Orang Rajin Bersedekah Itu Bahagia, begini penjelasan ilmiahnya...

Pernahkah kita merasakan, ketika kita mengeluarkan sedekah kepada orang yang membutuhkan, ketika kita bisa membantu meringankan beban orang lain, lalu muncul perasaan bahagian entara dari mana dalam lubuk hari kita?;

Tuesday, May 31, 2016

Kunci Segala Sesuatu Menurut Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah

Bahagia itu ketika bersama Allah Swt
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu kunci untuk membukanya,

🔑 Allah menjadikan kunci pembuka shalat adalah bersuci sebagaiman sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Kunci shalat adalah bersuci’,

🔑 Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kunci pembuka haji adalah ihram,

🗝kunci kebajikan adalah kejujuran,

🔑kunci surga adalah tauhid,

🗝kunci ilmu adalah bagusnya bertanya dan mendengarkan,

🔑 kunci kemenangan adalah kesabaran,

🗝 kunci ditambahnya nikmat adalah syukur,

🔑 kunci kewalian adalah mahabbah dan dzikir,

🗝kunci keberuntungan adalah takwa,

🔑kunci taufik adalah harap dan cemas kepada Allah ‘Azza wa Jalla,

🔑kunci dikabulkan adalah doa,

🗝kunci keinginan terhadap akhirat adalah zuhud di dunia,

🔑 kunci keimanan adalah tafakkur pada hal yang diperintahkan Allah, keselamatan bagi-Nya, serta keikhlasan terhadap-Nya di dalam kecintaan, kebencian, melakukan, dan meninggalkan,

🗝kunci hidupnya hati adalah tadabbur al-Qur’an, beribadah di waktu sahur, dan meninggalkan dosa-dosa,

🔑kunci didapatkannya rahmat adalah ihsan di dalam peribadatan terhadap Khaliq dan berupaya memberi manfaat kepada para hamba-Nya,

🗝kunci rezeki adalah usaha bersama istighfar dan takwa,

🔑kunci kemuliaan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya,

🗝kunci persiapan untuk akhirat adalah pendeknya angan-angan,

🔑🔑kunci semua kebaikan adalah keinginan terhadap Allah dan kampung akhirat,

🗝🗝kunci semua kejelekan adalah cinta dunia dan panjangnya angan-angan.


🌴“Ini adalah bab yang agung dari bab-bab ilmu yang paling bermanfaat, yaitu mengetahui pintu-pintu kebaikan dan kejelekan, tidaklah diberi taufik untuk mengetahuinya dan memperhatikannya kecuali seorang yang memiliki bagian dan taufik yang agung,

☘☘karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kunci bagi setiap kebaikan dan kejelekan, kunci dan pintu untuk masuk kepadanya

♨sebagaimana Allah jadikan kesyirikan, kesombongan, berpaling dari apa yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya, dan lalai dari dzikir terhadap-Nya dan melaksanakan hak-Nya sebagai kunci ke neraka,

‼sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan khamr sebagai kunci segala dosa.

‼Dia jadikan nyanyian sebagai kunci perzinaan,

‼Dia jadikan melepaskan pandangan pada gamba-gambar sebagai kunci kegelisahan dan kegandrungan,

‼Dia jadikan kemalasan dan kesantaian sebagai kunci kerugian dan luputnya segala sesuatu,

‼Dia jadikan kemaksiatan-kemaksiatan sebagai kunci kekufuran,

‼Dia jadikan dusta sebagai kunci kenifakan (kemunafikan -ed),

‼Dia jadikan kekikiran dan ketamakan sebagai kunci kebakhilan, memutus silaturahim, serta mengambil harta dengan cara yang tidak halal

‼dan Dia jadikan berpaling dari apa yang dibawa Rasul sebagai kunci segala kebid’ahan dan kesesatan.


☀☀“Perkara-perkara ini tidaklah membenarkannya kecuali setiap orang yang memiliki ilmu yang shahih dan akal yang bisa mengetahui dengannya apa yang ada dalam dirinya dan apa yang berwujud dari kebaikan dan kejelekan. Maka sepantasnya seorang hamba memperhatikan dengan sebaik-baiknya ilmu terhadap kunci-kunci ini dan kunci-kunci yang dijadikan untuknya.”

📚 (Hadil Arwah ila biladil afrah 1/48-49)
loading...

Friday, May 27, 2016

[Kisah Nyata]: Bahaya Terlalu Bebas Bergaul Dengan Ipar ... Semoga Menjadi Renungan Bagi Kita Semua..

Tersebutlah sebuah kisah nyata disuatu kota, seorang lelaki bernama Fulan. Ia bekerja sehari-hari sebagai seorang sopir taksi. Rata-rata 10 sampai 14 jam dia bekerja mencari nafkah untuk menghidupi istri dan 2 orang anaknya, ditambah dengan ibunya yang sudah tua dan adek lelakinya yang masih membujang, bernama Fulon. Kadang lewat tengah malam dia baru pulang ke rumah.

Siang itu Fulan membawa taksinya ditengah kota. Dibelakangnya duduk seorang perempuan yang tengah hamil besar. Perempuan itu tampak meringis kesakitan memegang perutnya. Rupanya dia dalam kondisi akan melahirkan. Fulan yang tidak menyangka akan mendapat penumpang seperti ini, terpaksa memacu kendaraannya menuju rumah sakit. Naluri kemanusiaannya menggiringnya untuk membantu perempuan tsb sampai bersalin dengan selamat.

Walaupun tidak kenal, wanita itupun diantarkannya sampai ke rumah sakit dan masuk ruang IGD. Dengan bimbang dan ragu Fulan memutuskan utk menunggu sampai wanita itu melahirkan. Lebih kurang satu jam menunggu, tiba-tiba seorang perawat keluar menemuinya dan mengabarkan bahwa anaknya telah lahir dengan selamat dan ibunya juga sehat wal afiat.

Seketika itu Fulan bersyukur dan berucap lirih alhamdulillah. Namun seketika itu juga dia berkata kepada perawat tsb, "Wanita itu bukan istri saya. Saya hanya sopir taksi. Wanita itu penumpang saya tadi...".

Perawat itu kaget. "Wanita itu tadi mengatakan kepada kami bahwa bapak adalah suaminya?" ujar perawat tsb.

"Apa? Dia bilang begitu? Demi Allah, saya hanya sopir taksi, dan dia penumpang saya. Dia bukan istri saya... Saya punya istri dan anak di rumah... saya hanya menolongnya" balas Fulan dengan suara meninggi.

Suasana menjadi agak gaduh diruang tsb. Pihak rumah sakit tidak bisa dgn mudah mempercayai ucapan si Fulan. Apalagi proses bersalin ini ada biaya dan tanggung jawabnya. Walaupun telah menunjukkan KTPnya, namun keterangan si Fulan tidak diterima oleh pihak rumah sakit. Entah mimpi apa semalam, Fulan kalut alang kepalang, karena perempuan hamil itu ternyata ngotot menyatakan bahwa dirinya adalah istri Fulan.

Pihak rumah sakit terpaksa menahan Fulan diruangan khusus. Pihak polisipun akhirnya harus turun tangan. Fulan dan perempuan itu diperiksa oleh polisi secara intensif. Singkat cerita, karena keduanya sama2 ngotot, perlu pembuktian laboratorium bahwa bayi yang baru lahir tersebut bukanlah anaknya sifulan. Beberapa hari fulan harus menjadi tahanan polisi, sembari pemeriksaan laboratorium dilakukan.

Setelah pemeriksaan selesai, Fulan dipanggil oleh pihak rumah sakit didampingi oleh pihak kepolisian. Dari pemeriksaan laboratorium secara lengkap, dokter menyatakan bahwa bayi tersebut bukanlah anak dari siFulan. Alangkah bahagianya Fulan mendengar keterangan ini. Serasa bebas lepas dari himpitan beban yang sangat berat.

Namun, bagaikan disambar petir, Fulan sangat kaget ketika dokter menyatakan bahwa Fulan bahkan tidak mungkin punya anak. Karena kondisinya yang mandul.

Fulan berteriak, "Apa dok? Saya mandul?? Tidak mungkin !!. Saya punya anak dua orang di rumah... tidak mungkin saya mandul...???".

Dokter dan polisi saling tengok terheran-heran. Temuan labor menyatakan Fulan ini mandul. Tetapi realitanya di rumah dia sudah punya dua anak. Ini anak siapa pula?

Disinilah awal hancurnya rumah tangga Fulan. Setelah diselidiki pihak berwajib, ternyata dua anak tersebut adalah hasil perselingkuhan si istri dengan adek Fulan yang bernama Fulon.

(Disadur dari sebuah kejadian disebuah kota... dengan bahasa penulis... nama dan tempat disamarkan 😔)

Saudara pembaca yang budiman....

Rasulullah saw pernah bersabda:

إيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْو؟ قَالَ : الْحَمْوُ الْمَوْتُ.

Janganlah kalian masuk bercampur dengan kaum wanita. Seorang lelaki anshar bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana pandanganmu kalau dengan ipar?". Rasulullah menjawab: "Ipar itu kematian.." (Hadits Muttafaqun alaih, dari Uqbah bin 'Amir)

Dalam hadits ini Rasulullah melarang laki-laki bercampur baur dengan kaum wanita, termasuk juga bercampur atau berduaan dengan ipar (saudara lelaki suami). Bahkan ipar itu bisa mendatangkan kematian. Artinya berduaan dengan ipar akan sangat mudah menjatuhkan seseorang ke dalam maksiat. Dan kemudian maksiat tersebut akan menghancurkan dan memporak-porandakan rumah tangga sekaligus agamanya.

Oleh karena itu, setiap muslim mesti memperhatikan pergaulannya. Kelonggaran dan pelanggaran kecil bisa membawa kepada kesalahan fatal.

Perselingkuhan dan perceraian telah begitu marak terjadi disekitar kita. Meruntuhkan sendi-sendi kehidupan sosial masyarakat. Pergaulan yang bebas tanpa batas dengan lawan jenis adalah salah satu pemicu utamanya.

Allahul Musta'an...
loading...

Monday, May 16, 2016

Kisah Polisi Yang Menilang Sahabatnya Sendiri.... Inspiratif Banget...!! Jangan Lupa Share ke Sahabat Yang Lain...

"Priiiiit.......­..!!", pluit polantas itu berbunyi panjang, menghentikan seorang pengemudi mobil yang menerobos lampu merah.

"Tolong tunjukkan SIM nya!". Kata polantas.

Dengan wajah kesal si pengemudi berkata,

"Maaf pak,saya tahu salah menerobos lampu merah, tapi tolong, pak, jangan ditilang. Saya buru-buru karena anak saya ulang tahun".

Sambil cemas pengemudi yang bernama Ari itu menatapi wajah polisi tersebut. Ternyata merupakan teman SMA-nya dulu,

"Lho..!!! Kau kan si Tono, kita teman SMA dulu!" Sambut Ari dengan nada lega. Tapi Tono, si Polisi tersebut hanya senyum sambil tetap bersikukuh meminta SIM si Ari.

Dengan wajah kecewa Ari pun memberikan SIM-nya. Kemudian langsung masuk ke dalam mobilnya dan menutup kaca pintunya rapat-rapat. Sementara Tono menulis sesuatu di kertas tilangnya.

Beberapa saat kemudian, Tono mengetuk kaca pintu mobil Ari. Sambil memandangi wajah Tono penuh kecewa, Ari pun membuka kaca pintu mobilnya hanya sedkit saja, maksudnya hanya cukup untuk selipkan kertas tilang saja. Tono pun memberikan kertas lewat kaca yang terbuka hanya sekitar 2 cm itu lalu pergi tanpa kata.

Sambil menggerutu, kesal, Ari membuka kertas tersebut, tapi ... "Hei, apa ini? Kenapa SIM saya dikembalikan? Dan ini kertas apa???" Gumam Ari.

Segera Ari membuka kertas pemberian Tono tersebut dan ternyata Tono tidak menilangnya, justru menulis surat yang isinya:
"Hai Ari! Kau tahu, nggak? Dulu saya punya anak satu-satunya yang meninggal ditabrak oleh penerobos lampu merah. Pengemudinya dihukum 3 bulan. Setelah bebas ia dapat berkumpul dan memeluk anaknya lagi. Sementara saya ...??? Saya tidak dapat melihat apalagi memeluk anak saya lagi.... Beribu kali saya mencoba untuk maafkan pengemudi itu tapi tidak bisa. Maafkan saya Ari, kau hati-hati di jalan. Titip salam buat keluargamu dan selamat ulang tahun buat anakmu!"
Langsung Ari pun keluar dari mobilnya hendak jumpai Tono namun Tono sudah tidak berada di posnya lagi.

Sepanjang jalan mengemudi, perasaan Ari tak tentu. Berharap kesalahannya dapat termaafkan.
loading...

Saturday, May 14, 2016

Doa Sebelum Mengambil dan Membawa Handphone... Jangan Lupa Untuk Selalu Diingat...!

Sebelum mengambil dan membawa Handphone, sebaiknya ucapkanlah doa berikut ini:

Ya ALLAH, ampunilah dosa dosa kami yang memiliki HP, 

Karena kami : 
Lebih banyak MENGISI
    PULSA daripada
    BERSEDEKAH ... 

Lebih banyak membaca
    SMS/WA/FB/BBM
    daripada
    membaca AL-QURAN ... 

Lebih sering buka
    BLUETOOTH daripada
    BERLUTUT SUJUD ... 

Sering TELPON tapi
    jarang SILATURAHIM.... 

Mengisi pulsa 10 ribu
    tidak puas, 
    tapi isi KOTAK AMAL 10
    ribu merasa terlalu
    banyak ... 

Bila mendengar HP
   berbunyi langsung di
   RESPON, 
   tapi saat panggilan Adzan   
   berkumandang malah
   diabaikan saja ..

Ya ALLAH ampunilah kami, 
Semoga HP yang kami miliki dapat lebih berguna sebagai sarana IBADAH kepada-MU

Aamiin...
loading...

Thursday, May 12, 2016

Rizki Itu Soal 'Menikmati', Bukan Soal Memiliki...

Saudaraku..... Pernah kita menyadari....

Makanan lezat dapat diburu, hidangan mahal dapat dibeli. Untuk menikmati racikan seorang Chef Bintang Lima Michelin di Kota Paris, kita harus mengajukan reservasi jauh-jauh hari, dengan uang pangkal yang cukup untuk biaya hidup di Yogyakarta selama berbulan tanpa ngeri.

Tapi nikmatnya makan adalah rizqi, Allah Yang Maha Memberi lagi Membagi.

Seorang bapak di Gunung Kidul yang mencangkul sejak pukul 07.00 pagi, di jam 10.30 didatangi sang istri. Sebuah bakul tergendong di punggungnya, dengan isi amat bersahaja. Nasi ketan bertabur parutan kelapa. Sementara cereknya berisi teh panas, wangi, sepet, kenthel, dan legi.

Peluh dan lelah menggenapkan rasa nikmat di tiap suapan sang belahan jiwa. Senyum mereka tak terbeli oleh berapapun harga.

Ranjang paling empuk dapat dibeli. Kamar tidur paling mewah dapat dirancang. Hotel berlayanan bintang tujuh, Burj Al 'Arab di Dubai dapat menyediakan ruang rehat dengan sewa semalam seharga membangun rumah di negeri kita.

Tapi nikmatnya tidur adalah rizqi. Allah Yang Maha Memberi lagi Membagi.

Seorang anak pemulung berbantal kayu, beralas kardus, berselimut koran terlelap di atas gerobak orangtuanya pada suatu malam di Jakarta. Begitu nyenyak sampai susah untuk membangunkannya.

Gaji yang tinggi dapat dikejar dengan karir cemerlang. Uang yang banyak dapat dikumpulkan dengan memeras keringat hingga kering dan membanting tulang hingga linu. Tapi rizqi adalah soal menikmati, Allah Yang Maha Memberi lagi Membagi.

Seorang direktur sebuah BUMN bergaji besar yang duduk di samping saya dalam penerbangan kelas bisnis hanya memandang cemburu ketika sajian saya nikmati. Saya bertanya mengapa hanya air putih saja yang diteguknya, digenggam erat dalam gelas kaca.

Sungguh berat bagi beliau; mau makan manis, kata dokter, "Jangan Pak, diabetesnya." Mau makan gurih, kata dokter, "Jangan Pak, kolesterolnya." Mau makan asin, kata dokter, "Jangan Pak, hipertensinya." Mau makan kacang, kata dokter, "Jangan Pak, asam uratnya."

Ah saya membayangkan, berapakah yang dinikmati manusia dari apa yang dia sangka miliknya dan ditumpuk-tumpuk dan dihitung jumlahnya. Sekira 1000 triliun ada di rekeningnya, lalu esok pagi tiba malaikat maut menunaikan tugasnya, rizqi siapakah itu sebenarnya? Ahli waris atau bahkan musuh bisnis, Allah tak kekurangan cara untuk mengantarnya pada yang sudah dijatahkan tertulis di sisiNya.

Betapa benar Al Mushthafa ﷺ ketika bersabda, "Anak Adam berkata, 'Hartaku! Hartaku!' Padahal apalah hartanya itu selain makanan yang dilahapnya hingga habis, pakaian yang dipakainya hingga usang, dan apa yang dinafkahkannya di jalan Allah lalu dia dapati Allah membalasnya berlipat di akhirat."

Rizqi adalah jaminan. Menjemputnya adalah ujian. Bekerja adalah ibadah kita; 'itqan, ihsan, ikhlas; bukan mencari rizqi, tapi mencari pahala. Sebab kita harus memindahkan kekhawatiran, dari yang dijamin kepada yang belum dijamin.

Yakni; akankah pulang kita ke surga?

*Astaghfirullah..*

loading...