Orang Rajin Bersedekah Itu Bahagia, begini penjelasan ilmiahnya...

Pernahkah kita merasakan, ketika kita mengeluarkan sedekah kepada orang yang membutuhkan, ketika kita bisa membantu meringankan beban orang lain, lalu muncul perasaan bahagian entara dari mana dalam lubuk hari kita?;

Friday, March 3, 2017

[Foto]: Sejarah Pertemuan Presiden Indonesia Dengan Raja Arab Saudi Dari Masa ke Masa

Kunjungan Raja Salman bin Abdul Aziz ke Indonesia disambut gegap gempita oleh seluruh rakyat Indonesia. Masyarakat muslim Indonesia begitu suka cita dan bahagia menyambut kedatangan sang raja yang membawa rombongan terbesar dalam sejarah.

Pertmuan raja Saudi Arabia dengan pemimpin Indonesia bukan kali ini terjadi. Sejak lama, Indonesia dan Saudi Arabia telah menjalin hubungan baik, terlebih kedua negara merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar.

Berikut ulasan beberapa pertemuan raja-raja Arab Saudi dengan Presiden Indonesia dari masa ke masa.

1. Pertemuan Presiden Sukarno dengan raja kedua Saudi,  Raja Su'ud bin Abdul 'Aziz Al Su'ud. 


Raja Su'ud bin Abdul Aziz Al Su'ud menjabat sebagai Raja Saudi sejak 9 November 1953 dan turun tahta pada tanggal 2 November 1964 karena sakit. Beliau wafat di Athena, Yunani pada tahun 1969.

Presiden Sukarno bertemu dengan raja Su'ud pada tahun 1955. Pada tahun tersebut, Presiden Sukarno berangkat ke tanah suci untuk menunaikkan ibadah haji. Ia disambut dengan hangat oleh Raja Saud. Bahkan, Raja Saud memberikan cinderamata khusus untuk Sukarno berupa kiswah atau potongan kain penutup ka'bah.

Selain kiswah, selama beribadah haji, Presiden Sukarno juga diberi fasilitas oleh pihak kerajaan berupa mobil Chrysler Crown Imperial. Mobil yang ditungganginya itu turut menjadi hadiah untuk dibawa pulang ke Indonesia.

2. Pertemuan Presiden Suharto dengan raja ketiga Saudi Arabia, Raja Faishal bin Abdul Aziz Al Su'ud


Raja Faishal bin Abdul Aziz naik tahta pada tanggal  November 1964 dan kepemimpinan beliau berakhir pada tanggal 25 Maret 1975 setelah beliau tewas ditembak oleh keponakannya sendiri, Pangeran Faishal bin Musa'id di kota Riyadh. 

Raja Faishal mengunjungi Indonesia pada tanggal 10 Juni 1970, kedatangan beliau disambut oleh diterima Presiden ke-2 RI Soeharto dan ibu negara saat itu, Siti Hartinah alias Tien Soeharto.

Raja Faishal terkenal sebagai sosok reformis, keberanian beliau menyetop ekspor minyak ke negara-negara yang mendukung Israel mendapat pujian dunia Islam saat itu. 

3. Pertemuan Presiden Suharto dengan raja keempat Saudi Arabia, Raja Khalid bin Abdul Aziz Al Su'ud


Raja Khalid bin Abdul 'Aziz Al Su'ud naik tahta pasca wafatnya Raja Faishal bin Abdul Aziz pada tanggal 25 Maret 1975. Dan kekuasaan beliau berakhir ketika wafat pada tanggal 13 Juni 1982.

Beliau merupakan Raja Saudi Arabia yang berjasa mendidikan Universitas Ummul Qura di Mekkah dan Universitas King Faishal di kota Dammam. 

Beliau juga dikenal karena dukungannya kepada mujahidin Afghanistan yang kala itu berjuang menghadapi Uni Soviet.

Presiden Soeharto bertemu dengan Raja Khalid pada tanggal 9 Oktober 1977. Bersama Ibu Tien Soeharto dan rombongan, Presiden Soeharto berangkat menuju Timur Tengah dengan menggunakan pesawat DC-8 “Siliwangi”. dalam kunjungan kenegaraan selama sepuluh hari ke Saudi Arabia, Kuwait, Qatar, Abu Dhabi, Bahrein, Syria, dan Mesir. Rombongan resmi Presiden antara lain terdiri atas Menteri Luar·Negeri a.i., Sjarif Thajeb, Menteri Negara Ekuin Widjojo Nitisastro dan Menteri/Sekretaris Negara Sudharmono.

Sore hari, Presiden Soeharto beserta rombongan tiba di Riyadh, ibukota Kerajaan Saudi Arabia. Di lapangan udara internasional Riyadh, Presiden Soeharto disambut oleh Raja Khalid dengan upacara kebesaran militer. Kunjungan kenegaraan di Saudi Arabia ini berlangsung selama tiga hari.

Setelah wafat, Raja Khalid digantikan oleh Raja Fahd bin Abdul 'Aziz Al Su'ud. Dan Raja Fahd inilah yang pertama kali menggunakan gelar Khadimul Haramain (Pelayan dua tanah suci) sebagai ganti dari gelar yang lama, Shahibul Jalalah (Sang Pemilik Kebesaran). Dan beliau pula yang berjasa memulai proyek perluasa Masjidil Haram y ang berlangsung hingga hari ini.

4. Pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan raja keenam Saudi Arabia, Raja Abdullah bin Abdul 'Aziz Al Suud

Raja Abdullah naik tahta menggantikan saudaranya Raja Fahd bin Abdul Aziz yang wafat pada tanggal 1 Agustus 2005. Dan kepemimpinan beliau berakhir pada tanggal 23 Januari 2015.

Di bawah kepemimpinan Raja Abdullah, hubungan bilateral Indonesia-Saudi Arabia baik & kuat. Perhatian beliau untuk Indonesia besar, beliau memberikan pengampunan atas banyak WNI yang divonis hukuman mati di Saudi Arabia. Beliau juga mengabulkan permintaan Indonesia agar penanganan ribuan WNI yang "overstay" dilaksanakan dengan baik & dengan waktu yang cukup. 

5. Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan raja ketujuh Saudi Arabia, Raja Salman bin Abdul 'Aziz Al Su'ud.


Raja Salman bin Abdul 'Azis Al Su'ud hafizhahullah naik tahta pada tanggal 23 Januari 2015 menggantikan saudaranya Raja Abdullah bin Abdul 'Aziz. 

Kunjungannya ke Indonesia terjadwa dari tanggal 1 hingga 9 Maret 2017, yang termasuk dalam rangkaian tur selama 31 hari di Asia ini, Indonesia menjadi negara kedua yang disinggahi oleh Raja Salman.

Kunjungan beliau ke Indonesia sangat spektakuler, beliau membawa serta 1500 rombongan dengan lebih dari 500 Ton kargo serta 2 tanggal berjalan yang dibawa langsung dari Saudi Arabia.

Semoga Allah selalu melindungi Saudi Arabia beserta sekalian pemimpin dan rakyatnya. Dan semoga hubungan Indonesia dengan Saudi Arabia serta negara-negara Islam terus terjalin dengan baik. Amin.

loading...

8 Macam Rizki Yang Dijamin oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala

1. Rezeki Yang Telah Dijamin.

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ.


"Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin ALLAH rezekinya." (QS. Hud : 6)

2. Rezeki Karena Usaha.

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى...


"Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya." (QS. An-Najm : 39).

3. Rezeki Karena Bersyukur.

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ...


"Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim : 7)

4. Rezeki Tak Terduga.

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.


"Barangsiapa yang bertakwa kepada ALLAH niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."
(QS. At-Thalaq : 2-3).

5. Rezeki Karena Istighfar.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا.

"Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta.”
(QS. Nuh : 10-11).

6. Rezeki Karena Menikah.

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ.


"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka ALLAH akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan kurnia-Nya." (QS. An-Nur : 32).

7. Rezeki Karena Anak.

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ.


"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu kerana takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.” (QS. Al-Israa' : 31).

8. Rezeki Karena Sedekah.

مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً.

"Siapakah yang mahu memberi pinjaman kepada ALLAH, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka ALLAH akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak." (QS. Al-Baqarah : 245)
loading...

Thursday, March 2, 2017

Tabunglah Harta Kita pada BANK SEMESTA Milik Allah Swt...

Harta kita itu adalah apa yang kita bagikan ...

Kalau yang kita simpan itu justru harta orang lain ... Karena saat kita meninggalkan dunia ini, harta itu akan langsung berpindah tangan kepada ahli waris dan tidak bermanfaat untuk yang meninggal ... Padahal seumur hidup kita kerja keras mengumpulkan harta tsb

Meninggal itu ternyata tidak membawa apa-apa ... Hanya selembar kain kafan berlapis tiga dengan diikat tali ...

Tidak memiliki kantung untuk menaruh uang apalagi ATM yang dipersiapkan untuk memberi tips malaikat ...

Tak ada kantung untuk menyelipkan kartu nama orang penting biar jalan menuju surga mulus ...

Tak dapat dimodifikasi model ala-ala hijab syari yang modis ... hanya boleh satu model aja ... yakni Pocong ...

Meski baju tiga lemari, Tidak bisa satupun dipakai / dibawa untuk ganti baju ...

Meski punya tanah/rumah dimana-mana, tetap saja harus tinggal di dalam kubur...

Meski memiliki deposito banyak di bank, tidak bisa dicairkan di dalam kubur ...

Meski punya banyak mobil mewah, tetap saja pergi ke kubur naik keranda ...

 Meski punya gadget mahal dengan camera editor yang keren, tetap saja tidak bisa buat selfie dalam kubur ...

SEMUA DITINGGALKAN ...

Dan sayangnya, Meninggal itu tidak bisa direncanakan ... tidak bisa ditentukan tanggalnya ... Bisa nanti, bisa besok, bisa lusa ... bisa kapan aja ... Semua tergantung kehendak Allah Subhanallahu Wa Ta'ala

Sementara harta kita yang sesungguhnya masih sangat sedikit, karena kita terlalu sibuk mengumpulkan harta yang dipersiapkan untuk orang lain ...

Saudaraku ...
Marilah bersama-sama kita kumpulkan harta kita pada BANK SEMESTA milik Allah Subhanallahu Wa Ta'ala ...

Kita akan melihat SALDO harta kita pada saat kita kembali kepadaNya ...

Walaupun kita berangkat hanya menggunakan kain putih saja tanpa perbekalan ...

Namun ... Insyaallah sesampainya disana Allah akan kembalikan Seluruh Tabungan Kita di alam Semesta Milik Allah Subhanallahu Wa Ta'ala ...

Tak Ada Yang Terlewat dan Tak Ada Yang Tak Terhitung ... Semua Sesuai Dengan HisabNya ...

Share, yuk! Semoga saudara² kita semua mendapatkan faidah ilmu, dan bermanfaat dalam kehidupan kita semua آمِينَ.
loading...

Wednesday, March 1, 2017

Keutamaan Membaca Zikir La Haula Wa La Quwwata Illa Billah...

Salah satu kalimat zikir yang cukup populer dan sering dibaca oleh kaum muslimin adalah kalimat 'La Haula wa la Quwwata Illa Billah".

Dalam istilah istilah lain, kaliman ini disebut juga sebagai zikir Hauqalah (sama seperti zikir lain, misalnya membaca Alhamdulillah disebut Hamdalah).

Walaupun kalimat ini di ringan diucapkan di lisa, tapi sungguh besar faidah yang dapat kita peroleh dengan melantunkan kalimat singkat ini.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada ‘Abdullah bin Qois,

يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ . فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ

Wahai ‘Abdullah bin Qois, katakanlah ‘laa hawla wa laa quwwata illa billah’, karena ia merupakan simpanan pahala berharga di surga” (HR. Bukhari no. 7386)

Dalam hadits lain disebutkan:

قَالَ النَّبيُّ صَلَّى اللَّهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلَاْ أَدُلُّكَ عَلَيْ كَلِمَةٍ مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ هِيَ كَنْزُ الْجَنَّةِ تَقُوْلُ لَاْ حَوْلَ وَلَاْ قُوََّةَ إِلَّاْ بِاْلله  فَيَقُوْلُ الله : أَسْلَمَ عَبْدِيْ وَاْسْتَسْلَمَ


Nabi SAW bersabda," Maukah aku tunjukkan kepadamu sebuah kalimat dari bawah Arsy yang merupakan harta simpanan surga, hendaknya kamu mengucapkan, “La Haula wa la Quwwata illa billah”, maka Allah akan bersabda, “Hambaku telah selamat dan patuh”. (HR. Hakim dari Abu Hurairah RA).

Kalimat “laa hawla wa laa quwwata illa billah” adalah kalimat yang berisi penyerahan diri dalam segala urusan kepada Allah Ta’ala. Hamba tidaklah bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa menolak sesuatu, juga tidak bisa memiliki sesuatu selain kehendak Allah.

Ada ulama yang menafsirkan kalimat tersebut, “Tidak ada kuasa bagi hamba untuk menolak kejelekan dan tidak ada kekuatan untuk meraih kebaikan selain dengan kuasa Allah.”

Ulama lain menafsirkan, “Tidak ada usaha, kekuatan dan upaya selain dengan kehendak Allah.”
Ibnu Mas’ud berkata,

لا حول عن معصية الله إلا بعصمته ولا قوة على طاعته إلا بمعونته


Tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat selain dengan perlindugan dari Allah. Tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan selain dengan pertolongan Allah.”

Imam Nawawi menyebutkan berbagai tafsiran di atas dalam Syarh Shahih Muslim dan beliau katakan, “Semua tafsiran tersebut hampir sama maknanya.” (Syarh Shahih Muslim, 17: 26-27)

Dalam hadits lain dsiebutkan bahwa kalimat ini adalah obat.

قَالَ النَّبيُّ صَلَّى اللَّهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ: لَاْ حَوْلَ وَلَاْ قُوَّةَ إِلَّاْ  بِالله دَوَاْءٌ مِنْ تِسْعََةَ وَتِسْعِيْنَ دَاْءًا أَيْسَرُهَاْ الهَمُّ


Nabi SAW bersabda, “La Haula wa la Quwwata illa billah adalah merupakan obat dari 99 penyakit dan penyakit yang paling ringan di antaranya adalah rasa kegelisahan. (HR. Ibnu Abi Dunia dari Abu Hurairah RA).

Disebutkan juga bahwa kalimat ini adalah salah satu zikir penghapus dosa.

قَالَ النَّبيُّ صَلَّى اللَّهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ: مَاْ عَلَىْ الأَرْضِ رَجُلٌ يَقُوْلُ لَاْ إِلهَ إِلَّاْ الله وَالله أَكْبَرُ وَسُبْحَاْنَ الله وَالْحَمْدُ لِلّهِ وَلَاْ حَوْلَ وَلَاْ قُوَّةَ اِلَّاْ بِالله اِلَّاْ كُفِرَتْ عَنْهُ ذُنُوْبُهُ وَلَوْ كَاْنَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ البَحْرِ

Nabi SAW bersabda, “Tak ada seseorang yang berada di atas muka bumi ini yang mengucapkan la Ilaha illa Allah wa Allahu Akbar wa la Haula wa la Quwwata illa billah, kecuali segala kesalahannya akan terhapuskan, meskipun jumlah kesalahan tersebut lebih banyak dari buih di laut.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi dari Ibnu Amr RA).

 قَالَ النَّبيُّ صَلَّى اللَّهُ علَيْهِ وَسَلَّمَ: اِسْتَكْثِرُوْا مِنْ الْبَاْقِيَاْتِ الصَّاْلِحَاْتِ التَّكْبِيْرُ وَالتَّهْلِيْلُ وَالتّسْبِيْحُ وَالتَّحْمِيْدُ وَلَاْ حَوْلَ وَلَاْ قُوَّةَ اِلَّاْ بِالله ِ


Nabi SAW bersabda, “Perbanyaklah sisa-sisa dari amal yang shalih; membaca tasbih, tahlil, tahmid, takbir, dan la haula wa la quwwata illa billah”. (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim dari Abu Sa’id RA).

Jadi dapat disimpulkan bawwa kaliaman la haula wa quwwata illa billah ini memiliki banyak keutamaan, di antara keutamaannya itu adalah :

1.   Sebagai simpanan kekayaan yang beerlimpah di surga, dan pengaruhnya sangat menakjubkan.

Dari Abi Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu ia berkata:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu bacaan yang menjadi simpanan kekayaan di dalam syurga?", Maka aku menjawab: "Tentu, wahai Rasulullah". Maka beliau menjawab: "Ucapkanlah” La Haula wa La Quwwata illa Billaah

Ibnu Qoyyim rahimahullah mengatakan:
Kalimat La Haula wa La Quwwata illa Billaah mempunyai pengaruh yang sangat menakjubkan saat menanggung beban pekerjaan yang sulit dan keras, atau saat menghadap kepada raja dan orang yang ditakutkan, selain pengaruhnya yang efektif untuk menolak kemiskinan.

2.      Penawar bagi segala penyakit dan penderitaan seperti rasa bimbang.
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa yang mengucapkan :
 لاَ حَوْلَ وَلاَ قُـوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ 


(Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah)
maka hal itu sebagai penawar baginya dari sembilan puluh sembilan penyakit dan yang termudah adalah rasa bimbang"

3.   Pencegah bahaya, dan bahaya yang paling rendah adalah bahaya kesmiskinan.
Makhul rahimahullah berkata:
Barangsiapa yang yang mengatakan Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah maka akan lenyap dari dirinya tujuh puluh pintu petaka, yang paling rendah adalah bencana kemiskinan.

Mengapa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan kalimat La Haula wa la Quwwata illa billah ?

Jawabannya, agar kita melepaskan diri kita dari segala apa yang kita merasa mampu untuk melakukannya, dan kita serahkan semua urusan kepada Allah. Sesungguhnya yang dapat menolong dalam semua aktivitas kita hanyalah Allah Ta’ala, dan ini adalah makna ucapan kita setiap kali melakukan shalat,

"Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan". [al-Fâtihah/1:5].

Pada hakikatnya seorang hamba tidak memiliki daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Seorang penuntut ilmu tidak akan mungkin duduk di majlis ilmu, melainkan dengan pertolongan Allah. Seorang guru tidak akan mungkin dapat mengajarkan ilmu yang bermanfaat, melainkan dengan pertolongan Allah. Begitupun seorang pegawai, tidak mungkin dapat bekerja melainkan dengan pertolongan Allah.

Seorang hamba tidak boleh sombong dan merasa bahwa dirinya mampu untuk melakukan segala sesuatu. Seorang hamba seharusnya menyadari bahwa segala apa yang dilakukannya semata-mata karena pertolongan Allah. Sebab, jika Allah tidak menolong maka tidak mungkin dia melakukan segala sesuatu. Artinya, dengan mengucapkan kalimat ini, seorang hamba berarti telah menunjukkan kelemahan, ketidakmampuan dirinya, dan menunjukkan bahwa ia adalah orang yang sangat membutuhkan pertolongan Allah.
loading...

14 Abad Yang Lalu... Ia Telah Merindukanmu...

Dialah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam…

Tepat sembilan hari menjelang wafatnya, turunlah firman Allah yang berbunyi:

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ

Dan peliharalah diri kalian dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak didzalimi.” (Al Baqarah : 281)

Semenjak itu raut kesedihan mulai tampak pada wajah beliau yang suci. “Aku ingin mengunjungi syuhada Uhud" ujarnya.”

Beliaupun pergi menuju makam syuhada Uhud. Sesampainya disana beliau mendekati makam itu dan berkata, “Assalamu’alaikum wahai syuhada Uhud, kalian telah mendahului kami. Insya Allah kamipun akan menyusul kalian.”

Di tengah perjalanan pulang, rasulullah shallallahu alaihi wasallam menangis. Para sahabat yang mendapinginya bertanya,

“Apa yang membuatmu menangis wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab,

“Aku rindu kepada saudara-saudaraku.”

Mereka berkata,

“Bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab,

“Bukan, kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudaraku adalah mereka yang datang sesudahku, mereka beriman kepadaku padahal mereka belum pernah melihatku.”
(HR. Ahmad)

Alangkah tulus ungkapan itu..

Namun tersisa beragam tanya:
Kitakah yang dirindukan itu…?

Bila iya, Sudahkah kita merindukannya…?
Sudahkah kita beriman sehingga pantas dirinduinya…?
Sudahkan kita mengamalkan sunnahnya sebagai bukti cinta…?

Pantaskah diri yang lalai ini dirindukan rasulullah…?

Duhai.. alangkah malangnya bila yang dirindukan itu terusir dari telaga haudhnya.
Alangkah malangnya bila nanti terdengar darinya ucapan, “menjauhlah dari telagaku…”

Kau tau kenapa…? Karena mereka telah merubah-rubah Agama yang dibawanya.

Wahai insan yang dirindu….

Ikutilah jalan hidup manusia agung yang dulu pernah merindukanmu..
Jauhi segala macam bid’ah dalam agama, agar kau tak terusir dari telaga haudhnya.
Buktikan cintamu dengan ittiba’ agar cintamu tak bertepuk sebelah tangan.

Ingat selalu firman Allah azza wa jalla:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ


Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS: 3: 31)

Ingat kawan…. Ditepi telaga haudh dia menanti kita..

“Aku akan mendahului kalian di telaga. Aku sebagai saksi atas kalian” dan sesungguhnya—demi Allah— saat ini aku sedang memandang telagaku itu” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah menuntun langkah kita menuju telaga rasul-Nya.

Aamiin
loading...