Orang Rajin Bersedekah Itu Bahagia, begini penjelasan ilmiahnya...

Pernahkah kita merasakan, ketika kita mengeluarkan sedekah kepada orang yang membutuhkan, ketika kita bisa membantu meringankan beban orang lain, lalu muncul perasaan bahagian entara dari mana dalam lubuk hari kita?;

Wednesday, October 17, 2018

Penerapan Tingkat Tutur Dalam Bahasa Jawa

Bahasa Jawa adalah bahasa dengan penutur terbanyak di Indonesia, bahasa ini digunakan oleh suku jawa yang wilayahnya meliputi Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. Selain itu bahasa jawa juga digunakan oleh sebagian penduduk di wilayah pesisir Karawang, Subang, Cirebon, Indramayu dan Banten, bahkan sampai ke luar negeri.

Tingkat tutur Bahasa Jawa dibagi menjadi dua yakni ngoko dan krama. Ngoko dibagi menjadi dua, yaitu ngoko lugu dan ngoko alus. sedangkan krama juga dibagi menjadi dua, yaitu krama lugu dan krama alus.

A. Ngoko Lugu
Ngoko lugu adalah ragam pemakaian bahasa jawa yang seluruh kalimatnya dibentuk dengan kosa kata ngoko (termasuk kosakata netral). Afiksnya (imbuhan) juga tetap menggunakan afiks ngoko. Ragam ini digunakan oleh peserta tutur yang mempunyai hubungan akrab dan tidak ada usaha saling menghormati.

Contoh :
Jaka mangan sate.
(Jaka  makan sate)

Iwan lagi adus.
(Iwan sedang mandi)

Ragam Ngoko lugu digunakan untuk :
1. Berkomunikasi dengan orang yang kedudukan atau statusnya lebih rendah.
2. Berkomunikasi yang sifatnya umum.

B. Ngoko Alus
Ngoko alus adalah ragam pemakaian bahasa jawa yang dasarnya adalah leksikon ngoko (termasuk leksikon netral), namun juga menggunakan leksikon krama inggil, dan atau krama andhap. Ragam ngoko alus digunakan oleh peserta tutur yang mempunyai hubungan akrab, tetapi diantara mereka ada usaha untuk saling menghormati (Hrdyanto dan Utami, 2001 : 47). Afiks yang digunakan adalah afiks ngoko, kecuali awalan kok-, dan akhiran -mu. Awalan kok- dan akhiran -mu diganti dengan kata panjenengan.

Contoh :
*Bapak mengko arep tindak karo sapa?
"Bapak nanti akan pergi dengan siapa?"
*Bapak dhahar bakso.
"Bapak makan bakso."

C. Krama Lugu
Krama Lugu adalah ragam pemakaian bahasa jawa yang seluruh kalimatnya dengan leksikon krama, afiksnya juga menggunakan bentuk krama, Krama lugu digunakan oleh peserta tutur yang belum atau tidak akrab, misalnya baru kenal. Kaidah pembentukan krama lugu sebagai berikut :
1. Leksikon ngoko yang memiliki padanan dalam leksikon krama, maka diubah menjadi leksikon krama, kecuali yang tidak memiliki leksikon krama, maka tetap menggunakan leksikon ngoko.
2. Leksikon ngoko yang berhubungan dengan diri pribadi seandainya memiliki padanan dalam leksikon krama maka diubah menjadi kramai.
3. Afiks ngoko diubah menjadi krama.
4. Leksikon yang berhubungan dengan hewan, tumbuh-tumbuhan yang memiliki leksikon krama diubah menjadi krama.
Contoh
*Sampeyan sampun nedha, Pak?
"Anda sudah makan, Pak?"

D. Krama Alus
Ragam krama alus adalah bentuk unggah - ungguh bahasa jawa yang semua kosakatanya terdiri atas leksikon krama, krama inggil dan krama andhap. Meskipun begitu yang menjadi leksikon inti adalah leksikon yang berbentuk krama. leksikon madya, dan ngoko tidak pernah muncul di dalam tingkat tutur krama alus. (Sasangka, 2004:111)

Hadiwijaya dan Supriya (2001: 98-104) menjelaskan tentang kaidah pembentukan ragam krama alus, sebagai berikut :

1. Leksikon ngoko yang memiliki padanan krama inggil maka diubah menjadi krama inggil , kecuali yang berhubungan dengan diri pribadi tetap menggunakan krama.
2. Apabila leksikon ngoko tidak memiliki padanan dalam leksikon krama inggil, tetapi hanya memiliki padanan dalam leksikon krama, maka diubah menjadi krama saja.
3. Apabila leksikon ngoko tidak memiliki padanan dalam leksikon krama inggil atau krama, maka yang dipakai adalah leksikon ngoko.
4. Semua afiks diubah menjadi krama. Misalnya di- menjadi dipun-. Akhiran e- menjadi -ipun.

Contoh :
Ibu sampun dhangan saking gerahipun.
(Ibu sudah sembuh dari sakitnya)
loading...

Tuesday, October 16, 2018

Ada Banyak Kebaikan dan Peristiwa Luar Biasa di Bulan Shafar, Jangan Lagi Percaya Kalau Bulan Shafar itu Bulan Sial

Bulan Shafar adalah salah satu dari dua belas bulan yang telah Allāh tetapkan dalam kitāb-Nya. Bulan tersebut tidak jauh beda dengan bulan-bulan yang lainnya, bahkan bisa kita katakan bahwa bulan-bulan tersebut sama.

Akan tetapi sebagian orang menganggap bulan Shafar sebagai bulan sial (bulan terjadi banyak musibah dan tersebar banyak penyakit).

Padahal Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam telah bersabda:

اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ

"Anggapan sial merupakan kesyirikan, anggapan sial merupakan kesyirikan, anggapan sial merupakan kesyirikan."

(Hadīts shahīh riwayat Abū Dāwūd nomor 3915, dishahīhkan oleh Syaikh Al Albāniy rahimahullāh)

Dan Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) pernah memberikan nasehat khusus tentang bulan Shafar yang tercantum dalam hadīts Bukhāri nomor 5707.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

لاعَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ

"Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya tanpa izin Allāh, tidak ada anggapan sial pada burung hantu tidak pula pada bulan Shafar."

Sehingga bisa kita simpulkan bahwa bulan Shafar bukanlah bulan sial dan seorang mukmin tidak boleh mempercayai hal itu. Dia juga tidak perlu takut untuk melakukan hal-hal penting pada bulan ini (Shafar), (seperti) perkawinan atau bepergian.

Karena bulan Shafar sama dengan bulan-bulan yang lainnya, tidak ada bulan naas tidak ada bulan sial.

Jika kita telisik lebih lanjut, tenyata banyak kejadian besar yang terjadi pada bulan Shafar ini. Di antara kejadian-kejadian tersebut adalah sebagai berikut:

⑴ Perang Abwā'

Ibnu Ishāq berkata:

"Pada bulan Shafar Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam keluar dari kota Madīnah setelah sebelas bulan keberadaan Beliau di sana.

Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) menuju Waddān, tepatnya tanggal 12 Shafar, untuk memerangi suku Quraisy dan Banī Damrah.

Kejadian itu dinamakan dengan perang Abwā'. Kemudian Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) kembali ke Madīnah."

('Uyun Al Ātsār Juz 1 hal 259)

⑵ Penaklukan Khaibar

Ibnu Ishāq mengatakan:

"Penaklukan kota Khaibar terjadi pada bulan Shafar."

(Sirah Ibnu Hisyām Juz 2 hal 341)

⑶ 'Amr bin Āsh, Khālid bin Walīd dan Utsmān bin Thalhah radhiyallāhu ta'āla 'anhum masuk Islām. 

"Amr bin Āsh Khālid bin Walīd dan Utsmān bin Thalhah masuk Islām di negri Habasyah  yang dipimpin oleh Najāsyī, kemudian mereka ke Madīnah pada bulan Shafar tahun 8 Hijriyyah."

(Al Mu'jam Al Kabīr nomor 8394)

⑷  Hijrahnya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dari kota Mekkah menuju kota Madīnah. 

Ibnul Jauzi menukilkan riwayat dalam Shifāt Ash Shawfah bahwasanya:

"Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berangkat hijrah dari Mekkah pada bulan Shafar dan sampai di Madīnah pada bulan Rabi'ul Āwwal."

(Shifāt Ash Shawfah Juz 1 hal 50)

⑸ Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menikah dengan Khadījah radhiyallāhu ta'āla 'anhā

Ibnu Ishāq berkata :

"Pernikahan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan Khadījah terjadi pada akhir bulan Shafar, ketika Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berumur sekitar 26 tahun."

(Subul Al Hudā wa Ar Rasyād Juz 2 hal 165)

⑹ Pernikahan Āli dan Fāthimah radhiyallāhu ta'āla 'anhumā. 

Berkata Ibnu Katsīr:

"Adapun Fāthimah, beliau dinikahi oleh anak pamannya yang bernama Āli bin Abū Thālib, pada bulan Shafar tahun kedua Hijriyah."

(Kitāb Sirah Nabawiyah Juz 4 hal 61)

⑺ Pemberangkatan pasukan melawan Romawi

"Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam memberangkatkan pasukan Usamāh Bin Zaid untuk melawan Romawi empat hari sebelum bulan Shafar berakhir." (Al Muqtafa min Shirah Al Mushthafa hal 236)

Dari kejadian (peristiwa) ini semua, menunjukan bahwa bulan Shafar bukanlah bulan sial.

Walaupun demikian, bukan berarti pada bulan Shafar, tidak pernah terjadi musibah atau malapetaka. Akan tetapi kita tidak boleh meyakini bahwasanya bulan shafar adalah bulan sial.

Wallāhu A'lam bishshawāb.

loading...

Friday, October 12, 2018

Mengenal 7 Jenis Maqam [Langgam] Irama Tilawah Al-Qur'an

Lagu atau langgam al-Quran adalah alunan intonasi atau membaca yang disuarakan dalam keindahan raga nada, variasi serta ipmrovisasi selaras dengan pesan-pesan yang diungkapkan oleh ayat-ayat yang dibaca.

Adapun 7 Macam Lagu dalam seni membaca al-quran yang disuarakan dalam bacaan kitab suci al-Quran harus tunduk dan sesuai serta mengikuti kaidah-kaidah tartil yang tertuang dalam disiplin ilmu tajwid serta makhrojul huruf yang benar.

Lagu-lagu al-Quran semakin berkembang dan terus berjalan selain sebagai cara ibadah dan juga da'wah dan syi'ar. Dengan lantunan keindahan bacaan Al-qur'an yang dilantunkan akan mampu menggetarkan kerasnya hati siapapun yang mendengarkannya.

A. SEKILAS PERANAN TAUSYIH

Tausyih dalam pembelajaran tilawah hanyalah sebatas acuan acoustics (pengetahuan penyuaraan) dari lagu-lagu  arabi, bukan batasan-batasan nada variasi maupun improvisasi yang mengikat.  Nada-nada yang ada dalam tausyih atau bait-bait syair  dalam  gerakan-gerakannya seperti gerakan holpen suara.

Yakni gerakan dalam frekuensi sekali atau dua kali, maupun triller suara yakni gerakan suara dalam frekuensi tiga atau empat kali gerakan tetap toleransi terhadap potensi gerakan suara pembaca.

Demikian pula  nada-nada tinggi, sedang dan rendah yang relative panjang dalam kalimat-kalimat pada bait-bait syair juga tetap toleransi pada saat diterapkan pada ayat-ayat al-Quran sesuai kebutuhan yang dituntut oleh pembaca terutama dalam konteks lirik-lirik lagu untuk suatu ayat. 

B. TAUSYIH 7 MAQAM TILAWAH

Setiap maqam, mulai dari awal maqam variasi-variasinya sampai nada jawabul jawab dikemas melalui bait-bait syair/tausyih yang ada pada tausyih yang dijadikan sebagai patokan dasar dan rambu-rambu yang memberikan  gambaran tentang apa, bagaimana dan betapa variasi maqom yang di lantunkan.

Adapun 7 Maqom Tilawah Seni Baca al-Quran

Lagu-lagu tersebut dikemas dalam sejumlah Tausyih untuk mempermudah dalam mempelajarinya, macam-macam lagu tersebut diatas yaitu: Bayyati, Shoba, Nahawand, Hijaz, Rost, Sika dan Jiharka. Sekilas dengan uraiannya berikut:

1. BAYYATI

Dalam tradisi melagukan al-Quran menempatkan maqom bayyati sebagai lagu pertama. Adapun Lagu maqom Bayyati memiliki 4 tingkatan nada yaitu :

    • Qoror (Dasar)
    • Nawa (Menengah)
    • Jawab (Tinggi)
    • Jawabul Jawab (Tertinggi)
  
    
Selain variasi diatas, terdapat variasi khusus pada Bayyati, yaitu Husaini dan Syuri.


2. SHOBA

Maqom ( lagu ) Shoba memiliki 4 tingkatan/variasi nada :

    • Awal Maqom Shoba
    • Asyiron (nawa)
    • Ajami (jawab)
    • Quflah Bustanjar




3. NAHAWAND

Tingkatan/variasi nada pada Maqom ( lagu ) Nahawand:

    • Awal Maqom Nahawand
    • Nawa
    • Jawab
    • Quflah Mahur






4. HIJAZ

Tingkatan/variasi nada pada Maqom ( lagu )  Hijaz:

    • Awal Maqom
    • Hijaz Kar
    • Hijaz Karkur
    • Alwan Hijaz




5. ROST

tingkatan/variasi nada pada Maqom ( lagu )  Rost:

    • Awal Maqom Rost
    • Nawa
    • Jawab
    • Kuflah Zinjiron
    • Syabir Alarrost
    • Alwan Rost




6. SIKA

 Tingkatan/variasi nada pada Maqom ( lagu )  Sika:

    • Awal Maqom
    • Iraqi (nawa)
    • Turki (jawab)
    • Variasi Raml




7. JIHARKA

 Tingkatan/variasi nada pada Maqom ( lagu )  Jiharka:

    • Awal Maqom
    • Nawa
    • Jawab




Download Full Tausyih doc
loading...

Thursday, October 11, 2018

[Kisah] Aku Tidak Sedang Membantu Istri...

Untuk pembaca yang sudah berkeluarga, mudah-mudahan kisan di bawah ini bisa menjadi renungan bagi kita semua dalam membina biduk rumah tangga.

***
Sebulan lalu temanku datang dari Cianjur ke rumah untuk silahturahim, kami duduk bersama dan mengobrol banyak tentang pengalaman kami kuliah di Saudi Arabia tepatnya di Kota Riyadh.

Di tengah pembicaraan, aku bilang :

Maaf ya bro...!!! "Aku mau nyucuci piring, tunggu sebentar ya"

Dia menatap ku seolah aku barusan bilang bahwa aku akan membangun sebuah roket.

Lalu dia berkata padaku dengan rasa kagum tapi sedikit bingung :

"Aku senang kau membantu istrimu. Kalo aku sih.... gak bantuin istriku, karena pas ku bantu, dia gak memujiku. Minggu lalu aku mengepel lantai dan dia gak ngucapin terima kasih."

Aku duduk lagi dan menjelaskan pada temanku ini, bahwa aku gak sedang "membantu" istriku.

Sebenarnya, istriku gak butuh bantuan, tapi dia butuh partner.

Aku adalah seorang partner di rumah dan kadang stigma di masyarakat yang membuatnya seolah suami dan istri memiliki peran yang berbeda soal pekerjaan rumah tangga.

Istri mengerjakan semua, dan suami tidak membantu. Atau kalaupun membantu, hanya sedikit saja. Tapi sebenarnya itu bukan sebuah "bantuan" untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Aku bukan sedang membantu istriku membersihkan rumah. Karena aku juga tinggal di rumah ini, maka aku perlu ikut membersihkannya juga.

Aku bukan sedang membantu istriku memasak. Tapi karena aku juga ingin makan, maka aku perlu ikut memasak.

Aku bukan sedang membantu istriku mencuci piring setelah makan. Tapi karena aku jugalah yang memakai piring-piring itu, maka aku ikut mencucinya.

Aku bukan sedang membantu istriku mengurus anak-anak nya. Tapi karena mereka adalah anak-anakku juga, maka sebgai ayahnya, aku wajib ikut mengasuh mereka.

Aku bukan sedang membantu istriku mencuci dan melipat baju. Tapi karena baju-baju itu jg milikku dan anak-anakku, maka aku ikut membereskannya juga.

Aku bukan sebuah Bantuan di rumah, tapi aku adalah Bagian dari rumah ini.

Dan soal pujian, aku memintamu wahai temanku, nanti setelah istrimu membersihkan rumah, mencuci baju, mengganti sprei, memandikan anak, memasak, membereskan barang, dll,

kau hrs mengucapkan terima kasih padanya, tapi harus ucapan terima kasih yang spesial, seperti :

"Wow, Sayangkuu!! Kamu hebatt!!!

Apa itu terasa konyol bagimu? Apa kau merasa aneh?

Padahal ketika kau, cuma sekali seumur hidup mengepel lantai, lalu setelah selesai kau mengharapkan sebuah pujian besar dari istrimu, apa itu gak lebih aneh ?

Pernahkah kau berpikir sejauh itu?

Mungkin karena bagimu, budaya patriaki mengukuhkan bahwa semua pekerjaan rumah adalah tanggung jawab istri.

Mungkin kau kira, mengerjakan semua pekerjaan rumah yang banyak itu, bisa diselesaikan tanpa menggerakkan jari?

Maka hargai dan puji istrimu seperti kau ingin dihargai dan dipuji, dengan cara dan perlakuan yang sama.

Maka ulurkan tanganmu untuk membantunya, bersikaplah seperti Partner sejati. Bukan seperti tamu yang datang hanya untuk makan, tidur, mandi dan terpenuhi kepuasannya.

Merasa nyamanlah di rumahmu sendiri.

Perubahan nyata dari masyarakat, dimulai dari rumah kita. Mari ajarkan anak lelaki dan perempuan kita, arti sebenarnya dari kebersamaan keluarga.

***
Sumber: WA
loading...

Wednesday, October 10, 2018

Apapun Profesi Kita, Dakwah Itu Wajib !

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda:

عن أبى رافع قال , قال النبى صلى الله عليه وسلم لَأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ على يَدَيْكَ رَجُلاً خَيرٌ لَكَ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيهِ الشَّمْسُ وَغَرَبَتْ 

Dari Abi Rafi dia berkata bahwa Nabi SAW telah bersabda: Jika ditunjukkan seorang manusia mengikuti jalan Allah melalui daya usahamu, ia adalah lebih baik daripada bersedekah dengan semua harta benda dari naiknya matahari hingga terbenamnya matahari.

 (HR At-Tabroni No: 18250)

Hadits di atas mengetengahkan beberapa makna yang dapat difahami, di antanya bahwa tugas setiap Muslim adalah meneladani Rasulullah SAW untuk menyampaikan dakwah kepada orang lain. Jadilah suporter kebaikan,  jangan justeru sebaliknya menjadi penghalang dan penghambat dakwah. Bentuk dakwah dalam Islam merangkul bukan memukul, menyambut bulan menyambit, menggembirakan bukan menyengsarakan, mempermudah bukan mempersulit, menyatukan bukan membubarkan, mempererat ikatan persaudaraan bukan memecah dan memutuskan persaudaraan, dsb.

Selain itu, hadits tersebut juga mengandung makna bahwa tanggungjawab berdakwah, mengajak orang lain kepada jalan Allah dan menjauhi kemungkaran adalah tugas yang mulia yang ganjarannya lebih baik daripada dia bersedekah semua harta yang ia punyai dari matahari naik hingga terbenam.

Oleh karena itu teladan pedagang Gujarat menjadi Ibrah untuk kita, betapa semangat dalam berdakwah hingga sampai di Nusantara dan kita mendapatkan nikmat Islam melalui perantaraan mereka. Saudagar itu profesi mereka, tetapi dakwah menjadi tanggung jawabnya. Alhamdulillah Nusantara menjadi muslim terbesar di dunia karena peran mereka. Sungguh pahala jariyah yang tak terhingga.

Dalam hadis yang lain, dari Sahal bin Sa'ad RA, Rasulullah SAW bersabda:

فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِىَ اللَّهَ بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Artinya:
Demi Allah, bila ada satu orang saja yang mendapat petunjuk melalui dirimu maka itu lebih baik bagimu daripada memiliki unta-unta merah (semulia-mulia harta orang Arab) ". (HR Bukhari No: 2724)

Menjadikan orang mengenal dan memeluk Islam sungguh kebaikan yang utama, daripada sekedar memperoleh pundi-pundi keduniaan yang bila meninggal belum tentu menjadi penolong kita di akhirat.

Tugas berdakwah ini tidak hanya kepada orang tertentu saja, tetapi ia menjadi tanggungjawab bersama setiap orang yang merasa memiliki Islam, tanpa dibatasi profesi, gelar, jabatan, status, dan atribut orang tersebut.  Untuk dakwah adalah kewajiban kita semua nya, bukan tugas Kyai, Tuan Guru, Buya, Ustadz, Mubaligh Da'i, dsb.

Yang termasuk berdakwah di jalan Allah adalah menjelaskan eksistensi Allah pada hamba-Nya dengan menyebut berbagai nikmat-Nya, luasnya karunia dan kesempurnaan rahmat-Nya, juga menjelaskan kesempurnaan sifat Allah dan kemuliaan-Nya, menjelaskan cara mendekat kepadaNya dalam bentuk ibadah, dan menjelaskan bagaimana hidup menebar kedamaian dan kebermanfaatan kepada alam sekitarnya, terlebih lagi kepada sesama manusia.

Yang termasuk berdakwah di jalan Allah adalah menyemangati umat dengan membawakan berbagai kutipan ilmu dan petunjuk dari Al Qur’an dan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa salam, hal ini dengan menempuh berbagai cara yang mengantarkan padanya. Termasuk dalam hal ini adalah menjelaskan akhlak yang mulia, berbuat ihsan kepada seluruh makhluk, membalas setiap kejelekan dengan kebaikan, memerintahkan untuk menyambung hubungan dengan kerabat dan berbakti pada orang tua.

Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Yang Memiliki Perkataan Terbaik, Siapa Mereka?

Ibnu Katsir berkata, “Orang yang paling baik perkataannya adalah yang mengajak hamba Allah ke jalan-Nya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12: 240)

Yang dimaksud “مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ”, da’i di jalan Allah adalah da’i yang memberi pengajaran pada orang-orang, memberi peringatan pada orang yang lalai,  mendorong untuk beribadah kepada Allah dalam segala macam bentuk peribadahan, serta menyeru untuk memperbagus ibadah sesuai kemampuan. Da’i tersebut juga memperingatkan dengan keras larangan-larangan Allah, menjelaskan jeleknya larangan tersebut dan wajib untuk menjauhinya. Materi dakwah yang utama adalah memperbaiki ushulud diin (aqidah), menyanggah hal-hal yang bertentangan dengan ushulud diin tersebut dengan cara yang baik, melarang dari kekufuran dan kesyirikan.
loading...