Orang Rajin Bersedekah Itu Bahagia, begini penjelasan ilmiahnya...

Pernahkah kita merasakan, ketika kita mengeluarkan sedekah kepada orang yang membutuhkan, ketika kita bisa membantu meringankan beban orang lain, lalu muncul perasaan bahagian entara dari mana dalam lubuk hari kita?;

Tuesday, September 4, 2018

Langkah Mudah Menulis Jurnal Ilmiah

Menulis karya ilmiah merupakan suatu kewajiban bagi mahasiswa. Tulisan anda menentukan kemampuan intelektual anda, begitu kata orang.

Salah satu jenis karya ilmiah yang umumnya ditulis adalah makalah untuk jurnal, di samping beberapa jenis lainnya seperti skripsi, tesis, dan disertasi.

Hingga saat ini, banyak mahasiswa yang masih bingung bagaimana langkah-langkah menulis karya ilmiah. Nah, berikut ini, admin akan berbagi beberapa tips dan langkah mudah untuk menulis di jurnal ilmiah, untung-untuk tulisan anda bisa masuk jurnah yang terindeks oleh Scopus.

Ada banyak panduan yang bisa membantu Anda dalam menulis sebuah jurnal ilmiah. Panduan yang satu ini, mungkin bisa dijadikan referensi.

Untuk diketahui, format umum untuk jurnal ilmiah biasanya terdiri dari: 1. Judul; 2. Abstrak; 3. Pendahuluan; 4. Bahan dan metode; 5. Hasil; 6. Pembahasan; 7. Kesimpulan; 8. Daftar pustaka. Meski ada juga beberapa institusi yang tidak mensyaratkan hal tersebut secara saklek.

1. Judul 
Setiap jurnal ilmiah harus memiliki judul yang jelas. Dengan membaca judul, akan memudahkan pembaca mengetahui inti jurnal tanpa harus membaca keseluruhan dari jurnal tersebut. Misalnya, judul "Laporan Lab Biologi". Dengan judul seperti ini, maka tidak ada pembaca yang mau membacanya karena tidak menggambarkan isi jurnal. Contoh judul yang jelas, misalnya "Pengaruh Cahaya dan Suhu terhadap Pertumbuhan Populasi Bakteri Escherichia Coli". Judul ini sudah sedikit banyak melaporkan isi dari jurnal.

2. Abstrak 
Abstrak berbeda dengan ringkasan. Bagian abstrak dalam jurnal ilmiah berfungsi untuk mencerna secara singkat isi jurnal. Abstrak di sini dimaksudkan untuk menjadi penjelas tanpa mengacu pada jurnal. Bagian abstrak harus menyajikan sekitar 250 kata yang merangkum  tujuan, metode, hasil, dan kesimpulan. Jangan gunakan singkatan atau kutipan dalam abstrak. Pada abstrak harus dapat berdiri sendiri tanpa catatan kaki. Abstrak ini biasanya ditulis terakhir. Cara mudah untuk menulis abstrak adalah mengutip poin yang paling penting di setiap bagian jurnal. Kemudian menggunakan poin-poin untuk menyusun sebuah deskripsi singkat tentang studi Anda.

3. Pendahuluan 
Pendahuluan adalah pernyataan dari kasus yang Anda diselidiki, yang memberikan informasi kepada pembaca untuk memahami tujuan spesifik Anda dalam kerangka teoritis yang lebih besar. Bagian ini juga dapat mencakup informasi tentang latar belakang masalah, seperti ringkasan dari setiap penelitian yang telah dilakukan dan bagaimana sebuah percobaan akan membantu untuk menjelaskan atau memperluas pengetahuan dalam bidang umum. Semua informasi latar belakang yang dikumpulkan dari sumber lain harus menjadi kutipan. Catatan: Jangan membuat pendahuluan terlalu luas. Ingat saja bahwa Anda menulis jurnal untuk rekan yang juga memiliki pengetahuan yang sama dengan Anda.

4. Bahan dan Metode 
Bagian ini menjelaskan ketika percobaan telah dilakukan. Peneliti menjelaskan desain percobaan, peralatan, metode pengumpulan data, dan jenis pengendalian. Jika percobaan dilakukan di alam, maka penulis menggambarkan daerah penelitian, lokasi, dan juga menjelaskan pekerjaaan yang dilakukan.  Aturan umum yang perlu diingat adalah bagian ini harus memaparkan secara rinci dan jelas sehingga pembaca memiliki pengetahuan dan teknik dasar agar bisa diduplikasikan.

5. Data
Di sini peneliti menyajikan data yang ringkas dengan tinjauan menggunakan teks naratif, tabel, atau gambar. Ingat hanya hasil yang disajikan, tidak ada interpretasi data atau kesimpulan dari data dalam bagian ini. Data yang dikumpulkan dalam tabel/gambar harus dilengkapi teks naratif dan disajikan dalam bentuk yang mudah dimengerti. Jangan ulangi secara panjang lebar data yang telah disajikan dalam tabel dan gambar.

6. Pembahasan (inti tulisan)
Pada bagian ini, peneliti menafsirkan data dengan pola yang diamati. Setiap hubungan antar variabel percobaan yang penting dan setiap korelasi antara variabel dapat dilihat jelas. Peneliti harus menyertakan penjelasan yang berbeda dari hipotesis atau hasil yang berbeda atau serupa dengan setiap percobaan terkait dilakukan oleh peneliti lain. Ingat bahwa setiap percobaan tidak selalu harus menunjukkan perbedaan besar atau kecenderungan untuk menjadi penting. Hasil yang negatif juga perlu dijelaskan dan mungkin merupakan sesuatu yang penting untuk diubah dalam penelitian Anda.

7. Kesimpulan 
Bagian ini hanya menyatakan bahwa peneliti berpikir mengenai setiap data yang disajikan berhubungan kembali pada pertanyaan yang dinyatakan dalam pendahuluan. Dengan mengacu pada bagian pendahuluan dan kesimpulan, seorang pembaca harus memiliki ide yang baik dari penelitian ini, meski pun hanya rincian spesifik.

8. Daftar Pustaka 
Semua informasi (kutipan) yang didapat peneliti harus ditulis sesuai abjad pada bagian ini. Hal tersebut berguna untuk pembaca yang ingin merujuk pada literatur asli. Perhatikan bahwa referensi yang dikutip benar-benar disebutkan pada jurnal Anda. Selamat menulis!
loading...

Friday, August 31, 2018

Kisah Nyata Tentang Cinta dan Kesetiaan : Zainab Putri Rasulullah Saw

Sebelum Nabi Muhammad saw diangkat menjadi rasul, Abul Ash bin Rabi' menghadap beliau.
“Saya ingin menikahi Zainab, putri sulung Anda”
Sebuah contoh kesantunan dan tatakrama.

Nabi Muhammad saw. menjawab, “Aku tak mau melakukannya sebelum meminta izin padanya”. Sesuai syariat yang nanti akan diwahyukan kepadanya.

Nabi saw. menyampaikannya pada Zainab. “Anak pamanmu mendatangiku dan menyebut-nyebut namamu. Apakah engkau rela ia menjadi suamimu?”

Wajahnya memerah dan ia tersenyum. Malu-malu.

Nabi saw. kemudian menikahkan Zainab dengan Abul Ash. Bermulalah dahsyatnya sebuah kisah cinta. Dari pernikahan berkah ini lahirlah Ali dan Umamah.

Tiba masanya muncul sebuah masalah baru.

Yaitu, terkait diutusnya Nabi Muhammad saw sebagai Rasul Allah. Saat itu Abul Ash sedang bepergian beberapa saat lamanya. Ketika ia kembali, Zainab sudah memeluk Islam dan mengimani risalah yang dibawa ayahnya. Abul Ash pun mengetahuinya.
Zainab berkata, “Aku punya sebuah berita besar untukmu”.

Abul Ash berdiri, lalu meninggalkan Zainab. Zainab mengejarnya, kemudian ia berkata:
“Ayahku diutus sebagai nabi dan aku telah memeluk Islam.”

Abul Ash menjawab, “Bagaimana sikapmu? Beritahu aku!”

Zainab menimpali, “Aku takkan mendustakan ayahku. Karena ia bukan pendusta. Ia adalah orang jujur dan sangat dipercaya. Bukan hanya aku yang berislam kepadanya. Ibuku dan saudara-saudaraku juga melakukannya. Ali bin Abi Thalib sepupumu juga beriman. Anak bibimu, Usman bin Affan juga memeluk Islam. Sahabatmu Abu Bakar juga menyatakan Islam".

Kalau Aku.... kata Abul Ash.
“Aku tak mau nanti orang-orang mengatakan Abul Ash menghinakan kaumnya, kafir dengan nenek moyangnya demi istrinya. Ayahmu pasti akan tertuduh. Mohon maaf. Hargailah sikapku?"
Sebuah dialog cinta yang jauh dari memperturutkan ego dan gengsi.

Zainab tersenyum, “Jika bukan aku, siapa lagi yang akan memaklumimu? Tapi suamiku, aku adalah istrimu. Aku ingin membantumu dalam kebaikan hingga engkau bisa memutuskannya dengan benar.”

Zainab membuktikan kata-katanya selama 20 tahun. Ia bersabar. Setia dengan cintanya. Setia dengan akidahnya.

Abul Ash tetap berada dalam sikapnya. Hingga sampailah saat hijrah nabawi. Zainab menghadap ayahnya.

“Ya Rasulallah, mohon izin aku ingin menetap bersama suamiku.” Bukti cintanya yang sangat dalam. Dan Nabi saw mengizinkannya dengan penuh sayang.

Zainab menetap di Mekah. Saat terjadi Perang Badar, suaminya memutuskan bergabung berperang bersama pasukan Quraisy. Menarget Nabi Muhammad dan kaum muslimin. Suaminya turut memerangi ayahnya. Rasulullah saw..

Bermalam-malam ia menangis dan merintih, tenggelam dalam duka. Ia panjatkan doa dan bermunajat penuh kepasrahan.

“Ya Allah... aku takut jika setiap matahari terbit akan menerima kenyataan bahwa anakku menjadi yatim atau aku kehilangan ayahku...”

Abul Ash bertempur masih dengan keyakinanya. Meski ia sendiri tak benar-benar yakin akan sikapnya. Usailah pertempuran Badar. Abul Ash tertawan. Beritanya sampai ke Mekah.

Dengan penuh cemas ia menanyakan tentang kabar ayahnya.

“Kaum Muslimin menang” ia mendapat kabar demikian. Ia bersujud pada Allah, mensyukuri karunia-Nya. Ia juga bertanya berita tentang suaminya.

Mereka menjawab, “Ia ditawan oleh mertuanya.”
Ia bergegas ingin menebus suaminya. Ia kirimkan kalung perhiasan.
Ia tak punya apa-apa yang berharga selain perhiasan dari ibunya yang ia kenakan. Perhiasan yang selalu melekat di dadanya. Kalung itu kemudian dibawa saudara kandung Abul Ash menghadap Rasulullah saw.

Nabi Muhammad saw terhenyak ketika melihat kalung istrinya, Khadijah yang sangat dikenalnya.
“Tebusan siapa ini?”
“Tebusan Abul Ash bin Rabi`”

Ada tetesan air mengalir dari pelupuk mata beliau, seraya berbisik pelan, ”Ini adalah kalung Khadijah.” Sebuah ungkapan kesetiaan yang terpatri dalam hati. Tak luntur meski jasad pemiliknya sudah bertahun-tahun terpendam dalam tanah.

Beliau kemudian berdiri dan berkata, “Wahai manusia… Lelaki ini tidak aku cela sebagai menantu.”
Sebuah narasi pengakuan dan sikap adil yang nyata.

"Mengapa kalian tak bebaskan ia dari tawanan? Mengapa kalian tak mengembalikan kalung tebusannya kepada Zainab?"

Para sahabat menjawab , “Labbaik, wahai Rasulullah”. Kesantunan dan ketaatan tertulis dalam sejarah.

Nabi saw kemudian memberikan kalung tersebut kepada Abul Ash dan berkata, “Sampaikan kepada Zainab agar jangan mengabaikan kalung Ibunya, Khadijah.” Sebuah pesan cinta dan kesetiaan yang dahsyat.

Nabi saw. berkata, “Wahai Abul Ash aku sampaikan sebuah rahasia.”
Kemudian Abul Ash mendekati Rasulullah saw.

“Wahai Abul Ash. Sesungguhnya Allah sudah memerintahkan kepadaku untuk memisahkan antara perempuan muslimah dan orang kafir. Maka, kembalikanlah putriku kepadaku!”

Dengan penuh penghormatan Abil Ash berkata, “Siap. Aku akan melakukannya!”

Zainab keluar rumah menuju gerbang kota Mekah hendak menyambut jantung hatinya. Sabar ia tunggu kedatangan suaminya. Abul Ash terlihat. Tak lama kemudian ia mendekat. Suaminya membisikinya. “Aku akan pergi”

“Ke mana?” pendar mata binar Zainab kembali meredup.

“Bukan aku, tapi Engkau yang pergi. Aku berjanji menyerahkanmu pada ayahmu!”
“Mengapa?”

“Untuk memisahkan antara aku dan dirimu. Kembalilah pada ayahmu!”. Abul Ash menepati janjinya.

“Mengapa engkau tak membersamaiku saja. Masuk Islam-lah...” Zainab membujuk penuh harap, penuh cinta.

Dan Abul Ash tetap pada pendiriannya. Zainab pun meninggalkan Mekah. Meninggalkan suaminya. Menaati perintah Allah dan ayahnya. Ia hijrah ke Madinah membawa anak-anaknya.

Sejak saat itu, selama 6 tahun silih berganti para lelaki melamarnya. Namun, Zainab tak pernah berkenan menerima. Ia tetap setia menunggu cintanya yang tertinggal di Mekah. Bersama sekeping harap agar mantan suaminya datang menghadap ayahnya dan membersamainya kembali seperti sedia kala.

Setelah tahun-tahun sulit. Menjelang terjadinya Fathu Makkah, Abul Ash sebagaimana biasa ia melakukan perjalanan, berdagang ke negeri Syam.

Dalam perjalanan pulang ke Mekah ia bersama kafilah dagang Quraisy membawa 100 ekor unta dengan 170 orang. Mereka terendus oleh pasukan mata-mata umat Islam. Mereka pun akhirnya ditawan. Namun, Abul Ash berhasil kabur, lenyap dan menghilang.

Abul Ash berlindung di balik kegelapan malam yang semakin gelap serta larut. Ia mengendap-endap memasuki kota Madinah. Bersembunyi beberapa saat.

Menjelang fajar ia semakin mendekat. Rumah Zainab yang ditujunya. Inilah tsiqoh, sebuah kepercayaan.

Zainab bertanya, “Apakah Engkau datang dalam keadaan muslim?”

Abul Ash menjawab, “Bukan. Aku kabur!”

“Mengapa engkau tidak berislam saja”

“Tidak”

Abul Ash meminta jaminan dan perlindungan. Dan Zainab bersedia melindungi. Menjamin dirinya.

“Jangan takut, anak bibiku. Selamat datang wahai Abu Ali dan Abu Umamah”

Rasulullah saw. berdiri di mihrab, mengimami kaum muslimin Shalat Fajar berjamaah. Beliau mengucapkan takbiratul ihram, para makmum di belakang beliau juga bertakbir. Saat itu dari shaf jamaah perempuan, Zainab mengangkat suaranya. Ia berkata, “Aku Zainab binti Muhammad, telah memberi jaminan kepada Abul Ash, maka lindungilah dia.”

Ketika selesai shalat, Nabi Muhammad saw. menoleh kepada para jamaah dan bertanya, “Apakah kalian semua mendengar seperti yang aku dengar?”

Mereka menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.”

Nabi Muhammad saw bersabda, “Demi Dzat yang diriku ada dalam genggaman-Nya. Aku tidak tahu kecuali apa yang aku dengar, seperti yang kalian dengar. Sungguh orang yang paling lemah di antara kaum muslimin telah memberi perlindungan.”

Nabi Saw berdiri menyeru, “Wahai para manusia. Sungguh terhadap lelaki ini sebagai menantu saya tidaklah mencelanya. Menantuku ini telah berbicara denganku dan ia membenarkanku, ia memberi janji dan ia menunaikan janjinya terhadapku”.

Penuh khidmat dan hening para sahabat Nabi saw mendengarkannya.

“Bila kalian setuju untuk mengembalikan hartanya dan membiarkannya pulang ke negerinya, maka ini lebih aku sukai. Tetapi bila kalian menolak, maka semua urusan kuserahkan kepada kalian, keputusan ada di tangan kalian. Saya takkan memprotesnya.”

Inilah musyawarah. Beliau tidak menggunakan otoritas kepemimpinannya.

“Kami bersedia menyerahkan kembali hartanya”. para sahabat menyetujui Rasulullah saw. Dan inilah adab dan kesantunan sebagai balasan keteladanan dan tawadhu pemimpin.

Lalu Nabi Saw bersabda, “Wahai Zainab, kita telah memberi perlindungan kepada orang yang engkau beri perlindungan dan jaminan.”

Lalu Rasulullah membersamai putrinya ke rumahnya, “Wahai Zainab! Hormatilah Abul Ash. Dia itu putra bibimu, dia adalah ayah dari anak-anakmu. Tetapi jangan dekati dia, itu tidak halal bagimu.” Syariat dipraktekkan dan dipadu dengan akhlak mulia serta kasih sayang.

Zainab menganggukkan kepala, “Labbaik, wahai Rasulullah.”

Zainab menemui Abul Ash bin Rabi’ dan berkata, “Perceraian kita telah menyulitkan kita. Maukah engkau masuk Islam dan tinggal bersama kami?”.

Harapan dan cinta menyatu, keluar dari bibir putri manusia termulia. Namun, Allah belum mengabulkannya.

Abul Ash mengambil hartanya dan pulang menuju Mekah. Sesampai di kota Mekah ia berkata kepada penduduk Mekah, “Wahai penduduk Mekah, terimalah harta kalian. Apakah masih ada yang kurang?"

Mereka menjawab, “Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu. Engkau telah menunaikan amanah dengan sangat baik.”

Abul Ash berkata, "Aku sungguh bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya."

Bergegas, Ia pun pergi berhijrah menuju Madinah. Menjemput hidayahnya. Menyusun kembali kepingan cinta dan kesetiaannya.

Ketika waktu fajar, ia memasuki kota Madinah. Ia bergegas menghadap Nabi Saw. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, kemarin Engkau memberi perlindungan kepadaku. Kini, saksikanlah aku datang dan bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya.”
Abul Ash melanjutkan, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memberi izin kepadaku untuk kembali (ruju’) kepada Zainab?”

Nabi saw. memegang pundak Abul Ash dan berkata, “Mari berjalan bersamaku.”

Beliau ke rumah Zainab, mengetuk pintu dengan penuh bahagia, “Anakku, Zainab. Ini anak bibimu datang kepadaku. Dia meminta izin kepadaku untuk kembali kepadamu. Bersediakah engkau?”

Maka, nampak muka Zainab kemerahan seraya tersenyum. Malu-malu. Pertanda rela, ungkapan persetujuannya.

Seisi Madinah gegap gempita, menyambut bahagia. Merayakan pertemuan cinta dan kesetiaan. Langit cerah, seputih ketulusan cinta Zainab.

Namun, ini bukan akhir sebuah kisah…

Setahun kemudian, Zainab putri Rasulullah saw. dipanggil oleh Allah. Ajalnya telah sampai.
Isak tangis kesedihan Abul Ash terdengar. Menyayat siapa saja yang mendengarnya. Para sahabat menyaksikan Rasulullah saw mengusapnya. Turut merasakan kesedihan yang mendalam. Menerima takdir Allah dengan penuh keimanan.

Suara berat Abul Ash menyeruak, “Wahai Rasulullah aku tak mampu hidup tanpa Zainab”
Dan benar, setahun kemudian ia menyusul kekasihnya. Menghadap Allah subhânahu wa ta’âlâ.

Itulah kisah tentang cinta dan kesetiaan. Bersyukurlah, Allah telah karuniakan perempuan baik mendampingimu. Rawatlah cintanya. Ajaklah membangun istana cinta di dunia. Kelak Allah akan membalasmu dengan karunia cinta yang abadi, kesetiaan yang tak pernah luntur oleh masa.

Sumber tulisan:
1. https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=208173 atau di tautan: https://al-maktaba.org/book/31615/34748
2. Beberapa redaksi diambil dari At-Tarikh al-Islamiy karya Mahmud Syakir, Siyar a’lâm an-Nubalâ karya Imam al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabiy.
3. Hadis jaminan Zainab kepada Abul Ash juga diriwayatkan oleh ath-Thabraniy, al-Hakim dan al-Baihaqi dari riwayat Ummu Salamah ra.

****
Dialihbahasakan oleh al-faqîr ilâ ‘afwi rabbih *Dr. Saiful Bahri* dengan beberapa perubahan redaksi dan penambahan.
loading...

Thursday, August 30, 2018

50 Kaidah Indah Tentang Seni Menyikapi Perbedaan [Arab - Indonesia]

50 kaidah tentang seni menyikapi perbedaan yang harus kita ketahui ketika kita sharing pendapat, antara satu dengan yang  lain :

Camkan baik-baik:

1- أنا لستُ أنت
1. Saya itu bukan anda ( kita berbeda )

2- ليس شرطاً أن تقتنع بما أقتنع به
2. Tidak disyaratkan agar anda meyakini apa yg saya yakini

3- ليس من الضرورة أن ترى ما أرى
3. Bukan keharusan agar anda berpendapat seperti pendapat saya

4- الاختلاف شيء طبيعي في الحياة
4. Perbedaan itu hal yg biasa dalam kehidupan

5- يستحيل أن ترى بزاوية 360°
5. Mustahil anda dapat melihat dari arah 360 derajat

6- معرفة الناس للتعايش معهم لا لتغييرهم
6. Memahami orang itu dalam rangka berinteaksi dengan mereka bukan untuk merubah mereka

7- إختلاف أنماط الناس إيجابي وتكاملي
7. Perbedaan pola pikir manusia adalah hal positif untuk saling melengkapi

8- ما تصلح له أنت قد لا أصلح له أنا
8. Apa yang menurut anda maslahat,  belum tentu maslahat buat saya

9- الموقف والحدث يُغيّر نمط الناس
9. Kondisi dan peristiwa dapat mengubah pola orang

10- فهمي لك لا يعني القناعة بما تقول
10. Pemahaman saya tentang anda bukan berarti saya menerima apa yang anda katakan

11- ما يُزعجك ممكن ألا يزعجني
11. Apa yang membuat anda tidak nyaman,  mungkin tidak buat saya

12- الحوار للإقناع وليس للإلزام
12. Sharing itu untuk meyakinkan bukan untuk mengharuskan

13- ساعدني على توضيح رأيي
13. Bantu saya untuk memperjelas pendapat saya

14- لا تقف عند ألفاظي وافهم مقصدي
14. Jangan terbatas pada kata-kata saya tapi pahami tujuan saya

15- لا تحكم علي من لفظ أو سلوك عابر
15. Jangan menjustifikasi saya karena satu kata atau satu tindak tanduk saya yang terlihat

16- لا تتصيد عثراتي
16. Jangan mencari-cari kesalahan saya

17- لا تمارس علي دور الأستاذ
17. Jangan posisikan anda  sebagai guru saya

18- ساعدني أن أفهم وجهة نظرك
18. Bantu saya untuk memahami pendapat anda

19- اقبلني كما أنا حتى أقبلك كما أنت
19. Terima saya apa adanya sehingga saya juga bisa menerima anda apa adanya

20- لا يتفاعل الإنسان إلا مع المختلف عنه
20.Tidaklah berinteraksi seorang manusia kecuali dengan orang yang berbeda

21- إختلاف الألوان يُعطي جمالاً للّوحة
21. Perbedaan warna memberi keindahan pada tampilan plang papan

22- عاملني بما تحب أن أعاملك به
22. Perlakukan saya seperti halnya anda merasa senang dengan perlakuan saya kepada anda

23- فاعلية يديك تكمن باختلافهما وتقابلهما
23. Aktifitas kedua tangan anda terletak pada perbedaan keduanya

24- الحياة تقوم على الثنائية والزوجية
24. Hidup itu didasarkan atas hubungan bilateral dan perkawinan

25- أنت جزء في كل من منظومة الحياة
25. Anda adalah bagian dari tiap rangkaian kehidupan

26- لعبة كرة القدم تكون بفريقين مختلفين
26. Permainan sepak bola dilakukan dua tim yang berbeda

27- الاختلاف استقلال ضمن المنظومة
27. Perbedaan merupakan kemerdekaan dari keterikatan

28- أبنك ليس أنت وزمانه ليس زمانك
28. Anak anda bukanlah anda,  masanyapun bukan masa anda

29- زوجتك أو زوجك وجه مقابل وليس مطابقاً لك كاليدين
29. Istri anda,  atau suami anda adalah sisi yg berlawanan tidak sama seperti dua tangan

30- لو أن الناس بفكر واحد لقتل الإبداع
30. Kalau manusia berfikiran sama , maka inovasi jadi mati

31- إن كثرة الضوابط تشل حركة الإنسان
31. Banyaknya aturan membelenggu gerak manusia

32- الناس بحاجة للتقدير والتحفيز والشكر
32. Manusia itu butuh untuk dihargai, dimotivasi dan diberi balasan

33-  لا تُبخس عمل الآخرين
33. Jangan remehkan kerjaan orang lain

34- إبحث عن صوابي فالخطأ مني طبيعي
34. Carilah yang benar yg ada pada diri saya, adanya kesalahan pada saya juga hal biasa

35- انظر للجانب الإيجابي في شخصيتي
35. Lihatlah sisi positif pada pribadi saya

36- ليكن شعارك وقناعتك في الحياة : يغلب على الناس الخير والحب والطيبة
36. Jadikan semboyan dan kepuasan anda dalam hidup ini : " Kebaikan, kecintaan dan kebersihan memenuhi semua orang"

37- ابتسم وانظر للناس باحترام وتقدير
37. Tersenyumlah dan pandanglah orang dengan hormat dan penghargaan

38- أنا عاجز من دونك
38. Saya tak mampu tanpa bantuamu

39- لولا أنك مختلف لما كنت أنا مختلف
39. Kalaulah bukan karena anda berbeda niscaya saya tidak berbeda
4m

40- لا يخلو إنسان من حاجة وضعف
40. Manusia itu tidak luput dari kebutuhan dan kelemahan

41- لولا حاجتي وضعفي لما نجحت أنت
41. Kalaulah bukan karena kebutuhanku dan kelemahanku niscaya anda tak sukses (karena kesuksesan itu dipergilirkan)

42- أنا لا أرى وجهي لكنك أنت تراه
42. Saya tidak bisa melihat muka saya sendiri, tapi anda bisa melihat wajah saya

43- إن حميت ظهري أنا أحمي ظهرك
43. Kalau punggung saya terjaga saya dapat menjaga punggung anda

44- أنا وأنت ننجز العمل بسرعة وبأقل جهد
44. Saya dan anda dapat bekerja dengan cepat dengan sedikit kerja keras

45- الحياة تتسع لي أنا وأنت وغيرنا
45.  Hidup itu terbentang luas untuk saya,  anda dan orang lain

46- ما يوجد يكفي الجميع
46. Apa yang ada mencukupi semuanya

47- لا تستطيع أن تأكل أكثر من ملء معدتك
47. Anda tidak akan mampu makan lebih dari yang memenuhi perut anda

48- كما لك حق فلغيرك حق
48. Seperti halbya anda punya hak orang lain juga punya hak

49- يمكنك أن تغير نفسك ولا يمكنك أن تغيرني.
49. Mungkin anda bisa mengubah diri anda tapi tidak bisa mengubah diri saya

50- تقبل اختلاف الآخر وطوّر نفسك
50. Terimalah perbedaan orang lain dan kembangkan diri anda

وأخيراً :
 تكسيرك لمجاديف غيرك لا يزيد أبداً من سرعة قاربك
Terakhir :
Merusak/memecahkan dayung orang lain tidaklah menambah kecepatan perahu anda


loading...

Wednesday, August 29, 2018

Berjemur di Bawah Cahaya Matahari... Cara Sehat Tanpa Biaya... Obati Banyak Penyakit

Salah satu aktivitas sehat yang sudah banyak ditinggalkan orang modern: Berjemur di bawah cahaya matahari. Kemajuan zaman banyak membut orang manja, terbiasa di ruang ber-AC.... padahal, aktivitas berjemur sangat bermanfaat untuk kesehatan manusia.

Anda bisa berjemur matahari sambil jalan-jalan di taman, atau sekedar rekreasi setelah makan atau sambil jalan-jalan ketika matahari bersinar.

Jangan meremehkan berjemur di bawah matahari, tidak menghabiskan uang sepeser pun, tidak perlu repot, yang pasti adalah: matahari berperan besar terhadap kesehatan.

"Sinar matahari adalah harta karun, berjemur di bawah sinar matahari adalah baik.
Dalam tradisi perubatan Cina, matahari dipercaya menambah "Yang" energi kepada para lanjut usia

Tidak hanya itu, masih banyak manfaat lain dari sinar matahari:

- Matahari merupakan anti kanker, membuat imunitas jadi  kuat hingga bisa berumur panjang.

Apabila seseorang ingin menjadi sehat, perlu energi "Yang" yang membuat anggota badan hangat, organ internal yang kuat dan sehat. Dengan matahari memberi kita penyembuhan terbaik secara alami.

1. Membuat pembuluh darah lebih sehat.*
Matahari yang cukup akan membantu vitamin D menjadi lebih aktif, sehingga mengurangi peradangan, menjadikan pembuluh darah lebih baik.

2. Meningkatkan harapan hidup.
3. Kurangi risiko kanker.
4. Meningkatkan imunitas. Meningkatkan kemampuan tubuh melawan penyakit.

Berjemur matahari adalah metode memperbaiki tubuh yang paling baik di dunia. Bgmn caranya? Pastikan untuk menguasai cara berjemur yang benar!

Matahari memberi kalsium kpd rambut kepala.
Sinar matahari di atas kepala, dapat sepenuhnya meningkatkan penyerapan kalsium.

Berjemur punggung dan sistem pencernaan.

Matahari membantu menyehatkan jantung dan paru-paru. 
Matahari yang menyinari bagian punggung sangat bermanfaat bagi jantung dan paru-paru.

Kaki tidak lagi kram.
"Kaki yang dingin sering kali adalah akibat terhindar dari matahari. Matahari bukan saja bisa mjd cara yang baik untuk menyingkirkan kaki yang dingin, efektif meringankan kram kaki, tapi juga untuk mempercepat penyerapan kalsium kaki, sehingga kaki tulang lebih kencang, pencegahan osteoporosis yang baik. Terutama mereka yang memiliki rheumatoid arthritis.

Matahari mengaktivasi darah, berperan dalam proses meringankan dan penyembuhan penyakit.

Waktu-waktu yang terbaik untuk berjemur matahari adalah:

Pada umumnya jam 7 pagi sampai jam 9 paling cocok untuk berjemur. Pada titik ini sinar matahari yang kuat, cahaya ultraviolet yang lemah, peran tubuh manusia dari kehangatan, bisa membuat tubuh panas, meningkatkan sirkulasi darah dan metabolisme, peredaran darah, meningkatkan vitalitas manusia.

Pukul 4 sore sampai jam 5 adalah waktu terbaik juga untuk berjemur, periode waktu ini karakteristik radiasi ultraviolet adalah yang terbaik.

Waktu-waktu di atas adalah yang tepat membuat cadangan "vitamin sinar matahari" - vitamin D tubuh lebih banyak-. Meningkatkan penyerapan kalsium dan fosfor usus, meningkatkan kalsifikasi tulang, dan meningkatkan kebugaran fisik.

Bagai mana kita memanfaatkan matahari setiap hari?
Dlm 40 menit sampai sekitar satu jam, sedikit keringat, sedikit mengantuk untuk mendapatkan hasil terbaiknya.

Bersemangatlah mengatur waktu untuk berjemur matahari yang telah Tuhan sediakan. Temukan tempat yang sepi untuk bejemur, tutup mata dengan tenang atau dengarkan musik yang santai dan elegan, jangan mainkan handphone, bertelepon, bersemangat ngobrol atau olah raga begitu keras. Bukan tidak boleh, tapi jangan membuang kesempatan yang Tuhan berikan untuk memperbaiki diri melalui matahari!

Matahari yang Tuhan sediakan memberi kita kesempatan mengatasi penyakit, tanpa harus mengeluarkan biaya atau merepotkan.
loading...

Monday, August 27, 2018

[Fiqih Kurban]: Apa Hukum Menjual Kulit dan Kepala Hewan Qurban?

Orang yang berkurban maupun wakil orang yang berkurban seperti panitia Idul Adha atau yayasan sosial atau pondok pesantren dan semisalnya tidak boleh menjual kulit hewan kurban, kepalanya, bulunya, dagingnya, termasuk juga asesoris hewan kurban seperti tali kekang, pelana, dan lain-lain.

Dalil yang menunjukkan tidak bolehnya menjual semua bagian hewan kurban yang telah sah dijadikan hewan kurban adalah hadis berikut ini,

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا

Artinya:
Dari Ali, ia berkata, “Rasulullah ﷺ memerintahkan kepadaku untuk menangani (menyembelih) unta kurban beliau, menyedekahkan dagingnya, kulitnya dan asesorisnya, dan (beliau juga memerintahkan agar) aku tidak memberi sedikitpun (daging kurban da asesorisnya) itu kepada tukang jagal’. Ali berkata, ‘kami memberi (upahnya) dari (harta) kami sendiri” (Muslim, juz 6 hlm 470)

Dalam riwayat di atas, Rasulullah ﷺ melarang membayar jagal dengan daging kurban atau asesorisnya. Hal ini menunjukkan daging kurban tidak bisa lagi diakadkan yang bersifat mu’awadhoh (tukar menukar dengan kompensasi). Oleh karena akad ijaroh tidak boleh memakai iwadh (kompensasi) dengan bagian tubuh hewan kurban, maka akad jual beli juga terlarang karena jual beli juga tergolong mu’awadhoh sebagaimana ijaroh.

Yang menguatkan adalah hadis riwayat Abu Hurairah berikut ini,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلَا أُضْحِيَّةَ لَهُ»

Artinya:
“Dari Abu Hurairah , ia berkata, Rasulullah  bersabda, “Barangsiapa menjual kulit kurbannya maka tidak ada (pahala) kurban baginya” (Al-Mustadrok ‘Ala Ash-Shohihain, juz 2 hlm 422)

Riwayat di atas secara implisit cukup jelas melarang menjual kulit hewan kurban, karena pelanggaran terhadap hal itu membuat ibadah kurban tidak diterima. Hadis ini dishahihkan oleh Al-Albani.

Lagipula hewan kurban adalah harta yang sudah diberikan kepada Allah. Maka itu menjadi hak Allah. Tidak lagi menjadi hak milik bagi orang yang berkurban atau panitia kurban yang menjadi wakil orang yang berkurban. Karena hewan kurban sudah menjadi hak Allah, maka seluruh bagian tubuhnya termasuk asesorisnya harus dibagi kepada orang-orang yang diperintahkan Allah untuk memperolehnya seperti fakir miskin, orang yang menderita, tetangga, kerabat, dan orang-orang yang berharap. Jadi ini seperti wakaf. Apa yang sudah diwakafkan, tidak boleh lagi diperjualbelikan.

Al-Hajjawi berkata,

ولا يبيع جلدها ولا شيئا منها بل ينتفع به

“…tidak (boleh) menjual kulitnya (hewan kurban) dan tidak pula bagian apapun dengan hewan kurban, tetapi (yang boleh adalah) memanfaatkannya (Zadu Al-Mustaqni’ Fi Ikhtishori Al-Muqni’, hlm 96)

Adapun alasan bahwa orang yang berkurban boleh memakan daging kurbannya sendiri, sehingga ini dipahami sebagai kemubahan intifa’, lalu dipahami bahwa intifa’ terhadap kulit dengan cara dijual atau dipakai hukumnya mubah sebagaimana mubahnya intifa’ daging kurban dengan cara dimakan, maka argumentasi ini tidak bisa diterima karena ini adalah qiyas, dan tidak ada qiyas dalam ibadah. Hukum asal daging kurban adalah sah diberikan kepada Allah. Hukum asalnya, berdasarkan hal ini, haram juga bagi orang yang berkurban untuk memakan daging kurbannya. Tetapi karena memang ada dalil yang mengkhususkannya, yakni mubahnya orang berkurban memakan sebagian daging kurban maka hal itu tidak mengapa, yakni hanya untuk makan saja dan tidak boleh diseret lebih jauh kebolehan untuk menjual.

Adapun pendapat yang mengatakan boleh menjual kulit kurban jika diniatkan untuk sedekah, maka ini juga masih berat diterima. Karena persoalannya bukan sekedar bagaimana mencapai target sedekah saja, tetapi yang harus dipastikan adalah bersedekah dengan cara yang dikehendaki syariat. Kisah Umar menunjukkan apa yang telah diniatkan untuk Allah tidak bisa lagi diperjual belikan, meski dengan niat untuk dimanfaatkan lebih baik. Bukhari meriwayatkan,

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ
حَمَلْتُ عَلَى فَرَسٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَأَضَاعَهُ الَّذِي كَانَ عِنْدَهُ فَأَرَدْتُ أَنْ أَشْتَرِيَهُ مِنْهُ وَظَنَنْتُ أَنَّهُ بَائِعُهُ بِرُخْصٍ فَسَأَلْتُ عَنْ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَا تَشْتَرِهِ وَإِنْ أَعْطَاكَهُ بِدِرْهَمٍ وَاحِدٍ فَإِنَّ الْعَائِدَ فِي صَدَقَتِهِ كَالْكَلْبِ يَعُودُ فِي قَيْئِهِ

Artinya:
Dari Zaid bin Aslam dari bapaknya aku mendengar ‘Umar bin Al Khaththob radliallahu ‘anhu berkata: “Aku memberi (seseorang) kuda yang untuk tujuan digunakan berperang di jalan Allah lalu orang itu menyia-nyiakannya (tidak memanfaatkan sebagaimana mestinya). Kemudian aku berniat membelinya kembali darinya karena aku menduga di akan menjualnya dengan murah. Lalu aku tanyakan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Beliau bersabda: “Jangan kamu membelinya sekalipun orang itu menjualnya dengan harga satu dirham, karena orang yang mengambil kembali shadaqahnya seperti anjing yang menjilat kembali ludahnya”. (H.R. Al-Bukhari, juz 9 hlm 89)

Adapun orang miskin yang menerima daging kurban atau kulit hewan kurban atau kepala hewan kurban atau asesoris hewan kurban, maka boleh baginya untuk menjualnya karena dia telah berhak terhadap hewan kurban tersebut. Dalam hal ini hukumnya tidak bisa disamakan dengan hukum orang yang berkurban atau panitia yang mewakilinya.

Sebagai pengayaan, bisa dibaca artikel kami tentang hukum memberi upah jagal kurban dengan kepala, kulit dan semisalnya dalam tautan berikut ini [KLIK]. Wallahu A'lam.
loading...