Orang Rajin Bersedekah Itu Bahagia, begini penjelasan ilmiahnya...

Pernahkah kita merasakan, ketika kita mengeluarkan sedekah kepada orang yang membutuhkan, ketika kita bisa membantu meringankan beban orang lain, lalu muncul perasaan bahagian entara dari mana dalam lubuk hari kita?;

Wednesday, November 11, 2015

[Kisah Inspiratif]: Karena Pada Sebidang Tanah, Pasti Ada Benih Yang Cocok Untuk Ditanam di Dalamnya...

Alkisah, ada seorang pria, tidak lolos ujian masuk universitas, orang tuanya pun menikahkan ia dengan seorang wanita.

Setelah menikah, ia mengajar di sekolah dasar. Karena tidak punya pengalaman, maka belum satu minggu mengajar sudah dikeluarkan.

Setelah pulang ke rumah, sang istri menghapuskan air mata nya, menghiburnya dengan berkata: "Banyak ilmu di dalam otak, ada orang yang bisa menuangkannya, ada orang yang tidak bisa menuangkannya. Tidak perlu bersedih karena hal ini. mungkin ada pekerjaan yang lebih cocok untukmu sedang menantimu."

Kemudian, ia pergi bekerja keluar, juga dipecat oleh bosnya, karena gerakannya yang lambat.

Saat itu sang istri berkata padanya, kegesitan tangan-kaki setiap orang berbeda, orang lain sudah bekerja beberapa tahun lamanya, dan kamu hanya belajar di sekolah, bagaimana bisa cepat?

Kemudian ia bekerja lagi di banyak pekerjaan lain, namun tidak ada satu pun, semuanya gagal di tengah jalan.

Namun, setiap kali ia pulang dengan patah semangat, sang istri selalu menghiburnya, tidak pernah mengeluh.

Ketika sudah berumur 30 tahun-an, ia mulai dapat berkat sedikit melalui bakat berbahasanya, menjadi pembimbing di sekolah luar biasa tuna rungu wicara.

Kemudian, ia membuka sekolah siswa cacat, dan akhirnya ia bisa membuka banyak cabang toko yang menjual alat-alat bantu orang cacat di berbagai kota.

Ia sudah menjadi bos yang memiliki harta kekayaan berlimpah.

Suatu hari, ia yang sekarang sudah sukses besar, bertanya kepada sang istri, bahwa ketika dirinya sendiri saja sudah merasakan masa depan yang suram, mengapa engkau tetap begitu percaya kepada ku?

Ternyata jawaban sang istri sangat polos dan sederhana.

Sang istri menjawab:
Sebidang tanah, tidak cocok untuk menanam gandum, bisa dicoba menanam kacang, jika kacang pun tidak bisa tumbuh dengan baik, bisa ditanam buah-buahan; jika buah-buahan pun tidak bisa tumbuh, semaikan bibit gandum hitam pasti bisa berbunga. karena sebidang tanah, pasti ada bibit yang cocok untuknya, dan pasti bisa menghasilkan panen dari nya
Mendengar penjelasan sang istri, ia pun terharu mengeluarkan air mata. Keyakinan kuat, katabahan serta kasih sayang sang istri, bagaikan sebutir bibit yang unggul;

Semua prestasi pada dirinya, semua adalah keajaiban berkat bibit unggul yang kukuh sehingga tumbuh dan berkembang menjadi kenyataan.

Di dunia ini tidak ada seorang pun adalah sampah. hanya saja tidak ditempatkan di posisi yang tepat.

Setelah membaca cerita ini, jangan dibiarkan saja, sharing dan teruskan ke orang lain, Anda adalah orang yang berbahagia.

Delapan kalimat di bawah ini, semuanya adalah intisari kehidupan:

1. Orang yang tidak tahu menghargai sesuatu, biarpun diberi gunung emas pun tidak akan bisa merasakan kebahagiaan.

2. Orang yang tidak bisa toleransi, seberapa banyak teman pun, akhirnya semua akan meninggalkannya.

3. Orang yang tidak tahu bersyukur, seberapa pintar pun, tidak akan sukses.

4. Orang yang tidak bisa bertindak nyata, seberapa cerdas pun tidak akan tercapai cita-cita nya.

5. Orang yang tidak bisa bekerjasama dengan orang lain, seberapa giat bekerja pun tidak akan mendapatkan hasil yang optimal.

6. Orang yang tidak bisa menabung, terus mendapatkan rejeki pun tidak akan bisa menjadi kaya.

7. Orang yang tidak bisa merasa puas, seberapa kaya pun tidak akan bisa bahagia.

8. Orang yang tidak bisa menjaga kesehatan, terus melakukan pengobatan pun tidak akan berusia panjang.
 
~Berbagi sebuah tulisan motivasi yang sangat bagus dengan Anda. Dan terima kasih jika sahabat ku mau membagikannya ke orang lain.
loading...

Tuesday, November 10, 2015

Membuat Perangkap Nyamuk Dari Botol Plastik Bekas... Ampuh, Bebas Zat Kimia Beracun!

Sejak dulu, nyamuk menjadi masalah besar bagi kesehatan manusia. Bahkan, hewan ini dinyatakan sebagai penyebar virus paling mematikan di dunia.

Pada postingan lalu misalnya, kitab bahkan pernah mengulas bagaimana gigitan nyamuk bisa membunuh seekor ikan paus raksasa!

Ada banyak cara membasmi nyamuk di rumah. Di blog ini pernah juga kita bahas tentang beberapa tips mengusir nyamuk, misalnya dengan menggunakan kulit durian.

Memang, saat ini banyak beredar obat-obat nyamuk kimia, baik yang dibakar, semprot, oles dan lain sebagainya. Tapi, obat-obat pembasmi nyamuk kimia tersebut memiliki dampak negatif terhadap kesehatan, misalnya beresiko mengganggu kesehatan apabila kita menghirup zat kimia yang dikeluarkan oleh obat nyamuk tersebut.

Selain itu, harga obat-obatan kimia ini juga cukup lumayan merogoh kantong sehingga menyebabkan pengeluaran bulanan bertambah, apalagi di saat krisis ekonomi begini.

Nah, tapi jangan khawatir, ada banyak trik-trik mudah dan murah dalam membasmi nyamuk di sekitar rumah anda, misalnya dengan menggunakan botol bekas.

Bahan-bahan pembuatannya mudah didapat. Nah, berikut caranya:

Pertama sekali, siapkan dulu bahan-­bahan yang dibutuhkan :
1. Botol plastik uk 1.5 atau 2.0 liter.
2. Air lebih kurang 200 ml.
3. Gula 50 gram.
4. Bubuk Ragi Roti 1 gram.
5. Isolasi (Tape).
6. Pisau atau Cutter
.
Jika semua bahan sudah siap, sekarang kita mulai pembuatannya :

1. Potong botol menjadi 2 bagian. Gunakan bagian bawah sebagai wadah, sedangkan bagian atas akan kita jadikan tutup nantinya.


2. Masukan gula dalam air hangat, sisihkan sampai dingin. Campurkan ragi dalam larutan gula, tidak perlu diaduk. pada tahap ini karbondioksida akan terbentuk dan larutan ini akan menarik nyamuk.


3. Tuang campuran ke bagian bawah botol plastik.


4. Tambah ragi. tidak perlu diaduk nanti akan menghasilkan karbon dioksida sebagai penarik perhatian nyamuk


5. Letakkan bagian corong, terbalik, kedalam separuh botol tadi.


6. Lekatkan isolasi di antara sambungan botol tersebut agar tidak ada celah untuk keluarnya nyamuk jika sudah terperangkap didalamnya. Letakkan di beberapa sudut rumah, toko, sekolah, rumah sakit, ladang dll.


Cek botol setelah 3­7 hari, lihatlah hasilnya. cara sederhana diatas bisa membantu anda untuk mengurangi nyamuk di lingkungan sekitar.

Semoga informasi ini bermanfaat dan terimakasih sudah berkunjung.
loading...

Monday, November 9, 2015

Luar Biasa... Suami Berjalan Kaki 5 Km Antar Istri Ke Rumah Sakit

Ibarat kata pepatah: "Kasih suami sampai ke ujung nyawa", demikian kira-kira yang dirasakan oleh pasangan suami istri dari negeri jiran, Malaysia ini.

Halim Mustafa,53, pantas digelari suami penyayang dan setia. Bagaimana tidak, hingga di usianya yang merangkak senja, curahan cinta kasihnya kepada sang istri tidak kunjung pudar.

Sang istri yang bernama Che Pora Saad, 56 tahun, itu mengidap berbagai penyakit kronis seperti Tiroid dan Asma sejak sekitar 7 tahun silam sehingga membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.

Keadaan sang istri yang demikian tak membuat Halim berpaling kasih. Ia rela mengantar istrinya bolak balik ke rumah sakit dengan kursi roda, bahkan meski terkadang harus berjalan kaki.

Kisah Halim terungkap setelah diberitakan sebuah harian terkemuka negeri Jiran itu kemarin, Halim tertangkap kamera tengah mendorong istrinya dengan kursi roda menuju Sultanah Bahiyah (HSB) Hospital di Kedah.

Halim mendorong sang istri dengan berjalan kaki sejauh 5 kilometer rumahnya di kawasan Flat Taman Setia Jaya karena tak satupun taksi yang mau memberi tumpangan dengan alasan tidak ada tempat buat kursi roda!

Semoga Tuhan memberi kesembuhan dan keberkahan! Amin!
loading...

Sunday, November 8, 2015

Benarkah Orang Yang Telah Meninggal Bisa Menjadi Hantu Atau Makhluk Jadi-jadian...? Bagaimana Membentengi Diri Dari Ganngguan Hantu...?

Salah satu kepercayaan yang tersebar dalam masyarakat nusantara adalah keyakinan bahwa ada manusia atau orang-orang tertentu yang ketika mereka telah meninggal dunia, maka mereka akan menjadi hantu atau makhluk jadi-jadian.

Kepercayaan semacam sebenarnya ada pada banyak budaya di dunia, dan khusus di nusantarara kepercayaan ini tertanam sejak zaman pra Islam dan masih tersisa hingga sampai zaman modern sekarang ini.

Kepercayaan mistis ini pula yang membuat orang mengindentikkan kuburan sebagai lokasi angker yang menakutkan.

Menurut kepercayaan ini, manusia menjadi makhluk jadi-jadian dikarenakan bebeberapa sebab, di antaranya:
1. Keinginan yang tidak terpenuhi. Yang pertama dan alasan utama mengapa orang menjadi hantu setelah kematian adalah keinginan yang tidak terpenuhi. 
2. Kurangnya kepercayaan terhadap agama. Beberapa budaya percaya bahwa orang mati cenderung menjadi hantu, ketika dia tidak mengikuti praktek-praktek spiritual ketika hidup. Ini adalah alasan, mengapa sebagian besar tradisi mengajak masyarakat untuk mempunyai agama.
3. Serakah. Seseorang yang serakah atau terobsesi dengan kekayaan materi, akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk menjadi hantu setelah kematiannya. Sama seperti keinginan yang tidak terpenuhi, harta mengikat jiwa seseorang untuk kesenangan duniawi. Bahkan, filsuf besar selalu mengatakan bahwa, keinginan adalah alasan utama di balik semua penderitaan.
4. Pola pikir negatif. Apakah kita menjadi hantu setelah mati? Mereka yang berpikir negatif, cenderung membuat pikiran mereka buruk. Pikirannya akan selalu dipenuhi dengan emosi negatif seperti marah, penderitaan dan depresi.
5. Ego yang kuat. Seseorang dengan ego yang kuat kemungkinan akan berubah menjadi hantu setelah kematiannya, karena ia memiliki urusan yang belum selesai. Inilah sebabnya mengapa orang menjadi hantu.

Benarkah demikian?

Dalam ajaran Islam,  tidak ada penjelasan tentang adanya hantu. Istilah hantu yang seperti yang dikenal masyarakat awam tidak ada dalam istilah atau kamus Islam.

Hantu yang seperti dikenal oleh masyarakat awam adalah ruh orang yang sudah meninggal yang tidak diterima di alam nirwana, yang kemudian kembali ke bumi berwujud hantu penasaran.

Dalam Istilah umum sering di pakai kata arwah, seperti arwah gentayangan. Walaupun yang di maksud dalam kata arwah ini hanya sesosok bayangan makhluk halus.

Kata Arwah berasal dari bahasa arab "ruh" yang berkonotasi jamak atau banyak. Bentuk jamak dari ruh adalah arwah. Namun dalam bahasa Indonesia kata arwah dipakai walaupun dalam konotasi tunggal.

Jadi kalau kita pakai kata arwah gentayangan tapi kita maksud hanya satu makhluk, atau satu hantu, maka berarti salah dalam arti kata yang sebenarnya jika diambil dari kata bahasa arab tersebut. Karena kata arwah berarti banyak ruh-ruh, kalau diartikan satu itu salah. Dalam Islam tidak ada istilah atau pengertian hantu yang berasal dari arwah orang mati atu meninggal dunia seperti diatas. Islam sama sekali tidak mengakui adanya hantu.

Islam hanya mengajarkan bahwa adanya makhluk ghaib seperti malaikat dan jin.

Jadi tidak ada makhluk jadi-jadian atau makhluk yang berubah wujud. Manusia memang mempunyai ruh, tetapi ruh yang ada dalam tubuh manusia itu, identik dengan manusia itu setelah jasadnya tiada.
Artinya ruh itu adalah manusia itu sendiri. Setelah seorang manusia meninggal dunia jasadnya mati dan ruhnya berada di alam barzah. Tidak ada manusia yang berubah jadi makhluk hantu yang menakut-nakuti manusia kembali ke alam dunia.

Makhluk ghaib yang ada di dunia yang menakut-nakuti manusia adalah Jin. 
Jin adalah makhluk ciptaan Allah yang diciptakan sendiri. Bukan perubahan dari makhluk lain. Jin adalah makhluk ghaib maksudnya tidak nyata. Ia dapat berubah wujud dengan bentuk apa saja dengan izin Allah selain wujud aslinya. Wujud aslinya juga cukup menyeramkan.

Jin ini yang iseng mengganggu manusia yang jadi hantu dan dia bohong pada manusia dengan mengatakan ia adalah ruh dari seseorang yang telah meninggal.

Nah, hantu dalam pandangan Islam menjawab fenomena alam yang seringnya terjadi penampakan itu adalah Jin.

Syetan adalah sifat jahat yang ada pada manusia maupun Jin. Hantu bukan syetan. Tetapi jin yang dirasuki sifat syetan, yang selalu menggoda manusia untuk senantiasa sesat atau keluar dari ajaran Islam yang sebenarnya.

BENTENG DIRI DARI GANGGUAN HANTU (Baca: JIN)
Syari’at Islam telah sempurna, tidak ada suatu kebajikan apa pun kecuali telah dijelaskan dan tidak ada suatu keburukan pun kecuali telah diperingatkan. Di antara hal yang dijelaskan oleh Islam adalah kiat-kiat agar terhindar dari gangguan hantu. Bagaimana caranya? Ikutilah petunjuk berikut :

1.  Membaca nama Allah
Dari Abu Ayyub bercerita bahwa dirinya memiliki sebuah rak/lemari kecil, lalu makhluk jin datang seraya mengambil (baca: mencuri) isinya. Akhirnya beliau mengeluhkan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,

“Apabila kamu melihatnya maka katakanlah, :‘Dengan nama Allah, penuhilah Rasulullah.’”

Ketika makhluk itu datang lagi, maka Abu Ayyub mengatakan seperti yang dipesankan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menangkapnya, tetapi jin itu mengatakan,

“Saya berjanji tidak akan datang lagi kemari.” Mendengarnya, Abu Ayyub melepaskannya.

Ketika dia bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi bertanya kepadanya, “Apa yang diperbuat oleh tawananmu?” Abu Ayyub menjawab, “Saya menangkapnya tetapi dia berjanji padaku untuk tidak kembali lagi sehingga saya lepaskan lagi.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia akan kembali lagi.” (Kata Abu Ayyub:)

Saya telah menangkapnya dua atau tiga kali tetapi dia selalu berjanji padaku untuk tidak kembali lagi. Suatu saat ketika saya menangkapnya, dia mengatakan kepadaku, “Lepaskanlah aku dan saya akan mengajarkan kepadamu sebuah ungkapan yang jika engkau membacanya niscaya engkau tidak diganggu oleh setan yaitu bacaan Ayat Kursi.”

Abu Ayyub lalu datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengabarkan omongan hantu tersebut, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia benar dalam hal ini, padahal dia adalah pembohong.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Katakanlah bismillahi (dengan nama Allah), penuhilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”

2. Membaca Ayat Kursi
Dalam hadits  Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu diatas juga disebutkan bahwa hantu (baca: jin) yang ditangkapnya mengatakan pada Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu, “Lepaskanlah aku dan saya akan mengajarkan kepadamu sebuah ucapan yang jika engkau membacanya niscaya engkau tidak diganggu oleh setan yaitu bacaan Ayat Kursi.”. Abu Ayyub  lalu datang kepada Nabi SAW seraya mengabarkan omongan hantu tersebut, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia benar dalam hal ini, padahal dia adalah pembohong.”

3. Berdzikir dan melakukan ketaatan 
Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surat al-Baqarah.” (HR. Muslim : 1860).

At-Turkumani pernah bercerita bahwa salah seorang gurunya sering diganggu oleh jin ketika malam hari sehingga  melempari batu dan membuat penghuni rumah takut, lalu beliau dan rekannya pergi ke rumah sang guru dan membaca Surat al-Baqarah secara sempurna kemudian berdoa. Setelah itu, rumah tersebut tidak lagi diganggu oleh hantu. Semua itu adalah karena keberkahan al-Qur’an.

4.  Menghilangkan  rasa takut terhadap hantu
Inilah wasiat Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu tatkala mengatakan, “Buatlah hantu takut kepada kalian sebelum mereka membuat kalian takut.”.(Sanad Hasan. Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf : 9250)

 5.Tidak bergadang larut malam
Hal ini berdasarkan hadits : “Janganlah kalian bergadang ketika malam sudah sunyi/hening, karena kalian tidak tahu apa yang Allah datangkan dari makhluk-Nya.” (HR. Hakim dalam al-Mustadrak 4/284)

6. Mengumandangkan adzan
Ada beberapa hadits yang lemah tentang masalah ini, tetapi ada hadits shahih yang dijadikan dasar oleh ulama dalam masalah ini yaitu :

“Sesungguhnya apabila muadzin mengumandangkan adzan maka setan akan lari dengan terkentut-kentut.”  (HR. Muslim 883)

Abu Awanah mengatakan setelah meriwayatkan hadits ini, “Dalam hadits terdapat dalil bahwa seorang apabila merasa ada hantu atau mendapati orang yang kesurupan lalu dia adzan maka setan akan lari darinya.”

loading...

Saturday, November 7, 2015

Mengungkap Rahasia Sungai Nil

Nil adalah sungai terpanjang di dunia, membentang dari jantung Afrika hingga bermuara di Delta Nil di utara Mesir. Sungai ini tercatat dalam sejarah kuno dan temaktub keberadaannya dalam kitab suci.

‘Apabila tidak ada Nil, maka tidak ada Mesir’, demikian kata sejarawan Yunani kuno. Ungkapan tidak sepenuhnya salah. Ungkapan ini hendak menggambarkan betapa Mesir sangat bergantung dengan Nil. Hampir seluruh kehidupan Mesir, bersumber dari Sungai Nil. Ini juga barangkali, di antara faktor mengapa ketika disebut Nil, maka yang terlintas adalah Mesir, tidak Negara-negara lainnya (padahal Negara-negara yang dilalui Nil mencapai sembilan Negara).

Keberadaan Nil, sebenarnya bukan semata dari segi sumber kehidupan masyarakat Mesir semata, akan tetapi ada yang lebih luar biasa dari itu. Sungai Nil merupakan di antara sungai ‘suci’ tiga agama besar, Islam, Yahudi dan Nashrani.

Bagi kaum Yahudi, Sungai Nil adalah sungai sangat bersejarah, karena Nabi Musa as ketika masih bayi merah dihanyutkan oleh ibunya yang bernama Nyukabad ke sungai Nil. Dalam ajaran Islam dan Kristian pun demikian. Sungai ini memiliki arti penting, sebab sosok Musa as, merupakan seorang Nabi yang diutus oleh Allah dalam dua agama dimaksud .

Bukan hanya itu, sungai Nil juga disebutkan dalam tiga kitab suci agama, Yahudi, Kristian dan Islam. Dalam Taurat (dalam pengertian Perjanjian Lama), Bible, dan al-Quran, sungai Nil merupakan satu-satunya sungai disebutkan secara jelas.

Bahkan, Dalam al-Quran, sungai Nil merupakan satu-satunya sungai yang disebutkan oleh Allah dalam al-Quran dalam pengertian khusus. Bukan hanya itu, sungai Nil juga dijabarkan dalam banyak hadits Shahih, dan termasuk di antara tanda kekuasaan Allah yang diperlihatkan kepada Nabi Muhamamd saw, ketika melakukan Mi’raj.

Karena kelebihan-kelebihan inilah, maka mengkaji sungai Nil menjadi sangat penting adanya. Bagaimana sebenarnya sungai Nil dalam agama Islam ini? Apa keistimewaan-keistimewaan sungai Nil ini, dan mengapa ia begitu istimewa? Inilah di antara beberapa pertanyaan yang hendak dijawab dalam tulisan ini.

Maklumat ringkas seputar sungai Nil
Sungai Nil merupakan sungai terpanjang di dunia. Panjangnya kurang lebih mencapai 6,696 km (4,160 batu). Ada sembilan Negara yang dilalui oleh sungai ini, yaitu: Mesir, Tanzania, Kenya, Zaire, Uganda, Ethiopia, Sudan, Rwanda dan Burundi. Namun demikian, setiap kali kita mendengar kata Nil, maka identik dengan Mesir, seolah Nil hanya berada di Mesir.

Hal ini boleh jadi karena banyak faktor, di antaranya karena pengaruh Nil sangat luar biasa terhadap Mesir dibandingkan dengan Negara-negara lainnya. Mesir sangat bergantung ke sungai Nil bukan semata dalam masalah ekonomi, pengairan dan pertanian, akan tetapi juga dalam masalah peradaban. Seluruh peradaban Mesir Kuno berawal dari dataran sekitar Nil. Untuk itulah, tidak heran apabila seorang ilmuwan bernama Herodotus mengatakan: “Mesir adalah hadiah pemberian sungai Nil” (Egypt is the gift of the Nile).

Selain itu, boleh jadi keidentikan Nil dengan Mesir karena erat kaitannya dengan peristiwa-peristiwa penting bernuansa agama, di mana Nabi Musa as dihanyutkan. Dan tentu kisah dihanyutkannya Nabi Musa as di sungai Nil ini ada dalam tiga kitab suci agama besar, Islam, Yahudi dan Nashrani. Untuk itulah, setiap kali mendengar nama Nil, maka identik dengan Mesir saja, dan tidak dengan yang lainnya.

Sungai Nil merupakan sungai yang sangat unik. Umumnya sungai-sungai itu mengalir ke arah timur atau ke arah barat, sementara Nil tidak demikian, ia membentang dari selatan ke utara. Menurut para ahli, hal ini dikarenakan sungai Nil berada pada garis 3, 30 derajat lintang selatan, sampai 31derajat lintang utara, atau dengan kata lain bahwa sungai ini memotong lebih dari 34,5 derajat garis lintang. Oleh karena itulah arahnya dari selatan menuju ke arah utara.

Selain itu, keunikan lainnya dari sungai Nil ini, ia mengalir melalui daerah-daerah yang beragam dengan iklimnya yang bermacam-macam. Di daerah hulu, sungai Nil bersumber dan mengalir dari daerah yang beriklim tropis dan berdataran tinggi. Kemudian melewati beberapa sumbernya yang lain di daerah semitropis. Lalu melewati daerah lembah pegunungan yang beriklim subtropis.

Dari arah Ethiopia yang beriklim sub-seasonal, salah satu sumbernya mengalir. Kemudian sungai Nil melewati daerah Sudan yang merupakan daerah yang penuh dengan hujan musim panas dan kekeringan musim dingin. Setelah itu menerobos membelah daerahpadang pasir yang ganas, dan bermuara di daerah Mesir yang beriklim laut tengah. Dengan demikian, sungai Nil mengalir dari daerah hijau yang terletak pada garis khatulistiwa ke daerah padang pasir yang sangat tandus di bagian utara benua Afrika. Dengan begitu, setiap Nil mengalir satu langkah, dia akan kehilangan sebagian airnya. Jadi semakin ke hilir, airnya semakin berkurang. Hal ini berbeda dengan sungai-sungai lain di dunia, di mana semakin ke hilir semakin banyak muatan airnya.

Imam at-Taifaasyi dalam bukunya Suja’ul Hudail mengatakan: “Tidak satu pun sungai di muka bumi ini yang disebutkan oleh Allah dalam al-Quran, selain sungai Nil”. Paling tidak, dalam al-Quran, Allah menyebutkan sungai Nil dalam dua ayat penting yang semuanya berkaitan dengan kisah dihanyutkannya Nabi Musa bayi oleh ibunya, Nyukabad, berdasarkan perintah Allah. Berikut firman Allah dimaksud:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ [القصص: 7]

Artinya: “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari Para rasul” (QS. Al-Qashash: 7).

إِذْ أَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّكَ مَا يُوحَى * أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِي وَعَدُوٌّ لَهُ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي[طه: 38, 39].

Artinya:
"Yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, yaitu: “Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), Maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. dan aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku” (QS. Thaha: 38, 39).

Kata al-yamm dalam kedua ayat di atas, maknanya sama dengan kata al-bahr, yang berarti laut. Dan kata ‘laut’ yang dimaksud dalam kedua ayat di atas, para mufassirin telah sepakat, adalah Sungai Nil.

Imam at-Thabari misalnya dalam Tafsirnya, Jaamiul Bayaan fi Tafsiir al-Quran (20/30), bahwa yang dimaksud kata al-yamm adalah laut (al-bahr), dan yang dimaksud kata laut di sana adalah Sungai Nil.
Imam al-Baidhawi pun dalam Tafsirnya, Anwaarut Tanziil wa Asraarut Ta’wiil (4/283) mengatakan hal yang sama, bahwa  yang dimaksud kata al-yamm adalah al-bahr yang dimaksudkan adalah Nil.
Imam al-Alusy pun dalam Ruhul Ma’ani nya (20/45) mengatakan hal yang sama, bahwa yang dimaksudkan adalah sungai Nil.

Demikian juga dengan para ahli tafsir lainnya, sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa, para ahli tafsir sudah sepakat yang dimaksud dengan kata al-yamm dalam kedua ayat di atas adalah al-bahr (laut), dan yang dimaksud laut di sini adalah sungai Nil.

Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab (4/41 dalam maddah: ‘ bahr’) mengatakan:

وقد أَجمع أَهل اللغة أَن اليَمَّ هو البحر وجاءَ في الكتاب العزيز فَأَلْقِيهِ في اليَمِّ قال أَهل التفسير هو نيل مصر.

Artinya:
Para ahli bahasa telah sepakat, bahwa  yang dimaksud dengan kata al-yamm adalah al-bahr (laut), hal ini sebagaimana disebutkan dalam al-Quran: “Maka hanyutkanlah dia ke laut (sungai Nil”. Para ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud ‘laut’ dalam ayat ini adalah Nil Mesir”.

Pertanyaan berikutnya, mengapa sungai Nil disebut dengan al-bahr (laut), bukankah laut itu airnya asin, sementara sungai air sungai nil tidak asin, melainkan tawar?

Untuk itu, mari kita lihat menurut para ahli bahasa, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kata al-bahr (laut) itu. Apakah benar, bahwa kata al-bahr itu hanya untuk menunjukkan laut  yang airnya asin?

Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab (4/41)mengatakan:

( بحر ) البَحْرُ الماءُ الكثيرُ مِلْحاً كان أَو عَذْباً وهو خلاف البَرِّ سمي بذلك لعُمقِهِ واتساعه قد غلب على المِلْح حتى قَلّ في العَذْبِ وجمعه أَبْحُرٌ وبُحُورٌ وبِحارٌ …..إِنما سمي البَحْرُ بَحْراً لسعته وانبساطه ومنه قولهم إِن فلاناً لَبَحْرٌ أَي واسع المعروف قال فعلى هذا يكون البحرُ للملْح والعَذْبِ

Artinya:
(Bahr), kata al-bahr (laut) berarti air yang banyak, baik air itu asin maupun tawar. Laut merupakan kebalikan dari darat. Disebut demikian, karena kedalaman dan keluasannya. Dan laut umumnya digunakan untuk yang airnya asin, dan sedikit dipakai untuk yang airnya tawar. Bentuk jamak dari bahr adalah abhor, buhuur, dan bihaar…..Disebut bahr (laut), karena keluasannya. Oleh karena itu seseorang disebut melaut, maksudnya karena pengetahuannya yang sangat luas. Oleh karena itu, maka kata laut, mencakup pula untuk yang airnya asin dan tawar”.

Ibnu Asyur dalam tafsirnya at-Tahriir wat Tanwiir (11/4249) ketika menafsirkan ayat 19 dari surat ar-Rahman juga mengatakan:

والبحر : الماء الغامر جزءاً عظيماً من الأرض يطلق على المالح والعذب .

Artinya:
Al-bahr (laut): adalah air yang melimpah yang memenuhi sebagian besar bumi, baik airnya asin maupun tawar”.

Di antara dalil bahwa kata laut (bahr) ini tidak mesti yang airnya asin, akan tetapi juga yang airnya tawar, adalah firman Allah dalamsurat Fatir ayat 12 yang berbunyi:

وما يستوي البحران هذا عذب فرات سائغ شرابه وهذا ملح أجاج  [ فاطر : 12 ]

Artinya:
“Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit.” (QS. Fatir: 12).

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa ada dua laut, yang satu airnya tawar dan yang satu lagi asin. Oleh karena itu, maka kata bahr(laut), bukan semata untuk yang airnya asin, akan tetapi juga mencakup yang asin dan tawar.

Lalu mengapa Nil disebut Bahr juga? Nil, sekalipun airnya tawar tetap disebut bahr, karena dari segi luas dan dalamnya, sebagaimana dikatakan Ibnu Manzhur di atas. Dengan demikian, maka satu-satunya sungai yang disebut sebagai laut dalam al-Quran, hanyalah sungai Nil, sebagaimana disebutkan dalam surat al-Qasash ayat 7 dan surat Thaha ayat 38 dan 39 di atas. Wallaahu a’lam bis shawab.

Sungai Nil dalam hadits-hadits Nabi saw
Bukan hanya dalam al-Quran, sungai Nil juga disebutkan dalam banyak hadits Rasulullah saw. Di antaranya adalah dalam hadits shahih di bawah ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: (( سَيْحَانُ وَجَيْحَانُ وَالنِّيلُ وَالْفُرَاتُ كُلٌّ مِنْ أَنْهَارِ الْجَنَّةِ))  [رواه مسلم]

Artinya:
Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Seihan, Jeihan, Nil dan Efrat, semuanya adalah sungai-sungai syurga” (HR. Muslim).

عن أنس بن مالك قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( رفعت إلى السدرة فإذا أربعة أنهار نهران ظاهران ونهران باطنان فأما الظاهران النيل والفرات وأما الباطنان فنهران في الجنة فأتيت بثلاثة أقداح قدح فيه لبن وقدح فيه عسل وقدح فيه خمر فأخذت الذي فيه اللبن فشربت فقيل لي أصبت الفطرة أنت وأمتك)) [رواه البخاري]

Artinya:
Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw bersabda: “Lalu saya dibawa naik ke Sidratul Muntaha, dan saya melihat ada empat sungai, dua sungai nampak, dan dua sungai lagi masih tersembunyi. Adapun dua sungai yang nampak adalah sungai Nil dan Efrat, sedangkan dua sungai yang tersembunyi adalah dua sungai yang masih ada di dalam syurga (Seihan dan Jeihan). Kemudian, saya diberikan tiga  gelas, satu gelas berisi susu, satu gelas berisi madu dan satu gelas lagi berisi khamar (minuman keras). Saya lalu mengambil gelas yang berisi susu, kemudian saya meminumnya, lalu terdengar suara berkata kepada saya: “Kamu dan ummatmu telah sesuai dengan fitrah” (HR. Bukhari).

Dalam sebuah hadits Qudsi yang dinukil oleh Ibnu Zulaq dalam bukunya, Fadhail Mashr (hal 74), Allah berfirman:

يقول الله عز وجل: [ نيل مصر خير أنهاري في الجنة, أسكن عليه خيرتي من عبادي].

Allah berfirman: “Nil Mesir adalah sebaik-baik sungaiKu di syurga, kelak akan dihuni oleh hamba-hamba pilihanKu”.

Sungai Nil dalam pandangan para ulama

Imam Ka’ab al-Ahbar, sebagaimana dinukil oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam bukunya Tarikh Baghdad (1/55), juga dinukil oleh Imam al-Harits dalam Musnad al-Harits atau lebih dikenal dengan Zawaid al-Haitsami (2/944) pernah mengatakan:

أربعة انهار من الجنة وضعها الله في الدنيا؛ فالنيل نهر العسل في الجنة والفرات نهر الخمر في الجنة، وسيحان نهر الماء في الجنة، وجيحان نهر اللبن في الجنة.

Artinya:
Ada empat sungai syurga yang Allah berikan di dunia, yaitu: sungai Nil yang merupakan sungai madu di syurga, sungai Efrat yang merupakan sungai khamar di syurga, sungai Seihan yang merupakan sungai air di syurga, dan sungai Jeihan yang merupakan sungai susu di syurga kelak”.
Dalam riwayat lain sebagaimana dinukil oleh Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (1/56), juga dalam Tarikh Masr karya Ibn Abdil Hakam, Ka’ab al-Ahbar juga pernah berkata: “Sungai Nil adalah sungai madu di syurga, sungai Deglah adalah sungai susu di syurga, sungai Efrat adalah sungai khamar di syurga, dan sungai Seihan adalah sungai air di syurga kelak”.

Amer bin Ash, sebagaimana dinukil oleh Imam as-Suyuthi dalam Husnul Muhadharah (2/302), juga pernah mengatakan:

نيل مصر سيد الأنهار، سخر الله له كل نهر بالمشرق والمغرب، فإذا أراد الله أن يجري نيل مصر أمر كل نهر أن يمده، فأمدته الأنهار بمائها، وفجر الله له الأرض عيونا، فإذا انتهت جريته إلى ما أراد الله، أوحى الله إلى كل ماء ان يرجع إلى عنصره.

Artinya:
Sungai Nil Mesir adalah rajanya sungai-sungai, Allah menundukkan semua sungai di timur dan di barat kepadanya. Apabila Allah berkehendak untuk mengalirkan sungai Nil Mesir, maka Allah memerintahkan semua sungai untuk mengalirkan airnya, maka semua sungai pun mengalirkannya, dan Allah mengeluarkan untuk sungai Nil mata air-mata air bumi. Dan apabila Nil Mesir tidak lagi mengalirkan airnya sebagaimana kehendak Allah, maka Allah memerintahkan semua air untuk kembali ke asalnya”.

Ibnu Abbas, sebagaimana dinukil oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad nya, juga oleh Imam as-Suyuthi dalam Husnul Muhadarah nya (2/303), pernah berkata: “Allah menurunkan lima sungai syurga ke muka bumi ini: Seihan, Jeihan, Deglah, Efrat dan Nil, Allah menurunkannya dari salah satu dari beberapa mata air syurga, dari tingkatakan paling bawah dari tingkatan-tingkatannya, di atas dua sayap Jibril. Allah mengalirkannya di muka bumi, sehingga membawa banyak manfaat untuk manusia, hal ini sesuai dengan firmanNya: “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi…” (QS. Al-Mu’minuun: 18). Dan ketika Ya’juj dan Ma’juj keluar nanti, Allah akan mengutus Jibril untuk mengangkat dari bumi al-Quran, ilmu, batu Hajar Aswad, batu yang berada di Maqam Ibrahim,  peti Nabi Musa as berikut isinya, dan lima sungai ini. Semuanya akan diangkat kembali ke langit, dan ini sesuai dengan firmanNya: “…dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa untuk menghilangkannya” (QS. Al-Mukminuun: 18). Ketika semua ini sudah diangkat dari muka bumi, maka manusia akan segera mengalami kehancuran”.

Ibnu Zulaq dalam Fadhail Masr (hal 76) pernah mengutip perkataan para ulama Mesir yang mengatakan: “Tidak ada satu pun sungai di muka bumi ini yang mengalir dari utara ke selatan, selain Sungai Nil (umumnya dari barat ke timur atau sebaliknya), tidak ada satu pun sungai yang sampai ke laut Romawi dan Laut China selain Sungai Nil Mesir, dan tidak ada  satu pun sungai di muka bumi ini yang alirannya menghadap kea rah selatan, selain sungai Nil Mesir”.

Ibnu Zulaq juga melanjutkan kutipannya: “Tidak ada satu pun sungai di muka bumi ini yang mengalir dengan derasnya pada waktu udara sangat panas—dimana sungai-sungai dan mata air-mata air berkurang bahkan berkering—selain Sungai Nil. Setiap kali udara dan matahari bertambah panas, maka Sungai Nil pun bertambah banyak airnya”.

“Tidak ada satu pun sungai di muka bumi ini yang airnya pasang juga surut secara teratur, selain Nil Mesir”.

Umar bin Khatab Mengirim surat untuk sungai Nil
Para ahli sejarah mencatat sebuah kejadian luar biasa, berupa surat dari seorang khalifah yang ditujukan bukan kepada raja atau penguasa lainnya, bukan juga kepada gubernur atau bawahannya, akan tetapi kepada sebuah sungai, sungai Nil. Kisah ini sangat masyhur dan ditulis oleh hamper seluruh sejarawan, termasuk sejarawan, mufassir, sangat ternama Ibnu Katsir dalam bukunya al-Bidayah wan Nihayah pada bahasan Fath Mashr (penundukkan kota Mesir).

Kisah ini berawal tidak lama setelah Amer bin Ash membawa Islam ke Mesir, air sungai Nil tiba-tiba menyurut dan kering. Orang-orang Mesir saat itu berkata: “Nil memang biasa demikian, dan apabila airnya berkurang atau kering, kami biasa mencari seorang gadis sangat cantik, kemudian meminta idzin kepada orang tuanya untuk dihiasi, didandani dan dipercantik, kemudian ditenggelamkan di sungai Nil. Dan tidak lama setelah itu, sungai Nil akan kembali bertambah airnya”.

Amer bin Ash kemudian berkata kepada penduduk Mesir saat itu: “Islam melarang perbuatan nista tersebut”. Namun, beberapa hari berjalan, sungai Nil tetap menyurut dan kering. Amer bin Ash lalu berkirim surat kepada khalifah Umar bin Khatab di Madinah, mengabarkan apa yang sedang terjadi di Mesir seputar sungai Nil.

Umar bin Khatab kemudian membalas surat Amer bin Ash, dan mengabarkan bahwa apa yang dikatakannya kepada penduduk Mesir adalah benar. Khalifah Umar bin Khatab juga mengabarkan bahwa ia telah menulis surat kepada sungai Nil, yang ditulis di sebuah kertas dan begitu surat tersebut sampai, agar segera dilemparkan ke dalam sungai Nil.

Isi surat Umar bin Khatab kepada sungai Nil dimaksud, sebagaimana ditulis Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan-Nihayah (7/100) adalah sebagai berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم
من عبد الله عمر أمير المؤمنين إلى نيل مصر, أما بعد:
يا نيل مصر, فإن كنت إنما تجري من قبلك ومن أمرك, فلا تجر فلا حاجة لنا فيك, وإن كنت إنما تجري بأمر الله الواحد القهار, وهو الذي يجريك, فنسأل الله تعالى أن يجريك.

Artinya:
Dengan nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Dari hamba Allah, Umar, Amirul Mukminiin kepada Nil Mesir
Wahai Nil Mesir, apabila kamu mengalir itu karena kamu dan karena keinginanmu, maka janganlah kamu mengalir lagi, karena kami tidak memerlukan kamu. Namun, apabila kamu mengalir itu karena perintah dan ketentuan Allah yang Tunggal dan Maha Gagah, dan memang Dialah yang telah mengalirkan kamu, maka kami memohon kepada Allah untuk mengalirkan kamu kembali”.

Begitu surat Umar tersebut sampai di Amer bin Ash, Amer bin Ash segera melemparkan surat dimaksud ke dalam sungai Nil. Begitu malam tiba, sungai Nil pun kembali mengalir dengan deras dan banyaknya.

Keistimewaan-keistimewaan sungai Nil
Dibandingkan dengan sungai-sungai lainnya di muka bumi, sungai Nil mempunyai keistimewaan tersendiri. Di antara keistimewaan-keistimewaan sungai Nil adalah:

1.      Satu-satunya sungai yang disebutkan dalam al-Quran (secara Ijma para ulama)
Sebagaimana telah penulis sampaikan di atas, bahwa sungai Nil merupakan satu-satunya sungai yang disebutkan oleh Allah dalam al-Quran, sebagaimana disampaikan oleh Imam at-Taifaasyi dalam bukunya Suja’ul Hudail: “Tidak satu pun sungai di muka bumi ini yang disebutkan oleh Allah dalam al-Quran, selain sungai Nil”.

Dalam al-Quran, Allah berfirman:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَاتَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ [القصص: 7]

Artinya:
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari Para rasul” (QS. Al-Qashash: 7).

إِذْ أَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّكَ مَا يُوحَى * أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِي وَعَدُوٌّ لَهُ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي[طه: 38, 39].

Artinya:
“yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, yaitu: “Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), Maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. dan aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku” (QS. Thaha: 38, 39).

Para ulama sepakat, bahwa  yang dimaksud dengan ‘laut’ dalam kedua ayat di atas adalah sungai Nil.

2.      Sungai Nil adalah di antara sungai syurga yang diberikan untuk penghuni dunia
Sebagaimana telah penulis sampaikan sebelumnya, bahwa banyak hadits shahih yang menjelaskan bahwa sungai Nil merupakan sungai syurga yang diturunkan oleh Allah untuk penghuni dunia. Di antara hadits shahih yang menjelaskan hal itu adalah:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: (( سَيْحَانُ وَجَيْحَانُ وَالنِّيلُ وَالْفُرَاتُ كُلٌّ مِنْ أَنْهَارِ الْجَنَّةِ)) [رواه مسلم]

Artinya:
 “Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Seihan, Jeihan, Nil dan Efrat, semuanya adalah sungai-sungai syurga” (HR. Muslim).

3.      Sungai Nil adalah sungai madu di syurga kelak
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat di bawah ini yang diriwayatkan oleh Imam al-Harits dalam Musnad nya (Zawaid al-Haitsamy, bab fadhlul anhaar: 2/944) juga disampaikan oleh al-Khatib al-Baghdady dalam Tarikh Baghdad nya (1/55) di bawah ini:

قال ابن عبد الحكم: حدثنا عبد الله بن صالح، حدثنا الليث، عن يزيد بن أبي حبيب، عن ابي الخير، عن كعب الأحبار، أنه كان يقول: أربعة انهار من الجنة وضعها الله في الدنيا؛ فالنيل نهر العسل في الجنة والفرات نهر الخمر في الجنة، وسيحان نهر الماء في الجنة، وجيحان نهر اللبن في الجنة. [أخرجه الحارث في مسنده والخطيب في تاريخه].

Artinya: “Ka’ab al-Ahbar berkata: “Ada empat sungai syurga yang Allah berikan di dunia, yaitu: sungai Nil yang merupakan sungai madu di syurga, sungai Efrat yang merupakan sungai khamar di syurga, sungai Seihan yang merupakan sungai air di syurga, dan sungai Jeihan yang merupakan sungai susu di syurga kelak”. (Riwayat Harits).

Berkaitan dengan riwayat di atas, Imam Ahmad bin Abu Bakar bin Ismail al-Bushairy dalam kitabnya Ittihaaf al-Khairah al-Muhirrah Bi Zawaaid al-Masaanid al-‘Asyrah (8/87) mengatakan, bahwa riwayat di atas disampaikan oleh al-Harits bin Abu Usamah secara mauquf,akan tetapi semua rawi-rawinya adalah tsiqat (dapat dipercaya).

4.      Sungai Nil adalah Rajanya sungai
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ibn Abi Hatim dalam Tafsirnya, sebagaimana dinukil oleh Imam as-Suyuthi dalam Husnul Muhadharah (2/302), bahwa Amer bin Ash pernah mengatakan:

نيل مصر سيد الأنهار، سخر الله له كل نهر بالمشرق والمغرب، فإذا أراد الله أن يجري نيل مصر أمر كل نهر أن يمده، فأمدته الأنهار بمائها، وفجر الله له الأرض عيونا، فإذا انتهت جريته إلى ما أراد الله، أوحى الله إلى كل ماء ان يرجع إلى عنصره.

Artinya:
Sungai Nil Mesir adalah rajanya sungai-sungai, Allah menundukkan semua sungai di timur dan di barat kepadanya. Apabila Allah berkehendak untuk mengalirkan sungai Nil Mesir, maka Allah memerintahkan semua sungai untuk mengalirkan airnya, maka semua sungai pun mengalirkannya, dan Allah mengeluarkan untuk sungai Nil mata air-mata air bumi. Dan apabila Nil Mesir tidak lagi mengalirkan airnya sebagaimana kehendak Allah, maka Allah memerintahkan semua air untuk kembali ke asalnya”.

5.      Setiap tahun Allah mewahyukan dua hal kepada Nil
Dalam sebuah riwayat sebagaimana dinukil oleh Imam as-Suyuthi dalam Husnul Muhadarah (2/302), juga dalam an-Nujum az-Zaahirah fi Muluk Mashr wal Qaahirah (1/12) disebutkan:

وقال: حدثنا عثمان بن صالح، حدثنا ابن لهيعة، عن يزيد بن أبي حبيب أن معاوية بن أبي سفيان سال كعب الأحبار، هل تجد لهذا النيل في كتاب الله خبرا؟ قال: أي والذي فلق البحر لموسى، إني لأجده في كتاب الله يوحي إليه في كل عام مرتين، يوحي إليه عند جريه: عن الله يأمرك أن تجري فيجرى ما كتب الله، ثم يوحي إليه بعد ذلك: يا نيل عد حميداً.

Artinya: “Bahwasannya Muawiyyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Ka’ab al-Ahbar: “Apakah kamu menemukan satu kabar dalam Kitab Allah tentang sungai Nil ini?” Ka’ab menjawab: “Demi kegagahan yang telah membelah laut kepada Nabi Musa as, sesungguhnya saya mendapatkan dalam Kitab Allah, bahwasannya Allah mewahyukan dua hal setiap tahunnya kepada Nil, pertama, Allah mewahyukan ketika Nil mengalirkan airnya bahwasannya Allah memerintahkan kamu untuk mengalirkan airnya, maka Nil pun segera mengalirkannya, sampai waktu yang telah Allah tentukan. Kedua, Allah mewahyukan setelah itu (ketika surut): ‘Wahai Nil, kembalilah kamu (maksudnya surutlah) dengan baik-baik”.

6.      Sungai Nil di antara sungai yang akan diangkat kelak ketika kiamat sudah dekat
Keistimewaan Nil lainnya, adalah bahwa ia  di antara tanda kekuasaan Allah yang apabila Kiamat sudah dekat di mana Ya’juj dan Ma’juj akan keluar, ia akan diangkat kebaikan dan manfaatnya oleh Allah ke langit. Hal ini dapat berupa, air Nil menjadi kering, atau tetap banyak, akan tetapi tidak bermanfaat banyak lagi. Hal ini sesuai dengan perkataan Ibnu Abbas di bawah ini:

عن ابن عباس مرفوعا: انزل الله تعالى من الجنة إلى الأرض خمسة انهار: سيحون، وجيحون، ودجلة، والفرات والنيل؛ أنزلها الله من عين واحدة من عيون الجنة، من أسفل درجة من درجاتها، على جناحي جبريل، واستودعها الجبال، وأجراها في الارض، وجعل فيها منافع للناس، فذلك قوله تعالى: )وأنزلنا من السماء ماء بقدر فأسكناه في الأرض(، فإذا كان عند خروج ياجوج وماجوج، أرسل الله جبريل، فرفع من الأرض القرآن والعلم والحجر من البيت ومقام إبراهيم وتابوت موسى بما فيه؛ وهذه الأنهار الخمسة، فيرفع كل ذلك إلى السماء؛ فذلك قوله: )وأنا على ذهاب به لقادرون(، فإذا رفعت هذه الأشياء من الأرض عدم أهلها خيرها. [الخطيب في تاريخه 1/57, وابن حبان, المجروحين 3/323, 324, وهو ضعيف]

Artinya: “Dari Ibnu Abbas, dan riwayatnya Marfu’, berkata: ‘Allah menurunkan lima sungai syurga ke muka bumi ini: Seihan, Jeihan, Deglah, Efrat dan Nil, Allah menurunkannya dari salah satu dari beberapa mata air syurga, dari tingkatakan paling bawah dari tingkatan-tingkatannya, di atas dua sayap Jibril. Allah mengalirkannya di muka bumi, sehingga membawa banyak manfaat untuk manusia, hal ini sesuai dengan firmanNya: “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi…” (QS. Al-Mu’minuun: 18). Dan ketika Ya’juj dan Ma’juj keluar nanti, Allah akan mengutus Jibril untuk mengangkat dari bumi al-Quran, ilmu, batu Hajar Aswad, batu yang berada di Maqam Ibrahim,  peti Nabi Musa as berikut isinya, dan lima sungai ini. Semuanya akan diangkat kembali ke langit, dan ini sesuai dengan firmanNya: “…dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa untuk menghilangkannya” (QS. Al-Mukminuun: 18). Ketika semua ini sudah diangkat dari muka bumi, maka manusia akan segera mengalami kehancuran”. (Dinukil dariTarikh Baghdad karya al-Khatib al-Baghdadi: 1/57, dan dalam al-Majruuhiin karya Ibnu Hibban: 3/323, 324, dan riwayat ini riwayat Dhaif).

7.      Sungai nil satu-satunya sungai di dunia yang disebut dalam al-Quran sebagai laut
Imam al-Mas’udi pernah berkata, sebagaimana dinukil oleh al-Maqrizi dalam al-Mawa’id wal I’tibaar nya (1/65):

وقال المسعودي: نهر النيل من سادات الأنهار وأشراف البحار لأنه يرج من الجنة على ما ورد به خبر الشريعة. وقد قال: إن النيل إذا زاد غاضت له الأنهار والأعين والآبار، وإذا غاض زادت فزيادته من غيضها وغيضه من زيادتهاوليس في أنهار الدنيا نهر يسمى بحراً غير نيل مصر لكبره واستبحاره.

Artinya: “Al-Mas’udy berkata: “Sungai Nil termasuk di antara Raja nya sungai-sungai, dan termasuk di antara laut yang paling mulia, karena ia bersumber dari syurga sebagaimana disebutkan dalam berbagai keterangan. Apabila sungai nil bertambah banyak airnya, maka seluruh sungai, mata air dan sumur berkurang airnya, dan apabila sungai nil berkurang airnya, maka sungai-sungai, mata air dan sumur bertambah banyak airnya. Bertambah nya air sungai Nil dari surutnya air-air lainnya, dan surutnya air Nil dari bertambahnya air-air lainnya. Dan tidak ada satupun sungai di muka bumi ini yang disebut sebagai laut (bahr), selain Nil Mesir, karena besar dan luasnya”.

Dalam al-Quran, Allah juga berfirman:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ [القصص: 7]

Artinya:
Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke laut (sungai Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari Para rasul” (QS. Al-Qashash: 7).

Kata ‘laut’ dalam ayat di atas, adalah Sungai Nil. Dan hanya Nil yang disebutkan sebagai laut dalam al-Quran karena keluasan dan kebesarannya.

8.      Sungai nil di antara sungai yang diberi gelar Sungai Mukmin
Dalam sebuah hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn al-Jauzy dalam Gharib al-Hadits nya (1/42), juga oleh Abu as-Sa’adaat al-Mubaarak bin Muhammad al-Jazary dalam  kitabnya an-Nihayah fi Gharib al-Hadits wal Atsar (1/66) disebutkan:

((نهران مؤمنان، ونهران كافران. أما المؤمنان: فالنيل والفرات، وأما الكافران: فدجلة ونهر بلخ)).

Artinya:
 “Ada dua sungai mukmin dan dua sungai kafir. Adapun dua sungai mukmin adalah: Nil dan Efrat, sedangkan dua sungai Kafir adalah Deglah dan Balkh”.

Ibnu al-Jauzi dalam Gharib al-Hadits nya (1/42) mengatakan, dinamakan sungai mukmin, karena ia dapat menyirami dan mendatangkan banyak manfaat sebagaimana layaknya seorang mukmin. Sedangkan disebut sungai kafir, karena tidak dapat mengairi dan tidak dapat mendatangkan banyak manfaat.

Sungai Nil: Lain dari yang lain
Imam at-Taifasy, sebagaimana dikutip oleh Imam as-Suyuthi dalam Husnul Muhadharah (2/315), pernah mengatakan: “Para ulama telah sepakat, bahwa sungai Nil merupakan sungai yang paling istimewa dibandingkan dengan sungai-sungai lainnya, karena beberapa sebab:

1.      Manfaatnya yang sangat luar biasa. Tidak ada satupun sungai di muka bumi ini yang dapat mengairi dengan begitu hebatnya, dan begitu luasnya selain sungai Nil. Manfaat yang diberikan melebihi sungai-sungai pada umumnya.
2.      Hemat dalam pengairannya. Air Nil cukup untuk menyirami tanaman satu kali saja, dan ketika air Nil sudah menyerap ke dalam tanah, maka tanaman itu tidak mengapa tidak disiram lagi sampai dipetik hasilnya nanti. Dan tentu tidak demikian dengan sungai-sungai lainnya.
3.      Air Nil bertambah banyak, ketika sungai-sungai lainnya menyusut, dan sebaliknya, ketika air sungai-sungai pada umumnya bertambah banyak, air sungai Nil malah menyusut.
4.      Hampir semua sungai-sungai di muka bumi, mengalir dari arah timur ke barat, sementara Nil mengalir dari arah selatan ke utara. Karena itu disebutkan dalam sebuah syair:

مصر, ومصر ماؤها عجيب                      ونهرها يجري به الجنوب
Artinya: 
Mesir, Air Mesir memang luar biasa,
Sungainya mengalir menuju utara

Menurut para ilmuwan modern, mengalirnya Nil dari Selatan ke Utara, karena sungai ini berada membentang pada garis 3, 30 derajat lintang selatan, sampai 31derajat lintang utara, atau dengan kata lain bahwa sungai ini memotong lebih dari 34,5 derajat garis lintang
5.      Tidak ada satu pun sungai di muka bumi ini yang mencapai laut China dan Romawi selain Sungai Nil.
6.      Sungai Nil juga pasang, surut airnya dengan tertib dan berurutan, dan tidak didapatkan pada sungai-sungai lainnya.
7.      Hasil-hasil tanaman yang disiram sungai Nil sangat luar biasa banyaknya, dan tidak didapatkan pada sungai-sungai lainnya.
Demikian di antara keistimewaan-keistimewaan Sungai Nil dari sungai-sungai lainnya yang dijelaskan oleh para sejarawan Mesir kenamaan.

Kisah-kisah Misterius Seputar Sungai Nil
Bukan saja, dari segi air dan manfaatnya, namun juga ternyata sungai Nil menyimpan sejuta misteri menyangkut kehidupan yang ada di dalamnya.

Para sejarahwan muslim yang hidup ratusan tahun yang lalu telah banyak menceritakan misteri ini. hewan-hewan aneh yang tidak ditemukan diperairan apapun, di sungai manapun di dunia ini, dan hanya ada di sungai Nil. Berikut penulis ketengahkan beberapa kisah aneh yang hidup di sungai Nil berdasarkan pemaparan para ulama dahulu kala.

1.      Kisah Syaikhul Bahr (Puteri Duyung). 
Kisah puteri duyung sangat kental dengan kehidupan masyarakat dewasa ini, khususnya dunia anak-anak. Ikan yang digambarkan berwajah cantik seorang puteri dan berbadan ikan ini, tidak diketahui secara benar dari mana asal muasal kisah ini muncul. Apakah hanya mitos dan khayalan belaka atau memang sebuah kenyataan. Yang jelas, hamper semua menilai, semua adalah mitos dan rekaan manusia belaka.

Namun, apakah anda percaya kalau sebenarnya ikan jenis ini merupakan salah satu jenis haiwan aneh yang hidup di sungai Nil Mesir? Para sejarahwan yang hidup di abad ke 2 atau 3 hijriyyah telah menulis adanya haiwan aneh ini yang hidup di sungai Nil dan bahkan menurut mereka, boleh jadi tidak ditemukan di sungai-sungai lainnya di muka bumi ini.

Adalah Umar bin Muhammad bin Yusuf al-Kinady atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ibn al-Kinady yang diperkirakan hidup pada abad ke dua hijriyyah, sebagaimana dinukil oleh al-Maqrizi dalam al-Mawaa’id wal I’tibar, telah panjang lebar menceritakan jenis-jenis haiwan aneh yang tinggal di Sungai Nil Mesir.

Menurutnya, di antara kelebihan dan keistimewaan sungai Nil Mesir dari sungai-sungai lainnya di muka bumi, adalah hidupnya beberapa jenis haiwan aneh yang tidak ditemukan di sungai-sungai lainnya. Di antaranya, ada sejenis ikan yang bermuka manusia dan berbadan ikan. Bahkan, di antara jenis ikan ini, ada juga yang sampai mukanya menyerupai seorang kakek-kakek berjenggot tebal dan panjang. Dan ikan jenis ini hidup di sungai Nil di daerah sekitar Dimyat.

Orang-orang Mesir pada saat itu, menyebut ikan jenis ini dengan nama Syaikhul Bahr (Penjaga Sungai Nil). Masyarakat saat itu mempunyai anggapan, ikan tersebut berperanan sebagai pemberi tahu. Di mana seseorang melihat ikan jenis ini, itu pertanda akan terjadinya kekeringan, kematian dan bencana.

Penulis tidak mengetahui secara benar keabsahan kisah ini. Di satu sisi, diragukan kebenarannya, karena tidak jelas sumber asalnya. Namun, di sisi lain, boleh jadi juga dibenarkan keabsahannya, mengingat hamper semua sejarahwan dahulu kala selalu menyebut jenis ikan ini dalam kitab-kitabnya. Dan, tentu, hal ini bukan sesuatu yang mustahil akan adanya.

Kalau saja jenis ikan ini betul-betul ada dahulu kala, maka boleh dikatakan, sebenarnya kisah Putri Duyung berasal dari Mesir, tepatnya dari Sungai Nil Mesir. Dan kalau benar ini terjadi, maka sebutan Mesir sebagai Ummul Hadarah dan Ummud Dunya, betul-betul tidak diragukan dan betul-betul mencakup semua aspek, karena mencakup juga kisah-kisah aneh yang belakangan marak diperbincangkan di masyarakat dunia, termasuk di Indonesia.

2.     Kisah  Farasul Bahr (Kuda Nil). 
Mari kita sejenak merenung, mengapa salah satu jenis hewan yang mirip kuda dikenal dengan sebutan Kuda Nil. Mengapa tidak disebut Kuda Amazon, atau Kuda Kapuas atau Kuda Ciliwung? Apakah sebutan ‘Nil’ di ujung nama tersebut ada kaitannya dengan Sungai Nil? Ataukah hanya sekedar nama biasa yang tidak ada sangkut pautnya?

Penulis mencoba melacak sejarah Kuda Nil, namun tidak ditemukan sejarah yang lengkap, detail dan menenangkan tentang mengapa dikenal dengan nama itu. Sejarah yang ada, tidak banyak mengupas persoalan nama itu, dan kalaupun ada, hanya sekedarnya saja.

Oleh karena itu, ketika penulis membaca buku-buku yang ditulis para ulama ratusan tahun lalu tentang keajaiban Sungai Nil (‘ajaib an-niil), penulis mendapatkan sedikit kesinambungan nama tersebut.

Para ulama dahulu kala, menulis bahwa di antara haiwan aneh yang hidup di Sungai Nil Mesir, juga ada sejenis ikan dalam bentuk seekor kuda. Mereka menyebutnya Farasul Bahr (Kuda Sungai Nil). Menurut catatan para sejarawan ini, ikan jenis ini memakan buaya, dan karenanya, di mana ikan jenis ini berada, di sana jarang atau boleh jadi tidak ada sama sekali diketemukan buaya. Ikan jenis ini umumnya hidup di sungai Nil di daerah Aswan, Mesir.

Ikan jenis ini mirip bentuknya dengan kuda yang hidup di daratan, hanya saja ekornya lebih besar dan lebih indah warnanya. Telapak kakinya mirip telapak kaki sapi, dan tubuhnya lebih besar sedikit dari tubuh keledai. Dan terkadang, ikan jenis ini sengaja keluar ke daratan, kemudian berhubungan badan dengan kuda yang hidup didaratan, sehingga melahirkan seekor kuda yang sangat bagus dan cantik.

Kisah di atas, ditulis oleh banyak sejarawan ketika mencoba mengulas seputar hal-hal yang berkaitan dengan sungai Nil. Dan mereka  yang menceritakannya, bukan orang-orang sembarang, akan tetapi para ulama dan sejarawan yang memang sudah ‘kahot’ dibidangnya. Untuk itu,hemat penulis, kisah ini sangat boleh jadi keberadaan dan kebenarannya. Di antara buku belakangan yang menceritakan haiwan-haiwan ini, di antaranya adalah kitab al-Mawaaid wal I’tibaar karya Imam al-Maqrizi.

Kalau ini kisah ini benar adanya, maka boleh jadi dan sangat besar kemungkinan, nama ‘Nil’ yang melengket dengan nama salah satu jenis haiwan belakangan ini yang dikenal dengan nama ‘Kuda Nil’, sangat erat kaitannya dengan Farasul Bahr, sejenis ikan yang berbentuk kuda yang hidup di sungai Nil ini.

Apakah wujud Farasul Bahr sama persis dengan Kuda Nil sekarang ini? Tentu sulit dibuktikan. Hanya, kalaupun tidak sama persis, pengambilan nama ‘Kuda Nil’ ini, boleh jadi, hendak menisbahkan dengan jenis ikan yang hidup di sungai Nil yang dikenal dengan nama Farasul Bahr ini, dari segi bentuk, wujud dan kehidupannya.

3.      Cerita ikan Ar-Ru’aad (Ikan Geledek). 
Ikan ini disebut Ikan Geledek (ar-Ru’aad), karena selalu menyambar para nelayan, laksana kilat yang selalu menyambar. Ikan ini sejenis ikan biasa yang besarnya seukuran lengan. Namun tenaga dan kekuatannya sangat besar, sehingga apabila ikan ini menyambar tangan nelayan atau jarring, maka kedua tangan dan kaki nelayan itu akan bergetar, seolah terkena aliran listrik. Getaran itu tidak akan berhenti, sampai ikan tersebut dilepaskan atau ikan tersebut mati.

Ikan ini bukan ikan untuk dimakan, akan tetapi diyakini oleh masyarakat Mesir dahulu kala sebagai ikan obat. Mereka yang sering sakit kepala (barangkali istilah sekarang Migren), sehebat apapun sakitnya, apabila ditempelkan ikan tersebut persis di atas kepalanya, maka saat itu juga sakit kepalanya akan hilang. Dengan catatan ikan tersebut masih hidup, bukan setelah mati.

Oleh karena itu, masyarakat Mesir saat itu, biasa mencari ikan ini sebagai obat sakit kepala yang sudah bertahun-tahun atau yang sudah sangat parah sekalipun.  Bahkan, bukan hanya itu, masyarakat Mesir dahulu kala menyakini Ikan Geledek ini sebagai ikan keberuntungan, di mana menurut kepercayaan mereka, apabila seorang gadis atau janda menenggantungkan sebagian anggota tubuh Ikan Geledek ini, maka wanita tersebut akan segera mendapatkan jodohnya. Atau bagi yang sudah bersuami, maka suaminya akan selalu nempel dengan dirinya.

Demikian juga dengan laki-laki. Setiap laki-laki yang menempelkan sebagian anggota tubuh Ikan Geledek ini, maka ia akan segera mendapatkan jodoh yang sesuai, dan apabila telah menikah, maka isterinya tidak akan meninggalkannya, juga tidak akan jauh dari dirinya. Demikian, kepercayaan masyarakat Mesir dahulu kala tentang Ikan jenis ini, sebagaimana ditulis oleh para sejarawan Mesir, semisal al-Maqrizi dalam al-Mawaid wal Itibar (1/66).

4.      Dongeng ikan As-Suqnaqur. 
Ikan jenis ini kononnya merupakan hasil perkawinan antara ikan dengan buaya. Bentuknya tidak seluruhnya seperti ikan, karena Suqnaqur mempunyai dua tangan dan dua kaki, juga tidak seperti buaya, ekornya licin mulus, lebar dan tidak berduri sebagaimana buaya. Ikan ini mempunyai racun yang sangat berbahaya, dan apabila racun ini dimakan, maka akan mengakibatkan kematian seketika.

Ikan jenis ini sebagaimana Ikan Geledek, bukan untuk dimakan, akan tetapi sebagai obat. Suqnaqur merupakan obat untuk kekuatan hubungan badan, khususnya bagi laki-laki. Biasanya yang diambil dari Suqnuqur ini hanya daging dan lemaknya saja. Ada yang dijadikan seperti salep dan ada juga yang dikeringkan dan dimakan disatukan dengan madu atau sayur. Suqnaqur juga hanya diketemukan di sungai Nil saja, dan tidak ditemukan di sungai-sungai lainnya.


Demikian di antara jenis-jenis hewan khas yang hidup di sungai Nil dan tidak hidup di sungai-sungai lainnya di muka bumi ini.

Penutup
Demikian, tulisan ringkas seputar sungai Nil ini penulis sajikan, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Apa yang benar tentu datangnya dari Allah dan Rasul-Nya, dan apa yang tidak benar, tentu datang dari kebodohan penulis sendiri dan dari Setan. Wallahu ‘alam bis shawab.
loading...