Sunday, November 10, 2013

[Kisah]: Mengapa Engkau Menangis? Dan Mengapa Aku Menangis...?

Syahdan, di kota Basrah, ada seorang soleh yang abid (ahli ibadah) tengah terbaring sakit, ia akan menghdapi sakaratul maut. Sanak keluarganya sudah berkumpul di dekatnya, mereka menangis berurai air mata.

"Bantulah aku.. aku ingin duduk...". Kata sang abid kepada mereka.

Mereka pun membantunya duduk dari pembaringan itu. Ia menoleh sekeliling, ternyata ada ayah, ibu, istri dan anak-anaknya di situ. Mereka semua menangis.

Sang abid kemudian bertanya kepada ayahnya:

"Wahai ayah, apa gerangan sebab engkau menangis?".

Sang ayah menjawab:

"Anakku, aku sedih kehilanganmu. Aku tak ingin sendiri setelah kepergianmu...".

Sang abid lalu menoleh kepada ibunya dan bertanya:

"Wahai ibu, apa sebab ibunda juga menangis?".

Sang ibu menjawab:

"Putraku, aku tak tega kehilanganmu..."

 Sang abid lalu menoleh kepada istrinya dan bertanya:

"Istriku, apa sebabnya engkau juga menangis?".

Sang istri menjawab:

"Suamiku, aku takut kehilanganmu...".

Lalu sang abid menoleh kepada anak-anaknya dan bertanya:

"Wahai anak-anakku, apa sebab gerangan kalian menangis...?".

Anak-anaknya menjawab:

"Ayah, kami tidak ingin menjadi anak yatim.. kami tidak ingin dihina orang sepeninggalmu... tidak ada yang membela kami...".

Mendengar itu, sang abid pun menangis berurai air mata. Lalu mereka semua bertanya kepadanya:

"Dan mengapa engkau juga menangis...?"..

Sang abid yang saleh menjawab:

"Aku menangis karena ternyata kalian hanya memikirkan diri sendiri. Aku sedih ternyata kalian menangis bukan karena kasihan padaku, tapi kasihan pada diri kalian sendiri. Kalian tidak menangisi betapa panjangnya kelak perjalananku... Kalian tidak menangisi betapa sedikit bekal yang aku punya... Kalian tidak menangisi siapa gerangan yang akan menemaniku di gelapnya pusara... Kalian tidak menangisi betapa berat hisab yang akan kutanggung... Kalian tidak menangisi betapa beratnya aku berdiri di hadapan mahkamah Allah... ".

Sang abid itu kemudian terjatuh di pembaringannya dan wafat seketika.
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih