat dikemukakan para ahli tentang asal muasal penamaan Papua. Sebuah pendapat menyebutkan bahwa istilah Papua berasal dari bahasa Tidore, Papo Ua, yang berarti tidak bergabung atau tidak bersatu. Maksudnya adalah wilayah luas dan tanah besar itu (Papua) tidak termasuk ke dalam induk kesultanan Tidore.

Perspektif lain menyebutkan bahwa Papua berasal dari bahasa Melayu, pua-pua, yang berarti keriting. Istilah ini pernah dikemukakan oleh William Mardsen tahun 1812, dan terdapat dalam salah satu kamus bahasa Melayu -Belanda karya Von der Wall tahun 1880, dengan kata ‘papoewah’ yang berarti orang yang berambut keriting.

Memang, Papua sendiri telah dikenal sejak lama. Pada masa Kerajaan Sriwijaya, Papua disebut Janggi. Pelaut Portugis yang pernah singgah di Papua tahun 1526-1527 menyebutnya ‘Papua.’ Namun ada pula yang menyebutnya Isla de Oro (Island of Gold). Kemiripan fisik orang Papua dengan orang Afrika membuat pelaut Spanyol menyebutnya ‘Nieuw Guinea’, merujuk pada wilayah Guinea di Afrika Barat.

Berbagai sebutan untuk Papua menyiratkan pada kita, akan keragaman bangsa yang berinteraksi dengan orang-orang Papua. Salah satu bangsa yang diketahui berhubungan dagang dengan orang-orang Papua adalah pedagang Cina. Pertukaran barang seperti porselin dan tembikar terjadi diantara mereka. Bahkan di kalangan masyarakat Seruni, terdapat keturunan Cina.

Ceritera lain juga menyebutkan tentang hubungan Kerajaan Majapahit dengan orang-orang Papua. Terutama dengan penduduk Papua di Onin (Wwanin), Fakfak. Hubungan ini diketahui dari SyairNegarakertagama karya Empu Prapanca (1365M), dalam sebuah bait syair disebutkan kata Wwanin (Onin, Fakfak) dan Sran (Kowiai atau Kaimana).

Tak hanya dengan bangsa di Asia, para penjelajah Eropa juga telah mengunjungi Papua sejak abad ke 16. Tahun 1526, misalnya, Gubernur Portugal pertama di Maluku bernama Jorge de Menesez mengunjungi Pulau Waigeo (Raja Ampat). Tahun 1545, Kapten Ynigo Ortiz de Retez  dari Spanyol mencapai sekitar Sarmi, di muara Sungai Mamberamo. Ia kemudian memberi nama pulau itu (Papua) Nueva Guinea.

Hubungan orang Papua, yaitu Raja Waigeo dengan orang Portugis bisa ditelusuri dari catatan perjalanan Miguel Roxo de Brito, yang menjelajah ke Raja Ampat tahun 1581. Dari catatan De Brito, dapat disimpulkan bahwa Raja Waigeo telah memeluk agama Islam.

Kontak-kontak orang-orang Papua dengan berbagai pihak tersebut biasanya sebatas perdagangan. Namun kontak orang-orang Papua dengan muslimlah yang kemudian memberikan dampak yang berbeda. Kontak orang-orang Papua dengan muslim tak hanya terbatas pada soal perdagangan, namun juga perubahan hidup mereka dengan memeluk Islam.

Masuknya Islam ke Tanah Papua
Syiar Islam di Bumi Papua terjadi terutama terkonsentrasi di wilayah Papua Barat, mulai dari Raja Ampat hingga Fakfak. Ada beberapa versi mengenai masuknya Islam di Papua.

Mayoritas sumber sejarah masuknya Islam di Papua adalah berdasarkan sumber-sumber lisan masyarakat setempat. Versi Papua, misalnya, berdasarkan legenda di masyarakat setempat, khususnya di Fakfak. Versi ini menyebut Islam bukanlah dibawa dari luar seperti Tidore atau pedaganh Muslim, tetapi Papua sudah Islam sejak Pulau Papua diciptakan oleh Allah. Secara l;ogis, versi ini tentu saja agak kurang bisa diterima, akan tetapi secara tersirat versi ini menandakan betapa mengakarnya Islam di Papua dan telah menjadi kepercayaan yang menyatu dengan masyarakat setempat.

Versi lain adalah versi Aceh. Versi ini berdasarkan sejarah lisan dari daerah Kokas (Fakfak) yang menyebutkan Syekh Abdurrauf dari Kesultanan Samudera Pasai mengirim Tuan Syekh Iskandar Syah untuk berdakwah di Nuu War (Papua) tahun 1224. Syekh Iskandar kala itu membawa beberapa kitab yakni mushaf Al Qur’an, kitab hadits, kitab tauhid dan kitab kumpulan doa. Ada pula manuskrip yang ditulis di atas pelepah kayu, mirip daun lontara. Beberapa manuskrip tersebut diyakini selamat hingga saat ini. Namun versi ini perlu dipertimbangkan kembali, mengingat btu nisan Sultan pertama Pasai, Malik As Shalih di Pasai berangka tahun 1297M. Artinya, abad ke 13 adalah masa-masa awal Kesultanan Samudera Pasai. Dakwah Kesultanan Samudera Pasai saat itu (abad ke 13) sepertinya masih terkonsentrasi di Sumatera, mengingat saat itu, wilayah-wilayah lain di Sumatera pun belum sepenuhnya memeluk Islam. Manuskrip warisan yang disimpan hingga kini, akan lebih baik jika diteliti secara filologi.

Menurut tradisi lisan lain di Fakfak, Islam disebarkan oleh mubaligh bernama Abdul Ghafar asal Aceh pada tahun 1360-1374 di Rumbati. Makam dan Masjid Rumbati menjadi peninggalannya. Namun informasi lain menyebut Abdul Ghafar datang ke Rumbati tahun 1502 M. Kemungkinan ini perlu ditinjau kembali, terutama dalam hal waktu masuknya Islam. Kemungkinan Abdul Ghafar datang pada abad ke 16, bersamaan dengan masa keemasan Kesultanan Ternate dan Tidore sebagai bandar jalur sutera dan meluaskan kekuasaannya dari Sulawesi hingga Papua.

Versi lain masuknya Islam di Papua adalah versi Arab. Versi ini menyebutkan Islam di Papua disebarkan oleh seorang sufi bernama Syarif Muaz al Qathan (Syekh Jubah Biru) dari Yaman , yang terjadi pada abad ke 16. Hal ini sesuai dengan adanya Masjid Tunasgain yang dibangun sekitar tahun 1587. Informasi lain menyebut Syekh Jubah Biru datang pada tahun 1420M.

Pendapat yang tampaknya lebih kuat mengenai masuknya Islam di Papua adalah datangnya Islam di Papua melalui Kesultanan Bacan (Maluku). Di Maluku terdapat empat Kesultanan, yaitu, Bacan, Jailolo, Ternate dan Tidore (Moloku Kie Raha atau Mamlakatul Mulukiyah). J.T. Collins, menyebutkan, berdasarkan kajian linguistik, Kesultanan Bacan adalah Kesultanan tertua di Maluku. Syiar Islam oleh Kesultanan Bacan disebarkan di wilayah Raja Ampat.

Terbentuknya Kolano Fat (Raja Ampat atau Raja Empat, dalam bahasa Melayu) di kepulauan Raja Ampat oleh Kesultanan Bacan, dapat dilihat dari nama-nama gelar di kepulauan tersebut; (1)  Kaicil Patra War, bergelarKomalo Gurabesi (Kapita Gurabesi) di Pulau Waigeo, (2) Kaicil Patra War bergelar Kapas Lolo di Pulau Salawati. (3) Kaicil Patra Mustari bergelar Komalo Nagi di Misool, (4) Kaicil Boki Lima Tera bergelar Komalo Boki Sailia di Pulau Seram.Isitilah Kaicil adalah gelar anak laki-laki Sultan Maluku. Menariknya, nama Pulau Salawati menurut tutur lisan masyarakat setempat,, diambil dari kata Shalawat.

Ada beberapa nama tempat yang merupakan pemberian Sultan Bacan. Seperti Pulau Saunek Mounde (buang sauh di depan), Teminanbuan (tebing dan air terbuang), War Samdin (air sembahyang). War Zum-zum (penguasa atas sumur) dan lainnya. Nama-nama tersebut merupakan bukti-bukti peninggalan nama-nama tempat dan keturunan Raja Bacan yang menjadi Raja-raja Islam di Kepulauan Raja Ampat. Kemungkinan Kesultanan Bacan menyebarkan Islam di Papua sekitar pertengahan abad ke 15 dan kemudian abad ke 16, terbentuklah kerajaan-kerajaan kecil di Kepulauan Raja Ampat, setelah para pemimpin-pemimpin Papua di Kepulauan tersebut mengunjungi Kesultanan Bacan tahun 1596.

Pendapat ini didukung pula oleh catatan sejarah Kesultanan Tidore ‘Museum Memorial Kesultanan Tidore Sinyine Malige’, yang menyebutkan Sultan Ibnu Mansur (Sultan Tidore X) melakukan ekspedisi ke Papua dengan satu armada kora-kora. Ekspedisi ini menyusuri Pulau Waieo, Batanta, Salawati, Misool di Kepulauan Raja Ampat. Di wilayah Misool, Sultan Ibnu Mansur yang sering disebut Sultan Papua I, mengangkat Kaicil Patra War, putra Sultan Bacan dengan gelar Komalo Gurabesi. Kacili Patra War kemudian dinikahkan dengan putri Sultan Ibnu Mansur, yaitu Boki Thayyibah. Dari penikahan inilah Kesultanan Tidore memperluas pengaruhnya hingga ke Raja Ampat bahkan hingga Biak.

Penyebaran Islam kemudian juga disebarluaskan ke berbagai wilayah pesisir Papua Barat, seperti Kokas, Kaimana, Namatota, Kayu Merah, Aiduma dan Lakahia oleh para pedagang muslim seperti dari Bugis, Buton, Ternate dan Tidore. Kehadiran orang Buton diperkuat dengan kesaksian Luis Vaes de Torres di tahun 1606. Ia menyebutkan di daerah pesisir Onin (Fakfak) telah menetap orang Pouton (Buton) yang berdagang dan menyebarkan agama Islam.

Syi’ar Islam di Papua menjadi lebih mudah karena kesamaan budaya dan bahasa. Bahasa yang dipakai tergolong bahasa-bahasa dari rumpun Austronesia, seperti bahasa di Bacan dan Sula (bahasa Biak di Raja Ampat; Tobelo dan bahasa Onin di Fakfak dan Seram; maupun bahasa non Austronesia seperti di Ternate; Tidore dan Jailolo karena masuk golongan Bahasa Halmahera Utara, yaitu bahasa Galela). Bahasa Onin telah lama digunakan sebagai lingua franca yang berguna sebagai bahasa untuk perdagangan dan penyebaran agama Islam. Bahasa ini dipakai oleh kalangan pedagang dan elit (pemimpin masyarakat) yang terdapat di pesisir pantai selatan ‘Kepala Burung’ dan Semenanjung Bomberey (Fakfak dan Kaimana).

Kemudahan komunikasi dengan para pemimpin masyarakat Papua, yang kemudian memeluk Islam, mendorong berdirinya kerajaan-kerajaan (Petuanan) otonom di bawah Kesultanan Tidore. Kerajaan-kerajaan (Petuanan) ini terdapat di Raja Ampat (Kolano Fat), yang tetap terpatri hingga kini sebagai identitas Pulau Papua. Kerajaan di Raja Ampat terdiri dari Kerajaan Waigeo (yang berpusat di Weweyai), Kerajaan Salawati (berpusat di Sailolof), Kerajaan Misool (berpusat di Lilinta) dan Kerajaan Batanta. Kerajaan-kerajaan ini berdiri dengan perangkatnya masing-masing, yang diberi gelar oleh Kesultanan Tidore, sebagai imbal atas upeti kerajaaan tersebut kepada Kesultanan Tidore.

Di wilayah Fakfak dan Kaimana kerajaan-kerajaan (Petuanan) ini terbagi menjadi sembilan, yaitu Petuanan Namatota, Komisi, Fatagar, Ati-ati, Rumbati, Pattipi, Sekar, Wertuar dan Arguni. Pengaruh Kesultanan Tidore di Kerajaan Wertuar misalnya, dapat dilihat dari pelantikan Raja Wertuar VII yang dilakukan oleh Sultan Tidore, Muhammad Tahir Alting pada tahun 1886. Sedangkan di Kampung Ugar, Fakfak, terdapat dokumen  silsilah Raja-Raja Ugar beraksara Arab, yang tertulis tahun 1929 M.

Pengaruh Islam kepada masyarakat papua dapat diperkirakan dengan melihat penerapan ajaran Islam yang terdapat di masyarakat Papua saat itu. Penerapan hukum Islam, misalnya, telah diterapkan masyarakat Pulau Misool, hinggak akhir masa kolonial Belanda. Di sana terdapat Hakim Syara’ yang bertugas mengurusi perihal perkawinan, kematian dan sholat berjamaa’ah. Kehadiran Masjid-masjid tua, seperti misalnya Masjid Tunasgain, yang diperkirakan dibangun sejak tahun 1587. Atau di Patimburak, yang diperkirakan sejak abad ke 19.

Haji Oea Saraka di Onin (Fakfak). Foto diambil antara tahun 1890-1900.
Sumber foto: Koleksi Foto Tropen Museum Belanda
Kehadiran Masjid ini selain peninggalan fisiknya, dapat pula kita perkirakan kedudukannnya dalam masyarakat. Kehadiran Masjid sejak abad ke 16, menandakan sejak lama telah dilaksanakannya pendidikan Islam melalui khotbah Jum’at. Kehadiran Masjid bisa pula kita perkirakan berfungsi sebagai tempat pendidikan, meski dalam bentuk yang sederhana di masyarakat. Pola pendidikan sederhana ini dapat kita telusuri dengan ditemukannya kitab Barzanji, bertanggal 1622 M dalam bahasa Jawa Kuno dan teks khutbah Jum’at yang bertarikh 1319 M.Kehadiran kitab Barzanji, dapat kita perkirakan sebagai upaya untuk menumbuhkan tradisi Islam dalam masyarakat.

Pengaruh Islam lainnya dalam masyarakat, dapat dilihat dari nama-nama yang terdapat dalam masyarakat papua pribumi. Di desa Lapintol dan Beo, pada umumnya, kaum pria memakai nama-nama Arab seperti Idris, Hamid, Abdul Shomad, atau Saodah untuk perempuan.

Islam juga mengubah penampilan masyarakat. Jika di pedalaman Papua, masyarakat aslinya belum berpakaian, dan hanya menutup bagian vitalnya saja, maka di pesisir penduduk Papua keadaan sangat berbeda. Tak dapat dipungkiri, Syiar Islam di Papua mengalami proses yang gradual. Masih dapat ditemukan muslim Papua saat itu yang mempercayai kepercayaan Animisme atau kepercayaan lokal lainnya. Proses penyebaran Islam melalui kepala suku atau pemimpin masyarakat, membuat syi’ar Islam sangat bergantung kepada kepedulian kepala suku tersebut. Syiar Islam di Papua sedikit banyak juga terpengaruh oleh dinamika yang terjadi di Maluku.

Pasang-surutnya kekuasaan Kesultanan Tidore mempengaruhi kehidupan yang terjadi di Papua. Kehadiran bangsa asing yang menjajah Maluku, seperti Portugis, Inggris, Spanyol dan Belanda berpengaruh besar terhadap kekuasaan Kesultanan Tidore dan Ternate. Kedudukan Kesultanan Tidore pada masa Sultan Saifuddin yang sebelumnya sejajar dengan Belanda, lama kelamaan mengalami masa surut.

Konflik internal dan suksesi kepemimpinan di Kesultanan Tidore ikut menyeret Belanda ke dalam pusaran konflik. Pergantian kepemimpinan di Kesultanan Tidore lambat laun melibatkan campur tangan VOC (Belanda). Kesultanan Tidore dan Ternate yang saling bertikai, memaksa keduanya bertekuk di bawah VOC dan menjadivasal VOC. Hal ini berdampak pada pengaruh Kesultanan Tidore di Papua. Kesultanan Tidore mulai kehilangan pengaruhnya di Papua terutama sejak abad ke 18.

Kondisi Kesultanan Tidore yang lemah, membuat seorang Pangeran Kesultanan Tidore, yaitu Pangeran Nuku memberontak terhadap kekuasaan Tidore. Pangeran Nuku kemudian menjadi simbol perlawanan terhadap VOC yang bersekutu dengan Sultan Tidore serta Ternate.Perlawanan Pangeran Nuku yang anti Belanda, menggerogoti kekuasaan Belanda di Maluku. Pangeran Nuku tidak saja mampu memperoleh dukungan dari orang-orang di Tidore, Ternate, Seram, dan juga Halmahera, tetapi ia terutama memperoleh dukungan dari orang-orang Papua terutama di Raja Ampat. Dukungan orang-orang Papua di Raja Ampat, membuatnya bergelar Sultan Papua II. Meneruskan Sultan Ibnu Mansur (Sultan Tidore X) yang bergelar Sultan Papua I.

Kekuatan pasukan Pangeran Nuku begitu hebat, terutama saat ia bersekutu dengan Inggris untuk memerangi VOC. Yang menarik, Pangeran Nuku juga disebutkan didukung oleh ulama dan tokoh haji berpengaruh, yaitu Haji Umar. Ambisi Pangeran Nuku untuk membebaskan dan memunculkan kembali empat Kesultanan Maluku memang tak tercapai. Namun ia berhasil membebaskan Kesultanan Tidore dari pengaruh Belanda. Hingga ia wafat (1805), Kesultanan Tidore mampu berdiri tanpa pengaruh Belanda. Namun Semenjak ia wafat, Kesultanan Tidore tak mampu lagi mempertahankan kemerdekaannya. Belanda kembali menguasai Kesultanan Tidore.

Masuknya kembali pengaruh Belanda ke Kesultanan Tidore membawa pengaruh besar di Papua. Belanda akhirnya terjun langsung ke bumi Papua, untuk menegakkan kekuasaannya. Motivasi Belanda menguasai langsung Papua setidaknya terdapat lima motif, (1) Belanda hendak mencegah intervensi asing seperti Inggris ke wilayah Papua. (2) Belanda juga berhasrat untuk melindungi kekuasaannya di Maluku. (3) Belanda memiliki kepentingan ekonomi di Papua, terutama dari hasil produk hutan, laut dan eksplorasi agararia. (4) Melindungi Belanda dari perompak, yaitu Suku Tugeri (Marind-Anim) di Papua. (5) Belanda hendak mendukung penyebaran Kristen di Papua.

Belanda mendirikan benteng pertamanya di Papua, yaitu Benteng Du Bus. Dinamakan Benteng Du Bus, sebagai penghargaan terhadap Komisaris Jenderal Hindia Belanda, L.P.J. du Bus de Gesignies yang mengusulkan dibangunnya pos perdagangan di Papua (1826-1830). Belanda kemudian mengumumkan kepemlikan Raja Netherland atas seluruh wilayah Papua bagian barat, kecuali yang menjadi hak Sultan Tidore di Mansarij, Karandefur, Ambapura dan Umbarpon. Meski Benteng Du Bus tak bertahan lama, namun hal ini menandakan berkuasanya Belanda di Papua secara langsung, setelah selama ini mereka ‘berkuasa’ melalui perantara Kesultanan Tidore. Namun pada kenyataannya Belanda mengalami kesulitan mengontrol Papua bagian barat, terutama pesisir bagian selatan. Di wilayah itu (Fakfak), masyarakat pribuminya beragama Islam, dan secara struktur kekuasaan berbentuk kerajaan (pertuanan) sehingga lebih dekat kepada pengaruh Tidore.

Syi’ar Islam sejak bercokolnya Belanda di Papua, lebih banyak bergantung kepada umat Islam itu sendiri. Tahun 1910, Haji Abdul Majid mulai mendirikan pendidikan Islam di Jayapura dan mendirikan sebuah masjid pertama di Jayapura. Ia pulalah yang menjadi imam masjid tersebut. Di Merauke, tahun 1908, seiring dibukanya perkebunan kapas, pemerintah Belanda mendatangkan orang-orang Jawa di wilayah tersebut. Anak-anak pendatang ini kemudian mempelajari agamanya dengan bantuan guru mengaji.

Tahun 1930, Tengku Bujang, seorang yang berstatus diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda (Digulis), tiba di Merauke dan memulai dakwahnya dengan membangun Masjid Sepadin. Di Masjid inilah ia memulai khotbah Jumat dengan bahasa Melayu. Ia pula yang mempelopori Sholat Ied di lapangan. Di Merauke ia kemudian membentuk Muhammadiyah. Antara tahun 1933-1936 Muhammadiyah mengirimkan tiga orang mubaligh ke Papua, yaitu Ustadz Jais, Ustadz Asarar dan Ustadz M, Chatib.

Di Fakfak, Muslim Papua membentuk Kesatuan Islam Nieuw Guinea (KING), yang dipimpin oleh Raja Rumbati, yaitu Haji Ibrahim Bauw. Ia kemudian membuka sekolah Islam. Tahun 1933, bersama pembimbingnya, Daeng Umar, ia mendirikan Muhammadiyah Fakfak. Namun hal ini tak berlangsung lama, Haji Ibrahim ditangkap dan Daeng Umar diasingkan ke tempat lain. Tahun 1950, bahkan pekerja-pekerja Muslim yang ada di Jayapura dikembalikan secara besar-besaran ke luar Papua. Jayapura menjadi kosong dari penduduk Muslim. Masjid Jayapura pun dijadikan bar dan restoran.

Pemerintah Belanda memang beriskap diskriminatif terhadap muslim di Papua. Buku-buku agama Islam sulit diperoleh, sehingga didatangkan dari Jawa atau daerah lainnya. Pemerintah Belanda, hanya mendirikan sebuah sekolah untuk anak-anak muslim, yaitu Openbare Vervolg School (O.V.V.S), itupun dilakukan menjelang pengalihan kekuasaan Belanda pada Indonesia ditahun 1960an.

Syi’ar Islam di Papua semakin semarak sejak Papua bergabung dengan Indonesia. Pemerintah Indonesia mendirikan berbagai sekolah, termasuk sekolah pendidikan Agama Islam di Papua. Syi’ar Islam kembali menguat sejak dibukanya program transmigrasi di era Orde Baru.Muslim-muslim yang hadir di Papua meneruskan kembali dakwah Islam di Papua yang telah dimulai setidaknya sejak 500 tahun yang lalu, ketika Islam menjadi agama pertama yang masuk ke Papua.

Sumber:
Academia [http://www.academia.edu/29769576/Sejarah_Peradaban_Islam_di_Papua.docx]
Hidayatullah [http://m.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2015/07/27/74628/500-tahun-islam-di-papua-dari-raja-ampat-hingga-sultan-papua-2.html]

loading...

Tuesday, November 3, 2015

Bersama Ilmu, Kita Takkan Kesepian

Apakah engkau merasa asing di tengah kerumunan manusia? Apakah engkau merasa ditinggal oleh sahabat-sahabatmu? Apakah engkau merasa hidupmu tak diacuhkan?

Bacalah renungan-renungan di bawah ini...

Ada seorang bijak ditanya oleh sahabat-sahabatnya:

"Siapa gerangan teman-temanmu?"

Orang bijak itu lantas menunjukkan buku-bukunya dan berkata:

"Inilah sahabatku...".

Lalu ia ditanya lag:

"Maksud kami, teman-teman darai kalangan manusia, siapakah?.."

Orang bijak itu kembali menjawab:

"Oh sangat banyak, yaitu para pengarang buku-buku  ini".

[Dari kitan Taqyiidul Ilmi halam. 125]

Salah seorang ulama bernama Nuaim bin Hammad pernah bercerita:

Seungguhnya Abdullah Ibn al-Mubarak selalu diam di rumah, sehingga ada yang bertanya:

"Tuan, tidakkah kamu merasa kesepian??.. "

Abdullah ibn al-Mubarak menjawab:

"Bagaimana saya kesepian, sementara  Nabi bersama saya?!".

Maksudnya, Ibn al-Mubarak ingin mengatakan bahwa ia tengah bersama-sama dengan Rasulullah Saw di saat menelaah hadits dan kitab-kitab sunnah.

***

Diriwayatkan pula dari  Syaqiq bin Ibrahim ia berkata:

"Ada seseorang bertanya pada Ibnul Mubarok:

"Tuan, ketika engkau selesai sholat bersama kita, mengapa tuan tidak duduk -duduk dahulu bersama kami?? "

Ibn al-Mubarak menjawab:

"Aku lebih suka duduk-duduk bersama shahabat dan thabi'in...".

Si penanya tercenang dan berkata:

"Bagaimana caranya Tuan bertemu shahabat dan tabi'in??"

Ibn al-Mubarak menjawab:

"Aku pergi melihat ilmuku (bukuku), maka aku temui jejak hidup mereka dan amalan mereka. Sementara dengan kalian, apa yang aku lakukan jika bersama kalian, kalian kerjanya membicarakan aib orang lain ( ghibah)?"

Kisah tersebut terjadi tahun 200 H.

 فالبعد من كثير من الناس أقرب إلى الله ، وفرّ من الناس كفرارك من أسد ، وتمسّك بدِينك يسلم لك

Maka menjauhlah dari kebanyakan manusia untuk mendekatkan diri pada Allah, larilah  dari manusia (yang buruk ) seperti lari dari singa , pegang teguhlah agamamu kamu akan selamat
📗"سير أعلام النبلاء8/398".
siyar a'lamun nubala /imam Adz-Dzahabi. 
loading...

Monday, November 2, 2015

Atas Perintah Raja, Rakyat Arab Saudi Laksanakan Sholat Istisqa dan Doakan Kabut Asap Segera Hilang Dari Indonesia [Video]

Bencana kabut asap yang melanda Indonesia ternyata mendapat perhatian dari negara-negara muslim lainnya di dunia, di antarany Arab Saudi.

Tidak hanya bencana asap, kekeringan yang melanda beberapa negeri muslim turut pula menjadi perhatian.

Mengingat hal ini, Raja Salman memerintahkan rakyatnya untuk melaksanakan shalat istisqa di seluruh kerajaan Arab Saudi dalam rangka memohon ampunan dan meminta hujan atas negeri-negeri muslim termasuk Indonesia.

Titah sang raja segera disahuti dan dipatuhi. Kamis kemarin (29/10/2015) bertepatan tanggal 16 Muharram 1437 Hijriyah, di kota suuci Makkah, shalat Istisqa digelar di Masjidil Haram yang dipimpin langsung oleh Imam Syaikh al-Ghamidi, qari yang terkenal itu. Sholat dilaksanakan dengan khusyu, sehingga terdengar Syaikh Al-Ghamidi membaca ayat-ayat suci dengan suara gemetar dan hampir menangis.

Sedangkan di kota Madinah, shalat Istisqa digelar pula di Masjid Nabawi. Begitupun di Riyadh, shalat Istisqa digelar di Masjid Imam Turki bin Abdullah.

Seperti harapan Raja Salman, para jamaah shalat istisqa tidak hanya mendoakan Arab Saudi tetapi juga seluruh negeri-negeri Islam termasuk Indonesia. Mereka berdoa agar Allah menurunan hujan dan Indonesia terbebas dari bencana kabut asap.

Bagi yang ingin melihat bagaimana suasana sholat Istisqa di Masjidil Haram yang dilaksanakan hari Kamis lalu (29 Oktober 2015), silahkan lihat di video di bawah ini:


loading...