Orang Rajin Bersedekah Itu Bahagia, begini penjelasan ilmiahnya...

Pernahkah kita merasakan, ketika kita mengeluarkan sedekah kepada orang yang membutuhkan, ketika kita bisa membantu meringankan beban orang lain, lalu muncul perasaan bahagian entara dari mana dalam lubuk hari kita?;

Wednesday, October 12, 2016

[Renungan Akhir Zaman]: Bagaimana Kualitas Keislamanmu Hari Ini?

Saudaraku.... Inilah zaman dimana para pendusta dipercaya dan orang yang jujur didustakan serta banyaknya orang-orang yang lemah akal dan agama berbicara permasalahan ummat hingga akhirnya terjerembab pada kesesatan yang akhirnya dapat membawa pada kebinasaan baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Dari Abu Hurairah رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,

Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipuan. Pada waktu itu, orang yang berdusta akan dibenarkan dan orang yang jujur dianggap berdusta, orang yang berkhianat dianggap amanah dan orang yang amanah dianggap berkhianat, serta Ar-Ruwaibidhah akan berbicara.'
Para Shahabat bertanya,
'Siapakah Ar-Ruwaibidhah itu?'
Beliau ﷺ menjawab,
'Orang bodoh (dungu) yang berbicara tentang perkara ummat (orang banyak).'"
(Shahiih, HR. Ahmad, II/291, 338, 7899, 8440, Ibnu Majah, no. 4036, 4042, al-Hakim, IV/465 - 466, 512, dan al-Kharaithi dalam Makarimul Akhlaaq, hal. 30, Silsilah ash-Shahiihah, no. 1887, 2253)

Sungguh heran bagi saya jika ada seseorang yang mengaku muslim akan tetapi bersikap kasar kepada muslim lainnya, melarang dan mengusir kaum muslimin yang sedang ngaji, berdo'a dan bermunajat kepada Allah تبارك و‏تعالىٰ dan diperparah ia pun membenci da'wah tauhid, da'wah yang dibawa oleh para nabi dan rasul. Namun disisi yang lain ia dapat berkasih sayang dan bersikap loyal kepada orang kafir, menjaga gereja-gereja mereka, mengucapkan selamat hari raya kepada mereka, sampai-sampai menjadikan juru kampanye pemenangan untuk orang kafir.

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

Musibah, sungguh ini adalah sebuah musibah yang amat besar yaitu para da'i-da'i yang menyeru kepada kesesatan hingga akhirnya memasukkan mereka semua ke dalam Neraka Jahannam.

Dari Hudzaifah bin al-Yamaan رضي الله تعالىٰ عنه berkata,
"Orang-orang (para Shahabat) bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang (perkara) kebaikan, dan aku bertanya kepada beliau ﷺ tentang (perkara) kejelekan (keburukan), khawatir kejelekan tersebut menghampiri (menimpaku)."
Aku berkata,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya dahulu kami berada dalam kejahiliyahan dan kejelekan (keburukan), kemudian Allah ﷻ mendatangkan kebaikan kepada kami, lalu apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Ya."
Aku bertanya,
"Apakah setelah keburukan tersebut ada kebaikan?"
Beliau ﷺ menjawab,
"Ya, tapi di dalamnya ada asap (kekeruhan)."
Aku bertanya,
"Apa kekeruhan itu?"
Beliau ﷺ menjawab,
"Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku (berbuat bid'ah), dan memberi petunjuk bukan dengan petunjukku. Engkau mengetahui mereka dan engkau mengingkarinya."
Lalu aku bertanya,
"Apakah setelah kebaikan tersebut ada keburukan?"
Beliau ﷺ menjawab,
"Ya, akan muncul para da'i-da'i ('ulamaa penyeru) yang menyeru ke Neraka Jahannam, siapa yang menjawab (mengikuti) seruan (ajakannya) maka mereka akan melemparkan orang itu ke dalamnya."
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, terangkan ciri-ciri (sifat-sifat) mereka kepada kami."
Beliau ﷺ menjawab,
"Ya (mereka adalah) suatu kaum yang kulit mereka sama dengan kulit (kaum kita) dan mereka berbicara dengan bahasa kita."
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menjumpai hal itu?"
Beliau ﷺ menjawab,
"Engkau harus tetap komitmen (istiqomah) terhadap jama'ah kaum muslimin dan imam mereka."
Lalu aku berkata lagi,
"Bagaimana jika tidak ada jama'ah kaum muslimin dan imam?"
Beliau ﷺ bersabda,
"Maka jauhilah (berlepaslah) dari semua golongan-golongan tersebut, walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai ajal kematian menjemputmu, dan tetap dalam keadaan seperti itu."
(Shahiih, HR. Al-Bukhari, VI/615 - 616, no. 3606, 3607, dan XIII/35, no. 7084, Fat-hul Baari, Muslim, XII/235 - 236, no. 1847 [51], Ahmad, V/391, 399, al-Baghowi dalam Syarhus Sunnah, XIV/14, dan Ibnu Majah, no. 2979, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah, no. 2739)

Inilah sesungguhnya yang ditakuti oleh Rasulullah ﷺ, yaitu munculnya da'i-da'i, ustadz namun bodoh lagi dungu di dalam beragama, mereka menjual agamanya demi keuntungan duniawiyyah yang sedikit sehingga ia pun sesat lagi menyesatkan orang lain dan jadilah mereka orang-orang yang merugi kelak di hari Kiamat.

Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sesungguhnya Allah ﷻ tidak mencabut 'ilmu dari para hamba sekaligus, akan tetapi Dia mencabut 'ilmu dengan mewafatkan para 'ulamaa. Sehingga, apabila sudah tidak ada lagi seorang yang 'alim (berilmu), manusia akan mengangkat para pemimpin yang bodoh, mereka ditanya lalu berfatwa tanpa 'ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan orang lain."
(Shahiih, HR. Al-Bukhari dalam Shahiih-nya, kitabul 'Ilmi, bab Kaifa yuqbadhal 'ilmu, no. 100, dan Muslim, no. 2673 [13])

Dalam riwayat lain :

"Mereka berfatwa dengan ra'yu (pendapatnya), maka mereka sesat dan menyesatkan."
(Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 7307)

Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah para imam ('ulamaa) yang menyesatkan."
(Shahiih, HR. Ahmad, no. 27525, Shahiih al-Jaami', no. 1551)

Sufyan Ats-Tsauriy رحمه الله تعالىٰ berkata,
"Berlindunglah kepada Allah dari fitnah seorang hamba yang bodoh dan fitnah seorang yang 'alim (berilmu) yang berbuat kejelekan, karena fitnah keduanya adalah sumber dari segala fitnah."
(Diriwayatkan oleh Imam al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, II/318)

Semoga Allah سبحانه و تعالىٰ menyelamatkan diri dan agama kita dari kebinasaan.

Allaahul Musta'an.
loading...

Tuesday, October 11, 2016

Untaian Nasihat Syaikh As-Syinqithi Tentang Pergaulan dan Persahabatan

Syaikh al-Syinqiti rahimahullah memberi nasihat kepada putra beliau:

Wahai anakku:

جالس العلماء بعقلك

Bergaullah bersama Ulama dengan akalmu.

وجالس الامراء بعلمك

Bergaullah bersama Pemimpin dengan ilmumu.

وجالس الاصدقاء بأدبك

Bergaullah bersama teman dengan adab/etikamu.

وجالس أهل بيتك بعطفك

Bergaullah bersama keluarga dengan kelembutanmu.

وجالس السفهاء بحلمك

Bergaullah bersama orang bodoh dengan kemurahan hatimu.

وكن جليس ربك بذكرك

Jadilah "teman" Allah dengan zikirmu.

وكن جليس نفسك بنصحك

Dan jadilah teman bagi dirimu sendiri dengan nasihatmu.

لا تَحزنْ على طيبتك؛ فَإن لَم يُوجَد في الارض مَن يقدرها؛ ففي السَماء مَن يباركهَا…

Tidak perlu bersedih jika di dunia tidak ada yg menghargai kebaikanmu, kerana dilangit ada yg mengapresiasinya.

حياتنا كالورود فيها من الجمال ما يسعدنا وفيها من الشوك ما يؤلمنا.

Kehidupan kita ibarat mawar,  disamping memiliki keindahan yang membuat kita bahagia, juga memiliki duri yang bisa menyakiti kita.

ما كان لك سيأتيك رغم ضعفك.!!

Apa yang ditetapkan bagimu nescaya akan mendatangimu, meskipun kamu tidak ada daya.

وما ليس لك لن تناله بقوتك.!!

Sebaliknya apa yang bukan milikmu, kamu tidak akan mampu meraihnya meski dengan kekuatanmu.

لا أحد يمتاز بصفة الكمال سوى اللہ. لذا كف عن نبش عيوب الآخرين.

Tidak seorangpun yg memiliki sifat sempurna selain Allah, oleh kerana itu berhentilah dari menggali aib orang lain.

الوعي في العقول وليس في الأعمار، فالأعمار مجرد عداد لأيامك، أما العقول فهي حصاد فهمك وقناعاتك في حياتك..

Kesedaran itu pada akal, bukan pada usia, umur hanyalah bilangan harimu, sedangkan akal adalah hasil pemahaman dan kerelaanmu terhadap kehidupanmu.

كن لطيفاً بتحدثك مع الآخرين، فالكل يعاني من وجع الحياة وأنت ﻻتعلم.

Berlemah-lembutlah ketika berbicara dengan orang lain, kerana setiap orang merasakan derita hidupnya masing-masing, sedangkan kamu tidak mengetahuinya.

كل شيء ينقص إذا قسمته على اثنين إلا "السعادة"
فإنها تزيد إذا تقاسمتها مع الآخرين.

Semua hal akan berkurang jika engkau bagi dua dengan orang lain, kecuali KEBAHAGIAAN, justeru akan bertambah jika kamu bagikan kepada yang lain.
loading...

Pilih Bungkus Atau Isinya? [Inspiratif]

Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia lagi menjemukan bila Anda hanya menguras pikiran untuk mengurus BUNGKUS-nya saja dan mengabaikan ISI-nya. Maka, bedakanlah apa itu "BUNGKUS"-nya & apa itu "ISI"-nya.

"Rumah yang indah" hanya bungkusnya
"Keluarga bahagia" itu isinya.

"Pesta pernikahan" hanya bungkusnya
"Cinta kasih, Pengertian, & Tanggung jawab" itu isinya.

"Kekayaan" itu hanya bungkusnya,
"Hati yang gembira" itu isinya.

"Makan enak" hanya bungkusnya,
"Gizi, energi, dan sehat" itu isinya.

"Kecantikan dan Ketampanan" hanya bungkusnya;
"Kepribadian dan Hati" itu isinya.

"Bicara" itu hanya bungkusnya,
"Kenyataan" itu isinya.

"Buku" hanya bungkusnya;
"Pengetahuan" itu isinya.

"Jabatan" hanya bungkusnya,
"Pengabdian dan pelayanan" itu isinya.

"Pergi ke tempat ibadah" itu bungkusnya,
"Melakukan Ajaran Agama" itu isinya.

"Kharisma" hanya bungkusnya,
"Karakter" itu isinya.

"Rizqi" itu hanya bungkusnya.
"Barokah" itu isinya.

Utamakanlah *isi*nya, serta tetaplah merawat *bungkus*nya dengan baik...

loading...

Monday, October 10, 2016

Kisah Pemuda Yang Mencaci dan Memuji Lautan... Sangat Inspiratif

Alkisah, ada Seorang pemuda kehilangan sepatunya di laut, lalu dia menulis di pinggir pantai ...
LAUT INI MALING ...
.
Tak lama datanglah nelayan yg membawa hasil tangkapan ikan begitu banyak, lalu dia menulis di pantai ...
LAUT INI BAIK HATI ...
.
Seorang pemuda tenggelam di lautan lalu ibunya menulis di pantai,
LAUT INI PEMBUNUH ...
.
Tak lama datanglah Seorang lelaki yg menemukan sebongkah mutiara di dalam lautan, lalu dia menulis di pantai..
LAUT INI PENUH BERKAH ...
.
Kemudian datanglah ombak besar dan menghapus semua tulisan di pantai itu !!!!!!

 ***

Saudaraku....
.
JANGAN RISAUKAN OMONGAN ORANG, KARENA SETIAP ORANG MEMBACA DUNIA DENGAN PEMAHAMAN DAN PENGALAMAN YANG BERBEDA.
.
Teruslah melangkah, selama engkau di jalan yang baik.
Meski terkadang kebaikan tidak senantiasa di hargai.
.
Ali bin Abi Thalib ra berkata:
Jangan menjelaskan tentang diri mu kepada siapa pun,
Karena yang menyukai mu tidak butuh itu,
Dan yang membenci mu tidak percaya itu.
.
Hidup bukan tentang siapa yang terbaik, tapi
Siapa yang mau berbuat baik.
.
Jangan menghapus Persaudaraan hanya karena sebuah Kesalahan ...
Namun Hapuslah kesalahan...
demi lanjutnya Persaudaraan..
.
Jika datang kepadamu gangguan...
Jangan berpikir bagaimana cara Membalas dengan yang lebih Perih, tapi berpikirlah bagaimana cara Membalas dengan yang lebih Baik.
.
Kurangi mengeluh teruslah berdoa dan berikhtiar.
Sibukkan diri dalam kebaikan. Hingga keburukan lelah mengikuti mu.” -- Selamat tahun baru 1438 Hijriah. Semoga menjadi momentum bagi kita semua utk menjadi manusia yg lebih baik. Amin Ya Robbal'alamiin 
loading...

Kisah Umar bin Khattab dengan Surah Al-Ma'idah Ayat 51

Diriwayatkan dalam tafsir Ibnu Katsir:

“Suatu hari Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu 'anhu untuk segera menunjuk pemimpin kepercayaan untuk pencatat pengeluaran dan pemasukan pemerintah Islam di Syam".

Abu Musa lalu menunjuk seorang yang beragama Nasrani dan Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tadi.

Umar bin Khaththab pun kagum dengan hasil pekerjaannya. Lalu Umar berkata: ‘Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk rapat melaporkan laporan di depan kami?’.

Abu Musa menjawab: ‘Ia tidak bisa masuk ke tanah Haram (Mekkah dan Madinah)'.

Umar bertanya: ‘Kenapa? Apa karena ia junub?’.

Abu Musa menjawab: ‘Bukan, karena ia seorang Nasrani’.

Umar pun langsung marah, menegurku keras dan memukul pahaku dan berkata: ‘Pecat dia! cari dan angkat seorang muslim".

(Maksud Umar; 'apa tidak ada muslim lain yang lebih baik, pasti Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyediakan banyak calon pemimpin muslim yang lebih baik untuk umat', cari sampai ketemu).

Umar lalu membacakan ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengangkat orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengangkat mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka (kafir). Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim‘”. (QS. Al Maidah: 51)

(Sumber : Tafsir Ibnu Katsir, Juz 3/132)
loading...