Friday, October 9, 2015

[Ironi Pesta Pernikahan]: Nabung Bertahun-tahun, Habis Untuk 5 Jam di Pelaminan

Pertanyaan paling menakutkan bagi para bujangan dan perawan di Indonesia saat ini adalah: "KAPAN NIKAH???". Benar bukan?

Pertanyaan tersebut seolah lagi trending beberapa tahun terakhir ini. Bagi yang sudah menginjak usia dua puluhan dan masih jomblo, barangkali pertanyaan tersebut bisa menyakitkan dan jadi bernada menghina, yah padahal kadang tidak begitu juga.

Karena itu, ada yang menganjurkan, kalau kamu diatanya begitu, mungkin kamu bisa bertanya balik: “Memang situ mau bayarin?”

Nikah di Indonesia memang agak membingungkan, dibilang mahal ya tidak terlalu, dan dibilang murah yang tidak juga. Memang gadis Indonesia tidak meminta maskawin yang besar dan bernilai tinggi sebagaimana adat kebiasaan di Timur Tengah.

Akan tetapi, biaya pesta dan resepsi pernikahan di Indonesia, khususnya di kota-kota juga bisa mahal. Karenanya, banyak orang yang harus nabung bertahun-tahun untuk bisa menikah. Ada juga yang jual ini itu, dan bahkan ada yang berhutang untuk bisa bikin hajat pernikahan.

Berikut beberapa hal yang menjadi ironi dan salah kaprah dari pernikahan di Indonesia:

1. Persiapan pernikahan yang lama
Menikah di Indonesia ibarat peristiwa besar yang harus dipersiapkan panjang. Ini karena cukup banyak detail-detail yang perlu dipersiapkan untuk membuat pesta pernikahan. Mulai dari pakaian, tema pernikahan, perias, makanan, undangan, dan masih banyak hal-hal kecil lainnya.

Supaya semuanya dapat berjalan dengan sempurna, banyak orang yang mempersiapkan jauh-jauh jari sebelumnya. Misalnya untuk membuat pakaian yang kadang sudah dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya.

2. Memesan gedung mewah
Tidak kaget kalau ada teman yang akan menikah tahun depan tapi sudah sangat sibuk saat ini. Pada saat musim-musim nikah, jasa-jasa yang melayani pernikahan akan ramai.

Gedung-gedung pernikahan yang strategis biasanya akan full booked setiap akhir pekan pada saat musim nikahan. Supaya nggak kebingungan, banyak orang yang sudah memesan jauh-jauh hari, seperti satu tahun sebelumnya.

3. Besarnya biaya
Persiapan pernikahan yang bermacam-macam itu tentu saja butuh biaya yang nggak sedikit. Makanya tidak sedikit orang yang sudah lama berpacaran tapi nggak nikah-nikah karena masih ngumpulin uang buat nikah.

Sudah pacaran lama, lulus, diterima kerja tapi belum juga bisa menikah karena alasan duitnya belum cukup.

Bayangkan saja perkiraan biaya kasarnya:

  • Undangan (paling murah) 200 lembar x Rp 3000 = Rp 600 ribu
  • Biaya gedung: Rp 20 juta
  • Makanan: 500 orang (2 kali jumlah undangan) x Rp 50 ribu= Rp 25 juta
  • Dekorasi: Rp 12 juta
  • Baju sepaket: Rp 10 juta
  • Total: Rp 67.600.000,-

Padahal, gaji S1 karyawan baru: Rp 2,5 juta

Kesimpulan: kira-kira nabung dua tahun baru bisa menikah. Itu juga berarti nggak makan, nggak jajan, nggak ngapa-ngapain. Hiks!

4. Orangtua rela berkorban demi pernikahan anak
Pernikahan di Indonesia juga sering kali didasari oleh orangtua yang sudah ngebet lihat anaknya menikah.

Ketika anaknya masih santai-santai saja mengumpulkan uang (sambil mengumpulkan kesiapan) untuk menikah, orangtua sudah nggak sabar.

Bahkan dengan penuh suka rela, banyak orangtua di Indonesia yang rela membiayai pesta pernikahan anaknya. Semakin meriah semakin membanggakan. Enggak peduli uang yang dipakai untuk membiayai pernikahan itu dari hasil jual tanah, mengambil semua dana pensiun, atau pinjam sana-sini.

5. Tidak memikirkan biaya setelah menikah
Setelah menabung berbulan-bulan, menjual harta benda, atau pinjam ke sana-sini, uang yang banyak itu habis dalam waktu yang sangat cepat. Biaya yang sangat besar itu habis hanya untuk pengantin dan keluarga berdiri di sebuah panggung dan bersalaman dengan orang-orang yang datang.

Padahal setelah resepsi pernikahan, si pengantin akan memulai kehidupan baru sebagai keluarga yang mana butuh biaya lebih besar.

Nikah besar-besaran, habis nikah tinggal di pondok indah mertua!

6. Tidak semua undangan yang dikenal!
Parahnya, lagi tidak semua yang diundang adalah orang yang benar-benar kenal sama kamu. Ketika membuat list undangan, kamu sudah cukup gondok. Jatah undangan 200. Orang tua pasangan minta tujuh puluh lima undangan. Orang tuamu minta tujug puluh lima undangan. Sisa dua puluh lima undangan, dibagi untuk teman-temanmu dan pasangan. Jadi, temanmu sendiri paling cuma dua puluh lima undangan, sementara teman angkatan aja ada lima puluh. Itu baru teman kuliah, belum SMA, SMP, teman kerja. Sedih.

Karena di pesta pernikahanmu, kamu cuma bisa mengundang sekitar dua puluh persen dari total undangan, kamu pun cukup selektif memilih teman yang akan kamu undang. Jadi deh, selama menerima tamu kamu sering kali bersalaman dengan orang yang nggak kamu kenal.

7. Ingin pernikahan sederhana, tapi keluarga tidak setuju
Buat apa sih harus ngundang banyak orang? Yang penting kan akad nikah, sah, sudah. Kamu sempat berpikir alangkah indahnya jika kamu bisa menikah tanpa banyak syarat. Sederhana dan akrab.

Tapi, berapa banyak orang tua di Indonesia yang setuju kalau pesta pernikahan anaknya dirayakan biasa-biasa saja.

“Malu dong nanti dikira kita pelit…”
“Nikah sederhana kayak nikah karena kecelakaan aja…”
Lagi-lagi karena omongan orang. Huft!

Nikah di Indonesia kayaknya memang harus jadi urusan orang banyak. Sudah kalau nggak nikah-nikah ditanyain kapan nikah, eh mau nikah juga harus ngundang-ngundang orang banyak. Apapun itu, yang pasti menikah itu (katanya) enak sih.

Dikutip dari hipweee[dot]com
loading...

0 komentar:

Post a Comment

Artikel ini belum lengkap tanpa komentar anda!
Silahkan berkomentar yang santun dan cerdas, tidak menghina, tidak memaki dan tidak menyebar kebencian. Terima kasih